Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 130



Sesuai titah dari sang tuan suami, Tita tidak di perbolehkan pergi bekerja selama satu minggu ini. Awalnya Tita menolak tapi karena ancaman dari Nathan yang akan langsung menghadap bos nya, apalah daya Tita hanya dapat menerima keputusan itu dengan setengah hati. Maka disini lah dia, duduk bersama dua orang manusia yang beberapa waktu lalu meresmikan hubungan mereka.


"Jangan melihatku seperti itu." protes Loudy.


"Melihat seperti apa?" TIta mengerti, tapi dia hanya pura-pura saja. Sejak dulu dia akan ikut merasakan bahagia jika ada temannya yang jadian, entah mengapa begitu.


Loudy hanya bisa memasang wajah malu tapi kesal, sedangkan Mike tidak dapat menghilangkan senyuman di wajahnya sejak tadi... dia senang... senang sekali.


"Jadi kalian mau pacaran kemana? ajak aku dong ..."


"Stop." Loudy menghentikan Tita yang sedang berbicara. "Tita please. aku baru jadian satu hari, kamu paham kan??"


Cih! Aku juga paham, tapi kan aku bosan sendirian begini. Sangat jelas tercetak di wajahnya bahaw Tita bersedih mendengar jawaban sahabatnya.


"Hei ... sudah lah, toh kita ada disini. Jadi aku rasa tidak apa-apa jika kita ngobrol bertiga." usul Mike.


"Hm... baiklah." pada akhirnya Loudy menyetujuinya. Dan TIta langsung menghambur ke pelukan Loudy, dia senang sekali.


Disaat mereka sedang bersenda gurau, Nathan masuk bersama dengan Brian. "Sayang." Nathan langsung mendekati Tita, memeluknya erat.


"Kamu sudah pulang?" Nathan hanya menjawab pertanyaan itu dengan tatapan penuh kerinduan dan senyuman. Haah ... siapa yang tidak melted melihat cara Nathan memuja sang istri seperti itu. Bahkan sepertinya dia tidak peduli dengan hal lain di sekitarnya. Hehe.


"Aku akan lembur bersama Brian di ruang kerja malam ini."


"Apa aku boleh keluar bersama Loudy dan Mickey?"


"Tidak, aku sudah bilang kamu istirahat saja satu minggu ini." kemudian Nathan menarik lengan Tita agar sang istri mengikutinya.


Yaa ... apakah daya Tita kini, dia hanya bisa mengikuti sang tuan suami. Oh, ternyata Nathan menariknya ke kamar mereka. Dan ketika pintu kamar itu tertutup sempurna ... Dug! ah, sayang ... mmmm ... Nathan mencium Tita dengan gemasnya, tangannya pun tidak bisa di kondisikan dan Tita lagi-lagi hanya meladeni sang tuan suami sambil berfikir, apa aku melakukan kesalahan??


"Bernafas sayang." huft .. huh ... huh, Tita mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Bisa-bisanya dia blank seperti ini.


"Ke ... kenapa menciumiku seperti itu?"


"Ha ha ha ... aku kangen," Nathan kembali menarik pinggang Tita agar lebih dekat. "Aku tidak bisa menahan untuk mencium kamu tadi, makanya aku tarik kamu kesini ..." ha ha ha.


Tita memukul bahu Nathan, "Padahal kamu membuatku kelelahan semalam."


"Hei ... itu kan lain, aku banyak pekerjaan dan harus selesai malam ini. Kamu tidur sendiri duluan ya." Nathan melepaskan Tita dan masuk ke kamar mandinya.


Setidaknya aku tidak melakukan kesalahan kan Tita.


"Kamu mau menyentuhnya, sayang?" Nathan seakan tau sekali apa yang ada di kepala sang istri. Ya ... Nathan masuk ke dalam dengan hanya handuk yang melilit di pinggangnya, wah ... sengaja sekali yaaa dia ... dan , puas sekali dia menggoda istrinya.


Tapi bukan Tita namanya yang bisa terjebak dengan mudah, dia lebih memilih melarikan diri daripada benar-benar menyentuh tubuh Nathan yang terbuka. Bagaimana reaksi Nathan??? Oh, tentu saja sang tuan muda itu tertawa terbahak-bahak melihat sang istri yang langsung melarikan diri darinya. Memang Tita itu berbeda dengan kebanyakan wanita di luar sana.


