
Ah ... aku juga tidak tega kalau seperti ini. Tita. "Sayang ..."
"Biarkan aku seperti ini dulu, rasanya ketakutan ku tadi lenyap ketika aku memelukmu."
Maka Tita mempertahankan posisinya, hingga nafas Nathan mulai teratur. Dirasakan olehnya sang tuan suami mulai mengendurkan pelukannya, maka Tita membalikkan badannya ... dia memperhatikan Nathan dari dekat, membelai kepalanya menyalurkan rasa hangat dan kenyamanan untuk nya.
"Maafkan aku." kata Nathan dengan wajah tertunduk.
"Buktikan saja padaku," mata mereka saling menatap. "Buktikan bahwa aku bisa mempercayai kamu."
"Tentu." Nathan sangat yakin dengan ucapannya, karena dia memang tidak pernah sekalipun memperhatikan wanita
lain kecuali wanita di pangkuannya ini.
"Baiklah, sudah larut ...ayo kita tidur." Ajak Tita.
"Sayang, bolehkah aku ..." ada apa dengan Nathan kali ini?? mengapa dia jadi ragu-ragu begitu?
"Iya ... tentu saja." jawab Tita dengan senyum malu-malu seakan dia paham sekali mau sang suami. Walaupun masih kesal, tapi dia juga tidak tega karena Nathan menangis seperti itu. Hm ... kemarin Anya sekarang Clair, aku harus waspada dan menjaga suamiku dengan benar. Baiklah aku akan belajar dengan baik dari Gladis. Begitulah tekad Tita.
Pagi-pagi di dapur, Tita membantu sang ibu yang sedang menyusun piring-piring di atas meja.
"Ibu, aku boleh tanya gak?" Tita memulai pembicaraan.
"Mau tanya apa sayang?" jawab sang ibu sambil mengelap sendok-sendok.
"Bagaimana dulu ayah memperlakukan ibu?"
Sang ibu mengerutkan keningnya, tumben sekali anak ini bertanya seperti ini. "Em, ayah mu itu bukan seorang suami yang romantis, tapi dia selalu memperlakukan ibu dengan amat sangat baik, ayahmu adalah laki-laki tampan yang berhati hangat..." Tita mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh minat. Membuatnya merindukan sosok sang ayah, teringat kenangan kecilnya ... sang ayah tidak pernah lupa membawakan sesuatu apapun itu untuk gadis kecilnya yang manis ketika dia pulang kerja. Dan gadis kecil itu selalu menantikan kedatangan sang ayah di depan pintu rumahnya ditemani sang kakak.
"Sayang, kenapa wajahmu lesu begitu?" Nathan memperhatikan sang istri, seperti ada mendung di atas kepalanya.
"Kamu tidak kerja?" bukannya menjawab, Tita malah bertanya balik, pasalnya dia melihat sang tuan suami dengan tampilan casual-nya Tidak seperti biasanya.
"Iya, kenapa?"
"Kok pakaiannya seperti itu?"
"Biar terlihat beda saja ..." dasar ... pasti dia lupa deh.
"Beda?? beda bagaimana?"
"Aku terlihat, lebih muda dan stylish kalau seperti ini, kan?" woow, makin gencar Nathan menggoda Tita. Dan benar saja, air muka Tita sudah berubah, terlihat sekali dia kesal, curiga, yaaa ... seperti itulah. Ha ha ha, tentu saja Nathan senang melihatnya.
Tok, tok, tok. "Tuan,"
"Ah, Brian sudah datang." dengan senyum mengembang dan tidak sedikit pun di sembunyikan, Nathan melenggang membukakan pintu untuk Brian.
"Selamat pagi, tuan, nona." Eh, ada apa ini? senang sekali tuan muda. Dan, kok nona yang tampak kesal sekarang?.
Tita penasaran, perasaannya bercampur aduk. Dari pada menunggu, Tita langsung bertanya kepada Brian yang pasti mengetahui segala sesuatu tentang tuannya. "Kak Brian, rapi sekali hari ini ... mau pergi kemana?" Tita menyapa Brian dengan manis sekali. Brian terdiam, ada apa ini?
