
Ponsel Tita bergetar, terpampang di layar 'sweety brotherhood' merekah senyum di wajahnya. "Iya sweety ..." kata-kata itu terucap begitu saja, kebiasaannya memang. Tanpa disadari beberapa pasang mata melihatnya penuh minat. Sejenak tersadar, Tita langsung mengungsi ke pantry agar bisa menelpon dengan lebih leluasa.
"Siapa yang menelepon?"
"Suaminya??"
"Oooh ... so sweet sekali." para wanita-wanita itu langsung berkerumun, menebak-nebak siapa yang menghubungi Zahra. Semenjak tabir itu terkuak, bahwa tuan Petra adalah suami rekan kerja mereka, tak henti-hentinya mereka membicarakan bahkan sampai berkhayal.
"Iya kak, aku dikantor ... aku baik-baik saja ... ibu juga ... kakak tidak perlu khawatir padaku, kapan kakak akan memperkenalkan kakak ipar ku? ha ha ha..." Tita asik bercengkrama dengan sang kakak di telpon, hingga otomatis dia tidak tahu bahwa seseorang juga menghubungi di waktu yang bersamaan.
"Ck ... ponselnya sibuk... masih saja sibuk." seperti ini sudah ke delapan kalinya sang tuan suami menghubungi istrinya. "Brian, siapa yang sedang menelpon istriku??" pertanyaan yang aneh.
"Maaf, saya tidak tahu tuan." apalagi yang harus dia jawab? tidak mungkin kan dia menerawang.
"Cih, ternyata ada juga yang tidak kamu tahu ya."
Diam saja, karena diam adalah emas. Brian.
"Bagaimana perjalanan bulan maduku?" Nathan mengingatkan hak itu.
"Perjalanan ke pulau M, tuan. Setelah pesta."
"Kenapa masih sibuk, sih. Siapa yang menelponnya?! Kamu bisa melacak percakapan?"
"Hah ... permintaan macam apa itu, tuan?" Brian setengah hati menanggapi kekesalan tuan mudanya.
"Minta Thomas melacaknya."
aduuuh duuuh ... cemburu akut. Belum lagi Brian menanggapi, gadis yang sedang ditunggu sang tuan sudah menjawab.
"Halo ..."
"Siapa yang menghubungi kamu begitu lama?! Kamu tahu betapa kali aku menelpon dan selalu nada sibuk!!"
Tita tentu kaget mendapati serangan seperti itu. Kenapa manusia ini telpon tiba-tiba marah-marah?
"Kamu tidak menjawab? Kamu tidak menyangka bahwa aku akan menelponmu dan mendapati telponmu sangat sibuk?!!"
"Cukup!!" Tita berteriak. "Bagaimana aku bisa jawab bahkan kamu sendiri tidak berhenti berbicara??"
Nathan tersentak, tidak menyangka akan balik dibentak sang istri. Ha ha ha ...
"Iya. Tadi aku memang sedang berbicara di telpon. Kakak ku yang menelpon, kenapa ... kamu juga akan melarang aku berbicara dengan kakak kandungku di telpon?!" Ha ha ha ... bagus Tita, sang tuan suami memang sesekali perlu di sadarkan seperti itu.
"Hm ... aku tidak bilang seperti itu." kan, mereda langsung emosinya. "Aku hanya kesal ketika aku menghubungi kamu dan ponselmu terus dalam nada sibuk."
"Memang kamu tidak bisa berbicara perlahan padaku?! Harus kamu berteriak-teriak seperti itu?!"
Brian yang menyaksikan sendiri sang singa langsung bertekuk lutut hanya karena sang kelinci marah-marah jadi tertawa sendiri, dan agar tidak ketahuan sang tuan kalau dia menertawakannya maka Brian pun keluar ruangan. Ha ha ha, kalian lucu sekali sih.
Setelah meladeni kelakuan sang tuan suami, Tita akhirnya di ijinkan mengikuti makan malam bersama tim nya. Tentu dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.
"Senang sekali kita bisa berkumpul di luar seperti ini, semoga ke depannya kita bisa mengerjakan proyek-proyek dengan lebih baik lagi ... bersulang!!!" Pak Putra membuka acara makan-makan mereka. Dan para karyawannya mengangkat gelas-gelas mereka, soda warna warni. Sangat jelas kebahagiaan di wajah-wajah mereka. Tita hanya minum jus, karena dia tidak boleh minum soda sama sekali sesuai instruksi obgyn nya, tapi tidak masalah yang terpenting dia bisa makan banyak malam ini. Matanya sudah berbinar-binar menatap sepiring lasagna di depannya.
