
Tita selesai memoles wajahnya dengan make up tipis-tipis dan bersiap untuk turun, tapi dia mendengar sang tuan suami mengeluh.
"Kemana larinya tanda-tanda cintaku?" pagi-pagi sudah kesal saja.
"Tanda-tanda cinta apa?" Tita tidak mengerti.
"Hm, stempel kepemilikan ku?" tegasnya. "Aku tidak pernah absen membuatnya, tapi kenapa dia selalu hilang kalau pagi?"
Bingung juga Tita menjawabnya, "Masih ada kok, sudah yuk turun. Aku kan harus ke lapangan siang ini. Kalau kamu masih mau berlama-lama, aku naik ojek online saja."
"Iya, iya, ayo ..." Di gandengnya sang istri dengan penuh kasih sayang, sesekali bahkan Nathan masih sempat mencuri ciuman di pipi Tita.
"Kakak, apa belum cukup??" protes Loudy yang merasa matanya terkontaminasi kini. Padahal sih, dia senang-senang saja melihatnya.
"Kalau kamu iri, aku bisa langsung menikahkan kamu dengan salah satu kolegaku." jawab sang kakak.
"Ih, tidak mau. Aku punya pilihanku sendiri."
"Selesaikan saja kuliahmu dulu, baru ajak pilihanmu itu mengahadapku." jawaban final.
Tita terdiam tidak mau menanggapi. Loudy juga terdiam tidak mau memperkeruh suasana, karena memang dia salah. Akhirnya mereka bisa makan dengan tenang.
"Ibu, aku berangkat dulu, ya." Tita menyalami sang ibu di ikuti oleh Nathan. Sebenarnya dan ibu tidak enak jika sang tuan muda memperlakukan dia seperti itu karena statusnya. Tapi sang tuan muda bilang, ibu adalah orang tua istriku, artinya ibu juga orang tua ku. Dan sang mami bangga dengan anaknya itu.
"Brian, kamu tahu Tita ada peninjauan kemana hari ini? Tadi di rumah dia bilang mau pergi survey?"
"Proyek galeri seni, tuan."
"Lho, kok aku bisa tidak tahu?"
"Bukan tidak tahu, mungkin tuan lupa. Saya sudah mengingatkan kemarin." pasti sang tuan lupa, "Sebelum nona Tita datang, saya sudah mengatakannya."
Oh, iya benar. Memang aku yang lupa. "Aku ingin pergi," Nathan langsung bersiap.
"Tuan ada rapat pagi ini, maaf tuan ... saya tidak bisa menggeser jadwal rapat kali ini."
"Huh, ternyata ada yang tidak bisa kamu kerjakan juga ya?"
"Maaf, tuan."
Dalam peninjauan kali ini, Tita pergi dengan Pak Putra, bosnya. "Selamat ya, Zahra,nkamu sudah resmi jadi sarjana."
"Iya pak, terima kasih. Senang juga rasanya." ha ha ha.
"Sewaktu kamu cuti kemarin, Mr. Kim beberapa kali datang hanya untuk menemui kamu."
"Masa sih, pak?"
"Iya, entah apa yang mau dia lakukan. Padahal dia sudah tahu kamu menikah, bahkan tahu siapa suami kamu ... berani-beraninya dia."
"Mungkin ada urusan lain, pak."
"Mungkin, ya. Ah, aku tidak suka jika ada klien yang genit-genit begitu terhadap pegawaiku. Kesal aku,"
"Sabar pak, aku juga tidak mungkin meladeni laki-laki yang seperti itu." tita menenangkan sang bos.
"Oh iya, Zahra. Dari pihak Petra tidak ada yang ikut ke lokasi. Apakah kamu tidak masalah, sepulang kita dari sana langsung ke Petra? Untuk menghemat waktu, dan ku pikir tuan Petra akan senang jika kita bisa menyelesaikan semuanya lebih awal."
"Tidak masalah, pak."
Anya, yang sudah mendapatkan kesempatan makam malam bersama Nathan makin menjadi-jadi. Entahlah, mungkin dia merasa tidak lama lagi akan berhasil menggeser posisi Tita sebagai nyonya Nathan. Saat ini, dia sedang duduk di mejanya, menggeser-geser layar ponselnya. Tampak beberapa foto dirinya bersama Nathan malam itu, dari mulai keluar mobil, hingga Nathan yang sedang merangkul pinggangnya memasuki sebuah private room, walaupun pada kenyataannya tidak seperti itu ... tapi siapa yang perduli? toh dalam foto itu hanya tergambar Nathan yang merangkul pinggangnya dan masuk ruangan. Yaa, foto ini akan dia gunakan untuk membuat Tita meninggalkan Nathan. Ketika dia melihat Nathan sudah kembali dari ruang rapat, dia langsung berdiri.
