
Kini spons itu sudah berpindah tangan, namun Tita belum juga bergeming. Dia bingung, karena si tuan suami tidak berbalik.
"Kenapa diam saja, sayang?" padahal dia sudah tahu jawabannya.
"Kenapa kamu tidak berbalik?" tanyanya malu-malu.
"Kenapa aku harus berbalik?" he he he, dasar suami iseng. "Ayo, cepat gosok badanku."
Mau tidak mau Tita melaksanakan juga perintah sang tuan suami. Dan sang suami, karena masih merasa belum puas menggoda sang istri di lanjutkan godaannya, "Jangan berani macam-macam, gosok saja badanku yang benar... jangan berani-beraninya kamu berpikiran mesum."
Idih, siapa yang selama ini selalu mesum. Karena tidak terima dengan perkataan sang suami maka Tita melampiaskan kekesalannya kepada spons. Yaa, spons yang dia gunakan untuk menggosok badan sang suami tentu saja.
"Aduh, Tita sakit." keluhnya.
"Maaf ... tapi sepertinya aku sudah menggosok dengan lembut," pada saat ini, Tita berlagak sok innocent.
Tapi bukan berarti sang tuan suami tidak mengetahui akal-akalannya. Dalam satu hentakan, entah bagaimana dia melakukannya ... Tita sudah tercebur kedalam bak itu, dengan gelagapan dia berusaha mengangkat tubuhnya keatas untuk mengambil udara sebanyak-banyaknya. "Hah, hah, hah ... Apa-apaan sih, Nath ..." belum lagi dia menyelesaikan kalimat protesnya, sang tuan suami sudah melaksanakan serangan keduanya. Huft ...
Bisa dipastikan Tita menyesali perbuatannya, karena sang tuan suami benar-benar tidak akan melepaskannya begitu saja. Kegiatan membersihkan diri ini pasti berlangsung lama. Yaaaa, mau bagaimana lagi ... biarkan mereka menikmati momen-momen yang akan menambah kemesraan mereka berdua. Ha ha ha.
Sementara itu di kamar Loudy, dia tengah melakukan sambungan telpon dengan seseorang. "Tita meminta aku untuk tidak memberi tahu kak Nathan. Menurutmu? ... Sebaiknya bagaimana? ... Apa aku beritahu kak Brian? ... Memang ada masalah apa sih? ... Iya, Tita memang tidak pernah mempunyai musuh. Kamu juga tahu kan... Oke, baiklah ... Sampai besok, Mike." klik. Setelah sambungan terputus, Loudy merasakan pipinya menghangat.
"Loudy, panggil kakakmu. Kita makan sama-sama." pinta sang mami ketika Loudy memasuki ruang makan.
"Iya, mi." Dia pun kembali lagi ke atas menuju kamar sang kakak yang tertutup amat rapat. "Kak ... kakak." Tidak ada jawaban. Di ketuk sekali lagi pintu itu, "Kak, kakaaaaaaak." Kemana sih mereka? Masa iya sudah tidur jam segini? Aw, aw ... jangan-jangaaaaan. Duh benar-benar yaaa, sang nona muda sulit sekali mengendalikan otaknya yang selalu traveling, hehehe.
"Apa?" tiba-tiba kemunculan sang kakak di depan pintu membuyarkan lamunannya.
"Eh, kak ... dipanggil mami." katanya, tapi pandangannya berusaha menerobos ke dalam.
"Kamu lihat apa?"
"Aku cari Tita." katanya mengelak.
"Istriku tidur."
"Wah, kakak ... hebat juga bisa bikin teman aku K.O, ha ha ha." sungguh ... Loudy kelepasan, dan sulit untuk memperbaikinya. Saat dia tersadar akan kesalahannya, pandangan sang kakak sudah cukup mengintimidasi.
"Maksud kamu?" tidak menyangka sang adik kecilnya memiliki pemikiran yang 'unbelievable'.
Aduh!! harus jawab apa aku?!
"Sayang ..." terdengar suara serak Tita memanggil Nathan dari dalam.
Sepertinya memang dia baru bangun. Hugh, penyelamatku. Pikir Loudy.
"Aku akan kebawah nanti." Nathan segera menghampiri sang istri yang memanggilnya. "Apa sayang?" wajahnya yang angker seketika berubah manis di depan sang istri.
"Aku haus," dengan sigap Nathan mengambil minum untuk Tita yang memang kehabisan tenaga. "Siapa tadi?"
"Oh, yuk turun." ajaknya.
"Lho, kamu kan lelah. Makan di sini saja, sayang."
"Gak ah, di bawah saja. Aku sudah tidak mengantuk, kok."
"Baiklah. Sebentar aku telpon Brian dulu, ya. Jangan berani turun duluan, tunggu aku."
"Iya," Tita menarik lagi selimutnya, sementara sang tuan suami menghubungi sekretarisnya.
