Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 36



Tita baru selesai membersihkan tubuhnya, ketika di lihatnya ada satu botol parfum milik sang suami yang jatuh ke lantai sehingga botolnya pecah. Dia bergegas mengambil tissue dan membersihkan pecahan kaca yang isi parfumnya sudah mengudara memenuhi seluruh ruangan.


"Aw!" Tita memekik.


Tap .. tap ... tap ..."Kamu kenapa!" Sreettt ... Nathan mengangkat tubuh mungil sang istri, dan mendaratkan di sofa, dibantu sang sekretaris yang tiba-tiba sudah menyerahkan kotak obat. "Kamu harus lebih hati-hati," Nathan masih tidak berhenti mengomel, sedang Tita masih belum sadar ... namun ketika terasa olehnya cairan penyembuh luka, dia baru tersadar dari lamunannya.


"Kok kamu ada disini?"


"Untung aku datang tepat waktu, kan?"


Bersamaan dengan kesadaran yang kembali, teringat juga dia akan satu hal penting. Dan mukanya memerah karena malu. Nathan melihat itu, dia melihat perubahan tiba-tiba di wajah sang istri. Pandangannya turun ke bahu polos yang sudah mengering. Blush!


"Brian, keluar!!" Hah ... Brian yang malang, padahal tadi dia yang harus lari tunggang langgang mencari keberadaan si kotak obat. Malah kini dia yang harus di usir dari ruangan. Ha ha .. nona anda lucu sekali kalau bersemu seperti itu.


Selepas Brian pergi dengan pintu yang sudah dipastikan tertutup rapat. Tinggallah dua orang yang masih berada di tempat semula dengan kecanggungan yang luar biasa. Si gadis tidak tahu bagaimana cara untuk kabur dari sofa itu dengan natural, dan si laki-laki yang masih harus berusaha untuk menahan desakan alamiah dari dalam dirinya.


Kemudian Tita berdiri, "Eng ... aku pakai baju dulu, ya."


Grep! tangannya di tahan, "Aku ingin mencium kamu. Sekarang."


Aduh, mati aku. Dengan keadaan seperti ini? Aaaaaah ... tidak mau!


"Kenapa? Aku kan suami kamu."


Bukan tidak boleh. Tapi pasti nanti bisa kebablasan. "Biar aku pakai baju dulu ya, aku kedinginan." huh. alasan yang klise.


Tak disangka Nathan melepaskan genggaman tangannya. Tidak mau membuang waktu, Tita pergi untuk berpakaian. Setelah selesai dan memantapkan hati untuk membiarkan sang suami menciumnya, dia pun keluar, namun sofa itu kosong ... di ruangan itu hanya ada dirinya. Dimana dia? Dia pasti kecewa padaku.


Tita keluar dari kamarnya, mencari keberadaan sang suami. "Cari siapa sayang?" Sang nyonya mami bertanya.


Ada rasa tidak enak ketika dalam hati Tita, dia tidak bisa menjadi istri yang baik untuk sang suami. "Cari Nathan, mi."


"Dia di ruang kerjanya," mami mengulas senyum. "Selesaikan masalah kalian, jangan biarkan berlarut-larut."


Tita menuju ruang kerja sang suami. Darimana mami tahu? Yaa, suaminya itu tidak pernah bisa menyembunyikan wajahnya yang sedang kesal. Tok tok tok ... tidak ada jawaban. Sekali lagi tok tok tok ... ceklek "Nona, silahkan." Brian yang membukakan pintu, dan meninggalkan mereka.


Wah, kenapa ruangan ini juga jadi mencekam seperti pemiliknya sih? Nathan duduk di sofa sambil meminum soda berwarna merah, rahangnya mengeras dan untungnya gelas itu tidak pecah karena di pegang nya. Tita mendekat, duduk persis di sebelah suaminya. Mengingat kembali beberapa adegan drama yang pernah dilihatnya, bagaimana cara membujuk laki-laki.


Nathan hanya diam, menunggu apa yang akan dilakukan sang istri. Awalnya dia juga tidak menyangka sang istri akan langsung turun dan menghampirinya. Sejujurnya, melihat Tita-nya disini saat ini pun dia sudah bahagia ... karena itu menunjukkan bahwa sang istri sudah mulai peduli padanya. One step closer, pikirannya. Tapi, karena dia seorang businessman, tidak mungkin dia menyia-nyiakan peluang, bukan?


