Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 123



Tita saat ini sedang bermanja-manja dengan sang ibu. Bahkan ibu menyuapi makan untuk sang putri. Nathan hanya memperhatikan interaksi ke duanya sambil memeriksa beberapa dokumen yang siang tadi dibawa oleh Brian.


"Ibu, maafkan Tita ya ... seandainya aku tau kalau aku sedang hamil,"


"Sudah, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Jadikan hal itu pelajaran. Ibu sudah sangat bersyukur kamu sekarang baik-baik saja."


Tita senang mendengar jawaban bijak sang ibu, dan satu suapan masuk ke dalam mulutnya. Ah, rasanya seperti dia kembali ke masa-masa dimana dia masih tinggal bersama-sama sang ibu, menghabiskan hari berdua. Tiba-tiba saja dia jadi merindukan kakaknya. Kak Kala yang merantau jauh di negeri orang untuk mensupport perekonomian mereka kala itu.


"Nah, sudah selesai ... kamu istirahat, ibu pulang dulu ya." ibu seraya membenahi kotak-kotak makan yang tadi dibawanya. Dan kepada sang menantu, ibu pun berkata "Tuan muda, apakah makannya sudah selesai?"


"Oh, iya Bu. Sudah, terima kasih." Nathan memang sedang menyelesaikan pekerjaannya. Dia ingin ketika sang ibu mertua pulang, dia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya sehingga dapat menemani sang istri. Waah ... suami idaman. "Ibu sudah mau pulang?"


"Iya, tuan muda. Sudah hampir malam."


"Baiklah Bu, hati-hati. Aku juga sudah menyelesaikan pekerjaan ku dan bisa menemani Tita lagi. Oh, ibu ... supir masih menunggu di depan, ibu pulang bersama dia lagi ya."


Sang ibu tersenyum, dia sangat bersyukur mendapatkan menantu seperti Nathan yang bisa mencintai putrinya apa adanya.


Sepeninggal sang ibu, mereka tinggal berdua di ruangan itu.


"Sayang, apakah akan ada visit dokter setelah ini?" tanya Nathan.


"Tidak ada, visit terakhir tadi sebelum aku makan, kan? Kenapa memangnya?"


"Oh, tidak apa-apa." Nathan tersenyum penuh arti. Laki-laki satu ini memang banyak sekali modusnya, tapi untungnya sang istri tidak semudah itu membaca apa yang dia pikirkan.


Perlahan sang tuan muda naik ke tempat tidur, menyajikan lengan kokohnya sebagai bantalan untuk kepala sang istri.


"Kemari sayang, waktunya kamu istirahat." Dan sebagai pasien yang ingin cepat sembuh, Tita mengikuti saja apa perintah suaminya.


"Sayang,"


"Apa?"


"Sudah satu minggu aku menahan nya. Boleh ya, sayang ... sebentaaaaar saja,"


Tita langsung menoleh, menatap sang suami berharap yang di dengar nya adalah sebuah candaan. "Sayang, tapi ini di rumah sakit." Tita ingin bergeser tapi Nathan menahan tubuhnya.


"Aku tidak akan banyak bergerak dan membuat mu sakit, aku janji."


"Tapi bagaimana kalau ada yang tiba-tiba masuk seperti kemarin?"


"Sudah tidak ada visit kan? Jadi tidak mungkin ada yang masuk. Boleh yaaa, sayang ..." ha ha ha, sang tuan suami pandai sekali merajuk.


"Tapi, yang kemarin datang itu teman-teman mu buka dokter, kan?" Tita berusaha menahan hasrat sang tuan suami.


Mendengar jawaban Tita yang 'benar' Nathan merubah posisi tidurnya, kini dia terlentang menatap langit-langit dengan wajah kesal. Kalau sudah seperti itu Tita jadi tidak enak sendiri, dia seperti istri yang buruk karena membuat sang tuan suami kesal.


"Sayang," Tita merubah posisi tidurnya, kini dia menghadap ke Nathan.


"Hm,"


Waduh, singkat sekali jawabnya. "Jangan marah begitu dong .." kini Nathan malah memejamkan matanya. "Baiklah, tapi hati-hati ya, pelan-pelan."


Dan dalam sekejap mata Nathan terbuka dan langsung memutar tubuhnya menghadap sang istri. "Benar??"


Ish ... lihatlah wajahnya yang sudah berbinar-binar. Tita.


Nathan mengambil ponselnya dengan sebelah tangan nya. "Aku akan minta Brian untuk tidak ada yang menggangu." katanya bersemangat.


