
"Sayang ... kenapa sih, kok gelisah begitu?" Nathan yang sejak tadi memperhatikan Tita, merasa bahwa sang istri sedang tidak nyaman.
"Aku ingin makan."
"Makan? yuk kita turun, tumben sekali kamu sudah lapar jam segini."
"Makan di luar yuk." iya ... tita memberi ide di sertai wajahnya yang berbinar-binar.
"Mau makan apa?" Nathan mengambil ponselnya hendak menghubungi Brian yang memang sudah pulang ke rumahnya. "Aku akan minta Brian kembali lagi ke sini untuk mengantar kita."
"Aaah ... jangan, kita pergi berdua saja."
"Tidak, bahaya. Aku akan memanggil Brian."
"Tapi sayang, kak Brian kan sudah pulang ke rumahnya." Tita melihat aura tidak mengenakkan yang di tunjukkan Nathan. "Aku ingin berdua saja dengan kamu." cepat-cepat di ralat omongannya.
"Tapi sayang..."
"Kamu tidak bisa menyetir?"
"Bisa,"
"Lalu? apa masalahnya??" Tita mulai merasa kesal karena sang suami masih belum goyah pendirian nya.
Duh istrinya merajuk, "Baiklah, aku akan menyetir sendiri, bersiap-siap lah." pada akhirnya Nathan memutuskan untuk mengikuti kemauan sang istri.
"Asiiiik! aku ganti baju dulu ya ...." Cup. Blush!
Selalu ... selalu, kecupan spontan sang istri membuat sang tuan suami merona, hehe.
Nathan dan Tita menuruni tangga sambil bergandengan. Pakaian mereka rapi seperti hendak pergi, sehingga membuat sang mami bertanya, "Mau kemana? sebentar lagi kita makan malam?"
"Tita mau jalan-jalan, mi." Nathan yang punya kebiasaan selalu makan malam di rumah bersama keluarganya, jika memungkinkan, jadi tidak enak jika mengatakan ingin makan di luar.
"Nanti saja jalan-jalannya, setelah makan malam, ya?" pinta sang nyonya mami kepada Tita, dan tentu saja membuat Tita tidak enak.
"Mami makan bersama Loudy saja, ya. Aku sudah janji mengajak Tita keluar sekarang."
Oh, mami paham. Dia pun pernah muda, hm ... rupanya sang anak ingin mengajak istrinya kencan ... "Baiklah, hati-hati ya ... tapi, mami tidak melihat Brian?"
Nathan mengecup pipi sang mami, "Kita ketemu di lokasi mi," Bisiknya. Dia tidak mau Tita mendengarnya, ha ha.
"Aku berangkat ya, nyonya mami." Tita juga melakukan hal yang sama dengan Nathan.
Maka berangkatlah mereka, Tita senang sekali hanya berduaan dengan Nathan. Kalau boleh jujur, ini adalah salah satu impiannya dulu jika suatu saat dia memiliki pacar. "Kita beli makan di sana yuk." Tita menunjuk ke satu rumah makan yang menyajikan mie dengan aneka toping pangsit dan kuah kaldu yang gurih.
"Mie? jangan ah, kamu belum makan nasi, sayang." Nathan tentu tidak mengijinkan makanan rendah gizi seperti itu masuk ke perut sang istri.
"Kenapa? itu enak lho, aku pernah mencobanya." Tita masih ingin makan di sana.
"Tidak. Makan yang lain saja atau kita pulang."
"Kenapa? apa yang kamu pikirkan dengan kepalamu itu?" Nathan tanpa melihat Tita karena fokus pada jalan di depannya yang agak padat karena lampu lalu lintas yang mulai memerah. "Di tempat lain saja ya, sayang." tetap mencoba bernego dengan sang istri dengan merendahkan suaranya, dia juga tidak mau acara kencan malam ini berantakan.
"Kentucky saja kalau begitu." Tita melihat perubahan wajah Nathan, dan belum lagi laki-laki di sebelahnya melayangkan protes Tita sudah mendahului nya, "Kalau kamu menolak, kita pulang saja!" aku sudah mengalah tadi, jadi tidak akan aku mengalah lagi sekarang. Begitu pikir Tita.
"Hm,"
"Hm ... apa?!"
"Baiklah, terserah kamu saja." maka Nathan membawa mobilnya memasuki parkiran restoran cepat saji yang terkenal dengan ayam goreng tepungnya. "Apa yang ingin kamu makan?" tanyanya.
"Ayam, spaghetti, soup cream, kentang dan burger." Tita menyebutkan dengan suka cita, ""Oh, aku ingin air mineral ya ... tidak dingin." menatap penuh bahagia kepada sang tuan suami.
