
"Tita ... Tita ... Tita, kamu kemana aja sih??" Loudy yang melihat Tita masuk ke vila langsung lega. Bisa habis dia diamuk sang kakak bila istri kesayangannya hilang. Tadi Loudy tengah asik bermain dengan teman-temannya ketika ada panggilan masuk dari Brian ke ponselnya. Bukan tanpa sebab sang sekretaris itu menghubungi, tentu menanyakan sang istri bosnya. Dan Loudy langsung panik bukan main manakala sadar bahwa Tita tidak ada disana, bahkan dia tidak tahu sudah berapa lama Tita menghilang.
"Aku kan ke supermarket depan. Kenapa sih?". tanyanya keheranan dengan Loudy yang masih panik.
"Ponsel, ponsel kamu kenapa tidak aktif?" ih, lagaknya sudah seperti pacar yang posesif saja.
"Aktif kok." dia memperhatikan ponselnya. "Oh, tidak ada signal."
Loudy langsung lega melihat ponsel Tita yang memang tidak ada signal, yaa setidaknya ada alasan jika nanti kak Nathan bertanya.
Tita sudah bersiap akan tidur ketika Loudy bertanya, "Ta, tadi kan kamu pergi dengan Andin ... lalu kenapa Andin bisa sudah ada di vila sedangkan kamu tidak?"
"Oh, tadi aku ketemu teman."
"Teman? teman yang mana? Laki-laki atau perempuan?"
"Hey, kamu kok kepo banget deh." hehehe.
"Harus! kamu tidak tahu tadi kak Brian menghubungi aku hanya untuk memastikan kalau kamu ada disini?"
Brian? Kenapa harus Brian? Kemana Nathan? Dia tidak membalas pesanku bahkan tidak menelpon aku.
"Tita, jadi teman kamu itu laki-laki atau perempuan?"
"Hm ... laki-laki."
"Aduuuh, mati aku. Habislah sudah ..."
"Kenapa sih, Lou."
Loudy mengacak-acak rambutnya, frustasi. "Aku kehilanganmu sebentar saja itu sudah suatu kesalahan, bagaimana kalau kak Nathan sampai tahu kamu jalan dengan laki-laki lain??"
"Lho, kamu lucu banget, ha ha ha. Aku yang jalan kenapa kamu yang frustasi begini sih?" Tita melihat sang sahabat dengan tatapan aneh.
"Karena aku yang menjanjikan tidak akan terjadi apapun terhadapmu."
"Yaa ... aku kan juga tidak kenapa-kenapa. Iya kan, aku sehat, coba lihat, lihat."
Makin geregetan Loudy melihat Tita yang tidak paham-paham. "Tita, kamu tahu kan kakak aku seperti apa? Kira-kira, mana yang dia lebih pedulikan ... kamu yang pergi ke supermarket tanpa aku ketahui atau kamu yang bertemu teman laki-laki?"
"Kalau begitu, jangan beritahu kakakmu!" Tita mengerti sekarang, makanya dia mengusulkan hal itu. "Jangan beritahu kakakmu demi kedamaian kita semua." Tita menggenggam tangan Loudy. Kedua gadis itu memiliki pemikiran dan kekhawatiran yang sama.
Anya menarik Nathan untuk duduk di sofa, tentu agar lebih nyaman dan lebih dekat. "Sayang, tinggalkan istrimu dan kembalilah bersamaku. Aku ingin selalu bersamamu ... Aku sudah bosan diperintah-perintah oleh Terry."
"Mengapa Terry memerintah kamu? Kalau kamu tidak suka, tinggalkan saja dia."
Nathan tidak bisa langsung menjawab. Dia bukan laki-laki yang dapat dengan mudah mengumbar janji sekalipun untuk pura-pura, tapi dia juga tidak mungkin melewati kesempatan emas ini ... dia sudah berusaha sejauh ini. Berfikir lah Nathan. "Jika kamu meninggalkan Terry dan kembali padaku, bagaimana kalau dia jadi merasa di khianati dan malah menghancurkan kamu? Terry bukan orang yang mempunyai belas kasihan."
"Ha ha ha, no, no ... tidak mungkin. Bahkan dia yang memerintahkan agar aku kembali padamu."
