Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 10



Tita sampai di apartemennya pukul 6 sore, masuk ke dalam dan dia di kejutkan oleh dua pasang sepatu tergolek tak berdaya di lantai. Dengan terburu-buru dia masuk ke ruang tengah dan ... "Hah! kalian ..." kedua orang itu memutar kepalanya begitu mendengar suara Tita, "Hai ..." seru mereka serempak sambil melambaikan tangan.


"Bagaimana kalian bisa masuk?"


"Aku kan tahu kode pintu kamu," sang nona menjawab. "Dan dia datang bersama ku." lanjutnya, menunjuk ke arah Mike yang sedang memamerkan deretan giginya.


"Oh, iya, aku lupa. Aku mandi dulu guys." Tita berlalu meninggalkan teman-temannya untuk membersihkan diri. Aduh, hari pertama bekerja, hari pertama meeting, hari pertama bertemu bos besar, benar kan aku tidak membuat kesalahan di hari pertama ku ini? Kejadian pagi tadi masih meninggalkan rasa tidak enak bagi Tita. Setelah menyelesaikan ritualnya, Tita keluar menemui tamu spesial. "Kalian sudah makan?"


"Belum, tapi aku sudah pesan makanan mungkin sebentar lagi datang. Aku tahu pasti kamu juga gak mau di ajak keluar," Mike memang selalu tahu keinginan Tita.


"Ah, Mickey ... you know me so well," jawab Tita sambil melebarkan tangannya ingin memeluk Mike. Dan Mike dengan senang hati menyambut pelukan sahabatnya. Namun, belum sampai kedua insan itu berpelukan tiba-tiba sang nona menarik Tita duduk di sebelahnya. Tita yang tidak siap terjerembab begitu saja di sofa. Ha ha ha ... Mike tertawa.


"Aku baru tahu kamu sangat butuh belaian." Loudy jengkel. Ups, jengkel?


"ih, kenapa sih ... kamu jealous?" cibir tita.


"Gak lah, cuma risih aja liatnya."


"Jealous juga gak apa-apa kok, non," hi hi hi.


Mike hanya memperhatikan kedua gadis di depannya. Huh, bagaimana caranya dia bisa meluluhkan hati sang gadis, terlihat sekali dia tidak punya sedikit pun rasa padaku. Mike menghela nafas sekali lagi. Ting tong ... bel berbunyi. Mike yang langsung bangun dan menuju pintu, ternyata makanan mereka datang. "Yuk, kita sambil makan."


"Tita, gimana tadi rapatnya?" Loudy membuka pembicaraan, karena dia dan Mike kesini memang karena penasaran.


"Biasa aja sih, cuma tadi klien kita aneh banget." Tita menjawab setelah mengosongkan mulutnya.


"Aneh bagaimana?" Mike.


"Tiba-tiba aja dia menyudahi rapat tadi, dan bilang nanti akan di jadwal ulang. Aku jadi merasa apa aku bikin salah ya?"


"Emang kamu ngapain?" sang nona penasaran.


"Aku cuma menjelaskan detail dari design yang aku buat. Aku bahkan belum tahu dia maunya apa. Menurut kalian, itu ... aku di usir bukan sih?" sejujurnya Tita masih cemas.


"Bisa jadi," Loudy membayangkan wajah kakaknya.


"Lou, kok kamu bilang begitu sih? Gak Tita, mungkin mereka ada jadwal lain yang mendesak." Mike mencoba menenangkan.


"Aku kan bicara kemungkinan. Soalnya kalau kakak aku yang jadi orang itu, pasti maksud nya mengusir itu ..." Hah, penjelasan sang nona sangat tidak membantu.


Tita makin pusing di buatnya, jadi tidak napsu untuk melanjutkan makan. Di lihatnya piring makanan, untung dia sudah menghabiskan butiran nasi terakhir tadi, sebelum sang nona mengeluarkan kata-kata yang bikin down.


"Udah, Ta, gak usah dipikirin. Mungkin benar yang Mike bilang, mereka sedang ada urusan yang mendesak." Akhirnya, sang nona meralat kata-katanya. Dia tak ingin sahabatnya bersedih di hari pertamanya bekerja.


Nah, Tita mulai tersenyum kini. Liat aja besok deh, pikirnya. Toh design yang dia buat sudah baik sekali. Dan dia sangat percaya diri akan karyanya itu.