Banyak sekali pesanannya, pikir Nathan. "Kamu yakin akan habis makan itu semua?"
"Iya, tentu saja." aaah ... bahagianya, kencan yang sempurna ... akhirnya kesempatan seperti ini datang juga.
Sambil menunggu waiters menyiapkan pesanannya, Nathan mengirimkan sebuah pesan ke ponsel Brian. "Jangan terlalu dekat, aku tidak mau menghancurkan mood Tita-ku malam ini." pesan singkat untuk seseorang yang sejak tadi sudah mengikuti mobilnya kemanapun, hingga sampai di restoran cepat saji ini.
"Baik, tuan muda." balas Brian. Hm ... anda benar-benar kencan dengan normal ya nona. Brian benar-benar mengawasi dua insan yang sedang kencan itu dalam jarak aman. Sepertinya semua berjalan dengan baik hingga ... ****! darimana datangnya wanita itu?!
Seorang wanita cantik memakai tanktop dan rok pendek yang memperlihatkan paha mulusnya, tiba-tiba saja mendekati Nathan dan langsung memeluknya.
"Nathan!! is that you??"
wanita itu langsung mengalungkan lengannya pada leher Nathan, dan bukan hanya Nathan yang membeku namun juga sang istri, Tita.
Ketika tersadar Nathan langsung berdiri dan menjauh. "Who are you!" wajah Nathan mengeras menahan amarah, dia tidak suka di sentuh sembarangan oleh wanita-wanita, terlebih lagi saat ini dia sedang menikmati momen dengan sang istri.
"Ayolah, sweetie ... Kenapa kamu melupakan aku begitu saja?" wanita itu mendekat lagi.
"Stop there! and go away." Nathan mengibar-ngibaskan tangannya seperti mengusir lalat.
"Sayang, siapa dia?" Tita yang merasa terganggu dengan kehadiran wanita lain tidak bisa tinggal diam.
"Aku tidak kenal." jawab Nathan.
"Nathan ... bisa-bisanya kamu mengatakan itu padaku? padahal kita pernah melalui malam yang panas berdua??" dan apa mau dikata, wanita itu dengan tidak tahu malunya malah duduk se meja dengan mereka.
Tita yang memang sedang mood swinger menjadi teramat kesal. Dia tidak dapat menyembunyikan kemarahan dan rasa cemburunya terhadap sang tuan suami. Sedangkan Nathan, dia langsung panik karena mendapat tatapan seseram itu dari Tita.
"Maaf tuan, saya terlambat." kini Brian sudah berada di antara mereka. Nathan merasa lega dengan kehadirannya, sedang kan Tita, untuk berfikir kenapa Brian bisa ada di sini pun dia sudah malas.
"Nona, anda mengganggu kenyamanan ... silahkan ikut saya keluar selagi saya masih meminta dengan baik-baik." Brian mengatakan dengan tanpa ekspresi dan terkesan dingin. Dia malas mengurusi wanita-wanita yang sok kenal dan sok dekat seperti ini. Mencari-cari kesempatan untuk bisa dekat dengan sang tuan selagi dia tidak ada, cih!.
Wanita itu tau, siapa laki-laki yang entah darimana datangnya namun tiba-tiba sudah ada disini dan mengusirnya. Dia laki-laki yang sama seperti dua tahun lalu, yang juga mengusirnya dari sisi Nathan. Ya, dua tahun lalu ... ketika dia terpilih menjadi wanita yang harus menemani sang tuan muda Petra yang dingin dan tak tersentuh itu. Tapi, siapa peduli? toh, kalau dia berhasil memikat tuan muda Petra maka itu akan menjadi keuntungan baginya. Dan dia di pilih oleh tuan Thomas untuk menemani dan menggoda sang tuan Petra dan dia sangat yakin bahwa sang tuan akan tergoda, dia mengenakan mini dress yang luar biasa sexy dan melekat di tubuhnya, perfect!. Tapi sialnya, baru saja dia merapat dan bergelayut manja di lengan sang tuan muda ... sekretaris killer itu menariknya dengan paksa, bahkan memerintahkan anak buahnya untuk mengusirnya keluar. Dan sekarang, dia sudah senang bahwa sekretaris ini tidak terlihat tadi. Lalu, kenapa tiba-tiba dia muncul seperti hantu begini?
Brian sudah akan menarik lengannya, tapi wanita itu menghindar, "Jangan menyentuh ku? Iya, aku pergi." Dengan kesal wanita itu pergi dari sana.
"Maaf mengganggu kenyamanan anda, tuan, nona." Brian menunduk dengan rasa penyesalan.