
"Kamu tahu, kamu menggemaskan ... selalu menggemaskan." Nathan masih di tempatnya semula, jari jemarinya berlarian kesana kemari.
"Kamu janji mau cerita," Tita menahan tangan Nathan.
"Iya ... tapi siapa suruh kamu tidak pakai baju." ha ha ...
"Ini kan ide kamu." Tita protes, jadi katanya ... Nathan mau menceritakan semuanya dengan syarat dia tidak boleh mengganti handuknya. Curang kan? padahal sendirinya berpakaian lengkap. Hahaha ....
"Dulu aku mencintai Anya," Nathan memulai ceritanya. "Aku ini laki-laki yang posesif, Tita. Jika aku sudah mencintai seseorang, tidak akan pernah ada tempat untuk wanita lain, bahkan aku lirik pun tidak. Jadi, aku juga ingin pasanganku melakukan hal yang sama, aku ingin pasanganku hanya melihatku, bukan hanya karena takut ketahuan tapi karena kesadarannya sendiri ... dengan begitu aku sebagai laki-laki jadi merasa di hargai, di sayangi ..." Nathan menatap sang istri penuh arti.
"Kamu sedang cerita kisahmu atau mendikte aku sih?"
Ha ha ha .... "Kamu tersindir ya?? ha ha ha, aduh! Aw! Sakit sayang ..." karena keisengannya maka pinggangnya kena cubit Tita.
"Makanya, serius dong. Sakit ya?" antara kesal dan kasihan.
"Kamu orang pertama yang loh yang cubit aku." meringis menahan sakit.
"Nathaaan ... cerita lagi," mulai merajuk, senjata pamungkasnya menaklukkan sang suami.
"Iya, iya ... Aku sering menemani dia, setiap hari ... seperti duniaku hanya kuliah dan dia."
"Kamu menemani dia di ... rumahnya?" Nathan mengangguk. "Berdua saja?" mengangguk lagi. "Dan kalian, sudah ... suka melakukannya juga?"
"Melakukan apa?" pancing ah ... hihi.
"Melakukan itu ..."
"Apa?"
"Ah, kamu tahu maksudku."
"Tidak. Aku mencintai dia dengan tulus, jadi aku tidak ingin merusaknya. Kenapa melihatku seperti itu? Hey .... kamu pikir aku laki-laki macam apa?"
"Yaaa ... melihat kamu yang tidak pernah lelah, wajar kan aku berpikir seperti itu?" katanya malu-malu.
"Ah, sudah ceritanya." Nathan makin mendekap sang istri, tidak tahan dia dengan kelakuan sang istri.
"Belum ... geser ah, Nathan ..."
"Sore kita sudah kembali, sayang ... ayolah ..."
"Oke satu lagi saja. Apa yang kamu rencanakan?" tidak boleh terbawa suasana Tita. Kamu harus bisa meluruskan kesalahpahaman ini.
"Baiklah ... jawaban terakhir ya. Aku akan membawanya ke kantor pusat jadi asisten Brian agar kita bisa memantau gerak dan siasat mereka, hingga dalang sebenarnya keluar sendiri. Tapi, aku akan berlaku seolah aku sudah memaafkannya, jadi dia berfikir kalau kita ... aku dan dia, bisa berhubungan lagi."
"Maksudnya, kamu mau menjadikannya kekasihmu, begitu?"
"Tidak seperti itu, sayang. Anya tahu, aku seperti apa. Aku tidak akan pernah melihat wanita lain jika aku sudah mencintai seseorang."
"Pintar." di elusnya kepala sang istri.
"Memang kamu tidak pernah melihat wanita lain selain aku?"
"Memang kamu pernah lihat aku memperhatikan wanita lain?"
"Artinya kamu mencintai aku?" katanya hati-hati.
"Setelah pengorbanan yang aku lakukan ... kamu masih ragu kalau aku mencintaimu??"
"Hah ... pengorbanan apa?" rasanya dia tidak pernah melakukan apapun yang merepotkan. Malah aku yang jauh-jauh kesini. Keluh Tita.
"Aku bukan orang yang suka menunggu, sayang. Kamu tahu itu kan ... Hanya karena kamu saja, aku mau menunggu. Iya kan?"
"Hm ... Kamu juga tidak pernah bilang kalau mencintai aku," bisiknya
"Hm ... apa? Kalau bicara yang jelas, jadi aku tahu apa yang kamu katakan."
