Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 112



Pagi ini Nathan sudah terlihat segar dan rapi, dia tersenyum melihat Tita yang masih terkapar di tempat tidurnya. Di dekati sang istri yang masih terlelap, di tariknya selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya, dan satu kecupan mendarat di kening kesayangannya.


"Sayang, aku pergi sebentar ... aku akan menghubungi mu nanti." Cup! "Love you sweetie."


Nathan keluar dari kamarnya, sang mami sudah menunggunya di bawah. "Sayang, apa sebaiknya kau bangunkan Tita dulu?"


"Tidak, mi ... Tita-ku kelelahan sepertinya."


Plak! "Dasar kamu, ya ..." sang mami senang dengan sisi lain Nathan yang seperti ini, menjadikan mereka bisa lebih nyaman bercerita apapun. "Tapi, kamu sudah memberi tahu Tita tentang kepergian mu ini?"


"Belum, mi. Aku tidak sempat. Tapi nanti aku akan menghubungi nya. Ah, itu Brian. Aku jalan dulu mi, titip istriku ya." Nathan pamit, mencium pipi sang mami dan pergi meninggalkan kediamannya.


"Tuan, apa tidak masalah anda pergi tanpa memberi tahu nona Tita terlebih dahulu?"


"Kalau dia bangun, aku jadi tidak bisa meninggalkannya, kan?"


"Aku sudah memerintahkan Ana untuk mengantar nona Tita pergi bekerja, tuan."


"Bagus, bulan maduku bagaimana?"


"Sudah siap tuan,"


Sayang, tunggu aku ya. Aku menyelesaikan pekerjaan ku dulu, setelah ini aku akan membawamu bulan madu. Berat bagi Nathan meninggalkan istrinya, tanpa pamit langsung. Tapi kalau dia pamit langsung, sudah bisa di pastikan bahwa dia akan berat meninggalkan Tita-nya.


"Brian, aku tidak mau lebih dari lima hari disana."


Hahaha ... tidak seperti tua Petra yang biasanya. Yaaa ... maklum deh, karena sekarang dia sudah punya istri yang selalu di rindukan.


"Iya, tuan. Setelah selesai kita akan langsung pulang." senyum terbit di wajah sang sekretaris, dia senang karena sang tuan kini lebih terlihat seperti manusia.


***


Tita terbangun dan merasakan kosong, ugh ... kemana suaminya? kamar ini terasa sepi, biasanya Tita akan terbangun karena keisengan sang tuan suami, tapi kali ini ...


Di cek ponselnya, sepi ... Apa aku telpon saja ya?


"Mami,"


"Selamat pagi, sayang."


"Mi, apa mami tau Nathan pergi?"


"Oh, sayang ... Nathan ke London, pagi-pagi buta berangkat. Dia tidak ingin membangunkan mu, karena kamu sangat lelah."


Hah ... London? dan tanpa memberitahu aku sebelumnya?? Padahal semalam kita berbicara panjang lebar. Tita memaksa kan senyumnya, "Tita berangkat dulu mi ..."


"Iya, sayang hati-hati. Ibu mu ada di taman." Tita selalu pamit pada sang ibu ketika hendak berangkat, dan itu selalu dia lakukan hingga kini.


"Ibu, aku berangkat dulu ya ..." sang ibu memeluknya erat.


"Badan kamu hangat, kamu sakit?"


"Tidak Bu, aku baik-baik saja."


Sang ibu mengecek sekali lagi, hangat ... lebih hangat dari biasanya. "Kamu tidak pusing?"


"Tidak ibuku sayang ... aku baik-baik saja. Aku berangkat dulu ya Bu. Jangan capek-capek, Bu."


"Iya, pergilah. Hati-hati di jalan."


Ketika Tita sampai halaman depan, "Nona ... saya akan mengantar anda ke tempat kerja."


"Saya di tugaskan mengantarkan nona selama tuan Petra tidak ada." katanya dengan sopan.


Huh, sepertinya hanya aku yang tidak tau kali dia pergi. "Baiklah, Ana ... tolong antar kan aku ya."


."Tidak perlu sungkan, nona Tita."


"Tita saja, aku tidak nyaman kalau kau panggil nona."


"Maaf, nona ..."


"Hanya selama kita sedang berdua?"


"Oke."


"Yess!" dan mereka berdua pun tertawa. "Ana, apa kamu tau kalau kak Brian akan pergi?"


