
Pagi ini udara terasa dingin, mungkin karena semalam hujan turun tanpa permisi. Di salah satu kursi taman tampak seorang wanita paruh baya sedang duduk menghadap hamparan bunga-bunga cantik miliknya. Tapi nampaknya wanita itu tidak sedang menikmati apa yang ada di hadapannya, karena kini pikirannya teralihkan karena kata-kata yang di sampaikan sang putra.
"Mami, aku akan mengajak Tita tinggal di apartemen ku." Ah, kenapa dia harus bersedih? bukankah putra kesayangannya itu memang sudah menikah? wajar memang jika dia ingin tinggal terpisah dari orang tuanya.
Wanita paruh baya itu menyeka sedikit air yang keluar dari ujung matanya. Ada rasa tidak rela jika Nathan pergi apalagi membawa serta sang istri. Setelah kepergian sang suami untuk selama-lamanya, bagi sang nyonya mami kehadiran Nathan dan Loudy bagaikan oase di padang pasir. Di tambah dengan kehadiran Tita dan ibunya yang memang sahabat sang nyonya mami sewaktu muda, rasanya hari-hari yang harus di lewatinya menjadi ceria selalu.
"Sudahlah, jangan terlalu kau pikirkan. Biarkan saja anak-anak kita menentukannya kehidupannya sendiri. Mereka juga ingin merasakan hidup berdua layaknya pasangan yang lain. Jadi kita harus tetap mendukung mereka." Bu Amel meletakkan teh panas dan mengatakan pendapatnya. Sang nyonya mami memang telah memberitahu nya semalam, jadi tentu dia tau apa yang sedang dipikirkan sahabatnya ini.
"Aku tau. Tapi tetap saja berat untuk aku."
"Mereka kan masih tinggal di kota ini, kita bisa melihat mereka kalau kau mau ... aku akan menemanimu." janjinya.
Sang nyonya mami menatap sahabat sekaligus besannya, "Seandainya cucu kita masih ada mungkin Nathan tidak akan mengambil keputusan itu."
"Hei, sudah lah ... itu kan sudah berlalu. Mari kita do'akan mereka segera memiliknya lagi." Bu Amel menggenggam tangan tua itu dengan senyum yang hangat.
"Iya ... kau benar." mereka tertawa renyah tanpa memperhatikan status mereka. Sang nyonya mami memang lebih suka bi Amel yang dalam mode sahabat seperti ini dibandingkan dengan Bu Amel yang dalam mode pelayanan. Ah, jadi tidak sabar untuk menjadi nenek-nenek.
Sementara itu di salah satu kamar yang masih temaram, Tita sudah rapi dan segar. Dia juga sudah selesai menyiapkan pakaian yang akan dikenakan Nathan untuk bekerja. Dia juga sudah meminta seorang bibi untuk membawakan sarapan untuk Nathan ke kamar. Nah, sekarang tinggal membangunkan sang tuan.
"Sayang ... bangun." Tita menunggu sebentar, dan karena tidak ada reaksi maka dia pun lebih mendekat. "Nathan bangun ..." Tita mengguncangkan sedikit tubuh Nathan agar dia bangun. "Nath ... Nathan, bangun. Aaaaaah!" Tita menjerit ketika dia ditarik dan langsung terjerembab mulus di dada bidang milik sang tuan suami.
"Aku masih mengantuk," hanya itu ucapan yang keluar dari mulut Nathan dan dengan matanya yang masih terpejam.
Tita langsung mencerna kata-katanya, ah ... tidak bisa begini. Semalam dia sudah setuju kalau aku keluar bersama Loudy dan Mickey. Bahkan aku sudah merayu Loudy agar pertemuan dengan teman-teman diundur. Dan kalau sampai hari ini gagal, pasti aku kena amuk nanti. Maka Tita berusaha untuk melonggarkan pelukan Nathan, dia bersikap manis sekali. "Sayang, aku sudah menyiapkan air untuk kamu mandi."
"Kenapa kamu manis sekali pagi ini, hm?"
"Nanti kamu terlambat, sayang"
Nathan makin mengeratkan pelukannya, "Aku jadi malas kemana-mana."
Alarm Tita langsung menyala, bahaya ini. Tita langsung bangkit dan berusaha menarik tubuh besar Nathan, "Ayo, Kak Brian pasti sudah di bawah." merasa bahwa tenaganya terbuang sia-sia maka Tita merubah strategi nya, dia turun dari tempat tidur dan perlahan menjauh sambil mengatakan, "Padahal aku ingin sekali memandikan kamu pagi ini."
