Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 32



"Ehm ... Aku lelah sekali hari ini, jadi kita lanjutkan besok saja. Aku tidak akan melakukan apapun tanpa persetujuan darimu." Nathan memposisikan dirinya, bersiap untuk tidur membelakangi Tita. Dan ketika dirasa sang tuan suami sudah tertidur, Tita merebahkan badannya yang juga sudah lelah dengan nyaman membelakangi suaminya. Tidak butuh waktu lama untuk dia tertidur.


Nathan berbalik, menatap punggung istrinya, merapatkan tubuhnya, mengangkat sedikit kepala sang istri dan menjadikan lengannya sebagai bantal. "Aku tidak akan memaksamu, tapi sebagai gantinya jangan paksa aku untuk tidak memelukmu."


Tita terbangun dalam keadaan yang bahaya, menurutnya. Bagaimana tidak? bukan Nathan yang memeluknya, melainkan dia yang memeluk suaminya. Bahkan kaki kirinya berada di atas pinggang sang suami. Apa aku menganggapnya guling? Ya, pasti seperti itu. Tapi, masa aku bisa tidak sadar, sih? Ditengah kebingungannya, ada wajah tanpa dosa dengan senyum kemenangan. Siapa lagi kalau bukan sang tuan suami, yang dengan liciknya merubah posisi seolah dia adalah korban, ckckck.


"Sudah, tidak usah dipikirkan lagi. Toh aku juga tidak keberatan jika kamu suka memeluk aku." kilahnya.


"Maaf, maafkan aku." Ish, siapa juga yang suka memeluk kamu. Ayolah, tubuhku ... kamu milik aku. Jadi jangan bergerak diluar batas.


"Sudahlah, aku bilang kan tidak apa-apa. Nah, apa yang ingin kau bicarakan semalam?" Salah satu trik dalam berbisnis adalah, jangan biarkan lawan terlalu fokus karena akan memudahkan dia menemukan kelemahan kita. Jadi, alihkan pikirannya sesegera mungkin. Ha ha ha.


"Oh, itu tentang kewajiban ku sebagai istri..."


"Kenapa?"


Ah, intonasi suaranya berubah, ish... aku takut. Sepertinya aku salah bicara. "Um ... itu, aku belum siap melayani kamu di ranjang ... kamu mengerti, kan?" Tita mengumpulkan semua keberanian yang dia miliki.


Sang tuan muda menghela nafas, "Berikan aku alasan yang bagus. Kenapa aku harus memenuhi permintaan konyolmu itu."


"Aku ... Sulit bagiku untuk melakukan itu tanpa ada rasa cinta." Sudah kepalang. Pikir Tita. "Aku harap kamu mengerti,"


"Berapa lama?"


"Hah? Apa?"


"Berapa lama, aku harus menunggu?"


"Sampai aku, jatuh cinta padamu."


"Bagaimana aku bisa tahu kalau kamu sudah jatuh cinta padaku?"


Kali ini, Tita berani untuk menatap sang suami, "Karena aku yang akan menyerahkan diriku tanpa kamu minta."


"Huh. Kamu yakin?"


"Iya. Aku belum pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya. Jadi, tolong biarkan aku merasakan jatuh cinta dulu?"


Kenapa sih gadis ini? Sulit sekali jalan fikirkannya. "Baiklah, tapi aku punya persyaratan."


"Persyaratan seperti apa?"


"Karena kamu sudah jadi istriku disaksikan keluarga dan para kolegaku, jadi aku tidak ingin kamu dekat-dekat dengan laki-laki lain. Kamu harus menjaga nama baikku. Dan aku ingin kita tetap terlihat harmonis terutama dihadapan orang tua kita. Aku tidak suka penolakan, tapi kamu pengecualian, kali ini aku kabulkan. Tapi aku juga punya batas kesabaran, jadi jangan pernah kamu mempermainkan perasaanku. Kamu mengerti?!"


"Maksudnya, tidak boleh dekat dengan laki-laki itu bagaimana, ya? Mickey, sahabat aku laki-laki, teman-teman kantor aku juga ada laki-laki?"


"Aku tidak ingin orang lain berpikir kamu selingkuh dari aku karena melihat kamu dekat dengan laki-laki lain."


"Baiklah. Ah, satu lagi. aku ingin menghadiri acara wisuda dan perpisahan angkatan ku Minggu depan."


"Wah, kamu ngelunjak ya!"


"Kalau aku bilang jangan pergi?"


"Kenapa?" Tita menatap Nathan penuh harap.


"Aku tidak masalah dengan wisudanya, tapi aku tidak suka acara perpisahan mu itu."


Tok.. tok.. tok.. Nathan beranjak membuka pintu, Brian dengan pakaian kasualnya sudah berdiri di depan pintu pengantin baru. "Sarapan Anda, Tuan."


