Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 62



Nathan melihat betapa energik nya Tita pagi ini, dan segar. Dia mengenakan celana jeans biru, sweater pink dengan rambutnya yang


di kuncir kuda. Bahagia sekali istriku.


Tita berangkat bersama Loudy dan Mike. Rencananya mereka akan ke kampus terlebih dahulu kemudian berangkat bersama-sama dengan teman yang lainnya.


"Tenang saja, kak. Aku akan menjaga kakak ipar ku. Tidak akan ada hal buruk terjadi, tenang saja." Loudy meyakinkan Nathan sekali lagi.


Nathan masih memperhatikan sang istri yang sedang berpamitan dengan sang ibu dan Nyonya mami. Dan ketika tiba gilirannya, sang tuan suami tidak bisa lagi menahan dirinya. Dipeluknya sang istri dengan sangat erat, tak ayal kepala Tita tenggelam dalam dada bidang sang tuan suami.


"Aku akan merindukan kamu." mulai deh ...


Tita membalas pelukan Nathan, melingkarkan tangannya di pinggang sang tuan suami. Berat untuk Nathan melepas kepergian Tita, tapi dia juga sudah terlanjur mengijinkan. Huft ... Masih dalam posisi berpelukan, Nathan melihat Tita yang tersenyum melihatnya.


"Sudah belum pelukannya?" tanya Tita yang sudah mulai merasa malu karena menjadi tontonan penghuni rumah.


"Kamu masih bisa membatalkan keberangkatan kamu, kan?"


"Nathan, we have discussed this before."


"Ya, I know ... but it's hard for me to let you go."


Selalu seperti ini, manusia satu ini kenapa bisa jadi labil begini sih?


"Nathan ... biarkan saja Tita pergi, toh hanya satu malam. Setelah itu kamu bisa pergi berbulan madu berdua, ya kan?" sang nyonya mami yang sangat mengerti perasaan sang putra dan juga tidak mau melihat sang menantu kecewa pun terpikirkan ide itu. Duh, tidak menyangka juga dia memiliki putra yang bisa se-bucin itu dengan istrinya. Padahal dulu keras kepalanya bukan main ketika mau di jodohkan.


Beberapa pelayan yang melihat kelakuan sang majikan jadi geregetan sendiri, biasanya mereka melihat adegan-adegan seperti itu di drama-drama tapi sekarang mereka menyaksikan secara live ... dan si tokoh adalah tuan mudanya, yang bahkan sebelumnya tersenyum pun tidak pernah. Sekarang??? Aiiiih ... mau dong satu laki-laki seperti itu ... Mungkin seperti itulah pikiran mereka.


Tapi ... itu mereka, bukan Tita. Sang istri malah merasa risih karena malu. Toh dia bukan mau pergi berperang?


"Nathan, please?"


"Oke, tapi kamu harus ingat pesan ku semalam?"


Bukan pesan, tapi pesan-pesan. Karena lebih dari satu peraturan yang harus Tita taati dan lakukan.


"Kamu bisa menghubungi aku kapanpun kamu mau pulang. Aku pasti akan menjemputmu."


"Iya,"


"Hati-hati, ya." Cup ... satu kecupan mendarat mulus di bibir Tita.


Blush ... memerah pipinya, "I, iya ... Aku berangkat sekarang, ya?" pamitnya agak terbata.


"Iya," jawab sang suami.


Duuh, melihat kelakuan sang kakak yang bucin parah, dan mengingat waktu yang terus berjalan membuat sang adik, Loudy, merasa gerah. "Kak, bagaimana Tita bisa berangkat kalau tidak kamu lepas pelukannya?!" Sementara Mike hanya tersenyum dan berkhayal ... apa aku akan seperti itu juga jika memiliki kekasih?


"Brian, siapkan mobil. Aku ingin mengantar istriku."


What???? Setelah drama panjang yang dia pamerkan, ujung-ujungnya mau mengantar juga?? Ya ampun Nathan.


"Ya ampun, anak ini ... Papi kamu saja tidak sampai seperti itu memperlakukan mami," rupanya sang mami juga ikut geregetan dengan ulah sang putra.


"Tapi Nath, Mickey kan sudah ada disini. Aku berangkat bareng mereka saja."


