
"Sayang!" Nathan melambai dari seberang tepat dimana Tita berdiri.
Huh ... kok dia ada disini? Belum lagi sepatah kata keluar dari bibirnya, namun benda kenyal itu sudah tertutup bibir milik suaminya. Cup.
"I Miss you badly." huft ... siapa yang tidak meleleh diperlakukan seperti itu. Bahkan membuat orang lain di sekitar mereka jadi memperhatikan, baper dan mengabadikan momen romantis mereka dan di upload pada sosial medianya.
"Kok kamu ada disini?" setelah sadar dari lamunannya karena terpesona Tita bertanya pada Nathan.
"Aku menunggu telpon dari kamu. Kamu sudah selesai? Yuk, pulang." ajaknya.
"Belum ... aku belum pamit."
"Ya sudah, aku tunggu di mobil, ya ..." Cup. satu kecupan lagi di pipi membuat pipi Tita merona tentunya.
"Kenapa cium-cium di tempat umum sih?!"
"Enak!" Ha ha ha. Jawaban apa itu?? dasar Nathan.
Teringat pesan Candy, Tita pun bertanya kepada Nathan. "Nathan, um ... sayang, temanku, Candy, mau berfoto denganmu ... kamu mau?"
"Tidak." Nathan menjawabnya tanpa senyum. Itu tandanya dia tidak suka.
Duh, aku harus bilang apa pada Candy. "Pak Putra, maaf saya pulang terlebih dahulu." Tita pamit. Rekan-rekan yang lain pun menatapnya.
"Tuan Petra sudah menjemput mu?" tanyanya dan Tita pun mengangguk.
Mendengar nama tuan Petra di sebut, Candy langsung berdiri, mendekati Tita. "Zahra, bagaimana ...apa aku bisa berfoto dengan tuan Petra?" tanyanya penuh harap.
Tita tidak enak menyampaikannya, tapi dia juga tidak mungkin bilang iya, kan? "Maaf, Candy ... Aku sudah coba bertanya dengannya tadi, tapi ..." Duh, Tita jadi serba salah.
Candy langsung hopeless, "Di tolak, ya?"
"Maaf, ya, Can." sungguh Tita merasa tidak enak.
"Hei, tidak perlu seperti itu, Ra. Ha ha, semua orang juga tau seperti apa tuan Petra. Jangankan foto bareng, berdiri sebelahan dengan wanita saja dia tidak mau. Ha ha, makanya gosip dia tidak suka wanita itu makin merebak." Candy melihat Tita yang masih kikuk, dia jadi tidak enak sendiri. "Kamu beruntung di cintai laki-laki seperti itu." katanya sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Tita masih memikirkan kata-kata Candy tadi, apa benar laki-laki disebelah ini tidak pernah dekat dengan wanita lain setelah Anya? Kok rasa-rasanya dia tidak percaya ... bahkan sahabat-sahabatnya saja terkenal sebagai playboy, kak Brian sekalipun, yang tampangnya kalem cukup mencengangkan gaya pacarannya.
"Kalau mau menatapku lama-lama aku juga tidak keberatan, sayang. Jadi ... tidak perlu curi-curi pandang begitu, haha" tiba-tiba Nathan mengatakan hal menggelikan itu.
"Ih ... siapa yang mencuri-curi pandang?" aduuuh ketahuan, kan.
"Aku memperhatikan kamu dari tadi, Brian saja tau kok kamu curi-curi pandang padaku."
Duh bisa gak sih pura-pura tidak tau saja. Aku kan malu. "Aku hanya memikirkan sesuatu, jadi kamu tidak usah kepedean."
"Ha ha ha ... kamu menggemaskan kalau sedang kura-kura dalam tempurung."
Ha ha ha. Tita. Brian.
"Bukan kura-kura dalam tempurung, tuan." Brian tidak bisa menahan tawanya.
"Kura-kura dalam perahu, tuan besar. Anda salah." Ha ha ha.
"Kompak sekali kalian menertawakan aku." Nathan berlagak marah karena malu. "Yang terpenting adalah kalian mengerti maksudku."
Terdengar kucuran air mengalir di kamar mandi, dan Tita masih berdiri tegak memandangi deretan gaun tidurnya. Apa ini?? kenapa ganti lagi? Masa aku harus pakai yang seperti ini sih?? habislah aku ... bagai buah simalakama, kalau aku tidak pakai maka habislah aku, dan jika aku pakai .... Aaaaa... dasar mesum!!
"Kenapa hanya berdiri saja?!" Nathan mengejutkan Tita. "Dari tadi kamu hanya memandangi baju-baju itu? karena kagum atau tidak berniat memakai apapun??" ada senyuman nakal yang dipamerkan Nathan.
Iih, tidak seperti itu juga. "Sayang, apa tidak ada baju lain? rasanya aku kedinginan kalau memakai baju itu."
"Untuk apa kamu khawatir, kan ada aku."
haduuh ... suaranya sampai serak begitu ... dan sejak kapan dia sudah ada dibelakang aku?? pantas saja tengkukku merinding.
Dan Nathan mengambilkan yang warna biru Dongker, "Ini cocok dengan suasana malam ini dan kulitmu."
ciuman itu mendarat mulus di bahu Tita. Glek! walau sudah sering melakukannya, tapi tetap saja aku deg-degan. "Ka ... mu, kamu, tunggu di sana saja, boleh kan?" pintanya.
