
Sepeda motor yang ditumpangi Tita berhenti tepat di depan pagar tinggi menjulang, membuat si pengendara kebingungan, orang kaya zaman sekarang aneh-aneh saja ... rumah seperti istana, mobil banyak tapi lebih suka naik ojek online, pikirnya.
"Pak, ini ongkosnya ... terima kasih, ya." Tita memasuki mansion itu dengan rasa lelah yang luar biasa. Ingin dia berendam, lalu tidur untuk menyegarkan tubuhnya.
"Ah, cantik ... ternyata disini kamu tinggal, di sangkar emas keluarga Petra. Tunggu aku, sayang ... Aku akan menjemputmu, saat waktunya tiba." dan mobil itu meluncur mulus meninggalkan tempatnya.
"Tita." Loudy memanggilnya.
"Apa ..." Tita masuk ke kamar di ikuti Loudy.
"Kamu gak pulang bareng kak Nathan?"
"Tidak, kenapa?"
"Ta, Mickey sudah kasih tahu kamu kan?" Loudy bertanya dengan serius.
"Soal laki-laki dan perempuan yang membicarakan aku itu?" Loudy mengangguk. "Apa kalian tidak salah dengar?"
"Duh ... Tita, gak mungkin dong. Aku sama Mike itu jelas-jelas mendengarnya."
"Lou, apa gak aneh ... kakak kamu itu kan terkenal, wajahnya aja selalu ada di majalah-majalah. Masa sih mereka membicarakan Nathan sementara ada kamu?"
"Ya ... mana mereka kenal aku? yang terkenal itu kakakku,"
"Tapi kan kamu ..."
"Memang kamu sebelumnya tahu aku bagian dari keluarga Petra?"
"Yaaa ...tidak sih."
"Nah, itu karena memang aku tidak pernah di ijinkan kakak untuk show off."
"Halah bahasamu itu, ha ha ha ... gaya banget!"
Ha ha ha ... mereka tertawa, huh ... senangnya punya kesempatan seperti ini lagi. Karena sejak Tita di nikahi sang kakak, sulit baginya ada momen seperti ini. Kakaknya terlalu memonopoli sahabatnya.
"Ta, tidak ada salahnya kamu hati-hati. Aku takut ..."
"Iya, aku pasti hati-hati. Tapi jangan cerita ke kakakmu, ya."
"Lho, kenapa?"
"Duh, nanti aku makin sulit bergerak. Kamu tahu kan? Dia bisa jadi membatalkan ijinnya untuk aku pergi perpisahan."
"Hah??? kamu dapat ijin dari kakak?"
"Iya dong." dengan bangganya Tita mengatakan itu.
"Kok bisa? Kamu jampi-jampi kakak aku ya?" Ha ha ha.
"Enak aja, aku bekerja keras untuk dapat ijin itu tau ..." yaaa ... pekerjaan yang menguras energi ku.
Loudy melihat sang sahabat dengan tatapan yang menyelidik. Kemudian dia senyum-senyum sendiri.
"Kenapa? Apa yang kamu pikirkan? Otak mesum." Tita menggelitik sang nona muda.
Loudy kegelian, tentu saja. "Kamu yang mancing ya, kata-kata kamu yang bikin aku berpikir kesitu." Loudy tidak mau kalah, dia balas menggelitik Tita. Mereka berdua bercanda dengan bahagia seperti dulu. Ah, persahabatan yang indah, siapa yang tidak senang melihat dua gadis cantik berlarian kesana kemari, saling menghindari serangan sambil tertawa renyah, tidak perduli dengan nafas mereka yang sudah tersenggal-senggal, dan tidak perduli dengan laki-laki tinggi dengan wajah tampan dan penampilan yang selalu terlihat sempurna sedang tercengang melihat mereka dari depan pintu.
Hah ... laki-laki tinggi dengan wajah tampan dan penampilan yang selalu terlihat sempurna?? Loudy langsung berhenti ketika melihat sosok itu, dan tak ayak Tita menabraknya menyebabkan mereka jatuh tersungkur. Bruukk!!
"Aduh! Kenapa berhenti gak bilang-bilang sih Lou?!" Tita bangun dan mengusap sikunya yang mencium lantai.
"Berat juga kamu, Ta." Ha ha ha, masih kurang ternyata mereka bercanda.
"Enak aja, ideal tahu??" Ha ha ha, belum sadar sang tuan suami sudah datang.
