Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 128



Setelah berlama-rama di rumah sakit, tiba saatnya Tita kembali ke rumahnya. Di temani sang suami dan tentu saja Brian, Tita membelah jalan raya menuju rumahnya.


"Aku rindu sekali orang-orang di rumah." jujurnya.


"Kamu tidak merindukan aku?"


"Kita kan bertemu setiap hari?" sadar akan kesalahan dalam kata-katanya TIta pun segera meralat sebelum sang tuan suami merajuk.


"Kamu menemani ku setiap hari di rumah sakit, bahkan sampai membawa pekerjaanmu kesana karena mengkhawatirkan aku, aku sangat bahagia." sebagai tambahan TIta memeluk Nathan.


Dan yang di peluk tentu saja senang. "oh iya, mulai besok Ana akan selalu bersamamu. aku tidak mau kejadian mengerikan kemarin terulang lagi. Dan tidak ada protes!"


"Tapi sayang,"


"Aku bilang tidak ada protes."


"Baiklah." ada keterpaksaan ketika Tita mengatakannya, sehingga reflek dia melepaskan pelukannya.


"Kamu tidak senang?"


"Hm, senang."


"Lalu mengapa kamu lepas pelukan mu?"


Hah?? Apa-apaan sih. Tapi di ulurkan lagi tangannya dan di peluk lagi suaminya.


"Titaaaaaa ......" Loudy belari menghampiri sang sahabat dan memeluknya erat. "Aku merindukanmu, sangat."


"Iya aku juga." Tita ingat, setelah dia sadar Loudy hanya satu kali datang menjenguknya. Ah, nanti saja aku tanyakan sebabnya.


"Sayang," sang ibu pun ikut menyambutnya dan memeluknya, bahkan menciumi anaknya. "Ibu senang sekali kamu sudah pulang ... putriku sayang." sang ibu menghujaninya dengan ciuman-ciuman.


"Sini sayang, duduk disini," pinta sang nyonya mami. Tita menurut dia duduk persis di sebelah sang mertua. "Sepertinya berat badanmu turun banyak, ya?"


"Ha ha ha, mami ... Tita sudah makan banyak lho."


"Apa suamimu itu tetap minta jatah disana?" ke-kepo-an sang nyonya mami benar-benar tidak ada obat. Tentu saja pertanyaan spontan itu membuat yang di tanya shock namun memancing gelak tawa yang lain.


Sedangkan Nathan? seperti biasa dia hanya menanggapinya dengan santai, hanya senyuman sedikit yang dia pamerkan.


"Beneran, Ta?? Kak Nathan tetap minta jatah meskipun sedang di rumah sakit??" Nah, ini lagi .. sebelas dua belas dengan maminya.


"Hei, anak kecil. Pertanyaan macam apa itu?!" Loudy langsung terdiam mendapat teguran dari sang kakak.


"Oh iya, mami ... ada yang mau aku bicarakan."


"Apa?"


"Hm, nanti saja deh. Aku lelah sekali, mau istirahat dulu. Ayo, sayang." Nathan menggandeng Tita, meninggalkan sang mami, ibu mertua, Loudy dan Brian.


"Brian, apa yang di rencanakan Nathan?"


"Maaf nyonya ... sebaiknya biar tuan muda saja yang mengatakannya. Saya pulang dulu, nyonya." pamit Brian.


Ada apa sih, bikin penasaran saja. Mami.


"Sayang, sini ... tidur di sini." ajak Nathan. Kini mereka sudah selesai membersihkan diri, sudah berganti pakaian.


"Nathan ... kenapa bersikap seperti itu tadi."


"Seperti apa?"


"Membuat mami penasaran ..."


"Biarkan saja. Lagi pula, seharusnya kamu berfikir bagaimana cara membalas kebaikanku tadi."


Tita mengernyitkan keningnya, "Kebaikan apa?"


Nathan menarik Tita dalam satu tarikan, membuat Tita jatuh di pelukannya, "Aku kan sudah membelamu tadi."


Hah ... membela apa sih? Tita masih berfikir sedangkan sang tuan suami senyum-senyum sendiri ... masa sih karena?? Tapi melihat raut wajah sang tuan suami yang tersenyum cerah membuat Tita yakin apa yang di pikirkan nya adalah benar. Dasar, apakah dia tidak tau kalau itu tidak membantu sama sekali. Ck!


"Sudah, sudah ... jangan cemberut begitu. Aku tau apa yang ada di kepalamu." Ha ha ha.


"Memang ... apa sih yang mau kamu katakan?"


"Tidak ada, aku hanya ingin membalas saja."


