Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 94



"Tuan,"


"Masih tidak bisa di hubungi?"


"Iya, ponsel nona masih mati."


"Brian, kamu pulang saja. Aku akan menunggunya sendiri."


"Baik, tuan. Besok pagi aku akan kembali."


Jam tujuh malam dan Tita belum juga pulang. Nathan makan malam hanya berdua dengan Loudy. Sang nyonya mami sedang pergi bersama teman-temannya.


"Kak, apa sudah ada kabar dari Tita?" tanya Loudy.


"Belum, aku akan memberikannya pengawal pribadi jika terus seperti ini."


"Kak, sebenarnya kenapa bisa seperti itu sih?"


"Aku juga tidak tau, rasanya tadi itu seperti aku melupakan sesuatu yang penting tapi aku tidak ingat apa, sampai pada saat Brian memberitahu bahwa Tita sudah pergi."


"Ha ha ... masa sih kak ada kejadian seperti itu?"


"Makanya aku juga bingung."


"Tuan, nona Tita sudah pulang." seorang pelayan memberi tahu Nathan. Belum lagi Nathan berdiri, orang yang ditunggunya sejak tadi muncul dan langsung duduk di sebelah Loudy. Dan tanpa menyapa sang tuan suami.


Duh, perempuan kalau sudah ngambek, bahanya ya. Ha ha.


Loudy yang melihat sikap Tita pun langsung paham. Tita bukan orang yang sering marah sebenarnya, oleh karena itu kalau dia marah sangat mudah terlihat.


"Kamu dari mana, sayang?" tanya Nathan.


"Main." hanya itu jawaban Tita.


Loudy sudah tidak sanggup menahan tawanya. Tita ngambek, atau jangan-jangan dia mau menstruasi ... sayang mami tidak ada, jadi hanya aku sendiri yang bisa menyaksikan drama ini.


"Main?? main bagaimana??" makin bingung Nathan.


"Main ya main." Tita memasukkan potongan buah naga ke mulutnya.


Nathan bergegas pindah duduk ke sebelah sang istri. Dia tau dia salah, tapi jawaban irit Tita juga membuatnya di uji kesabaran.


"Main kemana, sayang? Sama siapa?" sabar Nathan. Tekadnya.


Bahkan pelayan yang lewat pun dibuat terkejut dengan sikap sang tuan mudanya. Sejak kapan tuan muda bisa selembut itu?


Melihat Tita yang enggan menjawabnya, Nathan menghela nafas sebentar. "Sayang, tadi aku menghubungi Mike dan dia bilang kamu tidak pergi ke kantor tapi langsung pulang kerumah." Tita hanya mengangguk. "Lalu aku langsung pulang dan tidak menemukan kamu, aku menghubungi ponselmu juga mati. Kenapa kamu tidak menunggu aku tadi? jadi kan kita bisa pulang bersama?"


"Menunggu kamu?! kenapa aku harus menunggu? kamu juga tidak mau aku ada disana kan?! aku juga tidak mau mengganggumu dengan wanita itu!!" Prank! Tita membanting garpu yang di pegang nya, kemudian meninggalkan Nathan yang masih kaget dengan perilaku istrinya.


"Wanita?? wanita siapa kak?!" Loudy menuntut jawaban sang kakak. Masih ingatkan, dia pernah bilang bahwa tidak akan diam saja jika sang kakak menyakiti sahabatnya?


"Bukan siapa-siapa, hanya salah paham."


"Kak, jangan macam-macam ya. Teman aku itu sangat berharga untukku."


"Teman kamu sekaligus istri ku itu juga berharga untukku." tuk! kening Loudy di sentil Nathan. Nathan bergegas menyusul sang istri, oh, sedang mandi rupanya.


"Seperti ini bagaimana?"


Nathan membawa Tita ke sofa di ruangan itu. Mereka duduk berdampingan. Nathan menggenggam jemari tangan Tita, "Aku tau kamu marah padaku, tapi aku juga perlu tau tadi kamu pergi kemana dan kenapa tidak bisa dihubungi?"


Tita melepaskan gulungan handuk di kepalanya, rambutnya acak-acakan. Kalau biasanya Nathan akan protes tapi kali ini ada yang lebih penting dibanding rambut sang istri yang tidak rapi dan basah.


