Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 40



Jadi begini ya rasanya di tinggal pergi, tanpa pesan, tidak ada kabar. Dan ini sudah hari ke dua dan belum ada kabar. Tita melangkah dengan gontai, mengetuk pintu kamar yang dulu tempatnya menginap. "Lou, aku masuk ya."


Dan di sahut dari dalam, "Masuk, Taaaaa. Lho, lho, lho ... kenapa tuh muka kamu? Heiiiiii ...."


"Ck ... Lou, aku ..." dan tumpah lah apa yang di pendam Tita dua hari ini, ya ... dia menangis. Seumur hidupnya, baru kali ini dia menangis karena laki-laki. Dadanya terasa sesak, dia menangis ... menangisi kepergian Nathan yang tidak pamit. Menangisi kenyataan bahwa Nathan seperti menghindar darinya.


Loudy ikut sedih melihat sahabatnya seperti ini, padahal sang kakak hanya pergi untuk bekerja dan bagi Loudy itu adalah hal yang biasa. Tapi kenapa sahabatnya jadi menyedihkan seperti ini? Seakan-akan tidak akan bertemu lagi dengan sang suami. Loudy menunggu dengan sabar hingga tangisan itu mereda. Di serahkan tisu bersih untuk Tita, "Kamu kenapa? Kakak aku menyakiti kamu?" Sambil sesenggukan Tita menggeleng, menyeka air matanya dengan tisu.


"Aku yang menyakitinya, Lou ..." hiks hiks ... menangis lagi.


"Apa... kenapa? Bagaimana kamu yang menyakiti kakak?" Loudy bertanya dengan sabar. Tita menceritakan awal kejadian Nathan marah, hingga berujung pada menghilangnya sang suami di pagi hari. "Aku sudah membuat hatinya terluka, aku tidak menjalankan peranku sebagai istri seperti yang ibu bilang. Aku merasa buruk," menangis lagi dia... "Aku tidak bisa menjaga suami aku." tumpah lagi air matanya, Loudy makin lirih mendengar tangisnya.


"Tita," di usapnya punggung sang sahabat, berusaha menenangkan. "Kak Nathan pergi ke Inggris karena bekerja, ada masalah yang harus dia selesaikan di sana,"


"Tapi dia pergi tanpa memberitahu aku, Lou, Aku mencoba menelpon ponselnya berkali-kali tapi tidak di jawab ... bahkan dia tidak menghubungi aku balik? Dia marah padaku, kan?"


"Kamu sudah coba menghubungi ke ponsel kak Brian?"


"Sudah, tapi sama saja. Dia itu kan ikut apa kata tuannya."


"Haduh ... kak Nathan itu memang sangat pecemburu. Dia aja protect sekali pada ku dan mami, apalagi sama istrinya ... orang yang dia sayangi."


Tita melihat sahabatnya, "Memang dia sayang aku?" tanyanya polos.


"Hah ....!!" Plak, di pukul tangan Tita. "Ya iya lah, kamu itu gimana sih?? Masa kamu gak bisa lihat? wah .. wah ... padahal kak Nathan sudah se-bucin itu sama kamu, ha ha , pantas saja kakak aku kesal bukan kepalang." Ha ha ha.


Dan makin deras air mata Tita, makin menyesal dia, makin sakit dadanya, makin besar rasa rindunya. Rindu?? Iya, rindu. Rasa ketika kamu ingin sekali bertemu seseorang yang berarti untuk kamu ...


"Jadi, aku harus apa, Lou?"


"Tunggu aja sampai kak Nathan, pulang Ta."


"Nathan pulang kapan?"


"Aku juga gak tahu pasti, karena katanya kakak akan pulang kalau urusan dan masalah di sana selesai."


"Berapa lama itu? Dan Nathan menghubungi kamu?"


"Eh, he he, iya ... tadi sore." ish, salah ngomong.


Tita kembali ke kamarnya, membersihkan diri dan duduk sendiri di kamar yang sepi. Wajah sembabnya sudah tidak terlalu terlihat, kemudian dia memutuskan untuk menemui sang ibu.


"Kalau ada masalah segera di selesaikan, jangan di tunda-tunda, karena akan menambah masalah baru nantinya." pesan sang ibu.


"Tapi Tita tidak tahu kapan Nathan pulang, Bu."


