
"Tita." Loudy menghampiri Tita yang akan menaiki tangga. "Kamu dari mana?"
"Dari kamar ibuku, kenapa?"
"Kak Nathan dimana?"
"Tadi sih bersama teman-temannya."
"Cool! ke kamarku yuk." Loudy menarik Tita, dan yang ditarik senang-senang saja ... toh suaminya sedang bersama teman-temannya. Serasa kembali ke masa-masa dimana dunia hanya milik mereka.
"Nonton apa kita?" Tita bersemangat, karena Loudy selalu punya stok drama-drama roman picisan dengan tokoh-tokoh yang eyecatching ...
"Ini aja ..." Loudy membuka folder yang terdapat deretan film-film, di klik dua kali salah satu film yang ada di sana. Dan dua wanita itu tersenyum-senyum mana kala film itu mulai berputar.
"Yak .... ganteng bangeeet gak sih, Ta." Tita tidak berkomentar, dia tetap setia dengan senyumannya. Drama yang mereka tonton mengisahkan tentang seorang gadis yang tidak percaya diri dengan penampilannya, sehingga melakukan operasi plastik karena lelah di bully. Penampilan barunya membuatnya cantik dan lebih percaya diri, dia tidak mau lagi mengingat-ingat masa lalunya, dia ingin membuka lembaran baru hidupnya. Tapi siapa sangka dia harus bertemu lagi dengan laki-laki super tampan dari masa lalunya, teman sekolahnya ...
"Aku gak pernah bosan menatapnya, Lou ... hehehe."
"Hush! jangan baper ... suami kamu itu sudah kurang tampan apa lagi coba."
"Ih ... itu kan kakak kamu, wle?!" tita menjulurkan lidahnya.
"Ha ha ha ... tapi tenang saja, aku bukan pengadu, mari kita nikmati ketampanannya." Loudy mengusap-usap rambut sahabatnya. Kebiasaan mereka adalah menonton sambil membenamkan tubuh mereka ke dalam selimut, biar lebih fokus ceritanya. Hanya suara-suara berbisik yang terdengar dari luar selimut. Pekikan-pekikan gemas terlontar begitu saja manakala adegannya mengandung kebaperan. Hingga tanpa mereka sadari ada orang yang secara tiba-tiba menarik selimut yang menutupi mereka, membuat mereka kaget bukan kepalang apalagi ketika mengetahui siapa orang yang telah berani mengusik kesenangan mereka.
"Aaaah ... kakaaak ..."
"Apa yang sedang kalian tonton?!" Nathan yang menangkap gelagat dua gadis yang gelagapan makin curiga, maka dengan cepat dia mengambil laptop yang masih memutar film itu. Huh, dilihatnya sang istri yang nampak kikuk itu. "Sayang ... apa menurutmu aku kurang tampan?"
Tita hanya diam menggigit bibirnya. Mampus aku, karena kaget tadi tanpa sengaja aku malah mem-pause-nya, dan kenapa pas sekali berhenti di wajah laki-laki tampan dan imut itu.
"Oh ... atau kamu memang lebih suka yang seperti perempuan begitu?!!"
"Tidak ... aku hanya menonton, sambil menunggumu." tentu saja Tita hanya beralasan.
"Matikan laptopku dan tidur!"
"Iya, iya, kak ..."
Nathan menarik tangan istrinya dan keluar, Tita sempat melambaikan tangan ke arah Loudy. Mereka masuk ke kamar, Nathan langsung naik ke atas tempat tidur begitu pun dengan Tita.
"Kenapa tidak ganti baju?" tanya Nathan.
"Oh, tidak perlu ... bajuku ini baru aku pakai."
"Ganti." Tita diam. "Kamu mau aku yang menggantikan bajumu?"
Tanpa menunggu lagi Tita berlari untuk mengganti bajunya.
"Nah, begitu kan enak dilihatnya."
Enak dilihat kepalamu! Tita.
"Kemari lah, kenapa kamu jauh begitu?"
"Jadi ... apa yang akan kamu lakukan?"
"Hah? apa?"
Nathan mengernyitkan keningnya, "Tadi di taman kamu berbisik padaku, kan?" Nathan menggulung-gulung rambut Tita dengan jarinya.
Ah, aku bahkan lupa kalau bicara seperti itu. Tita. "Apa kamu tidak mengantuk?"
"Tidak, aku menunggu kamu berinisiatif seperti tadi."
