
Untuk pertama kalinya Tita keluar dari kamar rawatnya, meskipun hanya untuk pemeriksaan rutin tapi dia merasa senang. Tita duduk di kursi roda di dorong Nathan yang selalu setia menemaninya di rumah sakit ini. Ah, dua sejoli yang benar-benar enak di pandang mata.
"Halo Tita," Sapa Axel.
"Halo, dok."
"Kamu terlihat jauh lebih segar dan cantik ya hari ini."
"Ehm!!" Nathan mengintrupsi.
Tapi bukan Axel namanya kalau gentar hanya karena teguran kecil seperti itu. "Bagaimana perasaanmu hari ini? Aku tau pasti kamu ingin cepat-cepat keluar dari sini kan?"
"Haha, dokter tepat sekali menjawabnya. Jadi, kapan aku bisa pulang, dok?"
"Aku akan memeriksa luka-lukamu, besok kamu akan di periksa oleh obgyn ... jika tidak ada masalah maka kamu bisa pulang."
Wajah Tita berseri, dia sangat merindukan suasana rumah."
"Pastikan Tita-ku baik-baik saja. Periksa yang benar jangan setengah-setengah."
"I, Iya ... iya." kata-kata singkat Nathan cukup membuat sang dokter tertekan juga rupanya.
Disaat Tita tengah menjalani pemeriksaan, Brian masuk menemui tuan mudanya. "Tuan, Thomas ingin bicara."
"Aku sedang menunggu istriku, apa tidak bisa nanti saja?" tapi Brian menggeleng, dan Nathan tau artinya dia tidak bisa menundanya. Maka Nathan pun menerima ponsel yang di berikan oleh Brian.
"Nathan, kau disana?" sapa Thomas dari sebrang.
"Iya, ini aku ada apa?"
"Aku sudah memeriksa ponsel kakak iparmu, tidak ada yang salah dengan unit ponselnya .. tapi memang ada yang membobol nomor telpon dan surelnya. Aku yakin mereka meretasnya dan masih memegangnya, entah apa motif mereka."
"Siapa yang melakukan?"
"Aku tidak tau perbuatan siapa, tapi lokasinya menunjukkan dia tidak ada disini."
"Apa lokasinya di London, Inggris?"
"Bukan, bukan disana. Tapi di Korea."
"Hah?? Korea?!"
"Iya ... itulah, aku tidak bisa memikirkan siapa orang itu, apakah ada hubungannya dengan Tita atau denganmu."
"Thomas," Nathan teringat sesuatu, tapi ketika dia menyadari bahwa dia masih ada di ruangan yang sama dengan sang istri maka dia memilih untuk keluar sebentar, "Kamu tau, kemarin Terry ada disini, dia menjenguk Tita."
"Katanya mereka berkenalan karena ketidak sengajaan, dan sekarang Terry adalah klien Mirae."
"Mirae?? bukannya itu tempat Tita bekerja?"
"Yeah, Tita memang bekerja disana. Aku benar-benar tidak nyaman dia ada di sekitar istriku. Rasanya aku ingin memintanya pindah ke kantorku saja."
"Maka kau kan hanya tinggal melakukannya?"
"Aku sudah pernah memintanya, tapi dia tidak mau."
Ha ha ha .... "Luar biasa ya Tita, hanya dia yang mampu menolakmu." Ha ha ha.
"Sial kamu. Sudahlah, coba kamu cari tau lagi tentang penyadap ponsel Kala, kamu tau kan aku khawatir kalau sampai harus membahayakan Tita lagi."
"I know, aku akan mengabari nanti."
Klik, sambungan terputus dan Nathan kembali masuk keruangan tempat sang istri menjalani pemeriksaan.
"SIapa yang menelpon?" Tita bertanya kepada Nathan.
"Oh, Thomas. Axel, bagaimana keadaan TIta-ku?" Nathan mengalihkan pembicaraan.
"Baik, kondisinya sudah pulih ... tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi.
***
Seorang laki-laki berbadan tegap dan tinggi sedang berdiri menghadap didind kaca besar yang berada di dalam ruang kerjanya. Dari sana di bisa melihat deretan gedung-gedung yang tidak lebih tinggi dari gedung miliknya. Laki-laki itu berdiri tegak dengan kedua tangan yang dilipat di dadanya, dia tersenyum manis sekali dan entah apa yang di pikirkan olehnya. Tidak mungkin kan hanya karena memandangi gedung-gedung perkantoran membuatnya bisa tersenyum manis seperti itu?