"Hai, Than." Empat orang laki-laki tampan beriringan masuk ke ruang perawatan Tita, membuat laki-laki yang di panggil berdecak


kesal dan sang istri tertawa.


"Pengganggu!" gumam Nathan. "Ada apa kalian kemari malam-malam?!" pertanyaan yang


lebih menjurus ke arah protes, ha ha.


"Lho, kenapa? Oh ... apa kedatangan kami mengganggu kalian??" Rega yang paham langsung menggoda Nathan.


Nathan langsung turun dari tempat tidur dan duduk di pinggir tempat tidur Tita begitu dia melihat sahabat-sahabatnya mendekat ke arah tempat tidur.


"Hai, Tita ... apa kabar?"


"Sudah lebih baik, kak."


"Kenapa kamu jadi lebih cantik dari sebelumnya sih?" Rega sengaja membuat Nathan melirik padanya. Senang sekali dia mengganggunya.


"Kamu mau mati?!"


Ha ha ha... "Santai Than, aku kan hanya memuji istrimu saja."


Nathan makin kesal, bahkan dia sampai melirik Brian dua kali. Sedangkan Brian, yang di lirik seperti itu langsung merasa ... ah, apa aku melakukan kesalahan??


"Sayang, kamu istirahat saya ... tidak perlu memperdulikan mereka." kemudian Nathan mengecup kening Tita lembut, dan menggiring para laki-laki itu duduk di sofa. "Jadi, ada apa kalian kemari malam-malam begini?"


"Nathan, apakah sebelum kami datang ... kamu mau melakukan hal yang enak-enak??" terkutuk memang Rega, tidak henti-hentinya dia menggoda Nathan. Seperti hal itu adalah kesenangan barunya.


"Menurutmu?? Apa pertanyaan itu penting sekarang??" ketus sekali Nathan menjawabnya. Ha ha ha.


"Sudahlah, Rega, jangan menggoda nya terus." Thomas menengahi.


"Dan jangan kalian berisik, pasien ku harus beristirahat." Axel melihat jam tangannya, dan memperingatkan mereka.


"Nathan, kami sudah menemukan pelaku yang menabrak Tita." ucap Rega.


Tubuh Nathan menegang, "Kamu yakin?"


"Iya, dan kamu pasti tidak akan mengira siapa pelakunya," Thomas menambahi. "Ingin aku hancurkan langsung dia jika saja Rega tidak menahanku."


"Siapa? Aku mengenalnya?"


"Clair, tuan. Dia yang menabrak nona dan melakukannya dengan sengaja."


"Apa?!!" Nathan nyaris berteriak jika saja dia tidak ingat bahwa sang istri sedang tertidur. "Bagaimana bisa dia melakukan hal sekejam itu?!!"


"Wanita gila!" Ucap Brian.


Nathan memendam kemarahan, wanita itu pernah membuat Tita-nya cemburu dan marah padanya. Dia juga berpaling dari sang istri meskipun itu bukan keinginannya, tapi hal itu menyakiti hati istrinya. Dan sekarang ... dia menjadi dalang dari kecelakaan sang istri hingga membuat mereka harus kehilangan calon buah hati mereka. "Thomas, aku tidak ingin berurusan dengan wanita ular itu. Dan aku juga tidak ingin dia hidup dengan nyaman."


Deg! ke empat laki-laki itu terdiam, kesadisan seorang Nathan muncul ... jika dia sudah berkata seperti itu, artinya dia menginginkan target merasa hidup segan mati pun tak mau.


"Kenapa kalian diam? Aku sudah cukup bermurah hati, kan?!" mereka mengangguk dan saling pandang. "Brian, singkirkan juga Denis ... dia adalah pemimpin yang tidak bisa mengajarkan anak buahnya dengan baik." huft, keputusan final sang tuan muda. Mungkin pribahasa akibat nila setitik rusak susu Sebelanga adalah kalimat yang pas untuk menggambarkan situasi saat ini. Yah ... Denis, si wali kota Kota B pasti akan terkena serangan jantung mendadak karena harus tersingkir dari kursi nyamannya karena sang wakil membuat kesalahan fatal, mengusik kenyamanan seorang Nathan bahkan lebih sadis lagi karena sampai menghilangkan nyawa calon buah hati mereka.


"Baik, tuan muda. Akan saya kerjakan segera." jawab Brian.


Dan diantara mereka tidak ada yang menyangka bahwa Tita mendengar dengan jelas semua yang mereka bicarakan. Tita menangis dalam diam, dia memejamkan mata namun air matanya tidak dapat berhenti mengalir. Bagaimana bisa ada wanita yang tega menyakiti sesamanya, hanya karena dia ingin memiliki suaminya?? jahat sekali.