Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 120



Saat ini sudah memasuki hari ke empat Tita ada di rumah sakit, keadaannya sudah jauh lebih baik dan stabil. Tentu saja Nathan tidak ingin jauh-jauh dari sang istri, itulah mengapa di salah satu sudut ruangan ini telah di sulap menjadi tempat kerja sang tuan.


"Sayang, kamu mau kemana?"


"Aku mau ke toilet," TIta sudah menyingkirkan selimutnya ketika bantuan datang.


"Kamu kan bisa bilang padaku, jangan sendiri sayang."


"Eh, eh .... aku bisa jalan," Tita otomatis melingkarkan lengannya di leher sang tuan suami.


"Aku tidak mau kamu kesakitan."


"Aku sudah sehat."


"Iya ... aku tau kamu sudah sehat, karena kamu sudah bisa mengajak aku berdebat." ha ha ha.


"Haruskah kamu juga masuk ke sini? Aku kan malu ..."


"Aku sudah melihat setiap inci tubuhmu dan bahkan sudah hafal letak dan ukurannya, jadi kenapa kamu masih malu?"


"Idih, sejak kapan sih kamu jadi vulgar begitu?!" kenapa sih dengan suaminya ini, kenapa jadi genit begini. Karena Nathan tidak juga beranjak dari tempatnay berdiri, maka dengan amat sangat terpaksa Tita melakukannya dengan di saksikan sang suami. "Aku sudah selesai." katanya kemudian.


"OKe oke ... jangan cemberut seperti itu, aku kan hanya mengkhawatirkan kamu." sekali lagi Nathan membopong sang istri untuk kembali ke tempat tidurnya, "Kamu tau, aku ingin sekali memangsamu sekarang." Ha ha ha.


"Aduh, jangan bicara seperti itu kenapa sih?" hanya Nathan yang dapat melihat jelas betapa merah muka Tita sekarang dan betapa senang hatinya bisa menggoda sang istri terus menerus.


"Wah, wah ... pantas saja tidak ada orang disini. Kalian sedang apa di dalam tadi? Nathan kan mami sudah bilang, tahan dulu keinginanmu itu ... istri kamu kan masih sakit."


Ha ha ha ... ternyata sang mami dan ibu mertuanya sudah ada di dalam ruang perawatan Tita, Apakah mereka terlalu lama di dalam sehingga menimbulkan kecurigaan??


"Tita buang air kecil, mi.  Aku hanya membantunya saja, tidak melakukan apapun."


"Iya mi, Nathan hanya membantuku saja. Dia tidak mungkin aneh-aneh disini, mi ..." TIta menatap mata Nathan yang kini berjarak dekat dengannya, "Iya kan, sayang?"


Sekarang wajah Nathan yang memerah, bahkan sampai telinganya, hahaha ... Tita menggodanya tepat di depan orang tua mereka, sungguh terlalu gadis ini. Begitu pikiran Nathan. Sementara orang tua mereka yang tidak mengetahui maksud terselubung dari pembicaaan anak-anaknya hanya manggut-manggut saja.


"Sayang, tadi kakakmu telpon. Dia ingin video call denganmu. Ibu pikir kamu masih istirahat, jadi mungkin nanti dia akan menghubungimu lagi."


"Ah, aku kangen kak Kala, bu." sang ibu membeli lembut rambut putrinya. Kala tidak pernah membiarkan adik semata wayangnya kesakitan, bisa di bayangkan bagaimana cemasnya dia ketika sang adik harus jadi korban tabrak lari sedangkan dia berada di belahan bumi yang lain.


"Kamu bisa menghubungi kakakmu sekarang kalau mau." tawar Nathan.


"Tidak perlu sayang, kak Kala pasti sedang bekerja aku tidak mau mengganggunya."


Nathan dengan sigap mengeluarkan ponselnya, "Halo, I want to make a video call with Kala and ask him to get ready now."


Tita dan sang Ibu tercengang dengan apa yang mereka dengar. Sesaat mereka lupa, bahwa laki-laki yang berdiri di sebelah mereka adalah bos dari bos, bos, bosnya sang kakak. "Kamu bisa menghubungi kakak kamu sekarang."