Mendengar sang istri mengatakan kata-kata yang memancing, tak ayal membuat Nathan langsung bangkit dan menyusul Tita dengan kekuatan penuh. Bahkan Tita jadi menjerit karena kaget ketika ada sepasang tangan yang mengangkat tubuhnya dengan tiba-tiba.
***
"Selamat pagi, nyonya." sapa Brian.
"Brian, selamat pagi ... kamu sudah sarapan? Oh, siapa ini? Kamu bukannya anak lelaki Amel?" sang nyonya mengenali laki-laki yang masuk bersama dengan Brian tadi.
"Ayo, ayo sarapan dulu sambil menunggu ibu dan adikmu. Biasanya Tita sudah turun jam segini, tapi mungkin Nathan menahannya .. hehe ... tolong dimaklumi saja, ya." Ha ha ha.
Hah??? apa yang nyonya ini katakan??
Kala baru kali ini mengetahui bahwa sang nyonya besar adalah orang yang ceplas-ceplos kalau berbicara. Dan apa katanya tadi?? Adik semata wayangnya ditahan oleh anaknya?? Kala memang laki-laki dewasa, jadi sudah tentu dia paham sekali maksud dari sang nyonya ... tapi memikirkan bahwa sang adik tersayang "ditahan" oleh suaminya, rasanya ... Kala tidak tega, dia ... kalau bisa dia ingin mengeluarkan dengan paksa sang adik.
"Kakak!!!"
Tersentak dari lamunannya, Kala tersenyum bahagia mendapatkan pelukan hangat yang mendadak dari sang adik. "Sayang, aku sangat merindukan mu."
"Aku juga ..." Tita mengeratkan pelukannya, kakaknya tersayang ada disini, dirumah tempat dia tinggal.
Susana seketika menjadi haru, dua orang saudara yang lama tak bertemu kini sedang berpelukan dengan erat. Sang nyonya rumah bahkan sampai meneteskan air matanya.
Tap .. tap .. tap... Nathan menarik tangan kanan sang kakak ipar dengan tiba-tiba, berakibat pelukan itu terlepas dengan hanya satu kali tarikan ... membuat suasana haru berubah seketika. "Kakak ipar, apa kabar?!"
Kala yang ditarik tangannya tentu kaget bukan kepalang, kesal?? sudah tentu, tapi melihat orang yang melakukan adalah Nathan dia langsung mengendalikan diri, "Ah, Tuan Petra ... maaf saya terlalu senang bertemu dengan adik saya."
Tita cemberut, dia juga kesal dengan dengan kelakuan sang tuan suami.
"Nathan, kenapa sih kamu harus merusak suasana?!" sang mami pun kesal rupanya.
"Hah, merusak suasana apa? aku kan hanya ingin menyapa kakak ipar ku, iya kan?" Kala hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi sang tuan muda. Yaa ... mana berani dia mengungkapkan kata-kata yang ada di kepalanya, kan? ha ha ha.
"Kakak, kok tidak bilang-bilang kalau mau datang ke sini?"
"Hanya ingin memberikan kejutan untuk kalian." Kala menggenggam tangan sang ibu.
"Ibu kira kamu memang ada sedang ada pekerjaan disini, nak?"
"Tidak ibu, aku menghabiskan cuti ku. Bahkan tuan Petra tidak tau aku pulang ke sini." Kala menunduk, karena memang dia hanya menghubungi Axel kan... pada awalnya.
"Kak, kakak lama disini?" tanya Tita.
"Mungkin," Kala merasa benar-benar terintimidasi duduk bersama dengan sang tuan muda.
Tita terlalu senang karena kedatangan sang kakak hingga dia melupakan laki-laki yang duduk tepat di sebelahnya sudah tampak berubah-ubah ekspresi wajahnya, dan yang sadar akan perubahan itu sudah tentu orang-orang di sekitar selain Tita. Tita bahkan dengan gembira dan mata yang berbinar-binar mengatakan, "Kakak, kalau begitu kita bisa pergi ke taman bermain seperti waktu itu dong??" dia menunjukkan deretan gigi rapihnya. Namun, sang kakak makin seperti tersudutkan ... dia takut karena dapat melihat dengan jelas betapa cemburunya sang tuan Petra.