
Didalam butik itu sudah menunggu sang Nyonya mami dan sang Ibu, mereka sedang duduk sambil melihat-lihat foto-foto gaun-gaun pernikahan. Tita melihat itu, entah bagaimana perasaannya kini ... secara tidak langsung dia tengah dipaksa untuk menikah laki-laki disebelahnya ini.
"Nah, ini dia calon pengantinnya," seru sang Nyonya. Sementara Ibu hanya tersenyum melihat sang anak. Kedua anak muda itu menyalami orang tuanya. "Nyonya, boleh aku berbicara berdua dengan Ibuku?" pinta Tita.
Sang Nyonya dan anaknya menatap Tita, entah apa yang akan dikatakan gadis ini, tapi sang Nyonya yang juga menyadari ketidak nyamanan Tita, menganggukkan kepalanya. Kini Tita hanya berdua dengan sang Ibu, berdiri di balkon luar yang mengarah ke air mancur. Tita menggenggam jemari sang Ibu, "Bu, aku tidak tahu kenapa jadi seperti ini, apakah ini sudah takdirku. Aku juga tidak tahu alasan tuan muda mau menikah denganku. Sejujurnya, aku tidak membencinya, karena aku tidak terlalu mengenalnya. Menolak pernikahan inipun sepertinya sulit untukku, karena secara tidak langsung dia adalah bos ku dikantor dan bahkan majikan mu dirumah besar itu. Aku tidak lagi peduli bagaimana hidupku nantinya setelah pernikahan aneh ini, Bu. Aku hanya ingin memastikan sekarang, apakah ibu bahagia jika aku menikah dengan dia? Jika ibu bahagia maka aku akan melakukan pernikahan ini, tapi jika ini tidak membuat Ibu bahagia maka aku akan menolak apapun resikonya. Karena Ibu adalah kebahagiaan ku. Ibu bahagia aku pun akan bahagia."
"Gadis kecil Ibu sudah dewasa," Ibu berkata sambil menyelipkan anak rambut Tita. "Ibu dan Nyonya memang pernah berencana untuk menjodohkan kamu dengan tuan muda dulu, jadi ketika tuan muda sendiri yang meminta restu untuk menikah denganmu tentu ibu senang. Tuan muda laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, orang tuanya berhasil mendidiknya dan adiknya menjadi pribadi yang sangat baik, jadi Ibu tidak khawatir mempercayakan kamu padanya."
"Do'akan Tita ya, Bu," mereka berpelukan sangat erat. "Kakak?"
"Ibu sudah memberitahu kakakmu, mungkin tiga hari lagi dia sampai disini. Tidak mungkin kakakmu tidak hadir atau tidak kenal iparnya kan?" Tita hanya tersenyum. Merekapun kembali masuk kedalam. Sang designer merangkul bahu Tita untuk mengajaknya fitting gaun, tapi belum lagi mereka beranjak tangan kokoh itu sudah mencengkeram lengan kemayu yang tengah merangkul bahu sang gadis, "Lepaskan tanganmu!" siapa lagi pelakunya kalau bukan sang tuan pencemburu. Dan kelakuannya itu berhasil menjadi perhatian orang-orang disana.
"Nathan!" sang Mami mencoba melerai. "Kenapa sih kamu? Madam Via hanya ingin membantu Tita memakai gaun," duh anehnya kelakuan sang anak.
"Memangnya tidak ada pegawai perempuan?" sang tuan benar-benar cemburu. Maka Brian lah yang turun tangan kali ini, dia tidak ingin kalau nantinya harus membereskan kekacauan yang dibuat si pencemburu ini nantinya. "Madam Via, maaf ... bisakah anda hanya memilihkan gaun untuk nona kami dan membiarkan pegawai wanita anda yang membantu memakaikan gaunnya?" dengan sedikit senyuman Brian terpaksa menggoda lelaki kemayu pemilik butik demi memuluskan rencananya.
"Hm... okay, no problem ... " akhirnya mereka sepakat. Dan tinggallah Nathan yang puas dengan langkah yang diambil Brian.
"Kamu tuh kenapa sih!" sang Mami masih kesal rupanya. "Tita gak akan diapa-apain sama madam, kamu jangan bikin malu Mami dong."
"Tapi dia laki-laki, Mi. Siapa yang bisa menjamin Tita akan aman didalam sana?" tentu dia kesal, bahkan Mike dan Arga yang tadi dia lihat bersama Tita tidak kurang ajar seperti itu. Lelaki macam apa baru lihat langsung peluk-peluk gitu. Kalau dia mencium Tita tadi bukan kurang ajar lho, kan Tita calon istrinya, lagipula dia hanya khilaf. Dan mengingat lagi kejadian itu membuat pipinya merona lagi, dan itu tidak luput dari perhatian sang sekretaris.
