
Nathan sudah pergi bersama teman-temannya ke kantin yang ada di rumah sakit ini, sedang Tita saat ini sedang memakan buah-buahan yang sudah di siapkan sang tuan suami sebelum dia meninggalkan sang istri tadi. Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, dan muncullah kepala seorang laki-laki yang amat sangat di kenalnya.
"Hai, Tita ... apa aku mengganggu?"
"Mickey, masuk lah ..." Tita senang ada Mickey datang menjenguknya. Sejak dia sadar, ini adalah kali pertama Mickey mengunjunginya.
"Kamu sudah sehat rupanya." Tidak dapat dipungkiri bahwa Mickey merasakan kebahagiaan karena bisa melihat Tita hidup dan tersenyum manis kepadanya seperti saat ini.
"Maaf kan aku ya, kamu pasti khawatir sekali kemarin."
Mickey meraih tangan Tita untuk dia genggam, "Jangan berkata seperti itu, kejadian kemarin itu seperti mimpi buruk. Bahkan Loudy sampai ketakutan untuk memberitahu kakaknya." Mickey mengenang kembali kejadian itu.
"Aku jadi menyesal sekarang," Tita menundukkan pandangannya. "Kamu tau? ternyata keinginan makan ku yang besar itu karena aku sedang hamil." TIta tertawa getir.
"Aku turut berduka, tapi kamu kan bisa memulainya lagi. Jangan bersedih terlalu lama ... kamu tau kan, itu tidak baik untuk pemulihan kesehatan mu."
Tita melihat intens sahabatnya, "Woah ... Mickey, sejak kapan kamu menjadi bijak seperti ini?"
"Hei, hei ... jangan meledek ya, aku ini adalah laki-laki berkharisma dan bijaksana serta baik hati, kau tau?"
Ha ha ha, "Iya deh ... laki-laki berkharisma, bijaksana dan baik hati ... aku ucapkan terima kasih banyak atas pertolonganmu hari itu ya ...."
"Ck! aku tidak butuh ucapan terima kasih mu yang tidak tulus seperti itu," ha ha ha ....
Ruang perawatan yang tadinya sunyi kini ramai dengan kicauan meereka berdua. Serasa flash back ke masa-masa perkuliahan mereka. Yang menarik dan merupakan magnet dari seorang Tita adalah pribadinya yang hangat dan supel, siapapun dapat nyaman jika berada di dekatnya. Dan karena itulah Mickey bisa jatuh cinta pada Tita, si gadis yang selalu riang.
"Ugh, Mickey ..." Tita mengerjapkan matanya. "Mataku perih sekali,"
Mickey yang sedang menuang air untuk dirinya langsung menghampiri Tita, "Jangan di gosok, nanti matamu merah." Mickey menarik tangan Tita menjauh dari matanya, jaraknya sangat dekat, "Nah kan, matamu memerah, aku akan tiup jadi tetap buka matamu, ya." TIta mengangguk.
Brakkk!!!!
"Apa yang kalian lakukan!!" Loudy tidak lagi mendengar jawaban apapun, dia langsung berlari keluar meninggalkan mereka. Dia cukup shock dengan apa yang di lihatnya.
Nathan yang masuk bersama sang adik dan juga melihat apa yang dilihat sang adik, dengan langkah lebar dan cepat mendekat ke arah mereka, menarik leher sweater yang di pakai Mickey. "Dasar laki-laki brengsek!!" Nathan sudah bersiap memukul Mickey, namun Tita mencegahnya.
"Kalau kamu berani menyakiti Mickey, aku akan membencimu!!!" Tita berteriak tidak kalah keras dari Nathan. Sementara Mickey, dia ingin menyusui Loudy ... tapi dia takut, bahkan kakinya pun tidak sanggup melangkah.
"Oh, jadi kamu melindungi dia!!" Nathan sungguh murka, hingga dia menunjuk kepada Mickey.
"Iya, aku melindunginya." Tita masih mengerjapkan matanya.
"Tita! kamu pikir apa kurang ku dibanding dia!! Apa dia lebih baik dari pada aku?!!" Nathan sungguh tidak habis pikir, sakit hatinya mendengar Tita yang membela laki-laki lain.
"Tidak! Memang aku berkata seperti itu?"
"Lalu kenapa kamu berselingkuh dengannya?!!"
"Siapa yang berselingkuh? itu kan kamu yang membuat kesimpulan sendiri."
"Kamu ... tadi, kalian berciuman."
