Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 101



club' 8, tempat biasa mereka berkumpul saat ini terlihat cukup ramai, beberapa kelompok orang dari mereka terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka dengan kelompoknya. Bahkan di antara mereka ada yang berulang tahun sepertinya. Pasti sangat menyenangkan berada di antara gadis-gadis cantik itu.


"Rega, kemari lah ... apa kamu belum puas berdiri disana sejak tadi?" tegur Axel.


"Mengganggu kesenangan ku saja, ck."


"Hai, Brian ... kau sendirian?" tanya Thomas.


Brian tiba di sana, dia sengaja mengumpulkan teman-temannya malam ini. "Nona Tita sedang sakit, jadi tuan muda tidak mungkin meninggalkan nona."


"Tita sakit?! sakit apa?" Rega bereaksi berlebihan, bisa habis dia jika mendengar Rega begitu bersimpati dengan istrinya.


"Tidak perlu berlebihan seperti itu, ha ha ha. Tita hanya sedang datang bulan." ha ha ha ... puas sekali Axel mengatakan kebenaran yang tersembunyi.


Ha ha ha ... mereka semua tertawa, bahkan Brian pun mengulum senyumannya. Teringat drama malam itu, kepanikan sang tuan muda yang luar biasa ... membuat siapapun yang ada di sana tidak dapat berfikir secara rasional.


"Oke, stop it. Kita tau kan seperti apa cintanya tuan dengan istrinya?" mereka mengangguk. "Aku ingin dengar pendapat kalian, beberapa hari ini benar-benar menganggu pikiran ku."


"Apa yang mengganggu mu, Brian."


"Ada satu wanita, namanya Clair dia perwakilan wali kota B ..." Brian menceritakan setiap detail kejadian dan asumsi-asumsinya. Bagaimanapun dia berfikir tetap saja tidak menemukan apa-apa.


"Maksudmu ... si bucin itu bisa melupakan Tita?" Brian mengangguk. "Woaah ... luar biasanya, pelet apa yang di gunakan wanita itu, ha ha ha." Rega asal berkomentar.


"Apa katamu?" tanya Brian.


"Wait ... santai Brian, aku hanya bercanda."


"Tidak, tidak ... tadi kamu bilang apa, pelet??"


"Oh, iya ..." Rega ragu-ragu mengatakannya, apa aku salah bicara?


"Apakah bisa berefek seperti itu?" Brian serius, sungguh dia kehabisan akal tentang ini.


Ketiganya terdiam, mereka saling pandang. Sesuatu hal yang tidak, amat sangat tidak masuk akal. Tapi sumber informasi ini adalah Brian, orang kepercayaan Nathan ... jadi tidak mungkin dia mengada-ada.


"Bagaimana kalau kita diskusikan dengan Nathan ... aku kepikiran satu hal, tapi ini masih tebakan ku saja. Aku harus memastikan beberapa hal dulu."


***


Tita berada di kamar mandinya, dia sudah selesai membersihkan dirinya ... sudah tujuh hari, sang tuan suami sudah uring-uringan. Semalam Nathan masih berusaha menggodanya, kasihan sih ... tapi tidak ada yang dapat dia lakukan kan? Bahkan pagi-pagi sekali sang tuan suami sudah berangkat, katanya ada meeting pagi dengan kontraktor. Ada rasa bersalah karena beberapa kali menolak sang tuan suami. Apa aku buat kejutan saja? tapi ... aku malu karena belum pernah melakukannya, eh ... tapi kemudian Tita teringat kata-kata teman kantornya tentang inisiatif wanita dalam 'menjaga' suaminya.


"Ah, pusing sekali ... Baiklah, nanti aku akan mampir ke kantornya. Sebaiknya sekarang aku berangkat kerja." Maka bergegaslah Tita, dia tidak mau terlambat.


***


Mood sang tuan muda hari ini benar-benar buruk, tidak ada satu bagian pun yang lolos dari amukannya, ada saja kesalahan mereka yang di permasalahkan sang tuan muda. Sang tuan muda yang tidak punya belas kasih muncul kembali dalam diri Nathan.


"Tuan muda, ada yang ingin anda makan untuk siang ini?"


Nathan hanya melirik sekilas orang yang mengajaknya bicara dan kemudian menekuni lagi berkas-berkas di mejanya. "Apa saja, terserah."


