
Nathan melangkah masuk, menatap tajam Terry yang tetap tersenyum seakan tidak menyadari bahwa Nathan tidak menyukai keberadaannya disini. Dua orang laki-laki yang sama-sama memiliki kekuasaannya dan mencintai wanita yang sama. Yaaah, walau kekuasaan Nathan jauh lebih besar cakupannya dan sang wanita adalah istrinya ... dan dengan kata lain laki-laki yang ada di hadapannya ini bukanlah saingan beratnya, tapi tetap saja Nathan terbakar api cemburu. Dan hal itu tidak mungkin kan, tidak di ketahui oleh seorang Terry.
"Sayang, kamu sudah kembali." sapa TIta dengan wajah sumringah.
"Ah, iya. Bagaimana keadaanmu?" Nathan mendekati tempat tidur Tita di sisi sebelahnya, mengecup kening sang istri yang langsung bersemu pipinya.
"Aku sudah lebih baik ... kapan aku boleh pulang?"
"Nanti, tunggu persetujuan dokter dulu." Kali ini yang menjawab adalah sang nyonya mami.
Nathan keget ketika mendengar suara maminya, "Lho, mami ada disini?"
"Kenapa?? Sebegitu cemburunya kamu karena ada laki-laki lain di ruang perawatan istrimu, sampai tidak menyadari ada mami disini sejak tadi?" Oh, rupanya sang mami paham betul, ha ha ha.
"Tidak, bukan begitu mi..."
"Oh iya, sayang ... kenalkan ini temanku, Terry. Terry ini suamiku, Nathan." Apalah Tita, polos sekali. Dia masih berfikir kedua laki-laki ini tidak saling mengenal. Tapi demi menjaga perasaan dan keamanan sang istri, Nathan berjabat tangan juga dengan Terry.
"Halo, tuan Petra, senang bisa bertemu denganmu disini." Nathan hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab sapaan Terry. Duh, arogannya ya tuan muda itu.
Nathan langsung duduk di tempat tidur sebelah sang istri dan meminta Terry untuk duduk di kursi yang tersedia disana. "SIlahkan duduk Terry." dan Terry pun duduk sambil mengucapkan terima kasih.
Hm ... jika di nilai dari attitude, tentu Terry lebih unggul dari Nathan sepertinya, ha ha ha.
"Jadi, dimana anda mengenal istriku? Aku yakin anda bukan teman kantor istriku, kan?" Dug! Tita langsung menyikut perut Nathan diam-diam, sang tuan suami keterlaluan. "Ouch, sayang ... sakit." Nathan mengeluh kesakitan langsung, membuat Tita malu setengah mati.
Terry hanya tertawa, "It's oke, Zahra ... tidak perlu merasa tidak enak padaku seperti itu. Kami bertemu karena tidak sengaja, tapi bekalakangan ini perusahaanku sedang bekerjasama dengan Mirae." Terry menjeda ucapannya untuk melihat reaksi Nathan yang saat ini, masih tenang?? "Aku juga cukup terkejut karena ternyata Zahra bekerja disana, mungkin ini takdir, ya kan Zahra?" sengaja .... sengaja banget Terry memancing reaksi Nathan.
Tapi tidak semudah itu fergusso ... Nathan masih tenang, bahkan sempat-sempatnya dia mengelus rambut sang istri dengan lembut.
"Wah, kebetulan sekali ya." yang tidak tenang tentu Tita, karena dia sudah hafal sekali dengan sifat sang tuan suami, makin lembut usapannya maka makin berbahaya malamnya. Ha ha ha.
Sang mami, memperhatikan tingkah sang putra dari tempatnya ... rasa cemburu yang berusaha di tutupi sang anak sungguh mengingatkannya kepada mendiang suaminya. "Sudah dulu bicaranya, Terry silahkan di cicipi kue ini." sang nyonya mami memberikan satu piring berisi kue-kue kecil.
"Terima kasih, nyonya. Tapi maaf, saya pamit sekarang saja. Saya senang Zahra sudah baik-baik saja."
"Aduh ... manis sekali ya kamu," sang mami begitu terpikat dengan kebaikan dan ketulusan Terry.