Mendengar penuturan Anya, perasaan Nathan makin tidak karuan ... Dia takut mengakui ... tapi, dia semakin yakin bahwa Terry sedang mengincar Tita-nya. Maka, untuk menyelesaikan ini semua seorang Nathan mengambil langkah yang tidak biasa. Dia memajukan tubuhnya, menatap intens wanita di depannya dan membuat si wanita terperdaya. "Sayang, jika kamu mau kembali padaku ..." disentuhnya pipi Anya dengan penuh kelembutan. "katakanlah ... apa yang Terry rencanakan. Apakah dia akan menghancurkan ku? Menghancurkan perusahaan ku, dengan men-sabotase hotel ku?" Nathan menunggu dengan cermat reaksi Anya, terlihat wanita itu sudah mulai goyah. Dalam satu tarikan Anya sudah berada dalam pelukan Nathan ... "Sayang, aku berusaha keras untuk bisa mencapai puncak keberhasilan ini agar ada yang bisa ku banggakan di hadapanmu ... Jika Terry menghancurkan apa yang sudah ku bangun dengan susah payah, apalagi yang bisa ku banggakan? Apakah setelah aku hancur, kamu akan tetap kembali padaku?" tahan Nathan, biarkan seperti ini. Dia memberi semangat untuk dirinya sendiri.
Dan di luar dugaan, Anya berdiri dan menempatkan dirinya di pangkuan Nathan ... memeluknya dengan lebih erat, membuat Nathan kaget ... bahkan delapan pasang mata yang menyaksikan langsung lewat layar dari kamera pengawas dibuat menahan nafasnya. "Tidak ... tidak mungkin aku akan membiarkan dia menghancurkan kerajaan bisnismu."
Huh, jadi benar dia dalangnya. Nathan
"Terry, dia menempatkan satu orangnya yang terpercaya masuk ke Petra Corporate, di bagian IT ... agar mudah men-sabotase perusahaan kamu, sayang."
What?! IT di Petra Corporate?? "Kamu yakin? Bukannya di Inggris?"
"Sayang, kamu tidak mengenal Terry dengan baik. Dia itu sangat licik dan pintar, Petra Corporate adalah perusahaan pusat, walaupun kamu banyak melakukan pengembangan di negara-negara lain tapi jantung usahamu disini, kan? Lebih mudah baginya mengendalikan melalui kantor pusat dari pada anak perusahaan." Anya mengelus-elus rambut hitam Nathan. Dia sudah sangat yakin laki-laki ini memang ditakdirkan untuknya, kembali padanya.
"Sayang, apa selama ini kamu tertekan olehnya? Apa dia melakukan sesuatu hal yang menyakitimu? tubuhmu?"
Oh, dia masih peduli padaku ... Anya tersenyum, "Tidak sayang. Terry, walaupun dia terkenal playboy ... tapi dia tidak akan mau menyentuh wanita yang tidak dia inginkan. Tapi jika dia sudah menginginkan satu wanita, maka dia akan melakukan apapun untuk mendapatkannya sampai wanita itu dengan senang hati menyerahkan tubuhnya."
Nathan menegang kini, Oh God ... tolong jaga Tita-ku. Rasanya dia ingin segera berlari menemui Tita-nya, menjaganya, memastikan sang istri aman.
"Sayang, kenapa kamu tegang?" Anya mengartikan lain ketegangan yang dialami Nathan. Dan Nathan sangat paham kemana arah pembicaraan ini.
"Aku, tidak terbiasa seperti ini."
"Tapi aku tidak masalah, kamu tahu kan?"
"Mungkin tidak hari ini, sayang ... kita masih punya banyak waktu." Nathan memaksakan senyumnya.
"Sayang, kamu polos sekali. Aku semakin yakin bahwa istrimu yang mungil itu pasti tidak bisa membuatmu turn on, ya?"
Brian yang menyaksikan itu reflek tertawa, hah ... bahkan di mobil saja sang tuan muda tidak tahan untuk tidak menyentuh istrinya dan membuat telingaku tercemar. Sejurus kemudian Brian langsung terdiam karena tatapan penuh keingintahuan yang luar biasa dari tiga orang di sebelahnya.
Nathan menggeser tubuh Anya, kemudian dia berdiri. "Aku akan mengantarmu pulang." katanya.
"Lho, kenapa?"
"Sudah terlalu malam, Aku lelah sekali." melihat Anya dengan raut wajah yang kecewa, Nathan menghibur, "Terima kasih ya, sudah berdandan cantik sekali hari ini."
Iya, inilah Nathan-nya ... Anya sangat senang karena Nathan sudah kembali seperti dulu. Kata-kata itu selalu di ucapkan Nathan setiap kali mereka selesai berkencan. "Baiklah, Ayo kita pulang. Dimana sekretaris kamu itu?"
"Oh, aku akan menelponnya ..."