Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 104



Tiba pada hari keberangkatan, ada sosok yang cemberut sejak tau bahwa dia tidak di ajak. Ya .. siapa lagi kalau bukan Loudy.


"Sampai kapan kamu terus berdiam seperti itu?" tegur sang kakak.


"Kak ... aku boleh ikut, ya..."


"Kamu kan tidak sedang libur kuliah."


"Kak ... tapi aku ingin sekali kesana."


"Kita bisa pergi ke sana next time. Tidak harus mengorbankan kuliahmu."


Tidak berhasil! aku tidak berhasil membujuknya. Loudy tau di sana ada pantai yang jernih dan pasir yang putih. Apalagi Mike pasti ikut pergi kesana. Loudy memelas menatap sahabatnya. Yang di tatap jadi serba salah.


"Tidak perlu membujuk istriku. Aku tetap tidak mengizinkan sekali pun Tita yang memohon."


Tita memeluk Loudy dengan sayang. "Aku akan membelikan kamu oleh-oleh nanti, ya." seperti membujuk anak kecil saja, hehe. Pikir Tita.


"Ck! memang aku anak kecil."


Ha ha ha. Nathan dan Tita tertawa melihat kelakuan Loudy.


Dan Loudy, dia begitu jengkel melihat dua sejoli itu menertawakan nya. Tiba-tiba terbersit ide untuk membalas sahabat yang berkhianat. "Ehm, baiklah ... aku akan menunggu dirumah," Loudy berjalan ke arah pintu dan berhenti. "Tapi bawakan aku keponakan yang lucu sebagai oleh-oleh."


Uhuk! Uhuk! Uhuk! Nathan tersedak karena kata-kata Loudy. Dan Tita sibuk mengusap-usap punggung Nathan agar batuknya reda.


***


Kini Tita berada di pesawat milik Nathan, dan di luar dugaan selain Brian ternyata Thomas, Rega dan Axel juga ikut serta.


"Kenapa kamu tidak mengijinkan Loudy ikut, padahal mereka boleh ikut?" Tita protes juga akhirnya.


"Mereka kan tim-ku." Nathan mengecangkan pengaman di kursi Tita, "Kamu fokus saja agar bisa membawakan oleh-oleh untuk anak itu." cup .. satu kecupan di pipi sang istri. Tita paham sekali apa maksud perkataan Nathan.


"Ya ampun ... Brian, kok kamu bisa tahan sih melihat mereka seperti itu setiap hari?" Thomas bergidik ngeri. Brian hanya tertawa, itu belum seberapa. Begitu pikirnya.


"Asal kamu tau saja ya ... itu belum seberapa, ha ha ha." Axel teringat kejadian beberapa waktu lalu, masih terekam jelas dalam ingatannya betapa panik dan khawatir nya Nathan dengan keadaan sang istri yang rupanya hanya karena sedang datang bulan. Brian pun memilih untuk mengecek awak pesawat, dia tidak mau ikut dimarahi tuan mudanya karena menertawakan nya.


"Wah, senang sekali ya kamu menjadikan aku bahan tertawaan."


Nah kan, tepat seperti tebakanku ... tuan muda marah, untung aku cepat menghindar. Brian.


"Tidak, aku tidak menertawakan kamu. Aku hanya takjub karena masih ada laki-laki yang romantis seperti dirimu, Than." Thomas memuji ... um, mungkin lebih tepatnya menjilat. Hehe.


Brian datang dari arah depan, "Tuan, kita siap berangkat." di cek sekali lagi pengaman yang sudah terpasang pada tuan mudanya, kemudian beralih ke sang nona. Setelah itu dia menempati kursinya dan memasang pengamannya sendiri.


"Perjalanannya tidak akan lama, sayang."


"Iya."


"Apa kamu mau duduk bersama denganku?"


hah?? "Tidak, sayang ... nanti kamu tidak nyaman. Aku baik-baik saja."


Seperti seorang anak kecil yang tidak di belikan mainan, Nathan mulai dengan senjatanya, "Tapi aku ingin berdekatan dengan mu, disini." merajuk dengan menggoda. Dan Tita, memang tidak akan pernah bisa menolak jika sang tuan suami sudah manis seperti ini. Ingat kan, Tita memang tidak tahan dengan dengan laki-laki tampan apalagi yang menggemaskan seperti ini.


Tiba di bandara, Nathan masih juga belum mau melepaskan sang istri. Baginya, ini seperti pra-honeymoon, hehe ...


"Sayang, aku mau menyapa kolegaku dulu." pinta Tita.


"Tidak perlu, mereka yang akan kesini."


"Selamat siang, tuan, nona."


"Ana? Kok ada disini?" Tita terkejut bukan main. Bisa-bisanya kak Brian membawa kekasihnya. "Oh, menemani kak Brian, ya?"


"Saya sedang dalam tugas nona."


Ah, bertugas. Eh, kenapa Ana senyum-senyum begitu?


"Selamat siang, pak. Maaf, saya belum menyapa bapak." sungguh Tita merasa tidak enak dengan bos nya ini.


"Tidak apa-apa, Zahra. Bagaimana, kamu tidak mabuk kan?" Ha ha ha.


"Tidak pak, semua aman." ha ha ha.