"Zahra, aku pamit ya. Semoga kamu cepat keluar dari rumah sakit ini."
Dan kepada Nathan, Terry pun pamit. "Tuan Petra, saya permisi dulu."
Sepeninggal Terry, sang mami pun berkomentar. "Ya ampun, ternyata ada ya laki-laki lembut dan sopan seperti itu di zaman sekarang. Apalagi dia juga sepertinya punya perusaaan." sang mami sepertinya ingin mengajak sang putra perang. "Karena kebanyakan bos-bos besar seperti itu pribadinya dingin dan angkuh, seperti suamimu itu, Ta." nah, nah ... benar kan?
Tita hanya tertawa menanggapi celoteh sang mertua.
"Tapi suami Tita itu anakmu mi." Waah, gerah juga Nathan mendengar ocehan sang mami.
"Iya, makanya mami heran ... kok ada laki-laki sebaik itu, gitu." duuh, mami senang sekali membuat putranya jengkel.
"Mami, Nathan juga baik kok, lebih baik lagi menurut aku. Makanya aku jatuh cinta."
Kata-kata singkat dari sang istri tapi sanggup melambungkan jiwanya ke angkasa. TIta merupakan kelemahan terbesar seorang Nathan Petra, hanya kalimat seperti itu saja, Nathan sudah seperti lupa diri. Dia langsung memeluk dan menciumi seluruh wajah sang istri tanpa mengingat ada sang mami di sana.
Gerah dengan kelakuan sang putra, mami pun langsung bersuara, "Hei, hei, hei ... jangan kau sakiti menantuku. Lepaskan."
Ha ha ha... "Sayang, sudah ... mami kamu protes."
"Biarkan saja. Kamu itu harus menurut sama suami bukan mertua." Seingat Nathan dia sudah berbicara sepelan mungkin, tapi entah kenapa sang mami bisa mendengarnya. Alhasih, telinganya tidak selamat dari jeweran sang mami.
"Apa?? Bagus ya ... mentang-mentang sudah menikah, sudah punya istri, bukan nya di ajarkan berbakti pada orang tua ..."
"Aduh, duh, duh ... mi, sakit."
Nathan meringis kesakitan, Tita tertawa terbahak-bahak, bahkan Brian yang masuk disaat yang tepat pun jadi terhibur dengan pemandangan yang sudah lama tidak dilihatnya ini. Karena tak ingin kehilangan momen, Brian mengeluarkan ponsel di sakunya, mengabadikan momen, dan langsung mengirimkannya ke group mereka. What a beautiful day.
***
Axel sudah selesai melakukan pemeriksaan terakhir di hari itu pada Tita, "Pemulihanmu cepat ya, tidak ada cedera dalam ... luka luar juga sudah hampir pulih. Besok kita ke obgyn untuk memastikan lagi kondisi rahim." Axel memberikan penjelasan detail dan menyeluruh, sambil menyembunyiakan dan menahan senyumannya teringat sebuah foto yang dikirim oleh Brian tadi.
"Terima kasih ya, dok. Jadi, kapan saya bisa pulang ya dok?"
"Lho, kenapa buru-buru ... anggap saja kamu sedang honeymoon disini." Ha ha ha ...
Dokter terkutuk, mungkin itulah kata-kata yang menggambarkan ekspresi Nathan ketika mendengar perkataan Axel tadi. Karena hanya Axel dan Brian yang tau motif di balik permintaan khusus Nathan tentang kamar perawatan Tita. Dan Axel tidak peduli dengan tatapan itu, dia ikut berbahagia dengan kelakuan Nathan yang sekarang. Bahkan mungkin bukan hanya Axel, tapi Brian, Thomas dan Rega juga turut berbahagia. Rasanya, masa-masa paling kelam dari seorang Nathan sudah berlalu. Kehadiran Tita membawa kesegaran dan warna baru dalam hidup Nathan. Meskipun kadang menyebalkan ketika dia bermesraan tanpa memandang tempat dan waktu, membuat iri mereka dengan ke-intiman ekspres yang di lakukan sang tuan muda. Tapi, sungguh ... keadaan ini jauh lebih baik di bandingkan dengan kondisi dan sikap Nathan sebelum jatuh cinta dan kemudian menikah dengan Tita.