"Baiklah." Brian melangkah meninggalkan ruangan tuannya. Sepertinya benar, mereka sedang bertengkar. Baiklah, sepertinya aku harus mengecek sendiri pekerjaan mereka.


Brian sedang berdiri menunggu lift yang akan membawanya ke lantai bawah, namun ketika lift itu terbuka yang di lihatnya adalah Tita.


"Nona Tita? anda disini??"


"Hai, kak Brian. Um, apa Nathan sedang sibuk?"


Bagaikan melihat oase di padang pasir, Brian sangat bersemangat bertemu nonanya. "Ayo nona, saya antar ke ruangan tuan muda." semoga dengan kedatangan nona Tita mood tuan muda jadi membaik.


Tok! tok! tok!


"Maaf, tuan." Nathan sama seperti tadi, hanya melirik sebentar orang yang mengajaknya bicara dan kemudian menekuni lagi kertas-kertas di mejanya.


"Kalau kamu sibuk, aku pergi saja ya."


Ah, suara itu?! Nathan sontak mengangkat kepalanya, dia terkejut bukan main. Benar-benar Tita yang ada di hadapannya, kan? Ingin dia berlari dan memeluk sang istri karena saking senangnya, tapi gengsi. Maka dia hanya duduk di tempatnya. "Tidak juga, masuklah." Nathan menyembunyikan senyumannya dengan kembali menundukkan kepalanya.


Brian meninggalkan mereka berdua, ah ... dia sangat paham sekali bahwa harus memberikan waktu untuk dua sejoli ini menyelesaikan masalah mereka. Dan yang penting sih, agar sang tuan muda tidak lagi bertanduk dan memarahi semua kepala bagian seperti beberapa hari ini.


"Sayang,"


Nathan kaget karena tiba-tiba Tita sudah bersandar di meja, tepat di sebelahnya. Tak ayal rona merah menjalar di pipinya. Jantung nya berdetak cepat. "I ... iya ..." duh kenapa aku gugup sih.


Tita pun tak kalah gugup sebenarnya, tapi dia sudah memantapkan hati ... dia harus bisa menyenangkan suami nya. Di buangnya rasa malu, Tita langsung duduk di pangkuan suaminya, mengalungkan tangannya di leher sang suami. "Aku merindukan mu." katanya manja. What! bagaimana bisa suaraku jadi centil begini. Guna menutupi rasa malu dan gugup ... Tita membenamkan wajahnya di ceruk leher Nathan.


"Jangan membangunkan aku ... kamu pun tau aku sudah lama menahannya ..."


"I'm ready right now." Tita dapat merasakan dengan jelas perubahan suhu tubuh Nathan, dia pun melihat telinga sang tuan suami yang memerah.


Nathan mendorong lembut Tita, dia ingin memastikan bahwa sang istri tidak hanya sekedar menggodanya. Dan ketika di lihatnya wajah Tita yang juga merah padam ... dia tau, saatnya sudah tiba, penantian panjang nya kini telah sampai pada ujungnya. Yess!!


Nathan mendaratkan bibirnya tepat pada bibir manis sang istri. Ah, rasanya ... gunung berapi yang semula siap menyemburkan lava panas kini sudah dingin, sudah ada penjinak yang dengan suka rela datang menemuinya dan meredam emosinya.


"Ehm, Nath ... jangan di sini." sadar dengan tempat yang membuatnya tidak nyaman, Tita berusaha untuk menghentikan Nathan.


Dengan nafas tersengal-sengal Nathan menghentikan juga kesenangannya. "Baiklah, kita ke kamarku saja." Nathan menggendong Tita begitu saja, seakan gadis itu seringan bulu. Maafkan lah yaaa ... namanya juga sedang on fire, hehe.


"Tuan muda, ini makan siang anda." lho, kemana mereka? Brian memindai setiap sudut yang ada di ruangan itu, dia yakin dua orang asisten sekretaris yang duduk di depan tidak ada yang mengatakan bahwa sang tuan muda keluar ruangan. Baru saja Brian ingin menghubungi sang tuan muda, tapi dia mengurungkan niatnya ... karena di lihatnya dasi yang semula bertengger rapi di leher tuan mudanya, kini tergolek tak berdaya di meja kerjanya ... di tinggalkan begitu saja oleh sang empunya.


Hah! aku kira mereka bertengkar makanya tuan muda buruk sekali mood-nya, ternyata ... karena belum mendapatkan jatah dari istrinya. Ha ha ha. Bodoh sekali aku. Pikir Brian.