Nathan membuka pintu lebih lebar, masuklah dua pelayan membawakan sarapan mereka. Brian hanya melirik ke arah Tita yang masih setia di posisinya. Sepertinya belum berhasil. Pikirnya.


Nathan menghela napas pelan, dia teringat wejangan sang adik kemarin, 'Tita itu sebenarnya anak yang sangat suka dimanja, jadi kalau kau dia menurut turunkan ego kakak'. Huft, dasar anak kecil. Tapi dibawakan juga sarapan itu kehadapan sang istri. "Ayo kita sarapan dulu, kalau kamu ingin benar-benar pergi coba bujuk aku lain waktu, oke?"


Seperti mendapatkan angin segar, Tita melihat laki-laki disebelahnya dan tersenyum. Aku tidak tahu bagaimana sifat aslimu, tapi sepertinya kamu orang yang baik. Mereka berdua makan dengan tenang di sofa sambil menonton TV.


"Kamu tidak ingin tahu tentang aku?"


"Tentang apa?"


"Apa saja, tanya saja akan aku jawab. Aku sudah mengenal kamu tapi aku yakin kamu belum tahu tentang aku."


Hah... orang ini bisa baca pikiran kah? "Hmm, baiklah. Apa yang kamu suka?"


Nathan membenarkan posisi duduknya, mengahadap istrinya. "Kalau dulu, aku suka mengembangkan perusahaan ku, tapi sekarang sepertinya aku lebih suka mencium kamu." Dia mencondongkan badannya sehingga sang istri otomatis mundur hingga punggungnya menyentuh sandaran sofa. Tita hanya memejamkan matanya, mencoba menerima statusnya kini namun belum membalas ciuman-ciuman sang suami. Wanginya memabukkan, Nathan lose control, dia turun ke leher sang istri ... menyecap disana tanpa meninggalkan tanda, ketika dia akan lebih turun lagi Tita menahannya, "Nath, jangan ... please?"


Seperti tersadar, Nathan menarik tubuhnya. "Apa aku menyakitimu?"


"Tidak ... tidak, maaf." Tita menunduk, sejujurnya dia juga merasakan hal aneh ketika tadi Nathan mencumbunya, tapi rasanya panas dan dia sangat takut.


"Bersiaplah, kita pulang." Hah! oke.. Nathan tunggu, sabar ... semua akan indah pada waktunya.


"Waaah ... pengantin baru sudah datang." begitulah sambutan sang mami yang melihat kedatangan anak dan menantunya. Nathan hanya tersenyum, Tita langsung memeluk sang ibu dan Nyonya mami. Disana juga ada kakaknya yang memang sedang menginap.


Sang mami melihat ada kecanggungan diantara Keduanya, tapi dia sadar anak-anaknya itu harus menyelesaikan masalah mereka sendiri, dia tidak akan ikut campur jika memang mereka tidak membutuhkannya.


"Tuan muda," sang ibu berbicara. "Maaf, boleh saya ijin berbicara dengan Tita?"


"Tolong, jangan sungkan seperti itu. Bibi sekarang adalah mertuaku." jawab Nathan.


Siapa yang tidak jatuh cinta dengan pribadi tuan muda yang ramah itu. Tita bahkan tidak menyangka bahwa suaminya bisa bersifat hangat seperti itu. Ketika Tita dan ibunya pergi, kakak Tita yang juga merupakan karyawan hotelnya di Inggris pun angkat bicara.


"Tuan, tolong maklumi adik saya jika dia belum bisa menyesuaikan diri dengan statusnya sebagai istri anda. Cukup lama dia tinggal hanya berdua dengan ibu kami, tidak ada yang menjadi contohnya dalam urusan hidup berpasangan. Apalagi dia belum pernah pacaran sebelumnya, jadi ..."


"Ha ha ha ... kalian dapat dengan mudah membacanya, ya?"


Di sudut lain mansion itu, "Tita, tuan muda sekarang adalah suami kamu. Dia bertanggung jawab atas hidupmu. Jadi, kamu harus patuh pada suamimu, jadi istri yang baik, jangan egois, sayangi dia, bahagiakan dia, jaga kepercayaan suamimu. Karena nanti dia akan menjadikan kamu ratu di hidupnya."


"Tapi, Bu, aku belum memiliki perasaan apapun."


"Rasa sayang bisa tumbuh karena kebersamaan, sayang. Percayalah. Asal, jangan kamu hancurkan hatinya. Karena ketika kita kehilangan, barulah kita menyadari bahwa seseorang itu sangat berarti." Sang ibu membelai Surai putrinya. Begitulah ibu, hanya dengan melihat saja dia bisa tahu apa yang sedang dialami anak-anaknya.