Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 114



"Hai, Mike. Sudah lama menunggu?? maaf ya, tadi dosenku memberikan tugas tambahan."


"Tidak apa-apa, santai saja."


Yup, Mike janji akan menjemput Loudy sore ini. Mereka sudah sering bertemu berdua seperti ini, dengan atau tanpa Tita.


"Mau makan dulu atau langsung pulang, Lou?"


"Kita beli hotdog aja yuk, sekalian belikan untuk Tita ... Dia pasti kesepian karena kak Nathan sedang di London sekarang."


"Oh, tuan Petra sedang dinas luar?" pantas saja seharian ini Tita begitu tidak bersemangat. Mike sesekali melirik gadis yang duduk santai di sebelahnya, entah sejak kapan gadis ini menjadi begitu menarik perhatiannya. Rasanya sangat nyaman ketika berada di dekatnya.


Sementara itu, Tita sedang berada di mobil dalam perjalanan pulang bersama Ana. Bukannya tuan Petra sudah menghubungi nona tadi? tapi kenapa nona masih bersedih seperti itu? Ana ingin sekali bertanya tapi dia tidak bisa, dia menahan pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalanya.


"Ana, aku rasa ada yang salah denganku."


"Kenapa?"


"Tadi pagi aku kesal sampai menangis gara-gara Nathan yang tidak mengatakan apapun sebelum pergi, bahkan dia belum menghubungi ku. Tapi tadi, ketika dia menghubungiku ... aku malah menangis dan tidak mengatakan apapun."


"Itu artinya anda merindukan tuan Petra."


Rindu?? aku bahkan kesal sekali tadi. Tapi ... mungkin aku kesal karena merindukan nya.


"Nona, kita sudah sampai."


"Ah, iya ... aku melamun. Ana, masuk dulu ya makan dulu sebelum pulang. Aku tidak akan kemana-mana setelah ini, kok."


"Maaf saya lupa bilang Tita, selama tuan Petra pergi ... saya tinggal di rumah belakang, bersebelahan dengan ibu anda." katanya hati-hati, takut menyinggung sang nona.


"Oh ya??" Tita senang mendengarnya. Ah, nanti malam aku mau tidur dengan ibu saja. "Yuk, masuk." Ketika dia membuka pintu alangkah terkejutnya Tita, bagaimana tidak? diruangan hampir di penuhi bunga. Ya, bunga-bunga.


"Sayang, kamu sudah pulang?" sang ibu yang memang sedang menata bunga-bunga itu mendapati sang putri yang masih bingung dengan kehadiran bunga-bunga ini.


"Ibu ... apa mau ada acara disini?" tanya Tita.


"Tidak ada acara apapun, sayang." sang ibu mengelus rambut Tita.


"Lalu ... bunga-bunga ini?? Ini banyak sekali, apa nyonya mami sengaja memetik bunga-bunga nya?"


"Bukan, mami tidak mungkin melakukan hal konyol seperti itu, Tita." hehe, orang yang di bicarakan tiba-tiba muncul.


Tita melihat ke arah datangnya suara, sang nyonya mami ikut bergabung dengannya di ruang tamu. "Lalu, untuk apa bunga sebanyak ini, mi?" masih dengan kebingungan nya. Pasalnya bunga itu banyak sekali, Tita bahkan sampai bisa mencium keharuman yang keluar dari bunga-bunga itu.


Sang nyonya mami mengambil satu buket bunga yang jenisnya berbeda dengan yang lain, menyerahkan bunga tulip itu untuk Tita. Ah, ternyata ada suratnya. Maka Tita membaca setiap kata yang tertulis disana dalam diam, tiba-tiba saja air matanya mengalir. Tepat pada saat itu, ponselnya berdering tidak perlu waktu lama bagi Tita untuk mengangkat panggilan itu.


"Sayang," suara manly yang dia rindukan. "Kau sudah melihat kiriman bungaku?"


"Maafkan aku, jangan marah padaku, aku mencintaimu. Bunga-bunga itu mewakili permintaan maaf ku, sayang."