***


Apartemen Rega


Thomas duduk di ruang tamu bersama dengan Rega dan Kala. Mereka tengah memeriksa beberapa rekaman CCTV dari beberapa lokasi di Korea, kiriman dari mata-mata yang di sebar oleh Thomas.


"Sial ... tidak ada petunjuk sama sekali." Thomas berdecak. "Kala, coba perhatikan baik-baik, apa kamu teringat sesuatu? apa ada yang kamu kenal?"


"Tidak."


"Tidak ada cara lain, jika mereka menjadikanmu sebagai jembatan mereka ... satu-satunya jalan adalah menjadikanmu umpan agar kita cepat tau siapa target mereka sebenarnya."


"Hah ... Thomas, kau gila. Nathan tidak akan setuju." Rega protes, dia keberatan.


"Lalu??? apa kamu punya ide yang lebih baik?!" semua terdiam. Jika mereka tau siapa yang menjadi musuh mereka, atau paling tidak siapa orang yang dijadikan target oleh musuh ... pasti mereka tidak akan stress seperti ini, seperti mencari jarum di dalam tumpukan jerami.


"Aku tidak masalah jika di jadikan umpan, hanya saja ... bisakah kalian pastikan keamanan dan keselamatan adikku."


"Apakah kamu yakin target mereka adalah adikmu?"


"Karena kalau target mereka adalah tuan Petra untuk apa mereka menyadap ponselku?"


Ah ... benar juga, logika sederhana dan sempurna. Tapi, Tita adalah kelemahan terbesar Nathan, jadi tidak menutup kemungkinan bahwa sasaran utama orang itu adalah Nathan. Karena siapapun orang itu, dia akan mendapatkan keuntungan berlipat jika Nathan yang jatuh, kan? begitulah yang di pikirkan Thomas, tapi dia tidak menyampaikan pemikirannya itu. Dia akan membuat rencana lain diam-diam.


"Jadi, apakah sebaiknya aku kembali ke London?" tanya Kala.


"Besok kita diskusikan lagi dengan Nathan. Sekarang kamu istirahat saja disini." Thomas menepuk tiga kali pundak Kala. "Oh iya, besok sebelum kita ke kantor Nathan aku akan memeriksa sekali lagi ponselmu. Berlaku normal saja, kami selalu mengawasi mu, tenang saja." kemudian Thomas meninggalkan apartemen Rega.


Kala menatap Rega setelah kepergian Thomas, "Apa kalian mencurigai seseorang?" tanyanya.


"Iya, tapi selama orang itu tidak terlihat melakukan apapun maka kecurigaan kami adalah omong kosong." jawab Rega.


Kala menghela nafasnya, "Akan sulit kalau kita hanya menunggu, jika kalian memang membutuhkan aku untuk memancing mereka keluar ... aku siap." Kala sudah meyakinkan dirinya, dia sudah siap jika memang hal itu di butuhkan. Dan sebenarnya, Kala lebih percaya jika orang yang mengintainya diam-diam itu menjadikan Nathan iparnya sebagai sasaran utama. Tapi karena orang itu menjadikan dia sebagai batu loncatan, wajarlah jika dia mengkhawatirkan adik tersayang nya Tita. Itulah yang mengganggunya, keselamatan sang adik membuatnya khawatir terlebih karena kecelakaan yang belum lama di alami oleh Tita. Saat itu, ketika dia mengetahui bahwasanya sang adik disukai bahkan langsung di lamar oleh seorang Nathan Petra ... ada rasa berat untuk menerima dan menyetujui nya. Kala tau sekali bagaimana seorang Nathan karena secara tidak langsung tuan Petra adalah big boss-nya. Sekalipun tuan Petra tidak pernah mempunyai gosip apapun bersama wanita manapun, tapi tidak sedikit wanita yang berlomba-lomba untuk mendapatkan posisi sebagai kekasih atau bahkan sebagai istri seorang tuan Petra. Dan itulah yang mengganggunya, dia takut sang adik yang polos dan belum pernah memiliki hubungan percintaan akan menjadi sasaran empuk para wanita yang iri atau bahkan dari saingan bisnis tuan Petra. Kala tidak mau Tita, adik kesayangannya harus mengalami hal buruk karena bersama tuan Petra. Tapi, ketika sang tuan muda berjanji akan menjamin keselamatan dan kebahagiaan sang adik maka dia merelakan pula hubungan mereka. Dan kini, rasa takut dan khawatir itu mulai menghantuinya. Bagaimana dia harus menyelesaikan teka teki ini? apakah sang adik ipar mampu memegang janjinya?


***