
"Mulai hari ini, kamar kamu disini." Nathan membawa Tita masuk ke dalam kamarnya.
Woaah .. baru kali ini aku masuk ke sini. Kamar tuan penguasa memang berbeda. What! ada mini theater juga?? Apa dia memindahkan kamar hotel kesini?? Glek.. Tita menelan liurnya dengan susah payah karena melihat besarnya tempat tidur sang tuan muda. Aaah ... hanya di lihat saja sudah sangat nyaman, bagaimana jika aku tiduran di sana.
"Hei ... kemari."
Tita melihat ke arah suaminya yang sudah duduk di sofa. Kemudian menghambat dan ikut duduk di sofa.
"Ketika pernikahan kita kemarin, aku tidak melihat teman-teman mu, kenapa?" Pikiran itu sudah mengganggu Nathan beberapa hari terakhir ini, dia berusaha mengusir pikiran jelek di kepalanya, tapi tetap tidak bisa menghilangkannya dari kepalanya.
"Aku tidak mengundang mereka."
"Kenapa? Kamu mau menyembunyikan pernikahan kamu?"
"Tidak, bukan begitu. Pernikahan ini sangat mendadak, bahkan sulit bagi diriku untuk menerima kenyataan, kan. Jadi aku tidak terpikirkan untuk mengundang teman-teman ku."
"Baiklah, kita bisa membuat pesta lagi nanti. Jika kamu menginginkannya."
Duh, kenapa bicaranya seperti itu sih. Kan kesannya jadi aku tidak menginginkan pernikahan ini, kan? "Kamu mau minum sesuatu?" tawar Tita.
"Tidak usah, aku bisa meminta pelayanan membawakannya nanti."
"Apa besok aku bisa mulai bekerja?"
"Aku sudah meminta cuti untukmu seminggu," Tangan Nathan bergerak menyentuh rambut Tita, menggulung ujungnya.
"Kenapa, lama sekali!?"
"Karena rencana awalnya aku ingin mengajak kamu bulan madu."
Glek! Oke... alihkan topik, berpikir Tita. "Nathan," ragu-ragu Tita menyebut namanya. Dan yang punya nama bersemu mendengar namanya dipanggil, rasanya namanya menjadi sangat enak di dengar.
"Iya,"
"Apa boleh aku membicarakan pekerjaan denganmu di luar jam kerja?"
Nathan melepas rambut sang istri yang sedang di gulung-gulungnya. "Kenapa? Ada masalah dengan pekerjaan kamu? Aku bisa memindahkan mu ke kantorku."
Ha ha ha ... "Apa sih, tidak, tidak ... tidak ada masalah apa-apa. Aku hanya bertanya saja."
"Tita." Kali ini Nathan berbicara dengan serius, mereka saling menatap dengan dalam. "Aku tidak bisa bertahan lama jika berdekatan denganmu. Jadi, jangan lama-lama untuk bisa menerima aku."
Jantung Tita berdetak lebih cepat, entah bagaimana tapi dia merasa perasaannya menghangat, seperti ada kupu-kupu berterbangan di perutnya.
Tita bangun pagi itu dengan malas, dia masih cuti ... jadi tidak perlu bangun pagi-pagi. Tapi ketika di buka matanya, sang suami sudah tidak ada di sebelahnya. Kemana dia? Tita bangun dari tidurnya, menggosok gigi, dan masih setia mengenakan kaos Teddy bear-nya. Ketika pintu kamar terbuka, Nathan masuk dengan peluh di sekujur tubuhnya, dia tidak melihat sang istri yang berdiri di ujung tempat tidur memeluk bantal dan terpukau dengan pemandangan bergerak di kamar itu. Nathan dengan santainya membuka kaos yang basah karena keringat dan menghilang di balik pintu kamar mandi.
Hah ... ya ampun, apa itu tadi. Aduh mataku terkontaminasi. Tita terduduk di lantai, memegang pipinya yang panas dan memerah. Ah, dia yang melepas baju kenapa aku yang malu sih! Dia gak lihat ada aku apa? Aku haus. Tita beranjak dari duduknya, dan meminum air yang tersedia di meja. Belum lagi habis dia menelan minumannya ... Ceklek, pintu kamar mandi terbuka. Dengan bathrobe dan rambut basah Nathan keluar dari sana.