Tita sudah tau pasti kakak adik itu salah sangka, maka Tita berkata kepada Mickey, "Mickey, jelaskan yang sebenarnya kepada Loudy. Cepat kejar dia sebelum terlambat. Aku yang akan mengurus laki-laki pencemburu ini."
Tidak perlu menunggu lama, Mickey langsung keluar mencari Loudy. Semoga dia belum pergi jauh.
"Kamu tidak lihat mataku yang merah?" kini suara Tita sudah merendah.
"Mataku perih sekali tadi dan Mickey hanya membantu meniup mataku, dia tidak membolehkan aku menggosok mataku."
"Matamu? kenapa? apa masih sakit??"
"Aku tidak tau, dan sekarang masih perih aku tidak berani menggosoknya."
"Ah, sayang ... tunggu." Nathan mendekatkan kepalanya, dia memeriksa mata sang istri. "Oh, ada bulu mata di dalamnya."
"Cepatlah aku tidak tahan."
***
"Loudy ..." ah, akhirnya aku menemukanmu.
Loudy sudah akan pergi, namun Mike menahannya.
"Lepas ..."
"Apa yang kau lihat ... kebenarannya tidak seperti apa yang kau pikirkan." Mike berusaha menjelaskan.
Loudy masih terdiam, air mata sudah mengalir, hatinya sakit menerima kenyataan laki-laki yang dia cintai ternyata masih mencintai sahabat sekaligus kakak iparnya.
"Lou, tadi itu ... Tadi aku hanya membantu Tita meniup matanya yang perih." ku mohon, percayalah padaku.
"Huh, kamu pikir aku sebodoh itu sehingga percaya dengan alasan tidak masuk akal yang kau katakan?!"
Mike jadi bingung, dia bimbang. Jika saja gadis itu bukan Loudy tentu dia tidak akan perduli. Tapi ini, Loudy, dia tau ... dia harus melakukan sesuatu untuk meyakinkan gadis ini.
"Oke, kalau kamu tidak percaya padaku," Grab! Mike menarik tangan Loudy agar mengikuti langkahnya.
"Hei, apa yang kamu lakukan." Loudy memukul-mukul lengan Mike. "Lepaskan aku, aku tidak mau ikut kamu."
Ceklek. Sampai lah mereka di ruang perawatan, dengan pemandangan yang membuat siapapun iri ...
"Oh my ... maaf, maaf ..." Mike berulang kali mengucapkan maaf sambil menundukkan pandangannya, sementara Loudy terpaku sambil mengerjapkan matanya berulang kali.
Tita malu bukan kepalang, pasalnya ketika pintu itu terbuka tiba-tiba ... dia yang sedang bersandar di tempat tidur dengan infus yang masih tertancap tidak bisa berbuat apa-apa ketika kelakuan manja sang tuan suami kumat. Nathan dengan bebasnya naik ke atas Tita dan memendamkan kepalanya di bukit kembar sang istri. Tita sudah protes dan menolak tentu saja, tapi keterbatasan sang istri amat sangat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh Nathan.
Argh ... rasanya Tita ingin menenggelamkan diri beberapa waktu. Tapi lihatlah laki-laki ini, bukan nya dia yang malu dengan perbuatannya, kini dia malah memutar bola matanya, seakan berkata ... ah, pengganggu.
"Ada apa kalian kemari?!" nah kan, ketus sekali kan.
"Aku hanya di tarik Mike ke sini." jawab Loudy.
"Oh, aku ..." gila .... Mike saja sampai nge-blank. "Ah, Tita ... tolong jelaskan pada Loudy soal tadi." ya ... itu kan tujuan aku kesini.
Pada akhirnya, Nathan yang menghampiri adiknya. "Tadi Mickey mouse ini hanya membantu Tita meniup matanya yang perih, setelah aku periksa ternyata memang ada bulu mata yang masuk ke dalam matanya."
"Oh, ah ... benar kah?" kini Loudy yang jadi salah tingkah. Dia sudah melakukan hal yang konyol. Lagi pula apa haknya untuk cemburu?
Tita mengawasi mereka dari tempat tidurnya, dih ... dua orang ini benar-benar aneh. Bagaimana mungkin mereka bisa tidak menyadari bahwa mereka saling menyukai, bodoh sekali. Aku saja sekali lihat juga sudah tau bahwa mereka memiliki perasaan yang sama.
Oh, hellooow ... Tita, rupanya mengkritik orang itu lebih mudah yaaa dari pada mengkritik diri sendiri. Ha ha ha.
Jika Loudy mendengar apa yang dikatakan Tita, dia pasti akan membawa sahabatnya ini untuk berdiri di depan cermin yang super besar agar Tita berkaca. Ha ha ha.