Setelah tamu-tamunya pulang, Tita membereskan ruangan yang tadi menjadi tempat mereka bercengkrama. Kemudian dia masuk ke kamarnya, mengistirahatkan badannya. Dan berharap esok menjadi hari yang indah.


Pria-pria tampan yang sedang duduk menatap seorang pria high quality jomblo, yang sejak kedatangannya sudah terasa seperti orang yang berbeda. Ya, dia Nathan. Duduk di single sofa dan sudah menghabiskan 2 kaleng soda dalam waktu 1 jam, tidak berminat untuk bicara


hanya senyum-senyum sendiri, padahal karena dia lah mereka semua ada disini.


Karena dirasa tak mungkin mendapatkan penjelasan dari sang tuan muda, mereka melihat ke arah sang sekretaris, Brian. "Tuan muda sedang jatuh cinta," satu kalimat singkat dan jelas. Tapi entah mengapa bagi mereka itu seperti mimpi. "Dari mana kamu tahu dia sedang jatuh cinta?" korek Thomas.


"Iya, jatuh cinta sama siapa?" Axel menambahkan.


"Kamu yakin Nathan jatuh cinta? Memangnya mereka sudah kenal lama? rasanya, aku belum pernah dengar dia menceritakan wanita manapun?" Rega memberondong Brian dengan pertanyaan-pertanyaan.


"Cih," Nathan hanya melirik teman-teman nya itu dengan sebal. "Memang aku tidak bisa jatuh cinta?" kini dia tengah merajuk.


"Ya, jika laki-laki itu bukan kamu, aku pasti percaya," Yang lain tertawa mendengar jawaban Thomas.


"Tuan Nathan jatuh cinta pada pandangan pertama," jelas Brian. Nathan hanya mengangkat dagunya di saat teman-temannya melongo tidak percaya. "Gadis itu, pegawai baru dari Mirae Contruction ... yang membuat design untuk galeri seni kota B. And for your information, she's a fresh graduate." jelas Brian.


"Gila! daun muda guys!" seru Axel.


"Nathan, berarti dia seumuran Loudy dong?" Rega.


Nathan memutar bola matanya malas. Memang kenapa sih, pikirnya. "Aku tidak pernah merencanakan jatuh cinta pada siapapun dan kapanpun. Kalau hal itu terjadi kali ini, memang aneh?" sang tuan muda sudah mulai geram.


"Iya," Thomas, Axel, Rega, menjawab serempak.


"Brian!" habis sudah kesabaran sang tuan muda. Dan teman-temannya itu langsung menyadari kesalahannya, dan buru-buru meluruskan jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak mereka inginkan.


"Bukan begitu maksud kami." kali ini Rega yang mencoba meredam emosi si gunung es. "Kami hanya ingin memastikan, kamu jatuh cinta dengan tulus dan tidak karena tipu daya wanita. Kamu tahu maksud aku kan?"


Nathan kembali tenang, memang benar yang dikatakan Rega, "Untuk itulah aku meminta kalian kesini. Aku ingin masukan, bagaimana cara membuat seorang gadis jatuh cinta padaku?"


Sungguh, ini adalah hal yang sangat aneh. Pasalnya, wanita-wanita pasti akan senang hati dan bahkan langsung melemparkan dirinya sendiri jika Nathan yang meminta. Tapi sekarang kenapa malah Nathan yang ingin membuat gadis itu jatuh cinta padanya?


"Tidak usah kalian menatapku seperti itu,"


"Tuan muda baru hari ini bertemu gadis itu dan nona Zahra tidak tahu bahwa tuan muda sudah jatuh cinta padanya." jelas Brian. Thomas, Axel dan Rega saling pandang, kasihan sekali temannya ini. Kenapa dalam hidupnya, hanya masalah cinta yang tidak dapat berjalan dengan sempurna.


"Memang kamu mau melakukan pendekatan dengan cara seperti apa?" Thomas memang ahlinya untuk urusan seperti ini. Brian memang tidak salah pilih.


"Aku tidak tahu. Makanya kalian aku panggil kemari.


"Oke, kalau begitu kamu mulai dengan berikan dia perhatian-perhatian kecil." Ide Thomas.


"Perhatian seperti apa?" Nathan mulai antusias. Baiklah ... pelajaran kita mulai.