
Malam ini kedamaian kembali di dapat sang tuan suami, kesalahan pahaman itu sudah teratasi dengan bantuan Brian dan Thomas. Kini, sang tuan suami sudah bersiap diatas tempat tidurnya menunggu sang istri sambil membalas beberapa email yang masuk. Hm, lama sekali istriku. Pikirnya.
Sementara sang istri masih berdiri di depan lemari pakaiannya, menatap aneh sederet pakaian tidur yang nyaris tidak dapat menutupi tubuhnya. Siapa yang mengganti baju tidurku?? Selepas makan malam, Tita memang mengobrol sejenak dengan sang ibu dan sang nyonya mami ... rasanya sudah lama dia tidak bercengkrama seperti itu lagi. Dan ketika Tita masuk ke kamarnya, sang tuan suami baru selesai memakai baju tidurnya.
"Maaf, tadi aku ngobrolnya terlalu lama ya?"
"Tidak apa-apa, mandilah dulu ... aku tunggu di tempat tidur ya, sayang." jawab Nathan dengan pandangan yang meneduhkan.
Disinilah dia, niat hati ingin memakai baju tidurnya ... tapi kemudian di kejutkan dengan telah berubahnya semua model pakaian tidurnya, sudah lebih dari lima menit Tita hanya berdiri dengan handuk yang masih melilit di tubuhnya.
"Sayang, kenapa lama sekali?" Nathan berteriak dari dalam kamar, tidak sabar.
"Iya, iya, sebentar." jawab Tita. Apa aku tanyakan saja ya. Maka dengan hanya mengeluarkan kepalanya Tita bertanya kepada sang suami.
"Nathan ... sayang,"
"Hm ..."
"Apa kamu tahu kemana pakaian tidurku ... yang biasa ku pakai?"
"Mana aku tahu ... apa kamu pikir aku tidak punya kerjaan lain selain memperhatikan isi lemari pakaianmu? Cepatlah kemari ... jangan lama-lama." Nathan sebenarnya sudah tidak tahan ingin melihat kejutan itu.
"Iya, i ... iya." malah marah dia, duh ... bagaimana ini? ah ... tidak tahu deh, pakai yang mana saja ... aneh sekali, modelnya sama semua seperti ini. Maka dengan cepat dipakai juga baju tidur itu, Tita asal mengambilnya karena tidak ada pilihan yang lain. Menatap dirinya di depan cermin. Ya ampun, cari mati aku kalau seperti ini.
Tita mengintip ke arah tempat tidurnya, ah ... sang suami sedang menelpon di dekat jendela. Maka dengan cepat Tita berlari ke tempat tidur dan langsung menyembunyikan tubuhnya. Jantungnya masih memompa dengan cepat akibat berlari, tenang Tita ...
"Kamu sudah tidur?" Nathan rupanya sudah selesai dengan pekerjaannya. Tapi Tita hanya diam tidak menjawab. Oh, pura-pura tidur ... hehe, Nathan melihat tubuh sang istri yang ditutupi selimut dengan rapat ... hanya kepalanya saja yang terlihat. Senyum jahil menghiasi wajah tampannya. Dia sangat tahu apa yang sedang disembunyikan istrinya.
Nathan menempatkan dirinya menghadap sang istri, "Sayang, balik badan." perintahnya. Tapi tetap tidak ada jawaban. "Kalau kamu masih pura-pura tidur, aku akan membalik tubuhmu dengan paksa!" mati kita lihat apakah ancam ini berhasil?
Yess! berhasil. Tita langsung membalik tubuhnya, tanpa mengendurkan selimut yang dipakainya. "Hoaam ... ada apa, sayang." akting, biar tidak dimarahi.
"Aku tidak pakai selimut." sengaja banget yaaaa Nathan. ha ha ha.
"Yaa.. pakai saja." Tita berfikir, apa masalahnya? dia bisa pakai selimut dari sisi sebelah sana kan.
"Kamu tidak mau melayani aku?!"
Dengan sangat terpaksa Tita mengeluarkan sebelah tangannya yang tidak terbungkus apa-apa, menarik selimut agar sang suami bisa masuk ke dalamnya. Baru tangannya saja yang terlihat sudah merah wajahnya.
"Hei, kamu kenapa sih? Apa tidak sulit bergerak? Kenapa kamu tidak bangun dulu?!" sengaja Nathan membuat sang istri makin tertekan.
"Tidak mau!" ah, kelepasan.
"Kenapa?!"