Uhuk ... uhuk ... uhuk... Tita terbatuk-batuk, minumnya sampai masuk ke hidung. Nathan yang panik langsung menghampiri, "Sayang ... kamu kenapa?" Di usap punggung sang istri. "Kamu minum air ini? Air ini yang membuat kamu batuk-batuk? Aku akan minta pelayan menggantinya."
Nathan sudah akan pergi ketika Tita menahannya. "Ehm ... jangan, aku sudah tidak apa-apa."
"Yang benar? Kamu yakin?"
"Iya, hanya tersedak tadi."
"Tersedak? Ha ha ha ... kamu lucu sekali. Baiklah, aku mau siap-siap."
"Eh, mau kemana?"
"Iya, tapi ... " kok dia bisa tahu ya? Aku kan mau pergi dengan Loudy.
"Duh ... pengantin baru, betah banget sih di kamar." sang adik yang kadang tidak bisa menjaga mulutnya, mulai usil.
"Lou, jangan mengganggu kakakmu." sang mami yang protes.
"Ish, mami. Kak, aku mau pergi dengan Tita ke kampus. Dia harus mendaftar untuk wisuda."
"Aku tahu, tapi Tita akan pergi denganku."
"Lho, kok? Kak, aku yang akan pergi dengan Tita. Kita kan sudah janjian, iya kan, Ta?"
Tita bingung sendiri, diperebutkan dua orang yang sama-sama keras kepala.
"Aku masih dalam masa bulan madu, jadi jangan mengacau." sang kakak mengeluarkan ultimatumnya.
"Kita bisa pergi bertiga, kan?" Tita memberi usul. Loudy berbinar mendengarnya.
"No! I just want to go with you."
"Mami, kakak pelit tuh, mi." Sang adik merajuk.
"Nathan, kenapa tidak membiarkan Loudy ikut? Tuan Brian kan juga ikut?"
"Brian hanya mengantar kita. Dan ada yang ingin aku bicarakan denganmu nanti."
Mobil melaju, meninggalkan mansion menuju tempat Tita kuliah. Misi Nathan kali ini adalah mengenal lebih dekat kehidupan sang istri. Dia sudah mempertimbangkan masukan dari teman-temannya, demi membuat sang istri jatuh hati padanya. Dia akan mulai masuk di kehidupan istrinya. Kamu harus berhasil membuat istrimu selalu mengingatmu, terbiasa dengan adanya kamu di sisinya. Itulah kesimpulan dari teman-temannya.
"Loudy bilang, kamu kuliah di Inggris, ya?"
"Iya, aku melanjutkan kuliah di sana, tapi sebelumnya aku juga kuliah di sini."
"Oh ya? Kamu pasti pintar sekali ya .."
"Tuan muda bahkan beberapa kali ikut akselerasi, nona." Brian menjelaskan.
"Hah, yang benar? Wah ... kepintaran kamu memang bakat dong."
Biasanya, jika mendengar orang lain memujinya Nathan merasa biasa saja. Tapi rasanya memang lain ketika pujian itu datang dari gadis ini.
"Begitulah, nona."
"Aku juga tidak akan heran, kalau kamu saat itu digilai banyak perempuan, ya kan?"
Senyuman sang tuan muda hilang seketika. "Apa maksudmu?"
"Maksudnya, banyak teman wanita yang suka padamu."
"Tidak tahu. Aku juga tidak peduli."
Lagi-lagi yang menyadari perubahan suasana hati Nathan adalah Brian. Sejak kejadian hari itu, dia memang memandang wanita hanya benalu. Makanya, teman-temannya merasa aneh ketika dia terpikat pada gadis muda yang baru dikenalnya ketika rapat dengan klien.
"Tuan muda tidak ada waktu untuk itu, Nona. Dia hanya fokus belajar saja." Brian mencoba menetralisir keadaan. Duh, cukup menyinggung soal perempuan lain nona.
"Aku juga tidak pernah punya pacar karena ingin fokus dengan kuliahku. Sepertinya kita punya kesamaan, ya?" Ha ha ha.
Nathan memandang Tita yang sedang tertawa, dia ikut tersenyum, tawanya menular. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, ingin sekali dia berucap. Aku pernah punya kekasih. Tapi kata itu sulit sekali terucap. Apakah aku harus jujur padamu? Atau biarkan saja seperti ini?