"Hei, nona ... biasakan mengetuk pintu sebelum masuk kesini. Disini bukan taman bermainmu." itu bukan suara Nathan ... itu suara Brian. Rupanya kedua laki-laki itu sama-sama jengah ya. Ha ha ha.
"Hei, Brian ... jangan sembarang membentak aku. Kamu lah yang seharusnya sopan padaku!"
"Saya sudah menegur anda dengan sopan. Karena saya masih menggunakan mulut saya untuk menegur, bukan langsung menyeret anda keluar." wah wah, memang tidak ada yang bisa mengalahkan kepedasan laki-laki satu ini.
Anya yang kesal karena ucapan Brian, ditambah lagi Nathan yang tidak membelanya sama sekali, memilih untuk meninggalkan tempat itu. Awas saja, aku akan memecat kamu begitu aku resmi bersama dengan Nathan. Begitu pikir Anya.
Anya kembali ke tempat duduknya, dan meneruskan pekerjaannya. Hm, dia sangat bosan ... jadi dia menghubungi seseorang. "Terry, bagaimana kemajuan hubunganmu?"
"Kenapa? Kamu sudah tidak sabar untuk bersama laki-laki itu?"
"Iya, tentu saja. Bagaimana denganmu?"
"Aku sudah lebih dekat, tapi aku tidak mau terburu-buru ... Dia adalah wanita yang spesial."
"Cih ... apa kamu tidak tahu wanita yang kamu anggap spesial itu sangat mudah pindah dari satu pelukan laki-laki ke pelukan laki-laki lainnya."
"Jaga ucapan kamu, Anya. Dan jangan melebihi batasan mu." Terry tidak terima dengan penghinaan yang dilakukan Anya. Karena dia tahu gadisnya tidak seperti itu. Huh, gadisnya??
"Ah, sudahlah ... aku tutup dulu telponnya." Anya menutup telponnya ketika dilihatnya Brian keluar dari ruangan sang tuan muda dan masuk kedalam lift. Yes, kesempatan. Maka dengan cepat Anya masuk ke ruangan Nathan.
Tok, tok, tok. "Hei, Nathan. Aku masuk ya?" tanpa menunggu jawaban, Anya langsung masuk dan mendekati Nathan.
Nathan yang melihat Anya hanya membuang nafasnya. Dia sudah terlibat dalan rencana ini dan harus di tuntaskan segera. "Ada apa"
"Nathan, sekretaris mu itu sombong sekali sih ... kamu lihat kan tadi dia mengusir aku." Anya merajuk, memutari meja dengan langkahnya yang anggun dan menghampiri sang tuan muda.
"Itu sudah menjadi pekerjaannya, biarkan saja."
"Tapi kenapa tadi kamu tidak membelaku?" Anya memutar kursi Nathan hingga membuat mereka berhadapan.
"Apa yang mau kamu lakukan?"
"Aku tahu kamu banyak kerjaan, aku hanya ingin melayani kamu dan membuatmu relaks, sayang." Anya menyentuh lengan Nathan, berusaha menggodanya dengan mengelus tangan itu.
"Jangan macam-macam, Anya. Ini kantorku." Nathan berusaha menolak, dan berdiri. Tapi Anya menahannya di kursi, dia duduk tepat di pangkuan Nathan.
"Nathan, ..." Tita terkejut ditempatnya berdiri.
Lebih terkejut lagi sang tuan suami yang melihat sang istri ada di depan pintu ruangannya. Menjatuhkan plastik berisi buah-buahan yang dibawanya. "Tita,"
Kejadian itu sangat cepat, Nathan bahkan tidak sempat menahan Tita, karena sang istri sudah berlari keluar. Nathan mengejar sang istri, tidak perduli dengan Anya yang memanggil namanya. Ketika, keluar dari ruangannya dia melihat Brian bersama dengan pak Putra.
"Tuan, anda mau kemana?" tanyanya bingun.
"Tita, kamu melihat Tita?"
"Tidak, tuan."
Tidak lagi ingin memperdulikan apapun, Nathan memasuki lift yang terbuka berusaha menyusul sang istri. Sayang, jangan pergi ... please.
Brian merasa ada yang tidak beres, "Tuan Putra, maaf saya akan menghubungi anda lagi, karena sepertinya nona kami sudah pergi lebih dulu."
Pak Putra mengerti, maka dia pun undur diri dan kembali ke perusahaannya. "Baiklah, saya akan mengabarkan jika saya melihat Zahra dikantor."
"Terima kasih."