Maka untuk membunuh rasa penasarannya, dengan setengah berbisik Brain bertanya pula pada sang tuan, "Tuan, apa ada yang terjadi tadi di apartemen Nona?" dan reaksi sang tuan sudah mengisyaratkan memang ada kejadian tadi disana. Nathan merona, dan tersenyum ... ah, dia memang tidak bisa benar-benar menutupi perasaannya yang sedang berbunga-bunga. "Kamu tahu yaa, aku tadi tidak bisa menahan diri untuk menciumnya." Brian menghela nafas, dasar bucin. "Kamu tahu, aku laki-laki pertama yang menciumnya." Merona lagi wajahnya ...
"Hah, sejak kapan anda jadi budak cinta seperti ini, Tuan?"
"Bilang aja kamu iri, Brian."
Tita memandangi dirinya di cermin, waaah.. gaun yang indah sangat pas untuk ukuran tubuhnya, ball gown dengan detail rok yang terlihat mekar sehingga dapat menutupi bagian pinggul serta paha, namun backless dress membuatnya terlihat seksi dan anggun. "Ah, nona ... rasanya saya tidak percaya diri menggunakan gaun ini," katanya kepada pegawai yang membantunya.
"Nona terlihat sangat cantik dengan gaun ini, kok." terangnya. Ini adalah gaun pertama dari empat gaun yang dipilih sang Nyonya dan Ibunya. Jadi, demi rasa hormatnya kepada kedua wanita yang disayanginya itu maka dia akan mencobanya.
"Tuan, Nyonya, bagaimana dengan gaun ini?" Madam Via memamerkan ball gown-nya. "Wah.. cantik sekali," Nyonya.
"Iya, kamu makin cantik, sayang," Ibu.
Nathan terpaku ditempatnya, sang gadis berhasil menghipnotisnya. Tapi ketika sang gadis memutar tubuhnya, "Ganti!" yaks, siapa lagi kalau bukan Nathan pelakunya.
"Lho, kenapa?" sang Mami protes. "Bagus kok, Tita jadi terlihat lebih dewasa."
"Mau dipamerkan kepada siapa punggung terbukanya!?" jealousy mode on. "Aku tidak suka kalau gaunnya terbuka seperti itu,"
Ha ha ha, sang nyonya dan Brian tertawa dengan kelakuan Nathan. Namun, sang Ibu memegang tangan sang tuan muda, Nathan sempat tersentak karena kaget, "Saya belum pernah mengatakan ini sebelumnya, Tuan. Saya percayakan Tita pada anda, saya percaya anda akan menyayangi dan menjaga putri saya dengan baik," kata-kata calon mertuanya menghantarkan kehangatan kedalam hatinya.
"Sekalian Bi, tolong doakan agar putri Bibi secepatnya bisa jatuh cinta padaku," Ha ha ha, Brian lah yang paling keras tertawa karena mendengar permintaan konyol sang tuan muda.
Kali ini Tita mengenakan gaun Empire Waist, gaun dengan potongan yang tepat di bawah dada memberikan kesan imut dan seksi, sangat cocok dengan tubuh Tita yang mungil. Sebenarnya Tita suka gaun ini, rasanya dia ingin memilih yang ini saja.
"Apa kau tidak punya gaun yang lebih tertutup?" Nathan mendekat ke Madam Via. Dan karena paras Nathan yang memang sangat tampan tanpa cela, membuat sang Madam terpesona, "Ada, sayang. Aku bisa menunjukkan gaun ku yang tertutup," sang Madam melancarkan rayuannya. Akhirnya, dia dan sang tuan muda memasuki sebuah ruangan dimana terdapat banyak sekali gaun dengan berbagai macam model. Satu persatu sang tuan melihat gaun-gaun itu. Sebenarnya dia suka melihat Tita dengan gaun terbuka seperti tadi, tapi dia ingin hanya dia yang melihatnya. Dan dia mendapatkan sebuah gaun A-line berlengan panjang dengan kerah Sabrina. Yah, ini jauh lebih baik daripada yang tadi.
"Ganti dengan yang ini," Nathan menyerahkan sendiri gaun itu kepada Tita, dan dengan berat hati Tita menerimanya. Sepotong gaun yang manis, memancarkan keindahan dan kesederhanaan namun tetap menawan. Dan Tita juga dibuat jatuh cinta pada gaun yang dikenakannya ini, begitupun dengan sang Nyonya dan Ibu. Wah, jadi gak sabar melihat acara pernikahan mereka.