
Tita sedang rapat dengan rekan kerjanya, ponselnya bergetar. Ternyata Terry mengiriminya pesan.
"Tita, bagaimana kalau kita makan siang bersama?"
"Aku sibuk hari ini, maaf ya." seperti itulah balasan pesan dari Tita.
Tring ... balasan pesan dari Terry masuk, tidak ada kata-kata hanya gambar kucing kecil dengan mata bulat besar sedang menangis.
Tita tertawa kecil, lucu sekali sih orang ini.
"Fokuslah nona muda." Mikcey menegur Tita yang kebetulan berada di sebelahnya dan menyaksikan sang sahabat sedang berbalas pesan dengan seseorang.
"Iya, aku fokus."
***
Pukul sebelas siang, seharusnya obat itu sudah mulai bekerja. Lisa bangun dari duduknya, "Clara, aku diperintahkan tuan Brian untuk memastikan tuan muda tidak tertunda makan siangnya, jadi aku mau menanyakan kepada tuan muda apa yang akan dia makan untuk siang ini." Hhhh ... kenapa juga aku menjelaskan kepada manusia satu ini, ck.
"Baiklah," Clara curiga sebenarnya, hanya saja karena perintah itu langsung tuan Brian yang perintahkan dia jadi tidak dapat berkata apa-apa.
Lisa mengetuk pintu tiga kali dan langsung masuk tanpa menunggu dipersilahkan, karena pikirnya Nathan mungkin tidak bisa mengatakannya, haha.
"Tuan, anda mau makan apa?" suaranya sangat merdu, ya ... dia sengaja melakukannya.
Tampak di sofa Nathan sedang duduk menyandarkan tubuhnya, jas yang semula rapi ditubuhnya kini sudah terlepas, bahkan dasi pilihan sang istri pagi ini pun sudah tergolek tak berdaya di lantai. Nafasnya memburu, peluh mulai membasahi pelipisnya.
Oh God ... aku tidak pernah tahu seorang Nathan bisa terlihat se-seksi ini. Lisa.
Perlahan dia mendekat, mengarahkan tangannya menyibak rambut Nathan yang kini sudah tidak rapi lagi. "tuan."
Grab!! Nathan menahan tangan yang memegang rambutnya itu. Dia berdiri, berusaha untuk tetap fokus ... Nathan tahu keadaannya tidak sedang baik-baik saja sekarang. "Aku keluar sebentar."
Dengan sisa kekuatannya Nathan keluar meninggalkan Lisa yang terbengong diruangannya sendirian.
Nathan melajukan mobilnya secepat yang dia bisa, memasuki sebuah gedung dan dia langsung menuju basement. Tahan Nathan, kamu pasti bisa ... seperti itulah dia berusaha membuat dirinya tetap sadar. Nathan mengambil ponselnya dan melakukan panggilan.
"Halo, sayang temui aku di basement kantormu sekarang!!"
Tita yang mendapat panggilan itu dan mendengar perintah sang tuan suami kaget bukan kepalang. Kenapa dia berteriak seperti itu? dan suaranya? Dan ... kenapa dia ada di basement kantorku??
Banyak pertanyaan muncul begitu saja dikepalanya, ada apa sih? Tanpa berfikir panjang Tita langsung meninggalkan kursinya menuju tempat sang suami berada.
Nathan makin sulit mengontrol dirinya, kemejanya basah karena keringat yang banyak keluar padahal dia tidak sedang berolahraga. Kakinya tak mau diam, dia gelisah ukan kepalang. Nathan tidak bodoh, dia tau sekali apa yang sedang terjadi pada dirinya, makanya dia langsung lari kesini ... tempat dimana dia bisa bersama istrinya. Ya ... wanita yang terlihat panik dan sedang menengok ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu ... itu Tita-nya.
Tiiin ... Nathan hanya membunyikan klakson mobil, dengan sendirinya Tita langsung menghampiri mobil itu, pintu terbuka, Tita memang terlihat panik, "Nathan, kenap ... mmmmmm."
Nathan tidak bisa menunggu lagi rupanya, dia langsung membungkap mulut Tita dengan ciuman panas dan membabi buta. Tita dengan refleks mendorong dada bidang Nathan. 'Tung ... gu, Nathan ...!!" nafas Tita tersenggal-senggal, antara emosi dan hasrat yang mulai terpancing ... sementara Nathan terkejut dengan teriakan sang istri.
"Kamu kenapa tiba-tiba seperti ini?!" ada apa dengan suamiku.
