Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 131



Drap drap drap ... Nathan melangkah tergesa-gesa menuruni tangga rumahnya.


"Selamat pagi, tuan muda," salah satu pelayan yang sedang membersihkan sisi tangga menyapanya dan membungkukkan badannya.


"Apa kamu lihat istriku?" oh rupanya sang tuan muda tergesa-gesa karena dia kehilangan istrinya.


"Nona ada di dapur, tuan." jawab sang pelayan.


"Dapur?!" tanpa menunggu lagi jawaban dari pelayannya, Nathan langsung menuju ke dapur. Di lihatnya sang istri yang sedang mencicipi masakannya, dan sang ibu mertua yang tertawa kecil melihat tingkah sang putri.


"Sayang," Nathan mendekat dan memeluk Tita dari belakang. Ibu mertua yang tersadar bahwa sang tuan muda datang langsung mundur teratur ... dia memberikan ruang bagi dua manusia yang saling mencintai ini. Umm ... mungkin lebih tepatnya, ruang bagi sang tuan muda yang ingin bermanja-manja dengan sang istri. "Kenapa kamu tidak membangunkan aku?" Lihatkan, betapa manjanya Nathan.


"Aku lihat tadi kamu masih tertidur dengan nyenyak. Jadi, tidak tega membangunkan kamu."


"Tapi kan aku mjadi mencari-cari kamu tadi," merajuk.


"Sayang .. lepaskan, ada ibu ..."


"Ibu, tidak masalah kan aku memeluk putri mu di sini?" halah ... pertanyaan atau pernyataan itu?? Tapi sang ibu mertua hanya tersenyum, dia memaklumi tuan mudanya yang memang tergila-gila dengan sang putri.


"Nah, ibu tidak keberatan ... jadi tidak masalah." Nathan kembali mengeratkan pelukannya. "Kamu masak apa sih?"


"Aku membuat ini, sebelum aku kecelakaan aku suka sekali makan ini ... bahkan Arga selalu membawakan aku bubur seperti ini setiap hari, ha ha ha." Tita mengenang masa-masa itu, lucu juga ketika di ingat-ingat. Eh, tapi tiba-tiba dia merasakan pelukan di pinggangnya terlepas. Tita menoleh kearah Nathan yang kini sudah menjauh darinya, Nathan duduk di ujung meja. Aduh, salah ... aku kelepasan. "Sayang, coba deh ... ini masakan aku yang pertama spesial untuk suamiku tercinta ..." dengan senyum terkembang TIta memuji dan merayu sang tuan suami. Memang, dia sering sekali kelepasan saat berbicara dengan Nathan sehingga Nathan kelas, marah karena cemburu, tapi jangan khawatir karena secepat itu juga Tita mampu membalikkan keadaan, ya.. tentu saja karena dia sudah paham bagaimana cara menjinakkan Nathan yang sedang ngambek, haha.


"Kamu merayu aku?!" ups ... ketus sekali pria ini.


"Aku tidak merayu, aku hanya ingin kamu jadi orang pertama yang merasakan masakan ku. Sebelum ini aku belum pernah memasak lho. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanya ibu ku?" Tita mengedarkan pandangannya, eh .. rupanya sang ibu sudah tidak ada di sana.


"Kamu belum pernah memasak sebelumnya?" Tita menggeleng. "Ini masakan pertamamu?" Tita mengangguk. "Tapi, kenapa kamu memasak bubur ini?"


"Karena aku ingin kamu merasakan juga makanan yang aku suakai."


Blush! wajah Nathan merona ... sudah tentu dia merasa tersanjung dan bahagia mendengarnya. "Baiklah, karena aku menghargai usaha mu, aku akan memakannya." dengan tetap menjaga wibawanya, Nathan menerima masakan Tita.


"Wah, harum sekali .. apa itu??" Rega datang bersama dengan Brian.


Nathan melihat dua tamu yang tidak di undang itu dengan pandangan yang tidak enak.


"Bubur sayur, aku suka ini ..." tanpa permisi Rega menyendok bubur yang ada di hadapan Nathan dan memasukkan satu suapan ke mulutnya. "Mmmm .... enak sekali."