"Bohong."


"Tidak." Dengan cepat Tita menggelitik pinggang Nathan, hingga sang tuan suami kegelian. "Katakan cepat."


"Aduh ... duh, sayang ... iya, iya .... lepaskan dulu."


"Katakan sekarang,"


"Iya, aku mau bilang ke mami ... kita mau tinggal sendiri."


Hening ...


"Sudahlah sayang, jangan terlalu di pikirkan kalau kamu tidak mau tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksamu."


"Benar?!"


"Kamu memang tidak mau tinggal berdua saja denganku ya?"


Eh, duh ... salah. "Bukan begitu." dengan cepat Tita memikirkan kata-kata yang bisa menyenangkan sang tuan suami. "Aku senang bisa tinggal dekat dengan ibuku, karena sebelumnya kita tinggal terpisah. Tapi kalau kamu menginginkan kita memiliki quality time berdua, aku kan bisa ke kantormu atau kita bisa sesekali menginap ke apartemen mu." Tita tersenyum puas, yess ... jawaban yang sempurna.


"Janji ya ... jangan ingkar."


"Iya ... aku janji."


"Oke ... sekarang, karena kita sudah kembali ke kamar kita ... berarti aku bisa melakukannya, kan??"


Apa katanya??? dia berkata seperti itu, seolah-olah tidak melakukan apapun sewaktu di rumah sakit?!!


Tapi tentu saja hal itu tidak di katakan secara langsung oleh Tita, dia tidak mau merusak suasana hati Nathan. Karena salah ucap sedikit bisa-bisa malah dihukum oleh sang tuan suami nantinya.


Hehehe...


***


Pagi-pagi buta Tita sudah merapikan dirinya, meskipun dia belum mendapat ijin masuk kerja tapi dia juga lelah jika berbaring terus. Nathan masih bergelut dengan selimutnya, mungkin dia lelah karena semalam Tita benar-benar di perlakukan seperti ratu dengan kata lain ... dia hanya menerima, ha ha ha.


Merasa bosan di kamar, Tita melangkah keluar. Ah, ke kamar Loudy saja. Dan disinilah dia, si pemilik kamar masih tidur rupanya. Tita mendekati Loudy yang masih terlelap, mengusiknya dengan berbagai cara.


"Umm... siapa sih??" suara Loudy yang bangun tidur.


"Bangun! Cepat bangun!" Tita menarik selimut yang menutupi tubuh sahabatnya.


"Aaah ... Tita. Aku masih ngantuk," Loudy mengerjapkan matanya ... "Lho, kok kamu disini??"


"Makanya bangun ..."


Loudy duduk, dan berlalu menuju kamar mandinya. Setelah segar barulah dia yakin bahwa dia tidak sedang bermimpi, Tita masih disana ... duduk santai di atas tempat tidurnya.


"Ta ... nanti kamu gak di cari kak Nathan?"


"Kakak kamu masih tidur."


"Oh,"


"Oh?? Hei, aku sebenarnya sudah merasakan hal tidak enak ini tapi aku tahan untuk tidak bertanya karena aku takut salah. Tapi sekarang aku makin penasaran." Tita memperhatikan Loudy dengan intens. "Lou, kami marah padaku ya?" wah ... Tita memang tidak bisa berbasa-basi.


Dan tanggapan Loudy? dia diam saja, membuat Tita makin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Loudy.


"Katakan padaku sekarang. Ayo lah, selagi kakak mu masih tidur. Kita selesaikan sekarang."


"Apa yang mau kau dengar?"


"Apa yang membuatmu marah padaku?"


Loudy membuang mukanya. Dia juga malu mengatakannya, dan tidak siap juga.


"Kok malah diam saja? Apa salahku Lou? Kalau kamu diam aku mana bisa tau apa kesalahan ku."


"Kamu tidak salah, Ta. Aku hanya ..." Loudy menghela nafas. "Aku hanya cemburu." Loudy mengatakan dalam satu tarikan nafas. Plong ... dia lega juga akhirnya.


"Cemburu? kamu cemburu karena kakakmu menemani ku di rumah sakit?"


"Hah?? bukan!! Bukan karena kak Nathan." Loudy dengan tegas mengatakannya.


"Lho ... lalu kalau bukan karena Nathan ..." Tita jadi bingung sendiri, karena laki-laki yang dekat dengannya kan hanya suaminya.


Tersadar akan sesuatu Tita membelalakkan matanya, dia menatap Loudy tak percaya. Sedetik kemudian Tita tertawa, kencang sekali ... seakan berkata, aku tau kartumu sekarang. Ha ha ha ...