
Loudy sangat tau, jika sang kakak mengetahui dia tidak lulus tepat waktu, pasti akan ada hukuman yang harus diterima nya. Dan yang paling mengerikan yang terpikir oleh nya adalah, kakak akan melarangnya menggunakan media sosial. Aaaaaa... memikirkan nya saja membuatnya khawatir. Itulah sebabnya dia mengalihkan pembicaraan dengan sang kakak tadi.
"Ta, yuk berangkat."
Tita menggenggam tangan ibunya, memberikan senyum terbaiknya. "Ibu, Tita berangkat ya, Ibu makan yang banyak, jangan terlalu capek-capek."
Sang Ibu melepaskan genggaman anaknya, mengusap pipi anaknya yang halus dan masih dirasa menggemaskan, "Iya, hati-hati di jalan."
Ketika mobil sang nona melaju keluar, sang tuan muda keluar dari pintu utama bersama sang sekretaris. Bi Amel pun menundukkan kepalanya, dan di hadiahi senyuman dari tuannya. Belum sempat sang tuan masuk mobil, sang Mami tergesa-gesa keluar, "Nathan, mau kemana?"
Sang anak menoleh, dilihatnya sang Mami yang sudah berdiri di halaman rumah, " Ada yang harus aku urus di kantor, Mi,"
"Ini kan hari libur, sayang," Sang nyonya mami melihat ke arah Brian, "Brian, apa jadwal hari ini tidak bisa di tunda?"
Nathan mengernyitkan keningnya, "Kenapa lagi, Mi?"
"Mami mengatur kencan kamu hari ini."
"Oh, Mami, please ... stay out of it !"
Nathan tidak bermaksud membentak sang Mami, tapi kelakuan sang Mami sudah di luar batas kesabarannya. Sebelumnya, sang Mami mencoba membujuknya lewat perantara teman-temannya, tadi pagi usaha itu terus berlanjut lewat adiknya. Dan yang terakhir langsung memutuskan siapa teman kencannya. Dia sangat tahu, itu semua mereka lakukan karena mereka sayang dan peduli terhadapnya. Namun, Nathan tidak ingin dipaksa. Walau rasa sakit karena di khianati itu masih membekas, tapi sejujurnya sudah tidak sesakit dulu. Nathan menghela nafas ringkas di kursi belakang, dan sang sekretaris, Brian seperti langsung mengerti apa yang di inginkan tuannya.
"Tuan, sebaiknya anda beristirahat di apartemen saja. Saya akan me-re-schedule meeting hari ini." sambil sesekali menatap ke arah sang tuan melalui kaca di depannya.
Menghela nafas lagi, "Baiklah, aku akan ke apartemen," Dia melemparkan pandangan ke jendela di sampingnya.
Sesampainya di apartemen, di temani Brian, Nathan naik ke dalam lift, "Kita ke lantai 8 tuan," Nathan meliriknya. "Di lantai 7 sudah ada yang menyewa, dua hari lalu petugas disini memberitahu kepada saya."
"Apa kamu juga berfikir aku harus benar-benar melupakan semua?" Brian hanya memandang tuannya dengan iba, "Senyamannya anda saja, jangan terlalu dipaksakan. Kalaupun waktunya sudah tepat pasti akan ada yang menarik hati anda," kali ini Brian mengucapkan kalimat itu dengan keyakinan penuh.
Sementara di unit Tita, "Mickey mana sih, kok belum sampe-sampe," gerutunya. Barang-barang dari kost-an Tita yang sebelumnya sudah sampai dengan selamat di unit apartemen nya yang baru, namun belum tertata dengan rapi, karena tidak mungkin dia membereskannya hanya berdua dengan nonanya.
"Ta, kita beresin pakaian aja dulu kali ya. Biar gak lecek nih." seru Loudy.
"Yuk," Tita berlalu ke dalam. Tidak lama terdengar suara bel di unitnya. Tita berjalan ke depan untuk membuka pintu, "Cih, kenapa baru datang jam segini?" gerutunya.
"Iya, sorry, aku tadi ketiduran, Ta. Udah beres?" ha ha ha.