"Oh, aku lapar ... boleh aku minta lagi ..." sebelum Rega menyelesaikan kalimatnya, Brian sudah menarik si biang masalah ini mundur dan duduk di kursi lainnya.


"Sayang, yang ini untuk kak Rega saja ya. Aku bawakan untuk kamu yang baru?"


"Tidak perlu Tita, kami ini sudah biasa berbagai segala hal."


"Bawakan yang baru, sayang." Nathan menggeser mangkuk bubur miliknya kepada Rega, dengan wajahnya yang masih kesal. Sementara Brian hanya tertawa kecil melihat tingkah sang tuan muda. "Gara-gara dia aku tidak jadi satu-satunya orang yang memakan masakan kamu, kan?"


Ha ha ha. Rega. Brian.


TIta jadi gemas dengan tingkah sang tuan suami, padahal badannya sebesar ini tapi lebih kekanakkan dari pada aku. Tita langsung membungkukkan sedikit tubuhnya dan mencium bibir Nathan tanpa permisi di hadapan ke dua sahabat sang tuan suami sambil berkata dengan pelan, "Tapi kamu satu-satunya orang yang merasakan bubur itu langsung dari bibirku."


Blush!! kali ini bukan hanya wajah Nathan yang merona, bahkan telinganya pun ikut memerah. Wah ... wah ... apa yang merasuki istri ku sehingga dia bisa seberani itu menggodaku di ruangan terbuka seperti ini. Tapi sayang, ketika kedarannya kembali Tita sudah tidak ada lagi di posisinya tadi. Dan rupanya bukan hanya Nathan yang terkena serangan jantung karena sikap Tita yang berani dan spontan tadi, tapi ke dua manusia yang semeja dengannya juga menahan nafasnya ketika melihat apa yang di lakukan oleh Tita.


"Nathan, apa yang kamu lakukan pada Tita sehingga bisa merubahnya yang pemalu menjadi liar seperti tadi." Rega masih tidak bisa fokus, dia benar-benar tidak habis pikir dengan kejadian cepat tadi.


"Konon katanya jika dua orang bersama dalam waktu yang lama maka sifat dan kebiasaan mereka akan saling mempengaruhi." Brian menambahkan berdasarkan teori yang pernah di bacanya.


"Jangankan kalian, aku saja shock Tita-ku berani begitu ..."


"Sudah, sudah ... jangan membicarakan ku lagi." Tita meletakkan semangkok bubur baru untuk Nathan dan satu mangkok bubur lagi untuk Brian. "Aku mandi dulu ya, sayang." pamit Tita, karena dia pikir Nathan sudah di temani oleh Rega dan Brian.


"Mau aku mandikan, sayang." Kali ini gantian Nathan yang memulainya. Tapi Tita tidak menggubrisnya, sesungguhnya dia malu dan agak menyesali apa yang sudah di lakukannya tadi, tapi dia juga senang melakukannya. Tita tidak pernah berinisiatif jika berhubungan dengan keintiman dengan Nathan, selalu Nathan yang memulainya duluan, selalu Nathan yang mengatakan keinginan-keinginannya. Bahkan Nathan pernah berkata, jika suatu saat Nathan marah, benar-benar marah padanya ... maka Tita hanya cukup berdiri tanpa sehelai benang. Ha ha ha ... permintaan macam apa itu.


 "Ih, aku tidak menyangka kamu bisa semesum ini." Rega bergidik ngeri menyaksikan keusilan Nathan.


"Apa masalhmu? Aku kan seperti itu hanya kepada istriku." jawab Nathan.


"Brian, apakah laki-laki yang sebelumnya dingin dan anti terhadap wanita bisa jadi tak terkendali dan mesum seperti itu jika sudah merasakan kenikmatan wanita?" Rega mengabaikan Nathan dan malah bertanya kepada Brian,


Brian tertawa mendapat pertanyuaan bodoh itu, "Mungkin lebih baik jika kamu melihatnya setiap hari, maka kamu akan terbiasa."


"Haaa ..." Rega melihat kearah Nathan yang tertawa dengan tatapan tidak percaya, "Kasihan Tita-ku yang polos karena berjodoh denganmu."


"Hei ... dia Tita-ku!"