Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 113



"Nona Tita kesal sekali... selama perjalanan ke kantornya aku membiarkan dia meluapkan kekesalannya, bahkan sampai menangis tadi." Ana memberikan laporan kepada sang kekasih sekaligus atasannya.


"Kamu temani terus, jangan sampai lengah apalagi kalau sampai terjadi sesuatu dengan nona." Brian tau, ini pasti terjadi ... huft, apa yang harus dia katakan kepada si keras kepala itu. Kalau tidak di laporkan pasti sang tuan muda akan marah, tapi kalau dia laporkan ... bisa jadi si bucin itu akan memerintahkan untuk pulang ...


"Sayang, kamu jangan macam-macam disana."


"Ha ha ha ... tenang saja, aku tidak akan macam-macam ... hanya satu macam."


"Brian ..."


"Iya, sayang ... aku hanya bercanda, ha ha ha. Aku merindukan mu, kamu tau?"


"Cih! apa kamu sudah tertular virus bucin tuan Petra?"


"Oh, ayolah ... bukannya kamu yang menginginkan aku bersikap romantis seperti itu?? sekarang kenapa malah kamu yang tidak suka?"


"Ha ha ha ... karena ternyata tidak cocok untuk mu, dan aku lebih menyukai kamu yang biasanya." malu-malu Ana mengatakan isi kepalanya. "Sayang, sudah waktunya nona Tita makan siang, aku pergi dulu."


"See you baby." Begitu lah mereka, sepasang kekasih yang di pertemukan karena pekerjaan. Tidak satupun dari mereka yang menyangka bahwa akan terjalin kasih seperti saat ini.


***


Sudah kesekian kalinya Tita melihat ke layar ponselnya, tidak ada satupun panggilan masuk dari sang suami.


"Tita, makan siang bareng yuk ..." ajak Mickey.


"Aku makan di sini saja Mickey." Tita benar-benar tidak mood hari ini.


"Zahra, aku bawa dua lunch box ... makan bareng aku saja disini."


Mendengar ajakan Arga malah membuat mood Tita membaik, perutnya langsung terasa lapar. "Mau, Mickey aku makan bersama Arga saja Disni." lihatlah, kini dia malah memamerkan deretan giginya.


Ada apa dengan Tita, cepat sekali berubah moodnya ... dan, masa gara-gara Arga?? "Baiklah, aku duluan ya ..." Mickey pergi membawa rasa penasarannya, masih di lihatnya senyum manis Tita ketika menerima kotak makan siang dari Arga.


Ana datang dengan tergesa-gesa, gara-gara menelpon kekasih sekaligus bosnya dia jadi telat menawarkan makan siang untuk nona nya. Ah, semoga nona Tita belum pergi. Pikirnya. Ah, itu dia ... tapi, siapa laki-laki itu?


"Ehm, selamat siang nona." Ana menyapa Tita dan ada yang menarik perhatiannya. Mereka makan siang bersama ... dan kotak makannya couple??


"Oh, hai Ana ... kamu kok ada disini? kamu sudah makan?"


"Saya ingin mengajak nona makan siang?"


"Oh, saya makan ini saja." jawab Tita sambil memamerkan makan siangnya.


Di sebelahnya Arga jadi sedikit canggung, pasalnya wanita ini memanggil Zahra dengan sebutan nona dan dia terlihat sangat sopan kepada Zahra. Mungkin kah itu asisten Zahra?


"Nona dapat makanan ini dari siapa?"


"Temanku yang membawakannya, oh iya, kenalkan ini Arga."


Arga berdiri dan mengulurkan tangannya, "Saya, Arga. Makanan itu saya buat sendiri jadi sudah pasti higienis." Arga sengaja mengatakan kata-kata itu karena dia bisa melihat bahwa wanita berambut pendek di hadapannya ini menaruh curiga padanya dan makanannya.


"Saya, Ana. Saya yang bertu ..."


"Ana, sebaiknya kamu makan siang di cafe bawah saja ya. Aku baik-baik saja di sini." Tita langsung memotong ucapan Ana, dia tau apa yang akan Ana katakan dan tidak mau temannya tau.


"Hm, baiklah nona. Saya permisi." Ana pergi meninggalkan Tita semata-mata karena ingin sang nona melanjutkan makan siangnya. Dan dia harus melapor.


"Ha ha ha ... temanku, sudah ayo makan lagi."


Sedangkan Ana, dia mengirim kan pesan kepada Brian bahwa sang nona sedang memakan makan siang yang di buatkan temannya, mereka makan siang bersama di ruang kerjanya, dan temannya itu bernama Arga.


"Aduh, gawat. Habislah aku kalau tuan muda sampai tau." reaksi Brian ketika membaca pesan dari sang kekasih.


"Ada masalah apa?"


Brian terkejut karena orang yang baru saja terlintas di kepalanya tiba-tiba saja sudah ada di belakangnya. "Ah, anda mau makan siang sekarang, tuan?" wah, pandainya Brian mengalihkan perhatian.


"Iya, aku mau makan siang disini saja. Oh sebelum itu, aku ingin menghubungi istriku dulu. Brian, mana ponselku?"