Sementara di tempat lain. Nathan merebahkan dirinya di kasur, matanya menerawang. Ini bisa di bilang apartemen persembunyian miliknya, hanya dia dan Brian yang tau. Jika hatinya dalam kondisi yang tidak baik, maka dia akan berada di sini. Dan Brian akan selalu setia menemani, dan berada di kamar lain. Nathan membeli 2 unit apartemen disini karena dulu dia berniat untuk memboyong sang kekasih tercinta dari Inggris, dia tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh.
*Flash back*
Anya, seorang gadis yang di kenalnya ketika baru menginjak kan kakinya di Cardiff University untuk mengambil gelar Masternya. Anya adalah sosok gadis yang ceria, menyenangkan sekaligus menggemaskan. Hingga akhirnya mereka meresmikan hubungan mereka di awal perkuliahan. Gaya pacaran mereka tidak sebebas teman-teman lainnya disana, bukan karena Nathan tidak ingin, tapi karena Nathan yang berusaha menahan hasratnya. Dia tidak ingin merusak wanita yang sangat di cintainya. Dan di Kampus itu juga Nathan kenal dengan Rega.
Nathan sering di ajak bermalam di apartemen Anya, dengan alasan dia kesepian. Namun, mereka hanya sebatas melakukan ciu*an, karena Nathan akan segera menyudahi semuanya ketika hawa di ruangan itu sudah panas. Dan ketika Anya tanya alasannya maka dia akan memberikan jawaban yang sama. Pernah sekali waktu, Anya marah dan menganggap Nathan hanya mengada-ada, karena sesungguhnya Nathan tidak benar-benar menginginkannya. Walaupun Nathan sudah menjelaskan yang sebenarnya, tetap tidak dapat meredakan kemarahan gadisnya. Akhirnya, Nathan pulang ke apartemennya sendiri.
Keesokan harinya di kampus, "Than, kamu kemaren kemana?" tanya Rega.
"Gak kemana-mana, aku hanya di apartemen. Kenapa?"
"Kayaknya aku liat Anya deh di club'," sambil menggaruk pelipisnya.
"Ah gak mungkin, kan aku udah anter dia sampai apartemennya semalam." Nathan sangat percaya pada kekasihnya itu. Dia sangat mencintai Anya, selalu berusaha ada untuk Anya, bertekad untuk tidak menyakiti dan membuat Anya-nya bersedih.
Setelah kejadian malam itu, Nathan dan Anya masih tetap mesra seperti biasa. Hanya saja, Nathan sudah hampir tidak pernah lagi bermalam di tempat kekasihnya itu. Nathan hampir menyelesaikan study-nya, jadi banyak sekali tugas yang harus dia selesaikan. Dan kekasihnya itu tidak lagi memaksa Nathan untuk bermalam bersamanya. "Terima kasih ya sayang, kamu sudah mengerti aku,"
Nathan, pria yang selalu positif pemikirannya, sudah merencanakan kejutan untuk sang kekasih. Dia merencanakannya dengan matang, tentu saja di bantu oleh Rega. "Jadi, kamu mau kasih kejutan apa?" tanya Rega.
"Anya udah banyak mengalah belakangan ini, aku mau kasih kejutan yang gak akan pernah dia lupakan sampai kapanpun. Aku mau melamar dia, aku mau ajak dia pindah kuliah ke negaraku. Apartemen disana juga udah siap. Karena studi aku udah selesai dan aku harus meneruskan usaha keluarga disana.
Ditempatnya menimba ilmu, tidak ada yang mengetahui siapa Nathan yang sebenarnya. Dia merasa tidak nyaman ketika orang-orang tahu siapa orang tuanya, padahal 'hotel and resort P Familia' disana adalah milik papanya. Begitupun dengan Anya dan Rega, mereka hanya tahu Nathan berasal dari negara yang berbeda dengan mereka dan berkesempatan kuliah disini.
Mengetahui Nathan akan melamar Anya, Rega mencoba meyakinkan lagi, "Kamu serius mau melamar Anya?"
"Iya lah, kamu kenapa sih? Kenapa jadi kamu yang gak yakin?"
"Kamu kan belum kenal keluarganya, Than?"
"Dia juga belum kenal keluarga aku, Ga. Makanya nanti aku kenalin. Udah ah, kamu bantuin aku ya nanti."
"Oke, deh."