Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 136



"Brian, kemarikan ponselku." Nathan meminta ponselnya yang di pegang oleh sang sekretaris.


Brian menyerahkan ponsel itu sambil berkata, "Anda sudah bisa melacak keberadaan nona dengan mudah sekarang, tuan."


Dan dengan mata berbinar Nathan menjawab, "Benarkah??? Ha ha ha ... baiklah mari kita lihat dimana kelinci kecilku berada." Nathan fokus dengan mainan barunya.


Brian sedikit mengernyitkan keningnya, kelinci kecilku?? Huh, panggil macam apa itu. "Tuan, apartemen anda juga sudah siap di tempati, bahkan saya sudah mengisi pakaian dan kebutuhan nona juga."


"Wah! kamu memang bisa aku andalkan."


"Selalu tuan." ha ha ha ... mereka berdua tertawa.


"Brian, coba lihat ... dimana ini? Sedang apa Tita disini?" Brian mendekat, mereka berdua melihat map yang menampilkan posisi sebuah pin beserta informasi lokasi dan tempat.


"Sepertinya nona sedang makan siang diluar, tuan." tebak Brian. Karena merasakan ponsel di sakunya bergetar, Brian spontan mengeluarkan ponsel itu dan melihat nama anak buahnya tampil di layar. "Ya ... ok, kamu awasi terus jangan sampai lengah." Klik.


"Ada apa?" tanya Nathan.


Brian menghela nafasnya sesaat dan, "Nona makan siang bersama Terry, tuan." bahkan ketika tatakannya Brian hanya menunduk.


Shock! tentu saja, "Kamu yakin?" Nathan sudah mencengkeram ponsel yang sedang dipegangnya, dan Brian mengangguk. Dia terbakar cemburu, kenapa Tita tidak bilang padanya apalagi kini dia makan siang dengan laki-laki lain. Laki-laki saingan suaminya. Nathan tidak pernah tenang jika Terry ada di sekitar Tita. Dia takut Tita akan mengkhianatinya sama seperti kekasihnya yang dulu.


Nathan sudah berdiri ketika Brian menahannya, "Tuan, saya yakin nona hanya makan siang biasa. Nona tidak seperti itu, anda harus percaya dengan nona ... karena nona pasti hancur hatinya jika anda tidak mempercayainya."


wajah Nathan yang mengeras mulai mengendur kembali. Dia kembali duduk menenangkan hatinya, rasa takut dan khawatir itu memang muncul begitu saja tadi. Tapi dia juga membenarkan perkataan Brian. Ah, rasanya benar-benar dia bisa gila jika ke khawatiran itu terus menghantuinya.


"Brian, aku ingin ke apartemen."


"Baik, saya akan meminta seseorang menjemput nona."


Tok, tok, tok ...


Seseorang mengetuk pintu ruangan sang tuan, dan Brian yang membuka pintu itu. "Lisa?!"


"Saya mau melapor, tuan."


Brian mempersilahkan wanita itu masuk, dan melaporkan proyek yang akan mereka laksanakan di sebuah pulau pada belahan negara lain. Nathan menyimak dengan seksama penjelasan dari Lisa, begitupun dengan Brian. Lisa memang terlihat sangat profesional.


***


"Tita .... tidak masalahkan jika aku memanggilmu Tita dan bukan Zahra?" tanya Terry.


"Iya, tidak apa-apa. Sejak tadi juga kamu memanggilku Tita dan bukan Zahra ... kenapa baru ijinnya sekarang?" ha ha ha.


Terry jadi malu sendiri, ternyata Tita adalah orang yang enak di ajak berbicara dan tidak kaku. "Wah ... kamu benar-benar membuatku jadi malu." Ha ha ha. "Setelah ini kamu kembali ke kantor?"


"iya ... jam kerja ku belum berubah." Tita sudah terlihat merapihkan dirinya.


"Ya, ya ... Eh, temanmu waktu kita bertemu di club' itu??"


"Oh, itu Loudy ... dia teman kuliah ku. Kenapa? naksir ya..." ha ha.


Tita sempat diam sesaat, kemudian tertawa ... "Aku memang mempesona, iya kan?!" Ha ha ha.


"Woaaah ... aku tidak menyangka, si imut ini begitu luar biasa percaya dirinya."


"Apa kamu bilang??? Si imut?!! Wah ... tuan, anda mem-bully-ku ya." Tita memasang wajah cemberutnya.