"Iya, dia sudah bilang padaku jauh-jauh hari." Ana sesekali melirik ke arah Tita.


"Tapi Nathan tidak mengatakan apapun padaku," Tita melenguh, "Ketika aku bangun tidur, dia sudah tidak ada."


"Sesampainya disana, tuan akan langsung menghubungi anda. Dan aku memastikan agar anda mengangkat telpon tuan."


Ih, mana ada aturan seperti itu. Sudah pergi tanpa pamit, masih aja bikin aturan seenaknya. Bagaimana kalau aku yang pergi tanpa pamit seperti itu?


"Tita," Ana memanggil.


"Eh, iya ... kenapa?"


"Kamu kesal sekali ya, karena tuan Petra tidak pamit dulu padamu." ada senyum tersungging di bibir itu kala mengatakannya.


"Terlihat jelas ya??" Tita memasang wajah cemberutnya. "Iya, aku kesal. Aku katakan ini hanya sama kamu ya ... aku kesal sekali karena dia tidak mengatakan apapun, padahal ... semalam kita mengobrol panjang lebar. Seharusnya dia bisa kan bilang padaku malam itu, Tita besok aku akan pergi ke London. Coba! apa susahnya???" Tita benar-benar meluapkan kekesalannya.


Ya ampun .... pantas saja tua Petra tergila-gila dengan kamu. Bahkan sedang marah saja kamu menggemaskan begini. Ana.


"Bahkan kak Brian saja bisa memberitahu kamu jauh-jauh hari, kan?? Artinya, keberangkatan ini sudah di rencanakan, kan? Tapi kenapa aku juga tidak di beri tahu jauh-jauh hari juga?!!" dan Tita menangis. hiks hiks.


"Lho, Tita ..." Ana panik karena Tita yang tadi marah-marah tiba-tiba bisa langsung menangis seperti itu. "Kenapa menangis??" aaah ... mati aku kalau tuan Petra melihatnya.


"Aku kesal," masih sambil menangis, "Kenapa dia bisa pergi tanpa mengatakan apapun. Hanya aku yang tidak tau kalau dia pergi," hiks hiks ... "Aku jadi merasa keberadaan ku tidak penting, aku jadi merasa ... aku tidak perlu tau apa-apa saja yang ingin dan sedang dia lakukan."


Ana langsung mengambil jalur kiri, dan memberhentikan mobilnya di sebuah minimarket. "Tita ... tidak seperti itu," Ana menyerahkan beberapa lembar tissue. "Tuan Petra amat sangat perduli dan mengkhawatirkan kamu."


"Tapi dia meninggalkan aku!" ah, kenapa aku jadi secengeng ini sih.


"Aku di tugaskan khusus menemani kamu selama berada di luar rumah agar kamu tetap aman... Tuan Petra sengaja tidak memberitahu kamu sebenarnya, karena ... tuan akan berat untuk pergi karena harus meninggalkan kamu sendiri disini." Ana mengelus punggung Tita.


"Tapi nyatanya, dia tetap meninggalkan aku." ah... siapapun yang mendengar Isak tangis Tita saat ini pasti bisa merasakan kesedihan yang sedang melandanya.


"Tuan Petra berjanji, dia akan langsung pulang ketika pekerjaan disana selesai. Percayalah." kali ini Ana menggenggam tangan Tita, menyalurkan kekuatan dan ketenangan agar Tita percaya apa yang di katakannya.


Tangis Tita mulai mereda, "Ah, maaf ya Ana ... aku cengeng sekali ya..." sadar akan kelakuannya yang memalukan.


"Tidak kok, kamu menggemaskan." haha.


"Ish, kamu mengejek aku?!"


"Ha ha ha ... tidak, aku serius. Tunggu disini, aku akan membelikan minuman sebentar." Tita mengangguk, Ana keluar dari mobil dan masuk ke minimarket untuk membelikan sang nona minuman.


Hahhh ... aku tau ini hal sepele, tapi aku juga tidak tau kenapa aku bisa se-kesal ini bahkan sampai menangis. Iiih ... bikin malu saja, sebelumnya aku juga tidak pernah seperti ini. Ck! Tita berdialog sendiri, dia tau ada yang berbeda dari dirinya ... sekarang-sekarang ini emosinya cepat sekali berubah-ubah. Apa ini karena banyaknya cinta yang dia terima dari sang tuan suami? atau apa karena dia sudah terbiasa selalu bersama sang tuan suami, sehingga ketika di tinggal pergi dia jadi merasa kehilangan?