Masih berada dalam rangkulannya, Tita di giring berjalan menuju mobilnya. Brian hanya menggelengkan kepala menyaksikan kelakuan sang tuan mudanya.


"Wah, kakak kamu luar biasa, ya?" kata Mike dalam perjalanan. Di mobil itu Mike hanya bersama Loudy dan barang-barang.


"Kasihan Tita, jadi sulit bernafas."


"Lho kok begitu?"


"Kak Nathan itu keterlaluan, seharusnya jangan membatasi Tita seperti itu, dong?" sang adik protes.


"Mungkin kakakmu pernah merasakan kehilangan yang teramat sangat, Lou. Jadi, untuk mengantisipasi hal itu lagi, yaa jadi seperti itu. Dia akan merasa tenang ketika Tita ada dalam jarak pandangnya." jelas Mike.


Loudy terdiam mendengar kata-kata Mike. Iya, memang benar ... mungkin karena alasan itulah sang kakak jadi berlebihan terhadap istrinya kini. Karena dia tidak lagi mau merasakan kehilangan. Loudy tersadar, tidak seharusnya dia hanya melihat permasalahan dari satu sisi saja. Bahkan sang kakak begitu protective padanya, hingga nyaris tidak ada informasi berseliweran bahwa dia adalah adik seorang Nathan. Apalagi ini adalah istrinya, gadis yang benar-benar pilihannya ... belahan jiwanya, sudah pasti sang kakak akan over protective. Huft, tiba-tiba saja pundak Loudy terasa berat ... duh, kenapa aku sampai menjamin bahwa tidak akan ada sesuatu terjadi pada Tita, tadi. Berat sekali bebanku.


"Sayang, aku duduk di sebelah kamu saja ya?"


"Aku ingin memelukmu seperti ini." kata Nathan


Duh, aku kan malu, padahal semalam tidak henti-hentinya dia mengerjai ku. "Tapi, nanti kakimu pegal ... aku berat lho."


"Kamu ringan seperti kapas, mau coba gaya lain?"


Wah, seenaknya saja sang tuan muda ini bicara. Tita langsung membungkam mulut Nathan dengan kedua tangannya. Dilirik sedikit Brian yang sedang menyetir.


"Tidak apa-apa, nona. Anggap saja aku tidak ada."


Hah ... alasan macam apa itu? Kalau kamu tidak ada lalu mobil ini berjalan sendiri gitu? Heran kedua orang ini bisa kompak sekali.


Tiba di halaman kampus, Tita sudah memikirkan bagaimana cara agar dia tidak lama-lama ditahan sang tuan suami. "Sudah sampai, sayang." Cup, memerah wajah Nathan. Hehe lucu juga melihatnya seperti ini. "Sampai ketemu besok yaaa, kamu jangan nakal selama aku tidak ada." Cup. memerah lagi wajah Nathan hingga ke telinganya. Ya ampun gemes banget sih dia. Maka dilanjutkan lagi oleh Tita, "Aku akan langsung menghubungi kamu, pastikan kamu langsung menjawab telpon ku ya." Cup, kali ini Tita menciumnya di bibir sang suami. Reaksinya?? Makin memerah wajahnya. Dan Tita bisa melenggang dengan bebas tanpa ditahan-tahan, karena sang tuan suami masih shock, ha ha ha.


"Kak Brian, aku titip suamiku ya." akhirnya Tita hanya berpamitan dengan Brian yang berdiri di depan pintu.


"Hati-hati nona, anda bisa menghubungiku kapanpun nona membutuhkan."


Setelah berpamitan dengan benar, Tita langsung bergabung dengan teman-temannya.


"Tuan," Brian mencoba menyadarkan sang tuan. Di goyang-goyangkan tangan sang tuan. Hingga tuan muda itu tersadar.


"Hah, Brian. Dimana Tita ku?"


"Nona sudah berangkat dengan teman-temannya, tuan."


"Oh God, she makes me lose my mind."


Padahal nona Tita hanya berinisiatif menciumnya ... apa yang terjadi jika nona berinisiatif melakukan hal yang lebih dari itu. Ha ha ha. Pikiran Brian.


"Sekarang kita kemana, tuan?"


"Terserah saja,"


Hah ... kenapa anda jadi malas berfikir begini, tuan? Maka mobil itu melaju, membawa sang tuan muda yang tidak lama lagi akan merasakan kerinduan yang luar biasa.