Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 31



"Ish ... kakak ipar aku cantik banget," Loudy memuji Tita sambil menatap lekat sang sahabat. Tita hanya tersenyum karena penata rias sedang melakukan pekerjaannya. "Ta, kamu nanti acara wisuda ditemenin suami, dong? Trus kamu ikut acara perpisahan gak?"


Ah, iya. Kenapa bisa lupa. Perpisahan. Bisa gak, ya? Tapi aku sedang menantikan momen itu. Aku ingin bersenang-senang dengan teman-temanku, hiks .. hiks. "Kira-kira, kakak kamu bakalan kasih ijin gak ya?"


"Wah, kemungkinannya kecil kayaknya, Ta."


"Aaaa, aku pengen banget ikut, Lou." Tita setengah merengek. He he, percayalah ... dia sering melakukan itu kepada Loudy.


"Aku juga males kalau kamu gak ikut. Nanti kita coba ijin sama kak Nathan, ya?"


Aduh... kenapa gak keingetan hal ini sih. Tita masih tenggelam dalam pikirannya, ketika Mike datang dan bertepatan dengan selesainya pekerjaan penata rias.


"Woaa ... aku tidak pernah menyangka kamu bisa secantik ini, Ta." Puji Mike.


"Hai ... Mickey!" Hampir saja mereka berpelukan, namun sang nona menggagalkan dengan kata-katanya.


"Mike, kalau kamu tidak mau kehilangan pekerjaan dan masa depanmu, sebaiknya jangan menyentuh kakak ipar ku!"


"Oke, baik!" Mike langsung berhenti dan mengangkat kedua tangannya ke atas. Takut juga dia dengan ancaman sang nona muda.


"Lou, kenapa pake ngancem gitu sih?'


"Sorry, Ta. Daripada tiba-tiba kakakku melihat adegan kalian berpelukan."


"Alaaah, bilang aja kamu cemburu, ha ha ha."


"Apa!! Ya gak mungkin, lha." Loudy jalan menuju pantry.


"Ta, aku sekalian membawakan undangan ini untuk kamu."


TIta membuka undangan yang diberikan Mike. Undangan perpisahan angkatan mereka yang di adakan di sebuah resort di Pulau S. "Pasti seru banget, ya?"


"Kamu jangan sampe gak dateng ya?"


Ballroom itu sudah dipenuhi para undangan. Kebanyakan mereka adalah para kolega dari Petra Corporation dan teman-teman Nathan. Penjagaan sangat ketat, hanya tamu yang bisa memperlihatkan undangan yang dapat masuk. Para wartawan tidak ada yang tampak pada acara tersebut, karena Nathan lebih suka suasana yang intimate.


"Selamat, Tuan Petra atas pernikahan anda. Semoga berbahagia selamanya. Saya tidak menyangka anda akan menikah secepat ini, padahal tidak pernah ada rumor tentang anda dan kekasih anda. Ha ha ha." Mr. Kim, yang merupakan salah satu rekan bisnisnya tengah memberi selamat.


"Iya, terima kasih, Mr. Kim."


Dan ketika Mr. Kim beralih untuk menyalami pengantin perempuan, dia pun terkejut. "Nona Zahra!" Seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat. "Anda, Zahra dari Mirae, kan?"


Tita jadi kikuk sendiri, "Ah, iya. Terima kasih sudah datang, Mr. Kim."


Mr. Kim cemburu, gadis yang ja


di incarannya kenapa bisa menikah dengan tuan Petra. Ada rasa tidak suka dan cemburu yang menguasai dirinya.


Nathan yang menyadari keanehan dari sikap koleganya mulai menegur, "Ada apa, Mr.Kim?"


"Tidak apa-apa, Tuan Petra. Saya hanya terkejut, istri anda adalah Zahra dari Mirae. Selamat ya Zahra." pada akhirnya dia menyalami Tita juga. Tapi ketika sedang mengambil minuman, dia menatap tajam ke arah kedua pengantin yang sedang beramah tamah dengan tamu-tamu.


"Kamu kenal Mr. Kim?" Nathan mengintrogasi istrinya.


"Iya, dia adalah salah satu klien Mirae, teman Pak Putra juga."


"Sepertinya dia suka sama kamu."


"Saya tidak tahu, kita baru bertemu sekali."