Deg! Kalau tuan menelpon sekarang pasti dia akan tahu kalau nona sedang makan berdua dengan Arga, bahkan makan bekal yang di bawa Arga.


"Brian, kamu tidak dengar aku?!" sudah tidak sabar sang tuan muda, rupanya. Dan dengan berat hati di keluarkan juga ponsel sang tuan. Nathan mengambil ponselnya, kemudian menekan tombol nol dan tersambung.


Ah semoga nona sudah selesai makan siangnya. Itu lah harapan Brian, dia pun pergi meninggalkan sang tuan.


Sementara itu, Tita yang sudah selesai dengan makan siangnya mendapatkan panggilan video di ponselnya. Yaa ... siapa lagi kalau bukan sang tuan suami, di geser lingkaran hijau pada ponselnya.


"Sayang ..." sapa Nathan.


Tita tidak menjawab sapaan Nathan, malah menekuk wajahnya. Rasa kesal yang tadi sempat hilang, entah kenapa jadi timbul lagi.


"Sayang, kamu marah? maaf kan aku karena pergi tanpa memberitahu mu."


Rasanya ingin sekali Tita memarahi Nathan yang menyebalkan, tapi ... suaranya tidak bisa keluar. Daripada itu, air matanya yang langsung mengalir begitu saja ... membuat panik sang tuan suami di seberang sana...


"Sayang, kenapa menangis." sudah tau kan, Nathan paling tidak bisa melihat Tita yang menangis. "Sayang ... please, aku tidak bisa tenang disini kalau kamu menangis." makin khawatir Nathan karena Tita tidak juga menjawab nya dan makin deras air mata yang keluar.


Tita menangis tersedu-sedu, woaah ... parah sekali emosinya hari ini. Sejak pagi dia berusaha menghubungi ponsel suaminya tapi selalu di luar jangkauan, bahkan beberapa kali dia melihat layar ponselnya, berharap yang ditunggu-tunggunya akan menghubungi nya balik. Tapi kenapa sekarang, ketika Nathan menghubungi nya dia malah menangis?? Dia juga tidak ingin menangis, tapi entah kenapa dia malah menangis begitu melihat wajah sang tuan suami. Ada rasa malu, takut di lihat teman-teman nya ketika dia menangis seperti ini.


"Sayang, Tita sayang ... aku memang sengaja tidak memberitahu kamu tentang kepergian ku, tapi itu karena ... aku berat meninggalkan kamu. Aku disini tidak lama, sungguh. Setelah selesai aku langsung pulang, ya?" Tita masih diam, dia hanya menangis tanpa suara. Dan mereka tidak lagi berbicara, hanya saling menatap, dalam. Sampai akhirnya terdengar ketukan langkah kaki beberapa orang mendekat, Tita tau itu teman-temannya yang datang maka dia buru-buru mematikan sambungan telponnya dan melangkah cepat ke toilet. Ah, kenapa aku cengeng sekali.


"Brian!!"


"Iya, tuan." huft, jangan minta pulang please...


"Tita marah padaku, dan dia sampai menangis, bahkan tidak mau berbicara sedikitpun padaku. Aku mau pulang sekarang, siapkan pesawatku nanti kita kembali lagi." sambil merapikan jasnya Nathan yang hendak melangkah keluar di tahan Brian.


"Tuan, kita ada di London. Kita pergi kesini karena memang ada pekerjaan yang harus anda tangani ... Lima hari. Lima hari, tuan. Bahkan jika kita bisa menyelesaikan nya lebih cepat, maka kita akan lebih cepat juga pulang."


"Ck! kamu tidak lihat sih bagaimana Tita menangisi aku tadi." Nathan melepaskan dirinya dari Brian, "Bagaimana aku bisa konsentrasi bekerja disini kalau Tita-ku bersedih hati disana?"


Padahal kan anda yang berlagak tidak mau memberi tahu kan langsung kepada nona tentang kepergian anda ini, sekarang melihat nona menangis anda langsung panik bukan main. Bagaimana kalau tadi aku katakan bahwa nona sudah menangis sepanjang perjalanan ke kantornya sambil meluapkan kekesalannya? Aku yakin anda pasti akan langsung pulang sendiri menemui nona, kan?


Tapi, tidak tega juga Brian melihat tuannya seperti itu, maka, "Tuan, saya akan meminta Ana menghibur nona. Dan Anda tidak juga bisa membuat perasaan nona membaik walaupun jarak kalian sedang berjauhan."


"Bagaiman?"


"Kirimkan nona bunga-bunga yang indah, dan sisipkan kata-kata romantis anda. Tidak ada wanita yang bisa menolak bunga apalagi itu dikirimkan oleh laki-laki yang dicintainya. Aku bisa pastikan, nona akan jadi lebih merindukan kehadiran anda. Kalian seperti sedang menjalani hubungan jarak jauh, yang nantinya pada saat bertemu pasti akan menciptakan kerinduan yang menggebu-gebu."


Nathan mencerna dengan baik kata-kata 'kerinduan yang menggebu-gebu' yang dimaksudkan sekretarisnya. Seketika senyuman penuh makna terbit di wajahnya. "Carikan toko bunga yang bagus, aku ingin memesan bunga yang spesial untuk istriku."