Laki-laki itu adalah Terry Muller, dan yang membuatnya tersenyum adalah karena pertemuannya dengan Tita, wanita pujaan hatinya, wanita yang membuatnya jatuh cinta. Terry merasa kelegaan ketika sudah melihat sendiri bahwa Tita sudah baik-baik saja. Dan Pertemuan dengan Tita, berbicara dan bercanda dengannya membuat Terry luar biasa bahagia.
Hari itu ketika Terry meminta meeting di lakukan di kantor Mirae, dia berharap bisa melihat pujaan hatinya. Tapi sesampainya dia disana, TIdak terlihat Tita dimana pun. Bahkan ketika meeting dimulai pun, sang pujaan hati tidak pula menampakkan batang hidungnya, kemana Tita? Maka setelah meeting hari itu selesai, Terry pun bertanya pada Putra kenapa Tita tidak terlihat. Dan betapa terkejutnya dia ketika Pak Putra mengatakan bahwa Tita mengalami kecelakaan, dia di tabrak mobil yang melaju dengan kecapatan tinggi. Terry berusaha menyembunyikan wajahnya yang khawatir meskipun sulit, tapi dengan natural Terry mencari informasi di ruamah sakit mana Tita di rawat.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, pikirannya hanya tertuju pada kondisi Tita, bagaimana kondisinya sekarang? apakah dia sudah baik-baik saja? atau apakah dia mengalami cidera yang serius? Dan karena pikiran-pikirannya itu, Terry bahkan tidak memikirkan bahwa kedatangannya ke sana bisa saja menjadi ancaman kegagalan rencana yang sudah dia susun dengan rapi bersama Anya. Karena yang dia pikirkan hanya Tita, kondisi Tita.
Terry baru tersadar dan berfikir logis ketika dia sudah hanya berjarak beberapa meter dari ruang perawatan Tita. Rasanya tidak mungkin dia dapat dengan mudah masuk ke ruangan itu, karena ada dua penjaga yang berdiri di depan pintu ruangan Tita. Namun, beruntungnya dia karena dari kejauhan tampak sekali seorang wanita paruh baya yang masih terlihat modis dan anggun. Ya, wanita itu adalah orang tua dari Nathan, yang artinya dia adalah mertua Tita. Dan sudah pasti wanita itu mau menemui menantunya, Tita. Maka dengan sedikit berakting, Terry berhasil masuk dan bertemu dengan Tita, berbincang-bincang dengannya bahkan beberapa kali mereka bercanda, hingga kesenangan Terry itu harus berakhir karena Nathan datang. Kedatangan seseorang yang sangat tidak dia harapkan membuat Terry berfikir bagaimana caranya bisa meninggalkan tempat itu sesegera mungkin.
Ah, Tita ... mengapa kita tidak bertemu lebih dulu. Aku sungguh tidak bisa melupakan kamu walau hanya sekejap. Bayangan wajahmu yang sedang tersenyum selalu menghantui aku. Tapi aku menikmatinya, aku berharap kita akan bersatu, aku akan membuat mu nyaman dengan ku, sehingga akan mudah bagiku untuk merbut kamu dari Nathan.
Nathan ... Nathan ... heh, kenapa semua yang baik seolah-olah hanya berputar di sekelilingnya saja?! Wajah yang semula tersenyum sekarang berganti tegang menahan amarah. Masih jelas dalam ingatannya bagaimana Nathan merebut mega proyek yang di incarnya. Jika Petra Coorporate ikut tender, Muller selalu dapat dikalahkan dengan mudahnya, bahkan Muller pernah sampai merugi jutaan dollar karena pada akhirnya Nathan lagi-lagi memenangkan proyek yang sejak awal perencanaan proyek itu Terry sudah berusaha ekstra untuk melobi tim tender. Itu lah yang membuat Terry sangat berambisi untuk menghancurkan Nathan.
Dan kini, dia mencintai Tita ... wanita yang menjadi istri Nathan. Bermula dari keinginan menghancurkan wanita yang menjadi istri rivalnya. Siapa yang menyangka bahwa hatinya berubah, Tita membuat Terry jatuh cinta. Bahkan dia memiliki keinginan untuk memiliki Tita seutuhnya, bukan lagi untuk menghancurkan Nathan sebenarnya ... keinginan itu lebih kepada rasa untuk memuaskan hasratnya. Tita benar-benar sudah membuatnya lupa diri, TIta sudah membuatnya bagaikan remaja yang jatuh cinta dan berbunga-bunga hanya karena melihatnya.