Siapa juga yang tidak tersentuh mendapatkan perlakuan semanis ini. Apalagi Tita, si penyuka drama romantis, haha. "Tapi tidak perlu sebanyak ini. Mau di apakan semua bunga ini??"


"Aku hanya membelinya untuk kamu, jadi kamu akan selalu mengingat ku ketika melihat bunga-bunga itu." Nathan merasa pipinya memerah, baru kali ini dia melakukan hal sekonyol itu ... tapi dia senang. "Maafkan aku ya sayang." katanya lagi.


Tita menghela nafasnya pelan, hatinya menghangat. Dia tau dia tidak boleh egois, suaminya pergi karena urusan pekerjaan dan itu adalah tanggung jawab yang besar. "Iya, aku maafkan."


"Benar??? ah, aku ingin memelukmu .... tapi Brian mengawasi ku jadi aku tidak bisa kabur dari sini."


Ha ha ha, celoteh sang tuan suami berhasil mengundang tawa Tita. "Kamu jadi seperti gadis yang sedang di pingit."


"Aku bahkan sudah ingin pulang sejak tadi siang. Ketika kamu menangis di kantormu."


Tita terdiam, ya ... dia memang salah, membuat laki-laki ini panik disana, "Aku baik-baik saja sekarang, kamu fokus saja dengan pekerjaan mu disana, dan cepat pulang ya." Tita mengatakan kalimat terakhir itu dengan malu-malu.


"Sayang, aku membayangkan kamu yang sedang malu-malu ... ah, aku sudah tau memang seharusnya aku membawamu ke sini." ada nada kekesalan saat Nathan mengatakan nya.


"Aku kan juga harus kerja, sayang." Tita tidak bisa menahan senyumnya, suaminya itu memang kadang suka kekanakan.


"Ya ampuuun, kenapa banyak bunga mi??" Loudy yang baru saja datang terkejut bukan main. Seumur hidupnya, baru kali ini dia melihat bunga sebanyak ini di sebuah ruangan selain di acara lamaran atau pernikahan. "Mau ada acara mi? kok aku gak tau?" Loudy mendekati salah satu bunga dan menghirup wanginya. Harum sekali.


"Kelakuan kakak kamu, tuh." jawab mami, sedangkan sang besan hanya tertawa kecil disampingnya.


"Kak Nathan?? kok bisa, dia kan ada di London?"


"Tita sepertinya kesal karena tuan muda pergi tanpa mengatakan apapun padanya, jadi sebagai permintaan maaf dia mengirimkan bunga-bunga ini." jelas ibunya Tita.


Loudy yang mendengar hal itu malah di buat terkejut, kakaknya ... Nathan? tidak mungkin! "Serius mi, kak Nathan yang melakukan ini??" tanyanya kemudian mencari kebenaran. Dan ketika di lihatnya sang mami yang mengangguk, dia makin melebarkan matanya. Waah .. sejak kapan sang kakak yang kaku seperti kanebo kering itu paham hal-hal seperti ini?? Aaah ... aku juga mau diperlakukan romantis begini.


"Tita, ckckck ... aku tidak menyangka kakak ku yang seperti kanebo kering itu bisa melakukan hal bodoh tapi romantis begini."


Plak! sang mami memukul lengan Loudy, "Apa yang kamu katakan tentang kakak mu?" sang mami tidak terima putra kesayangannya di katakan kanebo kering.


"Ih, mami ... tapi kan memang begitu mi. Mami tau sendiri seperti apa kak Nathan dulu." Loudy beralasan membela diri.


Tita tersenyum manis sekali, serasa kekesalannya sejak pagi luntur begitu saja. Hatinya terasa hangat, pipinya bersemu merah... sang tuan suami benar-benar tau bagaimana cara meminta maaf sekaligus menunjukkan rasa sayangnya kepada sang istri.


***


"Tuan, bagaimana ... apakah nona Tita menerima pemberian anda?" Brian menyajikan sepiring buah-buahan untuk Nathan.


"Iya," Nathan memakan sepotong semangka. "Ide kamu itu memang luar biasa. Ah, Brian ... aku ingin cepat-cepat pulang dan memeluk Tita-ku."


Jangan mulai lagi, please. Brian.