"Cih, aku gak ileran ya." Mickey hanya tertawa,
"Tita, foto yuk." katanya lagi.
Maka Tita mendekatkan wajahnya ke Mickey dan cekrek! mereka selfie dengan senyum yang lebar. "Mau kamu kirim ke siapa?" tanya tita sambil memasukkan satu sendok lasagna ke mulutnya.
"Loudy." jawabnya. Pasti sebentar lagi dia meneleponku. hehe. Nah kan benar tebakanku. Mickey senang bukan main, gadis itu kadang memang seperti kakaknya, tidak bisa menyembunyikan kecemburuan. Yaaa .... walaupun mereka belum berpacaran, tapi sudah merasa memiliki. Maka Mickey menjauh dari tim, untuk menjawab telponnya.
"Zahra, gimana ... tuan Petra datang gak??"
Lho sejak kapan dia disini?? "Aku tidak tahu, belum dapat kabar apapun." jawabnya sambil asik memakan makanannya.
***
"Sial! Sial! Sial! ... Petra kurang ajar." Praank .. guci besar itu hancur berkeping-keping karena terkena lemparan singa batu giok yang semula bertengger cantik dimeja. Dia melihat kearah wanita yang kini wajahnya menyedihkan. "Berapa banyak kerugian yang aku tanggung! Kamu ..." katanya sambil menunjuk sang wanita, "Karena rasa percaya dirimu yang berlebihan kita kalah, kerugian ku tidak sedikit kamu tau!!!" murka, Terry murka bukan main.
"Hei, kamu pikir aku tidak rugi?? Lihat, lihat wajahku. Ini juga aset kamu tau! Psikopat Thomas yang membuatku jadi seperti ini." wanita itu, Anya, menangis.
"Sudah, tangisan kamu membuat ku sakit kepala. Aku akan membalas kerugian ku ini. Aku bersumpah. Lihat saja, tunggu pembalasan ku Nathan Petra!"
***
"Tuan, kenapa anda gelisah begitu?" Brian mengamati sang tuan muda yang beberapa kali melihat ponselnya dan menghela nafas.
"Tita marah padaku, aku boleh menjemputnya tapi tunggu dia menghubungi. Ini sudah jam berapa coba? kenapa belum telpon-telpon juga?"
"Tuan, nona kan hanya bilang agar anda menunggu telponnya kalau mau menjemput. Tapi nona kan tidak melarang anda menunggu telponnya di dekat restoran tempat nona makam bersama rekannya, kan?" woaah, luar biasa memang Brian.
"Iya benar! ha ha ha, kenapa tidak terpikirkan oleh ku sebelumnya. Oke ayo kita berangkat."
Sekretaris yang licik yaa ... cocok lah mereka berdua. Ha ha ha.
"Dari mana saja kamu?" tanya Tita ketika Mickey kembali duduk di sebelahnya. Dan hanya di jawab dengan senyuman. Mickey memakan makanannya dengan tenang.
"Baiklah ... sebelum kita akhir acara kita ini, adakah yang ingin menyumbangkan suara emasnya?"
Tita langsung menginjak kaki Mickey, ketika dilihatnya Mickey bergerak. "Aduh!! sakit, Ta. Kenapa kamu menginjak kakiku??"
"Kalau kamu mau sahabatmu yang cantik jelita tiada duanya ini selamat ... tolong, jangan suruh aku bernyanyi." Tita berbisik namun menekankan suaranya.
"Iya, iya ..." jawab Mickey. Kok dia tau sih kalau aku mau mengusulkan dia untuk bernyanyi. "Nanti pulang sama siapa, Ta?"
"Kenapa?"
"Mau aku antar?" Mickey menawarkan diri.
Aduh! lupa ... gara-gara keasikan makan aku sampai lupa mengabari Nathan. Ketika rekan-rekan yang lain sedang menikmati lantunan suara Gladis, Tita bergegas ke luar untuk menghubungi sang tuan suami. Aduuuh, dia pasti menunggu telponku, kan? Aku pakai alasan apa yaaa .... kalau aku bilang lupa, pasti marah lagi dan tidak mungkin aku bilang kalau aku keasikan makan, hiks hiks. Ketika Tita menatap layar ponselnya dan menimbang-nimbang alasan yang tepat karena telat menelpon, tiba-tiba ...
"Sayang!"