Nathan memperhatikan interaksi antara bos dan karyawan di depannya. Putra memang orang yang supel dan pandai berbaur.


"Tita, kamu baru sampai?" seru Mike, rasanya dia rindu sekali dengan sahabatnya ini. Karena semenjak di nikahi sang tuan muda, waktu Tita bersama dengannya sudah hampir tidak ada lagi.


"Mickey," mungkin Tita juga merasakan perasaan yang sama ... lihatlah, betapa bahagianya dia bertemu Mickey disini.


"Ehm!"


"Selamat siang, tuan Petra." sapa Mike, uh ... seram sekali.


"Tuan Petra, jam tiga sore saya dan tim akan briefing. Apakah tidak apa-apa jika Zahra ikut serta? Karena dia adalah designer proyek ini?"


"Iya, tidak apa-apa. Kirim saja lokasinya kepadaku."


Hei!! siapa sih sebenarnya bos ku itu?? Ya ... memang sih, secara tidak langsung dia adalah bosnya bos ku. Huft.


Sampai mereka di hotel tempat mereka menginap selama di sini. Nathan, Brian, Thomas, Axel dan Rega berada di satu lantai yang sama. Tita? tentu saja ikut dimana pun sang tuan suami berada. Ketika masuk ke kamar tidurnya, Tita begitu takjub dengan dekorasinya ditambah lagi kamar tidur ini sangat besar ... bergaya klasik tapi modern. Wah ... bahkan dari sini terlihat jelas galeri seni yang dia design berdiri kokoh dengan beberapa spanduk terpasang di sepanjang jalan, bertuliskan Petra Corporate. Balon-balon berwarna biru putih menghiasi bagian depan gedung galeri seni.


Tita berdiri memandangi spanduk-spanduk yang berjejer rapi, dia jadi merasakan seberapa hebatnya Petra Corporate yang telah mendanai pembangunan galeri dan tentu saja betapa berkuasanya pemilik Petra Corporate, pantas saja dia begitu mengintimidasi, dan pemilik itu adalah suaminya.


Nathan memeluk Tita dari belakang, "Apa yang kamu lihat?" dia menghirup dalam-dalam harum tubuh Tita.


"Aku melihat gedung itu." jawab Tita, dia merasakan kehangatan dan kenyamanan dalam pelukan sang tuan suami.


"I'm so proud of you ... walaupun pada awalnya aku meragukan kemampuan mu."


Tita memutar tubuhnya hingga kini mereka berhadapan. "Ah, pasti karena kamu pikir aku anak kemarin sore, kan?"


"Tidak seperti itu. Pertama kali mempelajari design-mu aku suka, dan aku tidak masalah bahkan ketika bos mu itu bilang yang men-design adalah mahasiswa baru lulus yang menang perlombaan." Nathan merapatkan lagi tubuhnya, "Yang membuat aku meragukan kemampuan mu adalah, karena pada saat kita meeting pertama kali ... kamu begitu cantik, menggemaskan dan manis."


"Lho ... apa hubungannya?!" Tita berlagak tidak suka, padahal seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya.


"Karena biasanya, wanita cantik itu banyak gayanya dan minim prestasi." Nathan tertawa melihat reaksi Tita yang memutar bola matanya. "Tapi apalah daya karena aku terpikat oleh pesona mu dipertemuan pertama kita."


"Hei ... tapi kamu menyulitkan aku waktu itu." teringat awal pertemuan nya dengan sang tuan suami, membuat Tita jadi kesal sendiri


"Menyulitkan kamu bagaimana?" kenyataan ini yang tidak pernah Nathan ketahui, jadi dia agak kaget juga mendengarnya.


Tita menimbang-nimbang apakah tidak apa-apa kalau ku katakan sekarang? "Apa kamu lupa, kamu meninggalkan rapat begitu saja tanpa mengatakan apapun." lho kok malah tertawa. "Kamu tahu bagaimana perasaanku waktu itu?" Tita melepaskan pelukan Nathan karena kesal. "Kenapa malah tertawa??"


"Sayang, maaf ... maaf. Aku tertawa karena kamu begitu terlihat kesal."


"Tentu saja aku kesal, kamu semena-mena begitu!" meninggi suaranya.


"Aku hanya gugup waktu itu."


Kenapa malah pelak peluk lagi sih ...


"Aku tidak bisa fokus dengan presentasi mu kala itu. Aku hanya memperhatikan dirimu, caramu berbicara, gerakan ekor kudamu, seolah kamu adalah medan magnet yang menarik seluruh perhatian ku. Tapi aku juga tidak mau terlihat tidak profesional di hadapanmu dan juga aku ingin kita bertemu lagi dengan persiapan matang. Itulah mengapa aku lebih memilih meninggalkan meeting dan menjadwalkan nya lagi."


Tita hanya terbengong mendengar pengakuan Nathan. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya ... apakah sebesar itu efek dari pesonanya, hehe. Memikirkan hal itu membuat pipi ya memerah.


"Aku suka ketika kamu bersemu malu seperti ini. Sangat menggoda." Cup!


"Ah, sayang ... aku ada rapat tim ..."


"Aku akan menjamin kamu bisa sampai disana tepat waktu."


Yaaa ... apa mau di kata, Tita pun tidak dengan sepenuh hati menolak keinginan sang suami.