"As you wish, baby." tanpa berdosa Nathan melenggang meninggalkan Tita yang kini sudah jongkok memeluk kakinya.
"Aku bisa gila kalau dia selalu seperti itu. Dan kenapa hanya begitu saja aku sudah berdebar-debar begini, sih?!"
Nathan yang sedang menunggu Tita, mendengar ada pesan masuk di ponsel sang istri. Sebenarnya dia tidak suka mencampuri urusan orang lain, dan dia juga tidak pernah membuka ponsel istrinya, sebelum ini. Tapi, mungkin karena dia bosan menunggu sang istri yang sedang bersiap, dan sedang tidak ada yang dikerjakan ... maka iseng saja dia meraih ponsel istrinya, dan bukan hanya satu pesan yang masuk. Ketika dilihat notifikasi yang masuk, Arga, kenapa dia chat istriku malam-malam. Mungkin kalau bukan nama Arga yang muncul, Nathan tidak akan membuka pesan itu. Tapi karena dia tau siapa Arga teman kantor sang istri, orang yang pernah menyatakan cinta kepada istrinya maka di bukalah ponsel itu. Di geser ibu jarinya di layar, terkunci! kenapa dikunci segala sih. Nah, kesal kan. Nathan tidak ingin mencoba membuka pola pada ponsel itu, dia hanya melemparkan ponsel itu dan tepat pada saat itu Tita berjalan mendekati tempat tidurnya.
"Kenapa ponselku kamu lempar?" tegurnya.
Memang dasar yaaa tuan muda, bukannya menjawab tapi dia malah bertanya balik, "Kenapa kamu kunci ponselmu?!" dengan wajah kesalnya.
"Memangnya kenapa?" karena Tita tidak tahu apa penyebab kekesalan suaminya, dia mengambil ponselnya.
Tapi, Nathan dengan cepat menarik ponsel itu. "Buka disini, aku ingin lihat." perintahnya.
Tita menuruti apa kata sang tuan suami, "Eh, eh eh ... aku tidak bisa bergerak kalau seperti ini."
"Sudahlah jangan protes, buka saja pesan itu." mana mungkin kan Nathan menyia-nyiakan kesempatan? dia membuat Tita bersandar pada tubuhnya, memeluknya dari belakang. Hm, harum tubuhnya tidak pernah berubah, selalu membuat aku merasa nyaman.
Tita tidak bisa protes, mungkin lebih tepatnya tidak mau ... karena dia sudah hafal, kalau sang tuan suami sedang kesal maka dia akan berolah raga lebih lama dari biasanya. Hm, Tita membuka ponselnya dan langsung melihat siapa yang mengirim pesan malam-malam begini.
"Zahra, maaf aku lancang mengirim pesan ini untukmu ... aku tau kamu sudah menikah, bahkan jika dibandingkan dengan suami kamu aku pasti tidak ada apa-apanya. Tapi aku tulus mencintaimu, bahkan sampai sekarang aku gelisah memikirkan kamu. Tita, jika suatu hari nanti kamu di sia-siakan suamimu, datang lah padaku, aku akan melindungi mu dengan segenap jiwa ragaku. Dan ijinkan aku untuk terus mencintaimu walau kamu belum mencintai aku. Penyesalan ku adalah, mengapa bukan aku yang lebih dulu bertemu denganmu."
Duaaar!!!
Argaa!!! apa dia sudah gila, kenapa mengirimkan pesan seperti ini padaku. Pasti aku yang akan mendapatkan siksaan. Tita ketakutan sendiri.
Sudah tidak diragukan lagi betapa cemburunya Nathan, dia meletakkan kepalanya diatas bahu Tita, kedua lengan kokohnya masih melingkar diperut istrinya. Nafasnya tenang, tapi justru membuat Tita makin tidak tenang.
"Wah ... istriku mendapat pesan cinta rupanya." sindirian halus, makin halus sindirannya maka makin berbahaya nasibnya.
"Dih, kenapa Arga mengirimkan pesan seperti ini sih? aneh." berusaha tegar agar bisa lepas dari hukuman.
Nathan menarik tubuh Tita hingga berbaring dan dia memposisikan dirinya diatasnya dengan ditopang oleh kedua lengannya. "Huft ... apa aku harus mengurung kamu saja ... agar kamu tidak lagi diminati laki-laki lain?!"
"Em ... tapi, itu kan bukan salahku ... aku ..." berfikir Tita, jangan menambah kekesalannya. Ah! ide gila itu muncul begitu saja dikepala Tita, potongan film yang dia lihat pada saat dipergoki sang tuan suami "Eh, sayang," Tita mengalungkan lengannya ke leher Nathan, membuat Nathan terkejut. "Daripada kamu membahas hal yang tidak penting ... lebih baik selesaikan urusan kita," Tita menarik lembut leher Nathan hingga mengikis jarak diantara mereka, membuat Nathan merona. "Kalau kamu tidak mau ... aku mau tidur saja." Cup.
Blush! dia merona lagi ... dan seperti telah di program ulang, Nathan melupakan kekesalannya. "Ingat ya, kamu yang menggoda aku ... jadi, jangan hentikan aku." katanya setengah berbisik dengan suara yang berat. Dan Tita bukannya menjawab, dia hanya mengedipkan sebelah matanya ... Ahahaha, genit sekali dia malam itu, ternyata mudah kan mengendalikan seorang Nathan. Ha ha ha.