Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 129



Tita sungguh tidak menahan tawanya. Dasar nona gengsian, apa susahnya sih mengaku saja ... ha ha ha.


"Jadi ... kamu cemburu padaku karena Mickey."


Gotcha!!


Loudy tidak mungkin mengelak, tapi berat juga mengakuinya.


"Hei .... Hei nona .... mengaku saja lah. Kamu suka sama Mickey, kan?" Ha ha ha... Tita makin senang menggoda sang nona, apalagi ketika dilihatnya sang nona tidak bisa menyembunyikan rona wajahnya. "Oke, oke begini saja." tampaknya Tita mau membuat sebuah penawaran, melihat sang nona sekaligus sahabatnya ini sangat gengsi mengakui perasaannya. Tita memajukan tubuhnya, "Bagaimana jika aku beritahu kan sebuah rahasia Mickey tapi kamu katakan dulu padaku perasaan mu yang sebenarnya?"


Loudy masih berfikir, rahasia Mike? rahasia apa ya? Huft ... ternyata egonya tidak lebih besar dari rasa penasarannya, "Rahasia apa?"


"Beritahu aku dulu ..." Tita memasang wajah jahilnya.


"Hmm ... iya,"


"Iya? Iya apa?"


Loudy melihat ke arah Tita, sejak kapan manusia satu ini jadi menyebalkan seperti ini??


"Aku rasa ... aku menyukai Mickey, tapi yang dia sukai kamu?" ah sudah terlanjur, biar ku katakan saja semuanya sekalian.


Tita terdiam mendengar kata-kata Loudy, dan sekejap kemudian dia tertawa terbahak-bahak ... membuat Loudy kebingungan. Apa sih yang lucu??


"Aduh, aduh ... perut aku sakit." sesekali Tita meringis di sela tawanya. "Kamu tuh lucu banget sih, Lou."


"Lucu apa sih?" Loudy mulai kesal, apa Tita fikir perasaan ku itu lucu?!!


Dan Tita masih tertawa dan menahan


sakit di perutnya, "Kamu salah, Lou." benar-benar tidak peka ternyata Loudy ini ya, bisa-bisanya malah berfikir Mickey suka padaku. Itu lah yang membuat Tita tertawa.


Ceklek! "Sayang." Nathan muncul tiba-tiba. "Aku mencarimu, ternyata kamu enak-enakan tertawa-tawa disini."


"Lho kamu sudah bangun?!" Tita yang mengetahui sang tuan suami datang otomatis menghentikan tawanya.


"Apa yang sedang kalian lakukan?"


"Tidak ada sayang, aku hanya merindukan Loudy." Tita beranjak dari tempat tidur Loudy, dan ingin mengajak Nathan keluar, karena dia tau sang tuan suami mau pergi bekerja.


"Ayo, aku akan menyiapkan pakaian mu." Tapi teringat sesuatu Tita melepaskan Nathan dan menghampiri Loudy, dia membisikkan yang membuat Loudy membelalakkan matanya dan wajahnya bersemu. Ah....


***


Matahari sudah tidak lagi terlalu terik ketika Loudy mengakhiri kuliahnya. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, memang tidak banyak mata kuliah yang diambilnya ... dia hanya mengambil mata kuliah yang harus di ulangnya.


"Aduuuh, aku lelah sekali."


"Loudy, ke kantin yuk?"


"Ah, aku mau langsung pulang saja." dia melambaikan tangannya. Semenjak Tita lulus, Loudy memang langsung pulang begitu perkuliahan selesai ... dia masih 'agak' tidak nyaman dengan teman-teman kampusnya.


Masuk ke dalam mobilnya, Loudy menikmati kesejukan pendingin mobil yang bertiup, aah ... sejuknya. Dan tiba-tiba dia teringat kejadian pagi tadi, sontak saja jantungnya berdetak cepat dan pipinya menghangat... Loudy yang masih duduk di tempat tidurnya melihat Tita yang menggandeng sang kakak hendak keluar dari kamarnya, kemudian Tita melepaskan pegangannya dan berbalik melangkah mendekatinya. Sebelumnya Loudy tidak ada pikiran apapun tentang apa yang akan Tita lakukan, sampai Tita yang sudah berdiri di hadapannya dan berbisik di telinganya ...


"Dasar bodoh! yang di sukai Mickey itu kamu, bukan aku. Mickey itu mencintai kamu, dasar tidak peka."


Setelah mengatakan itu, Tita pun menggandeng lagi lengan sang tuan suami yang juga kakaknya dan meninggalkan Loudy sendiri... Apa-apaan sih Tita. Tapi, apa benar yang dikatakannya? Tapi Tita tidak pernah membohongiku, tapi ... Mike juga tidak pernah mengatakan apapun, dan sikapnya ...