"Dimana? ... Kencan?? ... Sama siapa? Ha ha ha, baiklah ... bersenang-senanglah. Tidak, aku dirumah. Oke ..." Klik. Nathan menyimpan ponselnya ke salam saku. Dia berjalan menuju sang istri yang tertidur kembali. Huft, katanya sudah tidak mengantuk ... kasihan, kamu pasti lelah sekali ya? Di usapnya kepala Tita. Maafkan aku ya, sayang. Sungguh aku tidak bisa menahan diriku saat bersamamu.
***
Tita berdiri di depan cermin yang memantulkan dirinya. Dia tersenyum senang, sudah sejak pagi tadi dia dirias oleh perias dari salon langganan sang nyonya mami. Tita sangat puas dengan hasilnya. Dia tampak sangat cantik dengan kebaya biru laut yang melekat ditubuhnya.
Nathan yang sudah rapi mendekat dan memeluknya dari belakang. "Melihatmu sangat cantik seperti ini, aku jadi ingin mengurung kamu di kamar saja."
Mulai lagi deh, huh. "Turun yuk, nanti aku terlambat." Tita menarik tangan sang tuan suami sebelum hal-hal aneh terjadi.
"Tidak datang wisuda juga bukan masalah besar, sayang." merajuk.
"Kalau kamu tidak mau ikut, aku tidak keberatan hanya pergi dengan ibuku."
"iya, iya. Tapi kamu harus dekat-dekat denganku." huh, Tita memutar bola matanya malas. Dia tidak suka kalau Nathan seperti ini, malu ... seperti tidak ada yang lebih cantik saja.
Ruangan yang digunakan untuk prosesi acara wisuda sudah ramai dengan tamu undangan. Mereka duduk dengan tertib, dan ada juga yang berfoto disana. Nathan mendapatkan kursi kehormatan untuk duduk di baris depan bersama tamu-tamu penting lainnya, sementara sang Ibu mertua duduk tepat dibelakangnya bersama dengan Brian. Belum lagi acara di mulai, sang ibu sudah meneteskan air mata kebahagiaan ... tidak menyangka sang putri bisa mendapatkan pencapaian seperti ini. Sementara sang bintang hari ini, Tita, berada diantara wisudawan lain. Dia duduk di sebelah Mickey dan Andin.
"Wah, aku sangat berdebar-debar, Ta." seru Andin.
"Aku juga, rasanya seperti mimpi." jawab Tita.
"Ta, nanti kamu siap-siap di panggil ke panggung." celetuk Mickey.
"Aku siap, asal tidak diminta kasih sambutan saja." ha ha ha...
"Dih, percaya diri sekali. Memang kamu pejabat? Orang penting?" ejek Andin.
"Dia ini istrinya orang penting." bela Mike. Dan mendengar pembelaan Mike, Andin tertawa makin geli ... Sementara Tita hanya diam saja, berabe kalo Andin sampai tahu. Pasti dia akan disidang dengan banyak pertanyaan.
Acara di mulai dengan sangat khidmat, satu-persatu prosesi berlalu hingga saatnya pengukuhan wisudawan, dan mahasiswa yang mendapat indeks prestasi kumulatif diatas rata-rata dipanggil sebagai bentuk penghargaan universitas sekaligus perwakilan dari wisudawan lain pada saat pengukuhan. Dan Tita, salah satu wisudawan dengan predikat cumlaude juga dipanggil namanya untuk penyematan tali toga. Ketika nama Zahra Ratifa di sebutkan oleh MC dan menggelegar di seluruh ruangan, tidak hanya sang ibu yang menangis karena merasa bangga ... sang tuan suami pun terlihat memamerkan senyumnya, tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata betapa bangganya dia dengan sang istri tercintanya. Seorang gadis mungi berpenampilan anggun berjalan dengan percaya diri memenuhi panggilannya, dengan senyum merekah menandakan keberhasilannya. Ya, inilah hari-hari yang dinantikan selama menempuh pendidikan di kampus ini, dia memang menantikan momen ini, membuat sang ibu bangga atas pencapaian dan keberhasilannya dalam pendidikan ... keputusannya kala itu tidak salah. Dia sangat-sangat bersyukur karena telah memilih untuk melanjutkan pendidikannya.
Tiba di atas panggung, mendapatkan sematan tali toga dan ucapan dari guru-guru besar dan tamu spesial yang merupakan donatur besar dari universitas ini.
"Selamat ya, cantik. Zahra Ratifa." sang pria mengulang menyebutkan namanya, tatapan mata yang hangat dan senyuman yang menawan.
Tita terkejut dengan sang tamu spesial, seorang pria tinggi dengan ketampanan di atas rata-rata ... pria yang ditemui di taman hari itu. Pria yang berkata agar aku tidak menolaknya ketika kita bertemu lagi. Dan, kebetulan macam apa ini? Dia sekarang benar-benar berada di depanku?