"Sayang, kamu itu tanggung jawab suami kamu. Begitupun sebaliknya, suami kamu adalah tanggung jawab kamu. Kebahagiaannya, kesenangannya. Jangan kamu abaikan, jika suami kamu marah, kesal, tugas kamu adalah meredakan kemarahannya dengan kasih sayang." Di belainya rambut sang anak. Ah, ibu selalu bisa menenangkan anaknya.


"Kalau Tita menyusul ke sana, bagaimana Bu?" ragu-ragu dengan idenya.


"Kenapa tidak? Ibu yakin suami kamu juga merindukan kamu, sayang."


"Tita akan pergi besok, Bu."


"Pergilah, minta maaflah pada suami kamu."


Di kamarnya Tita tidak bisa tidur, dia browsing tiket menuju London. Tapi dia belum pernah ke luar negeri sebelumnya?? Ah! Kak Kala. Di hubungi sang kakak yang memang bekerja di sana. Kalau sekarang jam 10 malam, berarti di sana sudah jam 4 sore.


"Kak ...." Tita berhasil meminta tolong sang kakak, dia tidak menceritakan masalah yang sebenarnya, dia hanya bilang merindukan sang suami maklum lah pengantin baru, he he. Kakaknya akan menjemputnya sesampainya dia di sana. Tiket pun sudah di booking. Yap! aku siap berangkat besok.


Maka pagi-pagi sekali Tita berangkat, diam-diam ... karena dia bingung bagaimana ijinnya. Biarkan sang Ibu nanti yang menjelaskan kepada mertuanya. Dia sudah mengirimkan pesan ke bos nya untuk ambil cuti, ke Mickey agar dia tidak mencari-carinya, ke Loudy, dan Nyonya Mami. Di dalam pesawat, penerbangan dia untuk yang pertama kalinya, sendiri, menuju lokasi yang dia sendiri tidak tahu seperti apa medannya, bahkan tidak pernah terbayangkan di kepalanya akan pergi ke sana. Huft ... semoga sampai bandara bisa langsung ketemu kakak.


Tita sedang memandang langit yang terbentang luas dari jendela tempat duduknya, langit mulai gelap, mungkin sudah lima belas jam dia ada di pesawat, dua jam lagi dia akan sampai. Nathan, kamu sedang apa, kamu ada dimana? Aku menyusul kamu, apa kamu tidak marah lagi pada ku? Oh, Tita mengantuk sekali ... semalaman dia tidak tidur, namun perlahan matanya pun terpejam, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.


"Tuan muda, makan dulu." Sudah kesekian kalinya Brian membujuk sang tuan muda untuk makan, namun dia tidak selera. Sampai di London Nathan uring-uringan, jangankan untuk mengatur strategi melenyapkan si koruptor ... yang ada dia hanya melihat ke layar ponselnya deretan notifikasi panggilan tak terjawab dari Tita. Ya, dia sengaja tidak mengangkat panggilan Tita karena hasutan teman-temannya. Mereka bilang, menjinakkan wanita itu susah susah gampang, kita sebagai laki-laki harus tahu timing yang tepat kapan harus menggenggam dengan erat dan kapan harus melonggarkan genggaman.


"Nathan, sudahlah ... nanti juga Tita-mu akan menghubungi kamu lagi. Santai saja..."


"Mana bisa aku santai, seharian ini dia tidak menghubungi aku."


"Dia menghubungi pun tidak kamu jawab, kan? Jadi mungkin dia malas menghubungi kamu lagi, hi hi hi ..." candaan Rega memang tidak tahu tempat.


"Aku tidak menjawab teleponnya karena siapa?"


"Iya, iya, sudah kamu makan dulu." Thomas berusaha menenangkan sang sahabat. "Kamu butuh banyak energi, kamu lupa apa tujuan kita jauh-jauh kesini?"


Nathan hanya memakan buah-buahan dan meminum susunya. Dia sungguh tidak berselera. Kerinduan yang membuncah membuatnya makin uring-uringan. Ada rasa menyesal mengikuti ajakan Brian, tapi dia juga ingin tahu apakah istrinya sudah memiliki perasaan untuknya? Kemarin, ketika melihat sang istri menghubunginya dia amat senang, bahkan seharian itu banyak notifikasi telpon dan pesan singkat dari sang istri. Tapi, kenapa hari ini sangat sepi ...