
Perkebunan teh terhampar luas di depan matanya, udaranya sangat segar. Seharusnya aku mengajak ibu sesekali pergi ketempat seperti ini. Baiklah akan aku jadwalkan nanti. Tita menelusuri jalan setapak bersama Loudy dan Mickey.
"Lihat, disana ada air terjun." Loudy sangat menyukai tempat ini, dan sangat antusias ketika melihat air terjun di depan matanya.
"Lou, hati-hati," Mickey mencekal tangan Loudy.
"Ah, iya ..."
Melihat ke dua temannya yang pada dasarnya saling menyukai membuat Tita merasa harus memberi kesempatan pada mereka. "Mickey, Lou, aku balik ke pos ya. Aku haus sekali." alasan.
"Mau aku antar, Ta?" Mickey menawarkan diri.
"Tidak usah, aku titip Loudy ya ... awasi dia baik-baik, jangan sampai hilang." Ha ha ha. Tita pergi meninggalkan sahabatnya itu, berbalik arah menuju pos tempat awal mereka berkumpul. Lho, pada kemana orang-orang? Tidak ada satupun temannya disini ... ya sudah, aku tunggu di sini saja.
"Zahra, wah ... baik sekali nasibku ini, bisa bertemu lagi denganmu disini."
"Hei, Terry ... kamu kok bisa ada disini??"
"Aku sedang jalan-jalan pagi, entah mengapa kakiku membawa aku kesini, ternyata ada kamu." gombal sekali yaaaa manusia satu ini, ckckck ...
"Bisa saja kamu, ha ha ha."
"Kamu jadi kembali hari ini?" tanya Terry.
"Iya, nanti sore. Kenapa?"
"Setelah kita kembali ke tempat masing-masing, bolehkah sesekali aku mengajakmu makan siang?" Terry sungguh berusaha keras mengambil hati Tita dengan cara yang paling halus, dia tidak ingin gegabah, taktiknya adalah seolah-olah menawarkan pertemanan yang murni.
"Hm, kita lihat nanti." Tita tidak menjanjikan apapun, entahlah walaupun laki-laki ini terlihat baik, tapi rasanya laki-laki ini terlalu baik.
"Oke, kalau begitu berikan aku nomor ponselmu." Terry menyerahkan ponselnya agar Tita bisa mengetik nomor ponselnya sendiri.
Rasanya tidak enak untuk menolak, apalagi dia sudah memberikan ponselnya seperti ini. Maka Tita menerima ponsel itu dan mengetik deretan nomor telpon disana. "Sudah,"
"Waaah, terima kasih ya Zahra. Senang sekali bisa berteman denganmu." Dengan wajah sumringah Terry menyimpan nomor telepon Tita.
"Tita!" Loudy memanggilnya. Tita melihat ke arah Loudy dan melambaikan tangan. Eh, siapa yang sedang bersama Tita? Woah, tampan sekali. Pikir Loudy.
Terry melihat gadis yang memanggil Tita, tapi tidak terlalu memperdulikannya. "Zahra, aku pulang duluan ya, sampai bertemu lagi." Terry mengarahkan tangannya ingin menyalami Tita.
"Iya, sampai bertemu lagi, Terry." Tita menyalaminya.
Terry pergi meninggalkan Tita dengan hati yang berbunga. Bahkan hanya memegang tangannya saja membuat jantungku berdebar seperti ini ... dia memang gadis yang spesial. Aku harus berhasil membuatnya berpaling dari Nathan dengan membuat kebetulan-kebetulan lainnya. Ha ha ha.
"Ta, siapa laki-laki tadi?" tanya Loudy yang sudah sangat penasaran.
"Temanku."
"Jangan bilang kalau dia laki-laki yang bersama dengan kamu di supermarket kemarin?!"
"Iya. Kenapa wajahmu kaget begitu sih?"
"Wah, Tita ... susuk apa yang kamu pakai sih? Kok bisa-bisanya selalu dikelilingi laki-laki tampan, bahkan super-super tampan ..."
"Idih, kamu tidak ada rasa malu bicara seperti itu?" tanya Loudy yang seolah-olah jijik mendengar Tita seenaknya berbicara.
"Seperti katamu, urat malu kita kan sudah putus." sengklek memang mereka berdua kalau sudah bersama, ha ha ha. Loudy juga ikut tertawa mendengar jawaban Tita yang mungkin aneh jika orang lain yang mendengarnya.
