
Tita sudah bilang, dia akan berangkat sendiri saja. Tapi karena sang suami bersikeras mengantarnya, jadi mau tidak mau dia ikut juga. Ah, sekalian melancarkan niat terselubungnya. Hehe ...
"Nathan sudah, geser sedikit kenapa sih?" printer Tita yang merasa risih dengan kelakuan sang suami.
"Kenapa? Kamu tidak suka?!" Nathan menggeser kaki sang istri karena kesal.
"Eh, bukan begitu," gawat kalau dia marah, rencanaku akan gagal bahkan sebelum dimulai. "Aku malu." Tita menundukkan pandangannya seolah-olah memang sedang malu. Duh, makin pintar dia bersandiwara.
"Malu kenapa? disini kan tidak ada siapa-siapa." katanya dan mulai merapatkan dirinya lagi, menciumi sang istri dengan sesuka hatinya.
Ya, ya, ya ... Anggap saja aku tidak ada, tuan. Brian.
Hiks, hiks, pantas saja dia bersikeras mengantarkan aku ... curang! bahkan aku belum mengatakan apapun soal perpisahan dan dia sudah menang banyak. Tita.
Akhirnya sampai juga, rasanya perjalanan ke kantor makin panjang saja, huft.
"Aku tidak bisa menjemput kamu nanti," kata Nathan sambil membantu merapikan rambut sang istri.
"Iya, tidak apa-apa." Tita sibuk merapikan pakaiannya, memastikan tidak ada yang kusut.
"Aku akan mengijinkan kamu pergi ke acara perpisahan kampusmu, asal kamu makan siang di kantorku 5 kali."
"Hah, sungguh???" Tita berbinar-binar, dia tidak salah dengar kan??? padahal dia belum lagi bilang ... karena senang Tita reflek melingkarkan tangannya ke leher sang tuan suami dan memeluknya erat. Dan Nathan tentu saja senang akan inisiatif sang istri dan menghadiahi dengan ciuman-ciuman di seluruh wajah Tita. "Iya, sudah, sudah ... terima kasih ya, aku masuk dulu, sayang. Nanti siang aku ke kantormu."
Selepas Tita pergi, Brian pun masuk kembali. "Brian, kamu lihat tadi?? lihat kan, dia memelukku duluan. Aaah, istriku benar-benar menggemaskan."
"Iya, tuan .. nona memang menggemaskan." padahal mana kelihatan dari luar.
"Hei, dia istriku ... jangan berani berfikiran macam-macam."
"Baik, maafkan saya tuan." ya benar minta maaf saja biar cepat urusannya. Brian melirik sang tuan dari kaca kecil di atasnya, yaa berbahagialah tuan, saya akan pastikan Anda selalu bahagia.
Tiba di kantor, ada satu wanita dengan pakaian yang terlampau seksi sedang berdiri dengan senyum percaya dirinya dan di sampingnya ada dua orang asisten sekretaris Brian yang lama. Wanita itu tentu saja Anya, yang sengaja dibawanya ke kantor pusat untuk mengawasi gerak-gerik nya. Ah, padahal sampai di lift tadi Nathan masih lupa bahwa wanita ini kini berada disini.
"Selamat pagi, tuan." sapanya dengan agak menggoda. Dan Nathan hanya tersenyum. Tapi itu diartikan peluang besar karena wanita itu tahu Nathan tidak mungkin tersenyum kepada wanita lain jika dia mencintai istrinya.
"Brian, kamu tempatkan dia disana?" tanyanya.
"Iya, tuan. Agar dia berfikir bahwa anda ingin dekat-dekat dengannya."
"Bagaimana kalau Tita datang? Aku tidak mau kalau sampai ada yang terjadi dengan istriku. Dan kamu lihat pakaiannya tadi? Suruh ganti dengan yang lebih sopan."
"Iya, baik. Tuan."
"Apa ada kabar dari Thomas?"
"Belum tuan, silahkan dimakan buahnya, tuan."
"Padahal aku ingin pulang cepat. Ck, jadi kita tetap harus ke club' nanti pulang kerja?"
"Sepertinya begitu, tuan." jawabnya, sambil menerima garpu yang diberikan sang tuan, kemudian memasukkan potongan buah ke mulutnya dan memberikan kembali garpu itu kepada sang tuan.
"Oh, Brian. Aku lupa. Aku ingin mengganti pakaian tidur Tita, aku serasa tidur dengan anak kecil setiap kali melihat istriku dengan piyama Donald duck atau Teddy bear nya." curhat sang tuan.
