Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 71



Nathan mengendarai sendiri mobilnya, dia bingung kemana harus mencari. Sengaja mengendarai mobil dengan pelan karena matanya ikut menelusuri jalan-jalan mencari sang istri. Sayang, kamu kemana? Disaat sedang bingung itu ada panggilan masuk ke ponselnya. Brian. "Halo?"


"Tuan, anda dimana?"


"Aku mencari istriku."


"Iya, saya tahu ... tapi dimana anda sekarang?"


"Aku di dekat taman kota,"


"Oke, berhenti disana ... saya akan menyusul anda. Jangan pergi kemana-mana."


"Aku ingin mencari istriku!" kesal, dia sangat kesal ... kenapa harus ada kejadian seperti itu. Sang istri pasti berpikiran yang tidak-tidak. Dia harus segera meluruskan kesalahpahaman. Dia tidak mau Tita-nya menangis lagi apalagi hanya karena salah paham.


"Tuan, saya kan bisa tahu keberadaan nona Tita melalui ponselnya. Anda tenang sekarang dan jangan kemana-mana. Saya akan segera tiba disana."


"Iya, cepatlah ... kenapa tidak bilang dari tadi." klik. Nathan tidak tenang saat ini, dan mau tidak mau dia harus menunggu Brian. Berkali-kali dia menghubungi sang istri tapi tidak satupun panggilannya di jawab. Sial! ini semua gara-gara Anya.


Duk! Duk! kaca mobil yang di tumpangi Nathan di ketuk, siapa lagi kalau bukan Brian. Cepat juga dia.


"Tuan," Brian masuk mobil.


"Bagaimana? kamu sudah mengeceknya?"


"Sudah, tuan."


"Lalu, dimana istriku?"


"Di rumah, tuan." jawab Brian.


"Di rumah? Dia sudah pulang? Ayo, cepat kita pulang."


Brian menyalakan mesin mobil, dan mobil pun melaju menuju mansion. Sang tuan muda merasa gelisah di jok belakang, aku tidak suka keadaan yang seperti ini. "Brian, rasanya aku sudah tidak tahan dengan keberadaan Anya."


"Baik, tuan. Segera saya bereskan." Brian mengerti apa yang di khawatirkan sang tuan, jadi apapun yang akan di katakan Thomas nanti, dia akan tetap membereskan wanita itu. Memang rencana mengorek informasi melalui Anya bagaikan memelihara bom waktu, dia tahu itu ... bahkan itulah yang membuat sang tuan muda menjadi khawatir sejak Thomas mengutarakan rencananya.


Mobil memasuki gerbang mansion, tanpa menunggu sang sekretaris membukakan pintu seperti biasa, sang tuan muda sudah keluar dan berlarian menuju rumah utama.


"Tita ... Tita ... sayang?" Nathan berteriak memanggil-manggil sang istri. Tidak seperti tuan muda yang biasanya selalu tenang dan berwibawa, kini dia sangat, sangat panik. "Hei, kamu melihat istriku?" sang tuan muda bertanya kepada salah satu pelayan yang lewat.


"Tidak, tuan." jawabnya takut-takut.


"Nathan, kenapa? Terburu-buru seperti itu?" sang mami menegurnya.


"Tadi Tita pulang, tapi sudah pergi lagi. Kenapa?" sang mami pun ikut bingung melihat sang putra yang menyedihkan seperti ini.


Nathan berlari keatas, ke kamarnya, dia memeriksa lemari pakaian, dibukanya pintu lemari tempat pakaian sang istrinya ... hanya ada pakaian yang dia berikan, tapi tidak ada yang milik istrinya sendiri. Make up yang biasanya berbaris rapi juga tidak ada.


"Sayang, ada apa?" pasti sesuatu yang besar sudah terjadi ... sang mami sangat khawatir jika Nathan-nya akan terpuruk lagi.


Brian tergesa-gesa masuk menemui sang tuan. Dan shock melihat keadaan sang tuan yang sudah terduduk di lantai, menangis di pelukan sang mami, dan menggenggam ponsel yang dia berikan berikan untuk sang istri sebagai hadiah kelulusan.


"Semua hanya salah paham, mami ... Aku tidak mungkin menduakan istriku," sang tuan muda yang tegas, dingin dan selalu menawan itu kini menangis pilu, bahkan dia tidak menangis seperti itu ketika putus dengan Anya dulu. Sang mami pun ikut merasakan kesedihan sang putra, diusap-usap punggung putra tersayangnya. "Tapi Tita-ku pergi ... aku harus bagaimana menjelaskannya." air mata itu tidak berhenti keluar dari matanya, membuat siapapun yang mendengar bahkan melihat tangisannya pasti ikut merasakan sakitnya.