"Hei ... aku tidak mem-bully ... aku hanya bilang kamu imut. Jangan baper dong." jemari Terry dengan natural menjentik dagu Tita, dan membuat dia berdebar kencang.


"Dasar! Hei ... kenapa wajahmu memerah?" Tita melihat dengan jelas perubahan wajah lawan bicaranya.


"Tidak ... Ayo kita pulang." Terry segera mengalihkan pembicaraan. Dan Tita, dia pun tidak memikirkan apa yang baru saja terjadi. Karena memang dia tidak peka dan tidak memiliki perasaan apapun.


Restoran tempat mereka makan hanya berjarak beberapa meter dari kantor Tita, jadi mereka hanya tinggal berjalan untuk sampai disana. "Aku senang bisa menghabiskan waktu dengan kamu siang ini."


Tita melihat laki-laki yang mengajak nya bicara dengan memicingkan matanya karena paparan sinar matahari. "Ternyata kamu bisa gombal juga ya."


"Hei ... aku tidak sedang gombal, aku mengatakan yang sebenarnya." Terry membela dirinya sendiri. "Jangan-jangan kamu yang sering terkena gombalan laki-laki sehingga kamu menyama ratakan semua laki-laki? iya kan??" hahaha.


"Aku baru satu kali jatuh cinta, dan itupun dengan suamiku sendiri." Tita menjulurkan lidahnya setelah mengatakan kalimat itu, mengejek kata-kata Terry sebelumnya.


Terry terdiam, kata-kata sederhana yang diucapkan Tita ... yang sengaja untuk mengejeknya, rupanya membuat Terry seperti disentil. Membuat dia mengingat bahwa wanita yang sedang bersamanya ini, wanita yang beberapa jam lalu diminta menemaninya makan siang setelah mereka selesai rapat, adalah wanita yang telah bersuami. Kebersamaannya dengan Tita yang hanya beberapa jam itu membuatnya lupa bahwa wanita itu sudah ada yang memiliki.


"Oke ... sudah sampai, terima kasih makan siangnya tuan Muller."


Tita membuyarkan lamunannya. Wanita itu masih memamerkan senyum cerianya ketika berpamitan. "See you, soon." Terry hanya melambaikan tangannya, hingga wanita itu masuk ke dalam gedung tempatnya bekerja.


"Kemana kita, tuan?" sang supir bertanya tujuan sang tuan.


"Pulang saja, aku lelah."


Selama dalam perjalanan Terry termenung, dia masih menimbang-nimbang rencana yang semula telah di disusunnya. Dan kalimat itu kembali terulang, Aku baru satu kali jatuh cinta, dan itupun dengan suamiku sendiri... Beruntung sekali Nathan, seolah semua keberuntungan selalu mengarah padanya. Dan yang membuatnya iri adalah Tita ... Zahra Ratifa, entah bagaimana kehadiran wanita itu menjadikannya tidak bisa berpaling, Tita sudah menyihirnya hingga dia berfikiran untuk merebut wanita itu dari pemilik nya. Cinta memang dapat membutakan siapa saja tanpa pilih-pilih. Jika dia menjalankan rencananya, kemungkinan sang wanita terluka pasti ada ... tapi dia sudah memperhitungkan akan pasang badan sehingga wanita itu melupakan kesedihannya. Terry yakin bisa menggantikan posisi Nathan di hati Tita. Ya ... dia tidak boleh lemah, rencana itu harus tetap di jalan kan. Dia pun sudah mengeluarkan banyak biaya untuk mempercantik Anya... dia harus tetap pada rencana mereka.


***


Tita sudah mendarat dengan sempurna di kursi kerjanya. Perutnya kenyang, dia tampak senang.


Mickey datang menghampiri dengan sedikit tergesa-gesa. Menarik kursi yang ada di sebelah Tita agar dia bisa nyampai kan kabar penting, "Titaaaa ... kenapa ponsel kamu tidak bisa di hubungi??"


Tita melihat kecemasan dalam raut wajah Mickey, "Ponsel ku?" Tita mengeluarkan ponselnya yang menyala. "Ponsel ku baik-baik saja. Kenapa?"


"Tuan Brian sampai menghubungi aku tadi, mencari kamu."


Tita segera memutar kursinya hingga dia berhadapan dengan Mickey. "Ada apa dia mencari aku?"


"Tuan Brian bertanya kamu kemana."


Deg! kak Brian??? artinya ... Nathan. Waduh ... dia kembali melihat ponselnya. "Aaaa ... signal ponsel ku tidak ada." perasaan Tita jadi tidak enak ... apa aku harus menelpon nya?