
Nathan sedang menunggu Rega, ketika ponselnya berdering, "My Girl", "Ya, sayang ... Aku sedang di apartemen, sudah lama Aku tidak membersihkan apartemen ku ... sepertinya aku tidak bisa kemana-mana hari ini ... apa kamu mau pergi? Kamu sakit? Oh, baiklah ... istirahat saja ya ... aku juga sedang menunggu Rega ... tidak, dia hanya ingin bantuan aku mengerjakan tugasnya ... tidak apa-apa sayang, kita kan masih bisa bertemu besok ... istirahat lah ... love you too." klik. Wah, waktunya pas sekali, yess!
"Than," Rega muncul di ruang tengah.
"Hah ... kamu mengagetkan ku," plak, bantal sofa melayang ke kepala Rega.
"Than, kamu yakin akan melamar Anya? apa tidak sebaiknya ..." belum selesai Rega bicara, Nathan sudah memotong. "Tadi Anya menghubungi aku, dia tanya apa aku mau datang ke tempatnya hari ini, dan aku bilang kalau tidak bisa karena mau membantu kamu mengerjakan tugas. Dan dia mengerti, kita bisa ketemu besok. Wah, aku tidak percaya bahkan keadaan pun membantuku," matanya berbinar ketika mengucapkan kalimat itu. Dan Rega, tidak mau menyakiti perasaan temannya, tapi dia juga tidak rela sahabatnya itu dibodohi terus oleh Anya.
Bukan tanpa sebab, Rega, menginginkan sahabatnya itu batal melamar kekasihnya. Kalau sebelumnya, Rega hanya sekilas melihat wanita yang seperti Anya di club, malam tadi dia benar-benar melihat Anya di club dengan mata kepalanya sendiri. Dan yang lebih menyebalkan adalah, wanita itu bukan hanya sekedar hang out bersama teman-temannya. Lebih dari itu, dia melihat Anya sedang dipangku seorang laki-laki di sofa yang terdapat di sudut, dan mereka sedang bercum*u dengan panas. Sang lelaki menggerayangi tubuh wanita itu, meremas bagian tubuh yang berlekuk dengan tidak sabar. Jantung Rega seperti mau copot melihat adegan itu, walaupun dia juga biasa melakukannya. Tapi ketika yang dilihatnya adalah kekasih sahabatnya, terlebih lagi dia sangat tahu mengapa sahabatnya menahan diri selama ini, darah dalam tubuhnya pun mendidih, padahal belum satu teguk pun dia minum. Rasa muak dan jijik muncul bersamaan, dan Rega memilih pergi dari tempat itu. Menimbang semalam apa yang harus dia katakan kepada Nathan, karena tidak mungkin Nathan akan percaya begitu saja perkataannya. Dipukulnya setir kemudi, "Sial! kenapa gak aku rekam tadi, argh!!"
Dan hari ini, melihat bulan bintang dan matahari di wajah Nathan, semakin membuat nya tidak berdaya untuk mengatakannya. Semoga ada jalan kamu mengetahui sendiri kelakuan kekasihmu itu, do'a-nya dalam hati.
Rega menemani Nathan mencari kalung cantik untuk Anya. "Yang mana ya yang bagus, semuanya terlihat bagus," seru Nathan.
"Gak usah yang mahal-mahal, lha..." jawan Rega agak ketus.
"Lho, kenapa?"
Rega tersadar, dirinya terbawa emosi, sejenak kemudian di lebarkan senyum terindahnya, "Maksudnya, kamu kan masih kuliah, jangan buang-buang uang, yang penting itu isi hati mu, karena barang itu hanya simbol." haduh, semoga Nathan tidak marah.
"Iya sih, tapi aku punya uang banyak, jadi mahal tidak masalah, ha ha ha..."
"Hah, sombong, ha ha ha." Rega hanya menganggap sahabatnya itu bergurau. Dan setelah melihat pilihan Nathan, makin tidak rela dia kalau sahabatnya itu semakin dibodohi kekasihnya.
Pilihan Nathan adalah, kalung terbuat dari emas putih, dengan liontin berbentuk hati yang ditengahnya berkumpul berlian kuning. Hari sudah sore ketika mereka menyelesaikan pencaharian hadiah. Setelah menyogok Rega dengan makanan, mereka melanjutkan perjalanan ke apartemen Anya. Di tengah perjalanan, Nathan menghubungi kekasihnya dan baru diangkat ketika dia mencoba untuk yang ketiga kalinya, "Sayang, kamu sedang apa? kenapa baru diangkat? kamu sakit? suaramu parau ... oh, bangun tidur ... iya aku masih bersama Rega. Ya sudah, oke .. bye." klik. Ada perasaan aneh menghinggapi hati Nathan ketika sambungan itu terputus, tapi entah lah, mungkin hanya perasaan nya saja.
"Ga, aku mau beli bunga dulu,"
"Oke, sayang." jawabnya penuh penekanan dan Nathan hanya tertawa.
