Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 76



Benar? benar dia bilang? Dia mengabaikan aku karena sedang bersama dengan wanita itu? Tita tidak ingin menangis, sungguh. Tapi dia juga tidak berdaya jika air mata itu keluar tanpa perintahnya.


Nathan yang melihat istrinya menangis langsung memeluknya, "Sayang, please ... jangan menangis. Aku salah karena tidak membalas pesan-pesanmu, tapi bukan karena aku ingin mengabaikan kamu."


"Sudahlah, beritahu saja alasan kamu. Aku tidak ingin menangis, tapi aku juga tidak bisa menahan jika air mata ini keluar." terdengar jelas dari nada bicaranya bahwa Tita sudah bete dengan sang tuan suami.


"Thomas merencanakan semuanya, aku juga berat melakukannya ..." Nathan tidak sanggup melihat Tita yang berusaha menahan tangisnya. Dia bisa merasakan rasa sakit yang sedang dirasakan sang istri. Oh, kesayangan ku ... Tidak, tidak bisa seperti ini. Nathan menggenggam tangan sang istri ... "Ayo, ikut aku!"


"Eh, mau kemana? pembicaraan kita belum selesai."


"Aku tidak sanggup mengatakannya sendiri, aku akan langsung memperlihatkan buktinya padamu."


Ketika dua sejoli itu menuruni tangga, tentu membuat semua orang yang ada di ruang tamu memperhatikan mereka. Nathan yang sedang berjalan menggenggam tangan Tita.


"Brian, siapkan mobil." perintahnya.


Brian yang masih bingung dengan situasinya hanya berjalan menyiapkan mobil. Tidak seperti pagi tadi, tuan muda kini lebih bersemangat.


"Kamu mau kemana, Nathan?" sang mami bertanya.


"Keluar mi." duh, irit banget yaa jawabnya ... senang sekali membuat sang mami penasaran.


"Kita mau kemana, tuan?" tanya Brian setelah mereka berada di jalan raya.


"Ketempat Thomas,"


"Kenapa ketempat kak Thomas?" tanya Tita.


"Aku tidak sanggup mengatakannya, kan sudah ku bilang tadi."


"Kenapa tidak sanggup?!"


"Karena aku tidak tahan melihatmu menahan tangis, seperti tadi."


Mendengar jawaban sang tuan suami membuat Tita memalingkan wajahnya. Huh, siapa yang tidak melambung mendengar jawaban seperti itu.


Dan Nathan menyadari perubahan sikap sang istri, karena memang dia sedang memperhatikan Tita tadi. Ih, lucu banget sih istri aku. Maka dipeluknya Tita dari samping.


"Jangan peluk-peluk, aku masih marah padamu." protes sang istri.


Sedangkan Brian hanya tersenyum melihat tingkah suami istri dibelakangnya ... siapa sangka aku merindukan momen seperti ini. Lihatlah sang penguasa itu ... bisa-bisanya dia tunduk dengan kata-kata istrinya. Ha ha ha.


Kini mereka tengah berada di ruang tamu Thomas, Tita sedang melihat rekaman yang dibuat pada saat Nathan sedang bersama Anya di private room. Semuanya memang sudah terorganisir dan terencana karena memang ini adalah rencana mereka untuk menjebak Anya sebagai sumber informasi Muller Groups.


"Kamu tahu? hampir saja suamimu yang jatuh dalam perangkap mantannya itu." jelas Thomas di sela-sela pemutaran video.


"Mengapa?" tanya Tita.


"Anya meminta pelayanan yang khusus ku tugaskan untuk mencampur obat perangsang ke dalam minumannya." Thomas menunjuk Nathan.


"Hah?? lalu?" Tita menatap tajam ke arah sang tuan suami.


"Tidak ... aku tidak meminumnya." jawab Nathan cepat, dia tidak mau sang istri salah paham lagi.


Ha ha ha ... Brian dan Thomas tertawa. "Tita kamu lihat sendiri bagaimana suamimu, dia itu sudah bertekuk lutut padamu ... hanya kamu yang mampu menaklukkan nya ... lihatlah, kamu curiga sedikit saja dia sudah panik seperti itu." ha ha ha ... kedua sahabat itu sangat puas melihat bagaimana perilaku Nathan, apalagi Thomas yang baru kali ini benar-benar melihat se-bucin apa Nathan.


"Mereka benar, Tita, bahkan aku yang berpenampilan seksi seperti ini saja tidak membuatnya tergerak sedikitpun." Jane, kekasih Thomas yang tidak pernah lepas dari pakaiannya yang seksi dan menggoda ikut bergabung dengan mereka.