Tita menggenggam tangannya, "Maafkan aku, tadi. Aku bukannya mau menolak kamu mencium ku, hanya saja ..."


"Ya, sudah ... lupakanlah." berlagak tidak peduli. Mundur selangkah untuk menang. Pikir Nathan.


"Aku tidak menolak kok kalau kamu mau cium."


Nah kan, dia terdesak. "Tapi tadi kamu menolak aku."


"Aku hanya belum siap, kalau kita melakukan hal lebih jauh dari ciuman. Kamu tahu kan alasannya?"


Argh... sebuah kenyataan yang malas sekali Nathan dengar. Menghancurkan moodnya yang sudah membaik. "Kamu mencintai laki-laki lain?"


"Tidak. Kamu pun tahu, aku hanya dekat dengan Mickey."


"Biarkan aku mengenalmu dulu."


"Maksudnya?"


Mungkin ini kesempatan bertanya tentang 'Anya' pikirnya. "Aku kan tidak tahu kehidupan kamu, dulu." Menekankan kata 'dulu'.


"Kita sudah pernah membicarakan itu, kan? Tapi baiklah kalau kamu masih mau bertanya." Apa yang ada di kepalamu, Tita.


"Hm ... Kamu pernah punya kekasih, gak?" Hah ... dia tersenyum.


"Actually ... yes."


"Iya sih, laki-laki tampan seperti kamu pasti banyak digilai para gadis-gadis."


Ha ha ha ... "Kok kamu kelihatannya kesal?"


"Jangan ge er, tuan." Tita berkilah. "Kamu pacaran waktu kuliah atau baru-baru ini?"


"Apa yang aku dapat kalau aku menceritakan kisah cintaku?"


Tita melongo, lha ... kok malah nego? "Kenapa harus ada bayaran seperti itu? Kalo kamu gak mau cerita juga tidak masalah." berdecak sebal.


"Uuuuh sayaang," Nathan mencubit pipi sang istri. Sudah lama dia ingin melakukannya. hehe.


"Ih, sakit!"


"Aku ini termasuk orang penting dan berpengaruh... Apapun yang ada di diriku ini bernilai. Apalagi kamu ingin mengetahui kehidupan percintaan ku yang tidak pernah di jadikan konsumsi publik."


What! Ada ya manusia dengan tingkat kecongkakkan luar biasa seperti ini??? "Kamu tuh sekalinya bicara banyak kok ngeselin, ya!"


Ha ha ha... umpatan yang spontan dari Tita. Nathan bahagia, bisa berbicara dengan nyaman dengan istrinya. Ya, seperti ini dulu juga cukup. Perlahan tapi pasti, aku harus membuat kita sama-sama nyaman. "Karena aku ..."


"Businessman." Tita memotong.


"Nah, kamu tahu itu." Ha ha ha.


Dasar sombong, eh, tapi memang benar sih. "Oke, aku kasih ciuman."


"Deal!!"


Dih, cepat banget jawabnya. Tita.


"Pegang janjimu, ya."


"Kapan aku ingkar janji?"


"Oke, Aku jawab pertanyaan kamu. Dengar baik-baik, aku tidak akan mengulangi jawabanku."


"Iya," Tita memposisikan dirinya, memperhatikan sang suami. Dia harus jadikan ini bahan pertimbangan, akankah dia menyerahkan dirinya, sepenuhnya untuk sang suami. Mempercayakan kehidupannya kepada sang suami. Dan menghabiskan sisa hidupnya bersama sang suami. Dia sudah meyakini dirinya, juga hatinya. Sang ibu sudah memberitahu tentang kewajiban seorang istri, terlepas dari apapun alasannya menikah. Dia juga ingin menjadi istri yang baik bagi suaminya. Dia ingin memiliki keluarga yang harmonis dan jatuh cinta pada laki-laki yang beberapa hari ini membuat jantungnya berdetak cepat. Tapi ketika tanpa sengaja dia mendengar pembicaraan 'rahasia' sang suami dan sang sekretaris. Dia tahu, dia harus meluruskan dan menetapkan hatinya lagi sebelum lebih jauh dia melangkah dan menyerahkan tubuh serta hidupnya, seutuhnya.