"Sayang, aku akan jelaskan nanti ... aku sudah menahannya sejak di kantor tadi, please ..." seorang Nathan sampai memohon seperti ini untuk di penuhi hasrat terpendamnya, tatapan matanya nanar tapi membara. Tita merasa suaminya ini sedang tidak baik-baik saja, "Disini?" tanyanya.
Nathan hanya menangguk dan menarik lagi tengkuk Tita, dia mencumbunya. Di dalam mobil, dengan ruang yang amat sangat terbatas mereka menyelesaikan semuanya. Nyaman? tentu saja tidak, tapi ... memang ada sensasi tersendiri yang mereka rasakan.
"Ah, sayang ... pinggang aku sakit." Tita mengeluh.
Tita yang sudah rapi seperti semula memandangi sang tuan suami, aku baru sadar dia memang tidak memakai dasi dan jasnya. "Dasi dan jas kamu kemana?" Tita mulai curiga.
Setelah mengancing kancing terakhir kemejanya dan merapikan sedikit rambutnya, Nathan mulai menjelaskan, "Ada yang mencampurkan obat perangsang ke dalam minuman atau makananku tadi."
Duaaarr!!
Bagaikan ada petir di atas kepalanya, Tita shock mendengar pengakuan Nathan. Apa dia bilang tadi? obat perangsang?
"Kamu ... kamu, bercanda?"
"Tidak sayang, aku serius. Kamu lihat sendiri tadi bagaimana kondisiku kan?" Nathan memutar tubuhnya menghadap Tita.
Tita tidak habis pikir, bagaimana bisa? "Tapi kan, kak Brian selalu mencicipi semua makanan dan minuman kamu,"
"Brian sedang pergi, dia sedang ke lapangan sejak pagi tadi."
"Siapa yang melakukannya?" ada nada kecemburuan dan kesal dalam suara Tita.
"Aku tidak tahu sayang." Nathan menggenggam tangan Tita. Dia melihat raut wajah sang istri yang menatapnya seakan tidak percaya, curiga. "Kejadiannya di kantorku sayang, dan aku sedang berada di ruanganku, aku tidak macam-macam." Nathan tidak ingin sang istri salah paham.
"Siapa yang melakukannya?" Tita masih tidak bisa menghilangkan kecurigaannya.
"Aku tidak tahu, nanti Brian akan menyelidikinya." Nathan mengecup tangan Tita dengan penuh rasa sayang.
"Ada wanita yang mengincarmu?!" akhirnya Tita mengungkapkan kecurigaannya.
Ha ha ha. "Kamu cemburu, ya?" Nathan mengacak-acak rambut Tita, "Makanya aku langsung membawa mobilku kesini, agar aku bisa menyelesaikannya denganmu, hanya kamu, sayang." Jemari Nathan menyentuh pipi Tita yang kini tersenyum malu-malu.
"Kamu akan menghukum orang itu kalau sudah tertangkap?"
"Aku akan mengucapkan terima kasih."
"Lho, kok ... terima kasih?" tanya Tita bingung dengan jalan pikiran Nathan.
"Iya ... terima kasih. Karena dia aku bisa merasakan pengalaman bercinta denganmu dalam suasana yang lain dan tidak biasa."
Plak!
Tita memukul tangan Nathan. Dasar mesum.
Eh, teringat kalimat Nathan tadi membuat Tita berfikir, "Eh, Sayang ... kita terlihat dari luar dong???" panik.
Ha ha ha ... "kenapa kamu baru menanyakannya sekarang?" goda Nathan.
"Aaaah ... aku kan tidak sempat berfikir tadi."
Ha ha ha .... "Tidak sayang, kaca mobil ini gelap ... tidak terlihat dari luar." Ha ha ha. Nathan makin tertawa ketika melihat wajah Tita yang mulai lega karena jawabannya. "Tapi ... tidak tahu ya kalau ada orang yang melihat dari luar kalau mobil ini bergoyang..."
"Nathaaaaaaaaan!!!"
Ha ha ha .... Nathan tertawa puas sekali. Memang tadi dia sempat berfikir akan menghukum berat orang yang sudah melakukan ini padanya. Tapi ... kini tidak lagi, kalaupun dia menemukan pelakunya dia akan benar-benar berterima kasih, karena pelaku itu sudah membuatnya mendapatkan pengalaman baru yang luar biasa bersama Tita di tempat yang benar-benar tidak biasa.