"Ta, tapi dia tampan banget, sih. Aku rasa kak Nathan kalah tampan dari dia."
"Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu," Tita menggelengkan kepalanya, "Tapi ... aku juga akan sulit memilih mana yang lebih tampan dari keduanya." Ha ha ha. Loudy ikut tertawa bersama Tita sambil menarik leher sang sahabat. Mereka memang mempunyai kelemahan yang sama ... tidak bisa tidak mengagumi laki-laki tampan apalagi super tampan.
"Ayolah kita bersiap, sebentar lagi kita akan pulang." ajak Loudy.
Nathan sedang melakukan panggilan video Dengan Thomas dari ruang kerjanya, "Jadi, apa yang akan kita lakukan? Bukti-bukti yang Anya berikan bukankah sudah cukup untuk menyeret Terry sebagai dalangnya?" tanya Nathan.
"Kalau pakai aturan kita, tentu saja cukup. Tapi apakah kamu puas hanya dengan pembuktian dia bersalah?" Thomas tahu sekali bagaimana Nathan, biasanya dia akan membalas kecurangan dengan kehancuran.
"Tapi dia mengincar Tita-ku," Nathan mengutarakan apa yang dia khawatirkan. "Aku tidak bisa membiarkannya mendekati istriku." Nathan teringat foto itu, dimana sang istri sedang berdua dengan Terry.
"Iya, aku mengerti perasaanmu."
"Thomas, bisa kah kamu mencari tahu proyek yang sedang di incar Muller Group. Kita bisa menghancurkannya dengan men-sabotase proyeknya," Brian memberikan ide.
"Iya, benar! Nathan, bertahanlah sedikit lagi. Tetap lembut lah dengan Anya tanpa menimbulkan kecurigaan. Aku akan melakukan ini secepatnya."
Nathan melihat ke arah Brian, dan di balas anggukan oleh sang sekretaris. Dia sangat tahu rencana ini sangat beresiko dengan keharmonisan hubungan tuan mudanya. Tapi ini adalah pilihan, dia akan ikut campur jika ada kesalahpahaman antara sang tuan dan nonanya.
"Oke, akan aku coba." jawab Nathan tidak semangat. Pikirannya bercabang ... dia tidak ingin mempertaruhkan kebahagiaannya tapi juga tidak ingin Tita-nya direbut.
Tok, tok, tok ... Terdengar ketukan dari pintu ruangannya. Brian membukakan pintu, tampak olehnya gadis manis dengan sepasang mata bundar dan senyum yang memikat ... ugh, pantas saja tuan muda bucin akut. "Nona Tita, anda sudah pulang?" sengaja dia mengeraskan suaranya, agar sang tuan muda yang sedang dilema mendengar.
Bukk!! "Aaaah, aduuuh ..."
Brian dan Tita yang mendengar suara orang kesakitan langsung masuk ke dalam.
"Tuan!" Brian.
"Nathan!" Tita.
Mereka langsung membantu sang tuan muda duduk di sofa. Rupanya, karena terkejut sekaligus senang mendengar Brian yang menyebutkan bahwa Tita sudah pulang membuat sang tuan muda yang ingin segera bertemu sang istri langsung berlari, namun karena kurang awas membuat pinggangnya menabrak ujung meja kerjanya. Auch!
Sakit, dan malu ... itulah yang di rasakan Nathan saat ini. Jadi, dia hanya meringis tanpa sepatah katapun.
"Kak Brian, boleh tolong ambilkan obat? Sepertinya Nathan menabrak ujung meja itu."
Ish, tepat sekali sih tebakannya. Nathan.
"Baik, nona Tita." sambil menahan tawanya Brian melangkah keluar.
Tita mengangkat wajah sang tuan suami dengan kedua tangannya agar mereka bertatapan. Nathan menatap sang istri dengan penuh kerinduan, dia berfikir ... mungkin istrinya akan mengatakan kata-kata yang dapat menghangatkan hatinya. Karena harapan indah itu membuat senyum Nathan langsung mengembang.
"Kalau kamu sebegitu merindukan aku ... mengapa mengabaikan pesan dan telponku!!"
Ha ha ha ... sayang sekali tuan muda, kenyataan kadang tak seindah khayalan.