Kini Nathan sudah berada di dalam selimut, tapi di kesal karena Tita menjaga jarak dengannya. Sepertinya kesabaran sang tuan suami sudah habis, dia pun sudah tidak tahan ingin melihat sang istri dalam baju tidur barunya. Maka dengan gerakan sangat cepat, Nathan menarik selimut yang di menutupi tubuh istrinya. Kontan hal itu membuat Tita kaget dan berteriak.
"Nathaaan!!!" Tita panik, berusaha merebut selimut dari genggaman sang tuan suami yang jahil. Lupa menutupi bagian-bagian tubuhnya, membuat sang tuan suami menelan ludahnya, menatap sang istri dengan lapar. Sadar dengan apa yang sedang terjadi, Tita mengambil bantal besar yang tadi di gunakan untuk sanggahan kepalanya.
Tawa Nathan makin menggema, "Kenapa?? lepaskan bantal itu ..."
"Gak mau ..."
"Lebih baik kamu memelukku daripada bantal itu." Nathan sudah bergerak ingin mengambil bantal yang dipeluk sang istri.
"Jangaaaan!!!!"
Ha ha ha ... "Aku tidak akan melakukan apa-apa, aku hanya ingin melihat saja..." bujuknya.
"Tidak ... jangan, sayang ..."
"Kamu tidak percaya pada suamimu sendiri?!" Nathan memasang muka kesal.
Kalau sudah begitu, Tita lah yang serba salah. Siapa juga yang tega-teganya mengganti model baju tidurnya seperti ini ... dan sekarang, malah dia yang di tuduh tidak percaya dengan suaminya sendiri. "Aku bukan tidak percaya kamu ... hanya saja, aku risih dengan baju ini."
"Kenapa? aku suka kok." Nathan mendekat dengan senyumnya yang jahil. "Aku mau melihat, sayang ... lepas bantal itu." pandai sekali sang tuan suami memohon layaknya anak kecil.
huuuuh dasar yaaa Nathan, memang itu ulahnya, mengganti baju-baju kurang bahan begitu. Tapi tetap tidak mengaku. Tita mengalah pada akhirnya, perlahan dia menurunkan bantalnya ... bisa dibayangkan bagaimana sumringahnya Nathan, kan?
"Cantik," pujian Nathan membuat Tita malu meskipun wajah Nathan lah yang merona, ha ha ha. "Mulai sekarang kamu harus pakai baju seperti ini kalau tidur, ya?"
"Tapi, aku kedinginan," Tita memelas minta di kasihani.
Nathan buru-buru turun dari tempat tidur dan mengambil selimut yang tadi di singkirkan nya. "Ayo, berbaring." katanya lembut sambil mengibaskan selimut ... sang istri menuruti perkataan sang suami, tapi kini posisinya berubah karena Nathan tidak lagi berbaring di sebelah sang istri, melainkan sudah menyangga tubuhnya dengan kedua tangannya dengan sang istri yang terkurung di bawahnya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tita sudah mulai berdebar. Padahal belum ada yang Nathan lakukan tapi entah mengapa hawa di sekeliling Tita berasa panas. "Tadi kamu bilang tidak akan melakukan apa-apa."
"Itu kan tadi ... sebelum aku melihatnya." Nathan menurunkan sedikit kepala untuk memberikan ciuman di kening sang istri. Tita hanya memejamkan kedua matanya, tidak dipungkiri bahwa dia suka jika sang suami mencium keningnya ... rasanya hangat dan terlindungi. Kemudian dikecupnya ke dua mata yang sedang terpejam itu di ikuti kata-kata, "Cukup lihatlah aku dengan matamu ini." meskipun Tita tidak mengerti maksud dan tujuan perkataan Nathan tapi dia tetap mengangguk. Kemudian, ciuman sang tuan suami pindah ke kedua pipinya, di ikuti dengan kata-kata, "Percayalah padaku selalu." Kini, Nathan mencium bagian di wajah sang istri yang selalu membuatnya merindu, "Aku mencintaimu, jadi jangan ragukan cintaku."
Blush!! Tita merasakan aliran darahnya naik dengan cepat ke wajahnya, karena kini pipinya terasa panas.
Nathan kembali menahan beban tubuhnya dengan tangannya, di tatapnya wajah sang istri yang sedang tersenyum, seolah lupa betapa malunya dia tadi. "Sayang,"
"Apa?" Tita menjawab dengan lembut. Huh ternyata aku juga bisa bersikap lembut seperti itu.
"Gantian." hanya itu kata yang di ucapkan sang tuan muda.
Tita membelalakkan matanya karena mendengar permintaan sang tuan suami. Gantian? Gantian apa?! Masa aku harus merayunya seperti yang tadi dia lakukan?!!