
Ini sudah hari ke tiga Nathan pergi, tapi tidak ada pesan atau bahkan telpon sama sekali. Tita sedang duduk menyesap milk choco nya sambil menunggu Loudy. Dari kejauhan terlihat sang nona melambaikan tangannya dan tetap mempertahankan ponsel di telinganya.
"Iya, aku udah sampe. Tita sendiri tuh lagi duduk. Kakan gak mau ngobrol sama Tita? Oh, ok, bye." Loudy memasukkan ponsel kebsaku celananya. "Sorry ya lama, Ta. Mas saya cappuccino, ya."
"Tadi kamu telponan sama siapa?"
"Kak Nathan."
Deg. Tita mengangkat wajahnya. Kok di bisa telpon adiknya tapi tidak membalas pesanku? "Kakak kamu baik-baik saja?"
"Ya, baik. Baik banget malah. Kenapa? Kangen ya?" Ha ha ha.
Tita tidak menjawab, pikirannya bercabang. Sungguh rasa penasaran mendominasi dirinya. Maksudnya apa sih? Kok gini sih? Ah, apa jangan-jangan dia hanya mempermainkan aku? Tapi tidak mungkin. Loudy saja sangat membanggakan kakaknya. Tapi itu mungkin karena dia kakaknya. Tita gelisah.
"Kamu kenapa, Ta?"
"Lou, kakak kamu sering menghubungi kamu dan nyonya mami sejak ada di sana?"
"Iya, tentu saja. Dia tidak suka melihat kami khawatir, jadi ketika ada kesempatan dia pasti menelpon atau sekedar mengirim pesan. Itu tandanya dia baik-baik saja. So sweet kan kakak aku? Ha ha ha ..." Tapi Loudy melihat wajah Tita yang murung. "Kenapa sih, Ta? Kok kamu gak semangat banget hari ini. Kamu sakit?"
"Ah, gak. Aku lagi gak enak badan."
"Ya udah, kita gak usah lama-lama deh, nanti kamu sakit malah aku yang di marahin kakak."
"Hah. gak mungkin lha." Dia saja tidak menghubungi aku sama sekali, mana dia peduli.
"Hei, kamu belum tau aja. Kak Nathan itu ..."
"Ya, ya, ya ... he's the best."
***
Hari ke empat kepergian Nathan. Masih seperti hari-hari sebelumnya, masih belum ada komunikasi sama sekali. Namun, Tuhan begitu baik ... Dia membuka jalan bagi Tita untuk berkomunikasi dengan cara lain. "Zahra, kita meeting 1 jam lagi dengan tuan Petra. Persiapkan laporan yang kemarin."
"Lho, tapi pak. Bukannya tuan Petra tidak ada di sini?"
"Kita pakai video conference di ruang meeting, ya."
Kalau di gambarkan, ada rasa senang dan berbunga-bunga di hati Tita. Tapi juga ada rasa takut, akan kemungkinan-kemungkinan yang beberapa hari belakangan berseliweran di kepalanya. Huh. Kamu pasti bisa!
Setelah ruang meeting siap, Pak Putra, Mike, Gladys dan Tita sudah duduk di depan sebuah layar Interactive display menunggu jaringan tersambung dengan sang tuan muda yang ada di belahan dunia sebelah sana. Jantung Tita memompa lebih cepat, ah, sebentar lagi aku akan melihatnya.
"Selamat pagi." Sapa Nathan, dia melihat kedalam Interactive display di ruangannya. Dan dia melihat gadis itu. Gadis yang selalu di rindukan. Sang tuan muda yang sudah tidak mampu menahan rasa rindunya, tiba-tiba saja muncul ide di kepalanya untuk menagih laporan progres galeri seni. Sang sekretaris sudah pasti sangat mengerti maksud terselubung dari sang tuan. Bukan sekali dua kali dia menyarankan agar sang tuan menghubungi sang nona langsung, siapa tahu ini hanya kesalahan pahaman. Tapi memang sang tuan yang keras kepala, malah lebih memilih jalan berkelok-kelok dari pada jalan lurus. Karena siapapun pasti merasa aneh, jika hanya ingin laporan progres kan bisa kirim email, tidak perlu video conference seperti ini.
