Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 16



Pagi ini, penghuni mansion sudah berangkat dengan urusannya masing-masing. Nathan sudah berangkat sejak pukul 7 pagi, karena harus meninjau proyeknya di kota sebelah. Sedangkan Loudy berangkat bersama Tita tadi. Sebenarnya, Nathan ingin mengantar Tita, tapi sang gadis menolak, alasannya ... tentu saja dia merasa tak nyaman. Huh, sang tuan muda ditolak untuk yang kesekian kalinya oleh gadis itu. Sang nyonya mulai disibukkan dengan urusan pernikahan anaknya, teringat obrolannya dengan Amel tadi. "Semalam aku memergoki mereka berdua sudah hampir berciuman di ruang kerja Nathan." bi Amel syok bukan main, pasalnya dia sangat mengenal anak gadisnya.


Sang nyonya yang melihat raut wajah sang sahabat akhirnya meluruskan, "Aku tidak menyalakan Tita, kok. Nathan juga mengakui, dia tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi, apalagi ketika melihat Tita dari jarak dekat, makanya dia minta pernikahan ini dipercepat."


"Tapi, bagaimana dengan perasaan anakku?" bi Amel masih agak berat menerima pinangan "paksa" ini.


"Kamu tahu kan bagaimana Nathan? Dan ini kali pertama dia jatuh cinta lagi setelah 7 tahun. Aku pribadi setuju dengan anakku, karena kamu tahu sendiri kan, aku sempat ingin menjodohkan mereka?"


"Iya, aku tahu. Aku juga berfikir, mungkin ini memang sudah jalannya untuk anakku. Tapi masalahnya, Tita belum ada perasaan apapun kepada tuan muda,"


"Amel dengarkan aku, perempuan itu lebih naik menikah dengan laki-laki yang sangat mencintainya, daripada laki-laki yang dia cintai, kan?"


Begitulah, pada akhirnya bi Amel menyetujui pinangan sang tuan muda. Tita sudah di beri pengertian oleh sang Ibu, tapi masih sulit untuk menerima.


Ponsel Tita berdering, terpampang 'Mickey' pada layar ponselnya. "Ya, Mickey? Iya, aku pulang ke apartemen, baiklah, oke ... kita makan siang bareng, iya, iya ..." klik. Triiing. Satu pesan masuk, Tita membaca pesan itu, Nona Zahra, anda pulang jam berapa? Tuan Nathan menanyakannya?


Tita membalas pesan itu, "kenapa?" Kirim.


Triiing, "Tuan ingin mengajak anda makan malam,"


"Gak mau." Kirim. Dasar tukang perintah. Ini orang katanya pimpinan yang sangat disegani, cabang perusahaannya banyak, tapi kelakuan aslinya suka maksa, otoriter, nyebelin. Siapa juga yang mau diajak nikah kalo begitu caranya!


Tita sedang menggerutu ketika ada ketukan di mejanya. Tok..tok.. Ternyata Arga menghampirinya "Zahra, nanti pulang bareng yuk, temenin aku ke toko buku yang di Deket apartemen kamu,"


"Weis... tumben mainannya ke toko buku?"


"Ada yang mau aku cari, tapi iseng banget pergi sendiri. Ya, temenin ya...."


Tita berfikir sejenak, tadi dia menolak ajakan sang tuan muda. Sekarang teman kantornya mengajaknya pergi, nanti tuan arogan itu marah gak ya? ah, bodo deh... gak ditanya lagi juga kan, "Ok, deh. Nanti aku ikut,"


Ketika makan siang, Tita makan bersama Mickey di kedai makan dekat kantor Tita. Mike sudah membulatkan tekad untuk menyampaikan apa yang dirasakan selama ini. Tapi, melihat wajah Tita yang kusut tidak seperti biasa, Mike mengurungkan niatnya, "Kamu kenapa, cantik?" sambil menunggu makanan yang mereka pesan datang, Mike ingin tahu ada apa dengan gadisnya.


"Mickey ... aku pusing," curhat Tita sambil meletakkan kepalanya di meja. Seakan beban pikirannya ditopang oleh meja itu.


"Kenapa? Ada masalah apa sih, gak pernah deh kamu begini sebelumnya."


"Iya, ini kali pertama buatku."


Mike pindah dari duduknya, kini dia duduk disebelah Tita, "Ta, ada apa sih? Kamu tau kan, kamu bisa cerita tentang apapun sama aku." Mike jadi ikut gelisah.


