
Ah, sebaiknya nanti aku telpon Ibu. Gak biasanya Ibu ajak aku ketemu begini. Ceklek! "Aaaargh!!! Apa yang anda lakukan ditempat ku?" Tita sangat terkejut ketika melihat sang tuan muda tiba-tiba ada di dalam rumahnya, oh.. lebih tepatnya bagaimana dia bisa masuk!!
"Oh, hai ... kamu baru pulang?" Nathan kembali duduk di sofa dan mensilangkan kakinya dengan nyaman.
Tita panik, "Tu.. tuan.. apa yang anda lakukan disini? Bagaimana anda bisa tau tempat tinggal ku? Bagaimana kamu bisa masuk!" aku tau dia orang yang berkuasa ... sangat berkuasa, tapi menerobos rumah orang lain itu kan kejahatan!!
"Kamu tidak mau duduk dulu?" sambil menepuk-nepuk sofa di sebelahnya.
"Apa anda tidak tahu, menerobos masuk kerumah orang lain adalah kejahatan? Aku bisa melaporkan mu ke pihak yang berwajib!" Tita tidak sungguh-sungguh dengan kalimat terakhirnya, tapi dia sangat kesal dengan orang didepannya kini, dia juga tahu melaporkan orang ini adalah sia-sia.
"Hah, aku baru tahu sisi lain dirimu ini. Tapi tak apa, aku suka." Nathan berdiri mendekati sang gadis, namun sang gadis reflek mundur kebelakang. Aduh, kalau dia ketakutan begitu aku jadi makin ingin mengerjainya. Ha ha. Sang tuan muda terus maju, membuat peluh di pelipis Tita terus keluar, sangat terlihat dia benar-benar ketakutan. Hingga, buk! punggung Mungin itu membentur tembok, ya, dia tidak bisa lari lagi karena tangan kokoh itu mengunci tubuhnya. "Kenapa kamu takut padaku? Aku kan calon suamimu?" glek. Tita menelan ludah susah payah. Mood Nathan untuk mengerjai gadis didepannya ini sangat bagus. Disejajarkan kepalanya dengan kepala gadis itu, dimajukan wajahnya hingga tidak ada jarak diantara mereka, sang gadis makin ciut ... bergetar ... membuat sang tuan makin senang, dan dilancarkan teror kedua yang akan membuat sang gadis kalah telak. "Aku rasa kamu kurang mencari tahu tentang calon suamimu, kan? Kamu tahu tidak mungkin kamu bisa melaporkan aku, apalagi dengan alasan menerobos masuk kerumah orang lain," disentuhnya rambut yang sering diikat ekor kuda itu, halus. Tita berusaha menghindar tapi tangan itu memegang tengkuknya membuat si empunya mengangkat wajahnya, bola mata itu memancarkan ketakutan sekaligus permohonan untuk tidak disakiti. Nathan melanjutkan keisengannya, "Aku tidak mungkin dituduh menorobos masuk kerumah ku sendiri, kan?"
Hah, apa dia bilang? apa maksud kerumahnya sendiri? "Mak ... maksud anda, apa?" Tita kebingungan. Dan inilah kesalahannya, wajah bingung Tita malah membuat Nathan tidak bisa menahan diri. Dia yang tadinya hanya ingin menakuti sang gadis, malah mati kutu sendiri.
Sama sekali tidak ada keinginan untuk menjawab pertanyaan Tita, karena Nathan sedang berperang dalam hatinya, gejolak yang timbul saat melihat wajah innocent ini ... bibir merah segar itu ... dan sang gadis masih tidak menyadari bahaya yang ada di hadapannya. Kejadian itu sangat cepat, bagaimana pun juga sang tuan muda adalah lelaki di dewasa yang juga memiliki naluri laki-laki, sekuat apapun dia berusaha menahan tapi kali ini dia kalah. Ketika sadar bibirnya sudah berada dibibir sang gadis yang shock dengan kejadian itu. Dia merasakan bibir kenyal dan hangat di bibirnya, dan bukan hanya kecupan, sungguh sang tuan muda out off control kali ini, dia ******* bibir gadis itu walaupun tidak ada balasan dari lawannya. Hingga kesadarannya tiba-tiba kembali, sontak dijauhkan kepalanya, merutuki dirinya sendiri, apa yang sudah dia lakukan, dia mundur beberapa langkah, ada rasa penyesalan, namun bibirnya manis ... Namun, ketika di lihat sang gadis, "Ah, maaf kan aku ..." Nathan memeluk Tita yang sedang menangis sesenggukan, bodoh! seharusnya aku bisa menahannya, "sungguh ... maafkan aku, aku... aku tidak bisa menahannya tadi." Habis sudah, pikir Tita, bibir yang sudah dijaganya dan belum terkontaminasi lelaki manapun, kini ... hiks hiks. Tita terus menangis, dia takut dan merasa bodoh, karena terperdaya oleh lelaki ini.