Ah, itu dia. Tita mampu mengontrol emosinya dengan sangat baik. Dia cukup lega melihat laki-laki itu baik-baik saja. Dan dia cukup profesional karena masih bisa melakukan presentasi dari laporan yang diminta sang tuan muda. Progres proyek galeri seni di kota B sudah hampir rampung sekitar delapan puluh persen, tinggal finishing dan furniture. Ketika finishing selesai mereka akan mengunjungi lokasi proyek. Meeting selesai, satu persatu peserta rapat meninggalkan ruangan. Tinggal Tita yang sedang membereskan peralatannya dan seorang office boy yang membersihkan sisa-sisa minuman dan makanan. Di layar masih setia Nathan memperhatikan gerakan gerik sang gadis. Tita tahu Nathan belum left conference, tapi tidak mungkin juga dia bertanya macam-macam. Hingga telinganya mendengar suara wanita memanggil laki-laki yang menjadi calon suaminya itu dengan manja, barulah dia melihat dengan tajam ke layar.
"Nathaaan, bagaimana kalau kita minum kopi lagi di cafe kenangan kita?"
Tita terpaku memandang layar itu, telinga masih sangat baik untuk bisa mendengar suara di sana. Terlihat dengan jelas Nathan yang kaget saat suara wanita itu menyapanya tiba-tiba. Dan Tita masih berdiri di tempatnya ketika layar tiba-tiba berubah warna menghitam. Dia lirih di kursi, membenamkan wajahnya ke meja di depannya. Dadanya sesak, matanya basah. Kemungkinan-kemungkinan yang sejak kemarin menari-nari di kepalanya menjadi nyata kini. Bodoh! Mengapa dengan bodohnya aku memberikan hati ku untuknya. Walaupun laki-laki itu kakak Loudy. Walaupun Laki-laki itu anak nyonya mami. Tapi mereka memiliki kepala yang berbeda. Seharusnya dia jangan langsung mempercayakan hatinya begitu saja.
Brakkk!! Nathan menghempaskan wanita tidak tahu diri itu begitu saja. "Siapa yang menyuruh kamu masuk kesini!" Sang tuan muda murka. Teriakannya tentu terdengar dari ruang dimana Brian berada. Dan sang sekretaris langsung masuk begitu sang tuan berteriak. Dia melihat wanita yang tersungkur di sofa dan sang tuan yang berdiri dengan sangat marah. Brian menghampiri wanita berseragam hotel itu. "Apa yang anda lakukan disini!?"
"A... aku hanya membawakan Snack pagi." Dia menunjuk troli pengantar makanan yang berisi kue-kue dan kopi.
"Silahkan keluar, atau saya paksa anda keluar." Brian mengusir wanita itu.
Wanita itu keluar karena terpaksa, dia juga tidak ingin di pecat. Nanti akan makin susah dia mendekati Nathan lagi. Ya, seharusnya memang bukan dia yang mengantarkan kue dan kopi ke kamar sang pemilik hotel. Tapi tadi, tidak sengaja dia yang menerima telpon bahwa Nathan mau Snack dan di antar ke kamarnya. Jadi dia menggunakan kesempatan emas itu. Tapi siapa sangka perlakuan yang di terimanya oleh laki-laki yang pernah sangat mencintainya itu dibluar ekspektasinya.
Nathan menghela nafas kasar. Dia makin frustasi, pasalnya dia sangat yakin tadi Tita mendengar bahkan melihat kejadian yang tidak dia inginkan itu. Dan dengan gerakan reflek dia langsung mematikan sambungan videonya.
"Tuan, sebaiknya anda menjelaskan kepada nona. Dia pasti salah paham."
"Aku tahu, tapi pasti akan aneh karena belakangan aku mengabaikannya. Dan tiba-tiba aku menghubunginya untuk menjelaskan tadi itu salah paham. Siapa yang akan percaya?"
"Tapi kalau nona mencintai anda, dia pasti percaya pada anda, kan?"
"Kamu mengejekku!? Kalau aku tahu dan yakin dia mencintai aku, mana mungkin aku menghindarinya selama ini?"
Ha ha ha ... Brian tertawa sendiri, memang sangat lucu jika tuannya ini sedang galau dan merindu. Bahkan pernah di malam ke dua sejak dia memutuskan tidak akan menghubungi Tita secara langsung, pada tengah malam dia ingin terbang menemui gadisnya langsung. Tentu saja Brian menolak dan mencegahnya, anda harus tahan jika ingin segera pulang dan cepat menikah. Pasalnya jarak dari sini ke sana itu tujuh belas jam dengan pesawat, pasti akan membuang-buang waktu dan pekerjaan pasti mundur jadwalnya.
Hai.. readers, mohon di like, comment bagaimana alur cerita ini dan jangan lupa vote nya yaaaa 🤩