Brian, merasa bersalah ... sedikit banyak dia juga berperan membuat sang tuan muda seperti ini. Brian menghubungi Thomas dan memberi tahu tentang apa yang sudah terjadi secara garis besar. "Kamu bereskan saja wanita itu, kita pasti menemukan cara lain. Dan kerahkan anak buah mu mencari nona Tita." klik.


Oh, bagaimana aku melacaknya ketika dia bahkan tidak membawa ponselnya. Thomas, semoga kamu bisa membobol email nona. Begitulah yang di pikirkan Brian.


Tita hanya membawa pakaian di tas ranselnya, dia sendiri tidak tahu mau pergi kemana. Yang pasti dia tidak ingin bertemu Nathan. Memang tadi di pulang kerumah, dia ingin mendinginkan kepalanya, jika tetap bersama sang suami dia takut tidak bisa menahan kemarahannya. Belum lagi kemarahannya reda, satu pesan dari nomor tidak di kenal masuk ke ponselnya ... foto, ada beberapa foto yang di kirim si pengirim pesan. Karena foto-foto itu hancurlah hatinya, karena foto-foto itu runtuh juga kepercayaannya. Otak Tita terasa buntu, satu sisi dia ingin meminta penjelasan sang suami, tapi di sisi lain ... huh, jadi seperti ini ya rasanya sakit hati.


Di tengah kebingungan itu, dia teringat sahabatnya, "Mickey ... jemput aku, aku di depan mal ... aku tunggu ya, tolong jangan bilang siapa-siapa."


"Zahra? Kok kamu ada disini?"


"Oh, hai ... Terry. Aku sedang menunggu teman."


"Sungguh? Sepertinya kamu sedang menangis ..."


"Tidak, apa aku benar-benar terlihat menangis?" Tita bertanya balik, dia tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya kepada orang lain, walaupun dia mengenal Terry ... tapi baginya laki-laki ini adalah orang lain.


"Kamu bisa menceritakan apapun kepada ku, apa kamu ada masalah?" ayolah Zahra, ceritakan kesedihan kamu padaku ... dengan begitu akan lebih mudah bagiku masuk ke kehidupan kamu.


"Tidak ada apa-apa, sungguh ... aku hanya sedang menunggu temanku."


"Tita," Mickey tiba tepat waktu, bahkan lebih cepat ... sejujurnya Tita sudah merasa tidak nyaman di desak seperti itu oleh Terry.


Terry menatap Mike dengan rasa tidak suka, siapa laki-laki ini?


"Terry, maaf ... aku pergi dulu ya." Tita melambaikan tangannya.


Terry menatap kepergian gadisnya dengan dingin. Sialan! siapa lagi laki-laki itu, terlihat akrab dengan gadisku. Maka di hubungi Anya, dia yang memberitahukan bahwa Tita pergi meninggalkan Nathan, itulah mengapa Terry langsung mencari Tita dan beruntungnya dia karena menemukan gadisnya disini. Tapi siapa sangka laki-laki tak dikenalnya datang dan membawa pergi gadisnya, merusak kesempatannya. Ketika terdengar olehnya Anya mengangkat telponnya "Aku tidak mendapat Zahra! Ada laki-laki lain yang membawanya. Argh! Aku kesal sekali, padahal sedikit lagi ... sedikit lagi aku bisa merebutnya dari Nathan Petra!" Klik. Dia mematikan ponselnya. Ya, Terry hanya butuh seseorang untuk meluapkan emosinya.


Tapi, satu hal yang tidak dia ketahui ... bahwa semua yang dikatakannya tadi, di dengar dengan jelas oleh Thomas dan Rega. Anya, sedang pingsan tidak berdaya. Sesuai instruksi Brian, dia harus segera membereskan Anya. Beruntung mereka tidak perlu mencari bukti lain terkait keterlibatan Terry, karena manusia itu lah yang memberikan sendiri bukti kuat yang mereka perlukan.


"Terry, aku pastikan kamu hancur dan tidak selamat." Thomas mengatakan kalimat itu dengan seringai yang menyeramkan, dia memang tidak pernah main-main jika menghancurkan seseorang.