Nathan memberikan minuman untuk membuat sang gadis lebih tenang. Tita menerima minuman itu karena tenggorokannya memang sangat kering. Hening. Tidak ada yang mulai berbicara sejak tadi. Gelas tadi juga telah kosong. "Aku, minta maaf ... tidak seharusnya aku mencium kamu seperti itu, aku sungguh khilaf," sang tuan berkuasa itu benar-benar menyesal.
"Lupakan, lah." Tita sungguh tak ingin membahasnya lagi, dia hanya ingin melupakan kejadian tadi.
"Apa maksudmu, melupakan?" wah, baru tadi dia menyesali perbuatannya, namun kini mode orang yang berkuasa mendominasi.
"Kamu ingin melupakan ciuman pertama kita? Kenapa? Oh, aku jadi penasaran, sebenarnya berapa banyak laki-laki yang sedang dekat dengan kamu sekarang? Selain aku, Mike, Arga, siapa lagi?" wah .. sang tuan muda pada akhirnya meluapkan kecemburuannya. Padahal beberapa menit yang lalu, dia masih menyesali perbuatannya ... mencium tiba-tiba sang gadis hingga sang gadis menangis.
"Apa maksud anda? Anda memata-matai saya?"
"Aku hanya menjaga calon istriku,"
"Siapa yang calon istri? Memang aku sudah setuju untuk menikah dengan anda!" Tita terpancing emosinya. Dan Nathan, cukup dikejutkan dengan pertanyaan Tita. "Kenapa kamu tidak setuju? Apa yang kurang dariku? Seharusnya kamu bersyukur karena aku ingin menikahi gadis sepertimu."
"Anda itu menyebalkan ya, memang aku gadis seperti apa? Aku memang belum pernah punya pacar, dan tadi yang kau curi adalah ciuman pertamaku," blush! Nathan merona. "Tapi bukan berarti aku tidak punya tipe lelaki impianku, aku bahkan sudah merencanakan ingin mencari pacar di tempat kerjaku, tapi kamu tiba-tiba datang mengacaukan rencana aku!" Tita benar-benar marah, mungkin karena dia tersinggung, bahkan dia lupa seberapa berkuasa laki-laki dihadapannya, dia lupa yang dipertaruhkan bukan hanya keselamatannya tapi juga karir dan Ibunya.
"Sudah. Sudah puas ngomel-ngomel?" Ajaibnya sang tuan muda tidak marah sama sekali, itu karena dia mendengar sendiri satu informasi penting tadi yang membuatnya bahagia dan fokus hanya pada kata-kata itu, "ciuman pertamaku" kata-kata sederhana tapi sangat bermakna dalam bagi Nathan. Cieee...cie..
Tita tersadar posisinya kini, penyesalan memang selalu datang terlambat. Tapi dia lega, sudah mengatakan apa yang dia pendam sejak sang tuan mengatakan menikahinya. "Sudah, ganti bajumu. Kita harus pergi menemui Ibumu." Ah... aku bahkan lupa harus bertemu dengan Ibu.
"Anda juga mau bertemu Ibuku?" katanya dengan hati-hati kali ini, nyalinya langsung menciut begitu tersadar tadi.
"Iya, itu tujuanku datang kemari." dan sang tuan masih bisa sambil tersenyum mengatakannya. Aku pasti tidak salah pilih kali ini. Bahkan Mami dan Loudy pernah berencana menjodohkan dia dengan ku.
Dalam perjalanan pun suasana hening. Namun, sang tuan muda masih memamerkan senyumnya, terlihat sekali dia sedang bahagia, membuat Brian menaruh curiga atas apa yang terjadi di tempat sang gadis tadi. Mobil berhenti di depan sebuah butik yang berkilau dari luar, ada beberapa manekin berbusana pengantin terlihat dari jendela yang dijadikan seperti etalase pameran. Dan tanpa menolak atau protes, Tita hanya mengikuti sang tuan.