"Iya, kamu berhasil menungguku." gengsi.
Nathan menarik Tita dengan satu tarikan sehingga posisi sang istri kini berada di atas tubuhnya. "I love you .... aku mencintaimu, sayangku." Cup ... satu kecupan mendarat manis di bibir Tita. Dan bisa di bayangkan bukan, betapa merahnya wajah Tita yang mendapat hadiah tiba-tiba dari sang suami.
Dia dengar yang aku Katakan? Tita tersenyum, manis sekali ... Nathan bisa melihat kebahagiaan dari bola mata sang istri. Berbanding terbalik pada saat tadi. Ah, ternyata dia juga mencintai aku. Dan dengan malu-malu Tita memberanikan diri membalas kecupan sang suami. Tapi sayang, perbuatannya itu di salah artikan oleh Nathan. Niat awal ingin membalas kecupan, tapi Nathan menganggap itu sebagai kode lampu hijau. Tak ayal lagi, kesenangan mereka pun mulai naik level, tanpa penolakan dari Tita tentu saja. Karena mereka sudah mencairkan kesalahpahaman diantara keduanya. Mereka sudah percaya bahwa mereka saling mencintai. Biarlah mereka menghabiskan waktu untuk memadu kasih, saling memberi kehangatan, menambah keintiman mereka, sehingga hubungan mereka menjadi kuat ketika harus mulai melewati kerikil-kerikil yang mungkin bisa memberikan sedikit luka, namun dapat mempererat cinta mereka.
Drrtt ... drrrtt ... Huft, ketiga pria itu mendapat pesan singkat dalam waktu yang bersamaan, "Jangan ganggu aku!" mereka saling pandang.
"Wow ... kalian mendapatkan pesan yang sama?" Tanya Thomas. Keduanya mengangguk. Ha ha ha, "Sepertinya dia ingin cepat-cepat memberikan kita keponakan, ya." Mereka bertiga tertawa, bersyukur atas kebahagiaan yang sedang dirasakan sahabatnya.
Saat ini mereka dalam perjalanan pulang, langit sudah sangat gelap. Tadi Tita sempat sangat terkejut karena pesawat yang dinaikinya ini sangat berbeda dari sebelumnya, fasilitas dan interiornya sangat elegan, seperti tidak berada di pesawat, tapi dia berhasil mengatasi keterkejutannya karena dia tidak mau terlihat 'kampungan' mungkin. Tapi usaha itu gagal hanya karena Nathan berbisik, 'ini pesawatku, yang artinya juga milikmu', glek! pe-sawat ... dia bilang pesawat miliknya, seperti mengatakan 'permen ini milikmu', ya ampun ... sebenarnya sekaya apa sih laki-laki ini??? Dan Nathan hanya tertawa, sungguh ... dia sangat senang bisa menggoda gadisnya.
Ketika mereka sampai di mansion, Loudy berlari dan memeluk Tita, "Aku kangen ... kenapa pergi gak bilang-bilang sih, Ta?"
"Ck, sudah, Lou, lepaskan kakak ipar mu." perintah sang kakak.
"Ih, kakak pelit banget sih. Kakak jangan memisahkan Tita dari aku, ya ... karena aku yang kenal lebih dulu." Hm, Loudy ini sulit untuk berteman karena dia sangat selektif, baginya sulit menemukan teman yang benar-benar tulus. Dan seperti sang kakak, dia juga punya sisi posesif.
"Tapi, sekarang dia istriku." tetap tidak mau mengalah.
"Kak, jangan lupa setiap manusia berhak untuk menentukan pilihannya sendiri, punya keinginan sendiri. Begitupun dengan Tita. Jadi jangan memonopoli."
"Aku tidak memonopoli, aku hanya ingin bersama dengan istriku, apa aku salah?"
"Tapi aku juga ingin menghabiskan waktu bersama sahabatku, seperti sebelum kakak merebutnya dariku."
"Aduh, kalian kenapa jadi ribut begini sih?" Tita meninggalkan kedua kakak beradik itu, dan memilih menghampiri sang nyonya mami. "Halo, nyonya mami ... Maaf ya, kemarin Tita pergi tanpa pamit." katanya.
"Iya, sayang. Keputusan yang tepat, kok. Yang penting masalah kalian selesai." sang nyonya mami benar-benar sangat pengertian. Tita jadi malu, diam-diam rupanya sang mertua sangat memperhatikan kondisi anak dan menantunya.