"Ha ha ha, tuan muda ... istrimu polos sekali ya?" Jane menanggapi wajah Tita yang merona. Otomatis para laki-laki itu memandang Tita yang masih kikuk, dan membuat Tita makin kikuk.


"Hei ... jangan menganggu istri ku." Nathan merangkul sang istri, "Jangan dengarkan dia." katanya.


"Kamu pernah menggodanya?" siapa sangka Tita malah balik bertanya pada Jane.


"Iya, teman-temannya ini yang memintaku untuk menggodanya agar dia mau menghabiskan malam yang panas dengan ku, lebih bagus lagi jika bisa menjadi kekasihku."


"Kamu mau?" Tita bertanya lagi.


"Tentu saja ... siapa yang bisa menolak pesona seorang Nathan Petra?!" Jane menjawab dengan yakin.


"Lalu ... kenapa kamu sekarang bersama kak Thomas?"


"Buat apa aku bersama laki-laki yang tidak bisa membangkitkan gairahnya ... selain laki-laki kaya, aku juga ingin laki-laki yang bisa memuaskan aku." Jane memang orang yang sangat frontal kalau berbicara, ya ...


Tita bingung, melihat ke arah sang suami seolah mengatakan, apa wanita itu bergurau?? Dan sang tuan suami hanya mengulum senyumannya. Kelakuan sepasang suami istri ini membuat Thomas makin curiga dan menerka-nerka.


"Tita ... sebelumnya kami berfikir Nathan memiliki penyimpangan seksual, karena tidak pernah tertarik dengan wanita," Thomas menjelaskan kepada Tita. Nathan hanya memutar bola matanya dengan malas.


"Yang benar?!" tanya Tita tidak percaya. "Kok bisa??"


"Bahkan pernah ada majalah yang memuat informasi bahwa penguasa Petra Corporate adalah g*y." Brian ikut memberikan sedikit informasi.


Ha ha ha ... Tita tertawa, sungguh dia baru tahu hal ini. Laki-laki yang tidak pernah puas mengajaknya olah raga malam ini ternyata pernah di gosipkan seperti itu.


"Apanya yang lucu?" Nathan merasa heran dengan sang istri yang menertawakannya.


"Tidak, aku hanya tidak menyangka saja ..." Tita berbicara sambil tertawa, "Kamu ... kamu yang tidak pernah lelah mengerjai ku setiap ada kesempatan bisa di gosipkan seperti itu." Ha ha ha.


Titaaaa ... sungguh polos gadis ini. Secara tidak sadar dia malah membuka rahasia kegiatan percintaannya. Siapa yang tidak gemas dengan kepolosannya itu??? Apalagi untuk Don Juan seperti Thomas ... bagaikan harimau yang siap menerkam mangsanya.


Dan sang tuan suami, dia tidak marah apalagi malu. Nathan justru merasa bangga dihadapan Thomas yang dulu tidak pernah lelah menjodohkannya dengan berbagai macam wanita. "Nah, bisa ku buktikan aku tidak selemah itu, kan?" Ha ha ha. Nathan jumawa.


Pamer. Thomas.


Pamer. Brian.


"Kak Thomas, maaf ya ... sudah merepotkan kamu."


"Hei, tidak perlu sungkan seperti itu. Kita itu kan keluarga." jawab Thomas.


"Tidak perlu kamu tunduk padanya, sayang. Aku lebih berkuasa dari dia. Jadi seharusnya dia yang tunduk pada kita." jawab Nathan dengan wajah yang masam. Nathan sebenarnya kesal tiap kali Tita memanggil 'kak' kepada sahabat-sahabatnya. Karena sang istri tidak selalu menyebutnya 'sayang'.


"Tidak boleh seperti itu, mereka kan sudah membantumu dan selalu ada bersamamu. Jangan sombong, aku tidak suka!" keluh Tita.


"Iya, iya ..." kata sang tuan suami dengan patuh. "Aku bukannya sombong,"


"Lalu tadi itu apa?"


"Hm, aku hanya tidak suka ... kamu selalu konsisten memanggil mereka dengan 'kak' tapi memanggil ku dengan nama saja." protes Nathan.


Dih, mana aku kepikiran sampai situ, aneh. Pikir Tita. "Ya, itu kan karena kamu suamiku ... masa aku panggil kamu 'kakak'?!" benar-benar jawaban yang sangat tidak diharapkan oleh sang tuan suami, dan malah mengundang tawa mereka yang ada di sana. Tapi Nathan bersyukur, dia telah berdamai dengan Tita-nya, kekasihnya, kesayangannya. Biarlah gadisnya tetap dengan kepolosannya, namun satu kenyataan yang juga membuatnya bahagia ... Tita-nya, juga seorang pecemburu. Ha ha ha.