Tita yang tidak siap dengan serangan tiba-tiba itu tertunduk malu, dia yakin mukanya pasti merah kini. "Kenapa anda melakukan itu disini." Tita berbisik dengan masih menundukkan wajahnya.


"Aku akan melakukannya lagi, kalau kamu masih memanggilku dengan formal seperti anda, tuan. Aku sekarang suami kamu, bukan orang lain. Jadi, jangan gunakan panggilan yang formal begitu."


"Iya, iya ..."


"Angkat wajahmu, kamu hanya boleh tunduk kepadaku. Sekarang kamu istriku, kedudukan kamu sama denganku, mengerti?"


Para tamu kembali menikmati jamuan pesta ditemani iringan penyanyi pernikahan. Tita sedang bersama sang ibu dan kakaknya. Sedangkan Nathan sedang beramah-tamah dengan rekan bisnisnya yang datang. Sebenarnya sang tuan enggan meninggalkan sang istri, hanya saja bujukan dari sekretarisnya yang mengatakan para tamu itu akan melepaskan dia lebih cepat jika dia mau bertemu dan mengobrol sejenak. Ketika itu tiba-tiba bahunya dicengkeram dengan kuat, dan sang tuan menoleh ke belakang. Rega menariknya, undur diri dengan sopan dari para kolega Nathan.


"Ada apa sih?"


"Wanita itu, dia disini." jelas Rega.


"Wanita? siapa?"


"Anya!" kali ini Brian yang menjawabnya. "Aku melihatnya diantara para tamu tadi."


"What? Kok bisa?"


"Tenang, kawan. Dimana Tita?" Rega bertanya. Nathan mengedarkan pandangannya. "Aku menyuruhnya agar tetap bersama ibu dan kakaknya tadi."


"Kalian yakin itu Anya?"


"Iya!" Brian dan Rega menjawab bersamaan.


"Aku sudah menugaskan beberapa orang untuk mengawasinya, tuan."


"Bagus. Aku tidak ingin ada kekacauan."


Pesta pun berakhir sesuai dengan rencana tanpa ada kekacauan. Nathan meminta Brian untuk memberi bonus pada semua staf yang sudah berkontribusi, tanpa kecuali. Anggota keluarganya dan teman-teman terbaiknya sudah beristirahat di kamar hotel masing-masing. Sedang dia sudah menempatkan tubuhnya di kasur empuk dan luas, menunggu sang istri yang masih betah di kamar mandi. Kenapa dia lama sekali sih?


Ceklek. Yang ditunggu akhirnya menampakkan dirinya, masih lengkap dari ujung kepala hingga ujung kaki, sudah mengenakan baju tidurnya bergambar Teddy bear, ah... bikin sakit mata aja sih.


Tita canggung, dia mengantuk tapi bingung mau tidur dimana. Sang tuan besar yang sudah menjadi suaminya sudah duduk bersandar di tempat tidur dengan nyaman. Apa aku harus kesana? atau malam ini aku tidur di sofa?


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Kemari!" sang tuan sudah memberi perintah.


Perlahan Tita menuju satu-satunya tempat tidur di kamar itu. Dia hanya duduk di ujung tempat tidur.


"Naik, atau kamu lebih suka aku menarikmu?"


"Apa boleh aku tidur di sofa saja?" katanya sambil menunjuk ke arah sofa tanpa bergeser dari tempat duduknya semula.


"Tempat tidur ini cukup luas untuk kita berdua, kok."


"Tapi, maaf. Saya rasa saya belum sanggup melakukannya." Tita tertunduk, bulir keringat sudah muncul di dahinya.


"Memang aku menyuruh kamu melakukan apa?"


Tita mengangkat kepalanya, "Ah, itu ... aku." Tita kebingungan memilih kata-kata yang akan di ucapkannya. Dan Nathan tidak se-bodoh itu untuk tahu maksud dari semua kegugupan sang istri. Tapi, dia suka melihat Tita seperti ini, seperti hiburan tersendiri baginya. Ha ha ha.


"Bicara yang jelas, aku tidak paham apa maksud ucapan kamu. Dan jangan duduk di tepi begitu, nanti aku dorong sekali kamu bisa langsung jatuh."


Mendengar ucapan sang tuan suami, Tita menggeser duduknya lebih ke tengah. "Maksud aku. Aku belum siap untuk melayani kamu sebagai seorang istri." Dia mengatakannya dalam satu tarikan napas. Karena takut keburu hilang keberaniannya.