"Mickey ... tuan Petra, dia mau aku nikah sama dia satu Minggu lagi, pikiran aku campur aduk sekarang, aku bingung sekaligus takut."


Mike cukup terkejut dengan pengakuan Tita, dia juga tidak menyangka seorang Nathan, bos besar dari Petra Corporate, yang tidak tersentuh wanita manapun, dalam waktu sesingkat itu meminta gadis di sebelahnya kini untuk menikah dengannya dalam waktu satu Minggu?? Lalu, bagaimana dengan perasaan ku? Bahkan aku belum pernah mengutarakan rasa sukaku pada gadis ini. Ketika makanan datang, cukup meredakan ketegangan dalam diri Mike. "Baiklah, kita ngobrol sambil makan ya?"


Tita mengangguk, "Mickey, bagaimana menurutmu?"


"Kamu sendiri, gimana perasaanmu? Kamu yang akan menjalani pernikahan itu, dia akan jadi teman hidup seumur hidupmu,"


"Aku paham, Ta. Kamu yang belum pernah pacaran ini malah langsung diajak nikah bos besar ... Uh, mimpi apa sih kamu, Ta?" Mike berseloroh, mencairkan kegundahannya.


"Ish! Apa sih kamu, sama aja sih kaya Loudy ... jangan-jangan kalian berjodoh, ha ha ha ...," Tita membalas nya. Mereka tertawa bersama, sambil menikmati sisa waktu makan siangnya.


"Tapi, aku yakin tuan Petra adalah laki-laki yang tepat untuk kamu, Ta. Karena dia berani mengajakmu langsung menikah, kamu tahu? tidak semua laki-laki bisa melakukan hal itu, lho." Tidak juga aku, yang bahkan sudah mencintaimu sejak lama, batin Mike.


"Tapi dia terlalu arogan, sombong, aku tidak suka!"


"Wajar, Ta. Dia adalah orang yang berkuasa dan berpengaruh, jadi wajar kalau dia arogan, ya kan?"


"Ck ... kamu tuh kok jadi membela dia terus sih?"


Ha ha ha ... Mickey menggenggam tangan Tita, "Wajar, Ya. Karena dia bos aku." dia mengatakan kalimat itu sambil menarik ke depan kerah kemejanya. Wah, kolusi yang sempurna. Eh, apa tadi dia bilang? "Kamu, diterima bekerja??" seru Tita


Mike hanya memamerkan deretan giginya, "Kita partner sekarang, ha ha ha .."


"Waah, selamat ya Mickey," Tita memeluk sahabatnya, ikut merasakan kebahagiaan atas informasi yang tadi disampaikan. "Kamu bukannya melamar ke kantor ku? Kenapa tuan Petra yang jadi bos mu?"


"Aku satu proyek denganmu, galeri seni, dan karena semua biaya produksi ditanggung Petra jadi dengan kata lain dia bos kita, kan?"


"Ya, ya, ya ... kapan kamu masuk kerja?"


"Besok, dan kita langsung ke lapangan kan? Kamu sudah tahu?"


Ketika Tita dan Mike sedang ngobrol sambil makan siang dengan sesekali bersenda gurau, tanpa mereka sadari ada seseorang yang memantau kegiatan mereka dan melaporkan nya kepada tuannya. Beberapa foto diambilnya.


****


"Zahra, tadi makan siang sama siapa? Ganteng banget deh ... kenalin dong?" Arum yang tadi sempat melihat Tita jalan dengan seorang pria, mulai kepo.


"Temen kuliah aku, nanti kamu juga akan kenal kok. Kenapa? Arum naksir yaaaa ..." goda Tita sambil mengerlingkan matanya.


"Ha ha ha, usaha aja dulu... kalo belum ada yang punya, bisa deh aku Pepet buat serep ha ha ha ..."


"Besok aku kenalin, tenang aja,"


Arga menghampiri meja Tita, "Zahra, yuk sekarang. Kamu udah beres?"


"Wah, kalian kencan?" Cindy.


"Arga minta di temenin ke toko buku yang Deket apartemen aku,"


"Iiiih, modus aja kamu, Ga," Cindy memukul lengan Arga, dan yang di pukul hanya tertawa. Dan Zahra malah ikutan tertawa dengan ulah temannya itu, dia hanya menganggap mereka bercanda.


Tita memang tipe orang yang gak akan sadar kalau dia sedang diincar oleh laki-laki, mungkin karena kurang pengalaman dan menganggap semua laki-laki sebaik kakaknya.