Melihat sikap sang istri dan kebingungan sang sekretaris, membuat Nathan tertawa terbahak-bahak. Dia benar-benar merasa di cintai sang istri. "Sayang ..." Nathan memeluk Tita, "Sayang ... kamu pasti lupa kalau hari ini jadwal kamu konsultasi ke dokter, kan?" Nathan mencubit hidung Tita dan menariknya karena gemas.
"Sayang ... aku tidak mungkin mengkhianati kamu, aku hanya milikmu begitu pula sebaliknya. Jadi singkirkan pikiran aneh di kepalamu, ya."
Brian yang sedang fokus di kursi pengemudi mencuri pandang ke belakang, lho ... apa yang terjadi? apakah situasinya sudah berubah? biasanya tuan muda yang selalu khawatir, bagaimana bisa kini nona Tita juga merasakan ke khawatiran itu, ha ha ha.
Saat ini Nathan sudah berada di dalam ruang dokter, tentu saja di temani Axel, Tita sedang menjalani pemeriksaan yang di lakukan dokter wanita.
"Kondisi nyonya sudah sangat baik, tuan. Mungkin sebentar lagi nyonya akan mendapatkan menstruasi nya, darah kotor yang keluar pasti akan lebih banyak dari pada biasanya, tapi jangan panik karena itu hal yang normal dan yang terpenting tetap di jaga pola makannya, manfaatkan quality time kalian berdua ... oh, tuan anda bisa pergi berbulan madu ketika nyonya sedang masa subur."
Penjelasan dokter memang sangat jelas dan terperinci, apalagi sampai mengatur jadwal bulan madu. Hah, dokter bahkan tau kita berencana pergi bulan madu?? "Baik, dokter. Terima kasih atas penjelasannya."
Axel menepuk pundak Nathan, "Tidak perlu khawatir, kan ... fokus saja dalam membuat Nathan junior."
Ha ha ha, mereka yang tertawa tetapi Tita yang merasa malu.
"Sayang, karena masih siang ... bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu?" usul Tita.
Nathan enggan bergerak, saat ini dia sedang dalam posisi nyamannya ... membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri. "Jalan-jalan kemana? langsung pulang saja."
"Tidak mau, aku mau jalan-jalan. Anggap saya ini kencan kita ... em, kamu kan tidak pernah mengajak aku kencan." pura-pura mendramatisir dan menekankan kata 'tidak pernah'.
Nathan sontak menegakkan badannya. "Aku? huft, baiklah ... kamu mau kencan kemana?" akhirnya mengalah juga.
Haha, Brian tertawa dalam diam, nona Tita sudah ahli ternyata ... membuat tuan muda tidak bisa menolak keinginannya.
"Hmm ... apa ya? Baseball aja yuk?!" Tita mengajak mereka dengan semangat.
"Baseball??" Nathan heran, kalau kebanyakan wanita mengajak sang kekasih berbelanja, nonton, makan malam romantis ... kok bisa istrinya ini malah mengajak bermain baseball??
"Nona suka baseball??" rupanya bukan hanya Nathan yang merasa heran, bahkan sang sekretaris pun merasa jika nonanya ini berbeda.
"Iya, aku suka baseball, basket dan berenang." tuturnya dengan bangga. "Kenapa? aneh ya??"
"Nope ... that's amazing, incredible ..."
Plak! "Kamu meledek aku?!"
"Tidak sayang, Brian ... kita ketempat baseball."
"Kak Brian, ajak kekasihmu biar kita bermain sama-sama."
"Kekasih saya sedang di luar kota, nona, jadi tidak bisa."
"Wah, sayang sekali ... padahal kita bisa double date."
Double date?? Cih, pikiran macam apa itu ... tadi mengajak kencan, tapi sekarang malah berfikir double date. Kesal? tentu saja Nathan kesal, dia sudah senang ketika Tita berinisiatif mengajaknya kencan, tapi langsung kesal dengan ide istrinya kemudian. Huh, untung saja Brian mengatakan tidak bisa. Berkeluh kesah Nathan dalam hati, dan tercetak jelas di wajah nya.
Aku tahu apa yang ada di kepala anda, tuan. Jika aku mengiyakan permintaan nona, pasti tidak akan selamat aku hari ini karena menggangu kesenangan anda, ya kan? Lihatlah wajahnya yang tidak senang begitu. Ah, sudah benar aku menolaknya tadi.
Brian dan Nathan seperti memiliki konektor invisible di kepala mereka, ya? Ha ha ha.