"Aku hanya ingin sendiri, tidak mau di ganggu. Aku pergi ke mall."


"Beli apa?"


"Tidak beli apa-apa."


"Kamu keliling mall selama itu dan tidak beli apa-apa? kamu pikir aku percaya?!" suara Nathan sudah mulai meninggi.


"Memang kalau ke sana harus ada yang dibeli?" makin kesal Tita mendengar suara Nathan yang meninggi tadi.


"Oke ... oke, tapi kenapa harus kamu matikan ponsel mu?"


Makin pening kepala Tita, "Aku kan sudah bilang, aku ingin sendiri dan tidak mau di ganggu!"


"Oh, jadi menurut mu aku ini mengganggu?"


Hah, dia paham gak sih kalau aku marah seperti ini karena siapa??? kenapa sekarang jadi dia yang marah?!


"Lihat wajahmu, katakan saja yang mau kamu katakan, jangan ditahan ... tidak perlu cemberut seperti itu di depanku."


Oh, baiklah kamu yang minta yaaa ... akan aku katakan. "Iya aku sedang tidak mau kamu ganggu, kenapa?? karena kamu juga tidak perduli padaku!! berkencan saja sana dengan wanita itu ... tidak usah memperdulikan aku!!!" wah, wah ... Tita bisa membentak Nathan seperti itu ... sepanjang sejarah percintaan mereka berdua, baru kali ini Tita bahkan berteriak di depan wajah Nathan.


Nathan bahkan sempat kehilangan kata-katanya, karena dia pun tidak pernah menyangka akan di semprot seperti itu oleh istrinya. Kalau sudah begini, dia jadi tidak tau mau bilang apa. Se marah itu ternyata Tita padanya.


"Sayang, kamu salah paham. Aku tidak berkencan dengan wanita itu?"


Semburan api seperti keluar dari mata Tita (lebay, hihi). "Aku dengar dengan jelas ajakan wanita itu agar kamu mengunjungi hotelnya. Walaupun hanya ajakan makan malam, tapi itu hanya kedok. Kamu pikir aku bodoh."


"Aku kan menolaknya,"


"Kamu menolaknya? Iya kamu tolak ajakan makan malamnya, tapi kamu undang dia untuk makan siang!"


"Sayang ...."


"Dan kamu mengabaikan aku! kamu lebih rela aku pergi agak bisa tetap tinggal berdua dengan dia kan?!!"


"Ah, tidak seperti itu. Sayang, aku tidak mungkin lebih memilih dia atau wanita manapun dibandingkan kamu?!"


"Sudahlah, aku capek ... dan aku mau tidur." Tita bangkit dari duduknya, dia lelah, dia ingin merebahkan tubuhnya.


Tapi tentu saja Nathan tidak membiarkan itu terjadi, dia tidak mau masalah itu berlarut-larut, harus selesai sekarang juga. Maka Nathan menarik tangan Tita, tentu saja Tita yang tidak siap malah jatuh ke pangkuan suaminya.


"Aku tidak tau kenapa aku mengabaikan kamu tadi," Nathan memeluk Tita erat, "aku bahkan baru sadar bahwa kamu sudah pergi ketika Brian yang mengatakan bahwa kamu pergi bersama tim Mirae. Dan saat itu aku langsung menghubungi Mike, kamu bisa tanyakan Brian atau Mike. Dan ketika Mike bilang bahwa kamu langsung pulang, aku pun pulang ... tapi tidak menemukan kamu dimana pun. Sayang ... percayalah padaku." tangan Nathan bergetar, pelukannya makin erat, sungguh dia merasakan amat sangat takut kehilangan. Kehilangan Tita yang di cintainya, dan kehilangan kepercayaan Tita.


"Aku gelisah menunggumu, ponselmu tidak aktif ... aku takut terjadi sesuatu yang buruk padamu."


basah ... Tita merasakan baju bagian belakang nya basah. Eh, apa dia menangis? punggung tita pun merasakan ada getaran, ah ... laki-laki ini menangis ... padahal aku yang marah, tapi dia yang menangis hingga seperti ini. Tanpa disadari, ego itu terkalahkan dengan rasa sayang yang dia miliki, Tita memeluk tangan Nathan yang sedang merangkul nya, menepuk-nepuk pelan untuk menenangkan laki-laki oteriter keras kepala yang sedang menangis di punggungnya