Masih sibuk dengan pikiran-pikirannya sendiri, Loudy kemudian di kejutkan dengan deringan di ponselnya. Jantungnya kembali berdetak cepat ketika melihat siapa yang menghubungi nya.


"Halo, Mike..." duh, panjang umur sekali orang ini. "aku sudah mau pulang ... iya sudah selesai ... ada apa? Oh, iya boleh ... kita bisa pergi sama-sama, kita bertemu di tempat biasa ... oke, bye."


Klik. Apa benar yang di katakan Tita tadi? tapi ... dia menghubungiku hanya untuk menanyakan Tita. Loudy jadi galau, satu sisi dia ingin mempercayai apa yang di katakan Tita ... tapi kenyataannya seperti berkata lain.


Loudy melakukan mobilnya, membelah jalan raya menuju tempat biasa dia bertemu dengan Mike. Sepertinya Mike belum datang, maka Loudy memarkirkan mobilnya di depan sebuah kedai kopi. Baru saja mobil itu terparkir sempurna, ada seseorang yang mengetuk kaca jendelanya.


"Hai, aku ... baru sampai." jawab Loudy, duh ... jantung ku tolong tenang sedikit.


"Oh, untukmu." dengan malu-malu Mike menyerahkan sebuket bunga mawar untuk Loudy.


"Untuk ku?"


"Iya,"


Hah, bunga untuk aku?? "Tapiii, kamu bukan mau bertemu Tita?" hati-hati Loudy mengatakannya.


"Aku membawa buah-buahan ini untuk Tita." Mike memamerkan parcel buah yang di bawanya.


Loudy makin tersipu, ah ... bunga ini benar-benar untuk aku. "Ah, kita pergi sekarang ya?" bukan baru kali ini Loudy pergi berdua dengan Mike, tapi mengapa kali ini terasa kikuk sekali.


Mike pun tidak kalah gugup, "Lou,"


"Iya,"


"Mau jadi pacarku gak?"


Ckiiiittttt!!!


Loudy menginjak rem tiba-tiba, beruntung mereka sudah memasuki wilayah komplek sehingga tidak ada kendaraan lain yang lewat. Loudy dan Mike sama-sama terkejut meskipun dengan alasan yang berbeda.


"Kamu baik-baik saja?"


"Apa, apa yang kamu katakan?"


"Ah, em ... Aku sudah lama menyukaimu, tapi aku tidak berani mengatakannya. Kalau tidak aku katakan sekarang aku takut menyesal. Jadi, Loudy ... maukah kamu menjadi pacarku?" Mike gugup, sangat gugup. "Aku sudah siap jika kamu menolakku."


"Siapa yang mau menolak mu?"


"Yaa ... maksud ku, kalau kamu tidak suka dan menolak aku juga tidak apa."


"Aku kan tidak bilang kalau aku menolak kamu."


"Maksudnya?" Mike menatap Loudy yang juga menatapnya.


"Aku juga menyukai mu."


Mike sumringah mendengar perkataan Loudy, seperti ada kupu-kupu yang terbang di perutnya. Ternyata, cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.


"Tapi, aku pikir kau suka Tita?"


"Hah? oh, itu dulu ... dulu aku pernah menyukai Tita untuk waktu yang lama, tapi aku tidak pernah menyatakan nya ... bahkan Tita yang menebaknya saat itu. Aku tidak berani."


"Lalu, Tita juga suka padamu?"


"Bukan suka sebagai kekasih. Tita hanya menganggap aku saudaranya. Dia hanya menyukai kakak mu, suaminya. Hanya tuan Petra yang bisa membuatnya jatuh cinta."


Ah, so sweet sekali ... melihat dua insan ini, pada akhirnya mereka bisa mengungkapkan apa yang dipendamnya. Bahkan ketika mereka sudah sampai di parkiran mansion Petra, sepertinya mereka enggan untuk turun dari mobil.


"Jadi, sekarang kamu kekasihku, kan?" tanya Mike.


"Iya, kamu kekasihku. Aku, boleh memanggil kamu, sayang?" malu-malu Loudy mengutarakannya. Oh, Loudy memang terbuka sekali orangnya.


"Aku suka," pribadi Loudy kebalikan dari Mike. Tapi Mike benar-benar menyukai ide itu.


Duh! dug! dug!


Kedua manusia itu terkejut bukan main ketika pintu kaca mobilnya di gedor seseorang. Loudy cepat-cepat menurunkan kaca jendelanya, tanpa melihat dulu siapa yang melakukannya.


"Hei! mau sampai kapan kalian berduaan disini?!" Tita, memergoki mereka berduaan di dalam mobil ... Tita sudah menunggu beberapa saat, tapi mereka tidak juga keluar dari dalam. Karena penasaran maka Tita menghampiri mobil yang sudah terparkir sejak tadi dan memergoki mereka yang baru saja menjadi sepasang kekasih.