Dan teringat penyebabnya berhenti mendadak Loudy langsung menyapa sang kakak, "Kakak tumben sudah pulang jam segini?" memamerkan deretan giginya yang putih.
"Ha ha ha ... jangan alasan deh. Bilang saja kalau kamu gak mau dibalas karena sudah membuatku jatuh ..." Tita yang memang belum menyadari masih ingin membalas sang sahabat.
Loudy yang menyadari kebodohan sang sahabat, memutar kepala Tita dengan kedua tangannya hingga kepala itu menyaksikan sendiri bahwa dia tidak sedang berbohong.
Tita langsung berdiri, gelagapan, merapikan rambut dan pakaiannya, "Ka ... kamu, sudah pulang?" melihat jam dinding, tumben jam segini sudah pulang. Tita menghampiri sang tuan suami yang entah sejak kapan sudah berdiri disana.
"Oh, begini kelakuan kalian kalau aku tidak ada dirumah?!"
Apa sih? seperti kita sudah melakukan hal yang tidak baik saja. Tita. Loudy.
Tita membuka jas yang di pakai suaminya. Apa dia marah? "Kamu kok tumben banget sudah pulang jam segini?" penasaran.
Nathan melihat sang istri yang masih menyisakan peluh di keningnya. "Tadi kamu yang memohon padaku agar aku pulang cepat. Kamu lupa, ya?!" Tita ingat, mampus aku... aku belum siap dengan alasan-alasan karena Loudy.
Cup. Satu kecupan manis mendarat di bibir sang istri. "Sepertinya memang kamu lupa." kata sang tuan suami.
Loudy, yang melihat kejadian itu ... menyadari bahwa sudah saatnya dia meninggalkan tempat pertempuran ini. "Kak aku kembali ke kamar, ya ..." dia melenggang pergi keluar. Sorry Tita, aku tidak bisa menyelamatkan kamu, seperti itulah kira-kira kode yang diberikan Loudy, membalas tatapan mata penuh permohonan dari sahabatnya.
"Sepertinya, kamu lebih senang bermain dengan adikku daripada aku, ya?!"
"Ehm, tidak kok ... Kamu sudah makan?" Tita menyodorkan gelas berisi air putih untuk sang tuan suami.
"Siapkan air, aku mau mandi."
"Iya," Tita menempatkan jas dan kemeja kotor sang suami di keranjang. Masuk ke kamar mandi dan mengisi bathtub, menambahkan beberapa essentials oil agar harum, dirasa sudah pas Tita hendak memanggil sang suami namun naas baginya ternyata sang suami sudah berada di belakangnya sudah sangat bersiap untuk mandi, sontak Tita memalingkan wajahnya, malu!!
Nathan masuk ke dalam bak mandi tanpa canggung, "Kamu mau kemana?" tegurnya ketika sang istri sudah ingin beranjak.
"Aku, menunggu di luar saja."
"Kamu mau masuk kesini sendiri atau aku tarik."
Ucapannya biasa, tapi entah mengapa seperti ancaman mematikan ditelinga Tita. "Iya, iya aku masuk sendiri." Maka dilepas pakaiannya dengan menahan malu dan masuk menemani sang suami. Mereka memang sering melakukan kegiatan itu, tapi baru kali ini di tempat yang terang seperti ini dan tentu saja sang istri malu.
Nathan menggosok punggung sang istri dengan lembut, "Kamu dekat sekali ya dengan adikku?"
Gosokan punggung sang suami ternyata bisa membuatnya terlena juga, "Iya, Aku kenal Loudy karena kita ikut kelas yang sama, dia selalu sendiri, seperti memberi jarak dengan orang lain. Awal mula kita dekat itu karena tugas satu kelompok dan kita hanya berdua. Ternyata dia orang yang menyenangkan, aku mulai mengenalkannya dengan beberapa teman dan kita jadi suka pergi bareng."
"Seperti ke club'?"
"Hehe ... iya. Loudy yang awalnya mengajak kita kesana. Dan itu jadi tempat favorit kita."
"Kamu selalu bernyanyi disana?" Nathan mulai menggosok bahu dan tangan Tita.
"Kadang-kadang, kalau mereka meminta saja."
Dirasa gosokan sang suami sudah menjalar kemana-mana membuatnya kegelian maka, "Sayang, sini biar aku gantian menggosok kamu."
Nathan menyerahkan spons ke tangan Tita, "Dengan senang hati." katanya.