Tita tahu apa yang harus dia lakukan, dia sudah memikirkannya tadi. Hitung-hitung membayar kesalahannya, lagi pula dia melakukannya dengan sang suami. Tapi, dia juga masih malu. Maka dengan mengumpulkan keberanian Tita duduk di atas sang tuan suami, tapi masih menunduk karena tidak berani menatap langsung sang suami. Jantungnya yang berdegup kencang membuat telapak tangannya berkeringat.
Nathan yang melihat Tita gugup seperti itu langsung gemas, malah dia yang tidak tahan untuk tidak langsung menyentuh istrinya. "Kenapa kamu menunduk terus?" Nathan memajukan tubuhnya yang semula bersandar, membuat mereka benar-benar saling berhadapan.
"Aku ... aku malu." siapa juga yang tidak menjadi salah tingkah, bahkan sekarang nafas Nathan bisa dia rasakan di wajahnya.
Nathan memegang pinggang Tita, membuat sang empunya menegang. "Sejujurnya, aku sangat kecewa dengan apa yang kamu lakukan." Nathan mengatakannya dengan jujur. "Tapi, apa boleh buat karena itu semua sudah terjadi." Tita makin menundukkan wajahnya. "Kita bisa terus berusaha membuatnya sambil kamu melakukan pengobatan, kan?"
Duh, kata-katanya ambigu sekali. Tapi Tita mengangguk saja. Dia juga tidak keberatan jika harus mengandung anak Nathan. Tita tidak akan ragu lagi, dia akan berusaha menormalkan hormonnya. Baiklah, dia harus berani ... anggap saja ini adalah usahanya dalam mencicil hutang. Tita menelan ludahnya sekali karena gugup. Diangkatnya kedua tangannya, di lingkarkan tangannya ke leher Nathan, sungguh ... hanya melakukan hal itu saja sudah menguras energi yang dimiliki Tita, ha ha ha. Terlihat kan kalau selama ini dia lebih banyak menerima. Ha ha ha.
Dan sang tuan suami itu, entah mengapa kali ini bukan main sabarnya. Dia sabar menunggu apapun yang akan dilakukan istrinya. Rupanya kali ini Nathan benar-benar berhasil mengelola emosinya dengan sangat baik, dia terlihat sangat rileks, hanya tersenyum penuh arti memandangi bidadari yang kikuk dihadapannya. Tak peduli seberapa dinginya suhu ruangan itu, tapi peluh seakan tak malu-malu menampakkan wujudnya di kening dan di atas bibir Tita.
"Ehm, Nath ... emm ... apa lagi yang harus ku lakukan?" pernahkan kalian menanyakan pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu kamu tanyakan, hanya untuk mengusir rasa gugup? Nah ... seperti itulah kira-kira kondisi Tita.
"Just do what you want to do."
Huft ... jawabnya sangat tidak membantu. Maka Tita memajukan lagi wajahnya. Mengecup lembut bibir suaminya, dan entah bagaimana prosesnya Tita sudah terkurung dibawah sang suami. "Kamu terlalu lama ... aku sudah tidak bisa bersabar lebih lama lagi..." Bahkan kali itu rasanya Tita tidak tahu bagaimana Nathan bisa bergerak secepat itu. Tapi dia juga tidak menolak, dan mulai belajar bagaimana suaminya membuatnya senang. Karena dia juga ingin bisa menyenangkan laki-laki yang dicintainya ini, suatu hari nanti.
Kini Tita meletakkan kepalanya diatas lengan Nathan, ugh ... lelah sekali rasanya, badannya sakit. Tapi dia mendapatkan kenyamanan dalam dekapan sang tuan suami.
"Sayang ..."
"Iya,"
"Bisakah kamu membiasakan untuk tidak hanya memanggil namaku?" mulai deh merajuk.
"Jadi aku harus panggil apa?" iseng bertanya, padahal sudah tau maksudnya.
"Panggil aku 'sayang', seperti aku memanggilmu."
"Kadang kamu juga panggil aku 'hei', 'Tita', iya kan?"
"Aku tidak akan memanggil dengan kata-kata itu lagi. Dimanapun dan kapanpun. Aku janji. Oke?"
"Iya, baiklah, sayaaaang." Oh ... terkutuk Tita, rupanya sudah ketularan menjadi perayu.
"Woow ... mendengar kamu memanggil saya g, aku jadi lebih bersemangat, sayang." Nathan memutar tubuhnya, menahan beratnya dengan kedua lengannya yang kokoh. "Aku tidak akan sungkan-sungkan, sayang."
Tita hanya bisa membelalakkan matanya, hei ... kapan pernah kamu sungkan-sungkan untuk urusan yang satu ini?? Hiks ... aku harus lebih hati-hati, lain kali.
Oke ... baiklah, silahkan menikmati waktu kalian yaaaa ... ha ha ha.