Tita tersenyum malu-malu, suaminya memang luar biasa ... baru terasa betapa berkuasanya laki-laki ini. "Eh, iya ... terima kasih." Tita jadi kikuk sendiri.


Nathan duduk dengan tiba-tiba di sebelah sang istri, "Aku tidak punya nomor kakakmu, kamu hubungi saja sekarang aku yakin dia sedang menunggu. Dan tidak perlu berterima kasih, aku senang melakukannya untukmu." senyum terbit di bibir Nathan, seperti dia telah melakukan hal besar saja, hehe.


"Kenapa memangnya?"


"Kamu belum makan dari semalam, kan? jangan sampai nanti Tita sudah boleh pulang malah gantian kamu yang masuk rumah sakit."


"Mami, jangan mendoakan yang buruk dong." tapi Nathan mendekat juga ke arah sang mami, dan makan. Hm .. sebesar apapun kita, di mata orang tua tetap saja bagaikan anak kecil ya.


"Makan dulu sayang, setelah makan baru telpon kakakmu." sang ibu sudah memberikan Tita satu suapan untuk sang putri makan.


Nathan melihat dari kejauhan, betapa hangatnya hubungan sang istri dan ibunya. Nanti pasti Tita akan bisa sehangat itu kepada anak-anaknya kelak. Anak? ah, andai saja dia tau lebih awal bahwa bayi kecil itu telah hadir dalam perut istrinya. Tidak! aku tidak boleh berfikiran seperti ini, itu bukan salah Tita-ku. Aku harus lebih menjaga istriku.


***


Brian sedang bersama Thomas dan Axel di kantin rumah sakit, mereka sedang menikati makan siang mereka dan terlibat obrolan ringan tentu saja.


"Jadi, Nathan sekarang bekerja dari rumah sakit ini?" tanya Thomas.


"Iya, dan dia lebih cerewet dari pasien yang sesungguhnya." Axel berkeluh kesah di sambut tawa kedua sahabatnya. "Aku bahkan kesulitan menyentuh pasienku sendiri, bisa kalian bayangkan??"


"Dasar dokter mesum, siapa suruh kamu seenaknya menyentuh pasien wanitamu?"


"Hei .. aku dokter dan harus memeriksa pasienku. Bagaimana caranya aku memeriksa kondisi mereka jika aku tidak diperbolehkan menyentuhnya?!" rupanya sang dokter sudah kesal akut.


Ha ha ha ... "Iya juga sih, tapi yang mau kamu sentuh itu Tita ... lebih baik jangan macam-macam." Thomas menanggapi.


"Aku mau memeriksa kondisinya bukan mau macam-macam."


"Iya, iya ... kita tau itu memang tugasmu. Poor you." Brian menimpali dan Thomas kembali tertawa. "oh ya, Thomas ... bagaimana, apa sudah ada perkembangan?"


"Aku sudah dapat rekaman kamera pengawas di sekitar kejadian sampai wilayah yang kita prediksi mobil itu melaju. Karena aku lelah, jadi Rega yang sedang mengecek semua rekaman kamera pengawas itu."


Puk! puk! puk! Brian menepuk-nepuk punggung Thomas yang memang terlihat sangat lelah.


"Aku yakin, Nathan tidak akan melepaskan pelaku apalagi yang jadi korban bukan hanya Tita, tapi juga anak mereka."


Uhuk! Uhuk! Thomas menyemburkan minumannya, "Apa maksudmu?!"


Ah, Axel lupa ... berita ini belum semua orang tau. "Tita, ternyata sedang hamil dan harus kehilangan bayinya karena kecelakaan itu." pada akhirnya semua juga akan tau kan?


Brak!!! "Kurang ajar!! Bahkan aku tidak akan membiarkan dia hidup!" Thomas murka.


"Hei, Thomas ... tenang," Axel memegang lengan Thomas yang sudah menegang, dan mengusapnya perlahan.


"Kenapa kamu tidak bilang?" kata-kata ini tertuju pada Brian.


"Aku bahkan baru mengetahuinya semalam."


"Jika aku sudah mendapatkannya, aku akan menghancurkannya ... beserta keluarganya kalau perlu."