"Ah, baik tuan, saya pastikan sore ini baju tidur nona sudah berganti model." nona, anda memang lucu sekali dan tiada duanya. Bahkan pacarku saja berani memakai gaun tidur untuk menggoda ku, ha ha ha.
"Nathan,"
Oh, God. Kenapa dia yang masuk. Pikirnya. "Ada apa?"
"Kita belum mengobrol sejak aku pindah kesini." Anya duduk di kursi depan Nathan.
"Kamu lihat kan, aku sibuk."
"Aku mau minta maaf atas kejadian yang lalu," berakting menyedihkan untuk mengambil simpati sang tuan muda.
Kalau saja, dia tidak sedang dalam misi rahasia .. pasti sudah dia usir wanita ini dari hadapannya. Menghela nafas, "Sudah lupakan saja, kejadian itu pun sudah lama. Kamu bisa bekerja dengan nyaman disini, seperti yang lain."
Anya seperti ingin menyampaikan sesuatu namun, Nathan memotongnya. "Ah, kamu sudah menyiapkan ruang rapat? kamu tidak lupa kan aku harus rapat jam 10 ini?"
Anya mengecek jamnya, "Baik, akan saya siapkan." Dia berbalik dan meninggalkan Nathan. Tidak apa, setidaknya dia tidak menolak keberadaanku. Kemudian dia mengirimkan pesan kepada seseorang. Step one, done!
"Kalian mempermainkan aku?!" bentaknya dalam sambungan video dengan Thomas dan Rega. "Sampai kapan aku bisa tahan."
"Sabar, Than. Baru saja dia mengirim pesan kepada seseorang, katanya 'step one, done!' kamu tahu artinya kan? memang kamu targetnya demi keuntungan mereka masing-masing." Thomas.
"Iya, kita hanya tinggal memanfaatkan saat mereka lengah dan memperdaya Anya dan mengumpulkan bukti. Thomas akan mencari lokasi si penerima pesan. Kamu bersabar sedikit ya??"
"Kalian harus pastikan istriku aman!"
"Iya, iya. Tenang saja." Thomas menyeringai.
"Thom, aku tidak memintamu yang menjaga istriku!"
Ha ha ha ...
"Zahra, terima kasih lho, oleh-olehnya ... cantik banget..." Gladis berkomentar, sambil memperhatikan bross dari Tita.
Tita senang melihat teman-teman kantornya menyukai oleh-oleh yang diberikannya. Karena sebenarnya, bukan dia yang beli dan buka dia juga yang mencari. Dia hanya tahu beres. Bukan karena dia tidak ingin beli sendiri, tapi karena si tuan suami yang banyak alasan. Jadi, karena dia sudah ngambek, alhasil sang tuan suami meminta Brian dan Rega yang mencari oleh-oleh untuk teman kantor Tita. Senang sih aku tidak mengeluarkan uang sedikitpun. Tapi kesal juga jauh-jauh kesini hanya bisa di dalam kamar, sekalinya keluar ... itupun kabut ke apartemen kakak. Apa yang dikatakan sang tuan suami? Aku bisa mengajakmu kesini lain kali, sayang. Tapi untuk urusan yang satu ini tidak ada lain kali, karena feel-nya pasti akan berbeda.
"Tita, kamu sudah dapat ijin untuk perpisahan belum?" tanya Mickey.
"Sudah, dong." jawabnya senang, sambil menggoyangkan kedua tangannya keatas. Namun tiba-tiba, dia teringat hal yang sangat penting. "Oh, ya ampun. Mickey ... Celaka," katanya berbisik.
"Kenapa?" berbisik juga. Dia di tarik Tita ke pantry.
"Aku harus ke kantor Nathan, sebanyak lima kali sebagai syarat ijin itu."
"Hah?? Ada yang seperti itu juga??" Mickey menertawakan Tita.
"Jangan menertawakan aku. Kamu senang aku pergi atau tidak?"
"Oke, baik, maaf ... jadi?"
"Aku tidak enak kalau harus ijin lagi ke pak Putra ..."
"Aduh, suami kamu itu benar-benar ya ..." Mickey ikut berfikir mencari jalan keluar untuk sang sahabat terkasihnya. "Okey, kamu ikut aku saja survey, nanti setelah kamu selesai kita bisa kembali sama-sama, bagaimana?"
"Aaah, iya, setuju. Thank you, Mickey."