Kini mereka sudah berada di pintu apartemen Anya, "Aku gugup," menghela nafas, dan Nathan menekan tombol kode pintu apartemen Anya, klik ... pintu terbuka. Dan yang mereka lihat ketika pintu terbuka sempurna adalah ruangan yang sangat kacau, bantal sofa tidak di tempatnya, posisi sofa yang sudah tergeser, ada pakaian tergolek di lantai, bekas makanan yang sudah mengering di meja, dan suara lenguhan dari arah dapur. Hah, lenguhan??
Walaupun Nathan belum pernah melakukan aktivitas panas itu, tapi dia tidak bodoh untuk membedakan suara orang kesakitan dan suara kenikmatan. Nathan melihat ke arah Rega, dan Rega hanya menunduk, sepertinya dia sudah tau apa yang telah dan sedang terjadi. Dan tidak ada keinginan Rega untuk menahan apapun yang akan Nathan lakukan.
Rahangnya sudah mengeras, menahan amarah, tangannya menggenggam bunga yang baru dibelinya dengan kuat. Ya, dia harus memeriksanya. Dia melangkah menuju dapur, dan mendapatkan kejutan disana. Sang kekasih merebahkan tubuhnya di atas meja makan, terliat jelas mereka sangat menikmati kegiatannya. Suara-suara itu membuat telinga Nathan berdengung, dia merasa mual dan ingin muntah, tapi dia tahu bahwa dia harus menyelesaikan semuanya. Belum lagi dua insan yang sedang bercinta itu sampai pada pelepasan, tak!! Nathan menyalakan lampu dapur itu hingga membuatnya terang benderang sekaligus menghentikan kegiatan dua insan yang nyaris menuju kesempurnaan.
Sedangkan Anya, merapihkan jubah mandinya yang memang hanya dibukanya tanpa melepasnya. Terlihat kegugupan dari gerak-gerik wanita itu, dia juga bingung apa yang harus diucapkannya setelah tertangkap basah seperti ini. Anya tidak berani untuk mendekat, namun dia mencoba mencari cara untuk menjelaskan pada kekasihnya, "Nathan, aku ..."
"Kita putus, jangan pernah mencari aku lagi." Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Nathan tanpa emosi, namun dia mengatakannya dengan dingin, tanpa perasaan. Dan Anya sangat kaget melihat laki-laki yang sebelumnya begitu memujanya, tiba-tiba memperlakukannya seperti orang asing.
Kemudian Nathan dan Rega keluar dari apartemen itu, dan kembali ke apartemen Nathan. "Nathan, kenapa tidak kamu buang saja bunga itu?" tanyanya heran melihat Nathan malah menyimpan bunga itu di gelas besar yang sudah diberi air.
"Aku beli ini pakai uang dan tidak murah,"
"Hah, ha ha ha.... " bisa-bisanya dia melucu disaat seperti ini. Rega.
"Ga, ada yang mau kamu sampaikan?"
Sial, peka sekali dia... Rega bergumam, "huh, aku melihat Anya semalam di club, sedang bercum** panas dengan laki-laki itu di pojok ruangan. Aku sudah mencoba memberitahu kamu tadi pagi, tapi melihat kebahagiaan di wajahmu aku jadi tidak tega menghancurkan rencana kamu, dan aku tahu sekali kalau kau pasti tidak akan percaya padaku tanpa ada bukti." jelasnya.
"Argh! Aku pasti bodoh sekali." Nathan mengacak-acak rambutnya sendiri. "Dan aku melihat buktinya langsung dengan mata kepalaku."
"Sudah lah, kamu terlalu baik untuk wanita itu," hibur Rega.
Karena mereka sudah tidak ada lagi kegiatan perkuliahan di kampus, Nathan berencana pulang ke negaranya. Dia sudah mengajak Rega untuk sekalian berlibur bersamanya. Rega tahu sahabatnya itu masih sakit hatinya, seperti tidak percaya dengan apa yang dialaminya. "Than, keluar yuk. Cari hiburan."
"Gak ah, perasaan aku lagi gak enak. Aku merasa gelisah,"
"Sudah lah, gak usah dipikirkan lagi wanita itu, masih bagus belum sempat kamu lamar dia, kan? Kalau sudah kamu lamar, makin rugi kamu," Rega berseloroh.
Ponsel Nathan berdering, muncul nama "Mami" disana, "Halo, Mam ... apa? kok bisa ... Nathan pulang sekarang," klik. Wajah Nathan pucat, tangannya gemetaran.
"Kenapa, Than? Rega ikut panik.
"Ga, aku harus pulang sekarang. Ayo, ikut!" Nathan mengambil dompet dan jam tangannya, begitupun Rega yang masih tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia harus ada di samping Nathan karena dia juga khawatir, takut terjadi sesuatu dengan sahabatnya yang baru patah hati. Di dalam Taxi menuju bandara, Nathan menghubungi seseorang, "Siapkan pesawat untuk ku sekarang, aku mau pulang, sekarang juga!"
Rega bengong mendengar apa yang di ucapkan Nathan. Siapa yang dihubungi Nathan, pesawat siapa?