
Tita dan Loudy kembali ketika matahari sudah tak terlihat. Mereka berjalan untuk sampai ke rumah utama dengan sesekali bersenda gurau. Terlihat kebahagiaan diantara keduanya. Benar kata Brian, berbelanja bisa membuat wanita bahagia. Begitulah pemikiran Nathan yang tengah memperhatikan sang istri dari balkon kamarnya. Ya, sang tuan suami sudah tiba di rumah sejak dua jam yang lalu, dan mendapati ternyata sang istri belum pulang. Apakah dia marah? kesal? iya, tentu saja ... tapi dia menahannya, sesuai nasehat sang sekretaris. Nathan, pikirkan saja keuntungan yang kamu dapatkan jika mood istrimu baik. Seperti itulah kira-kira motivasinya pada dirinya sendiri.
"Kalian baru pulang?" tanya sang mami melihat putri dan menantunya yang baru pulang dengan menenteng belanjaan di kedua tangan mereka.
"Iya, mi." Tita dan Loudy kompak menjawab, mereka duduk di sofa meluruskan pinggang dan kakinya.
Belum lagi rasa lelahnya hilang, kata-kata sang mertua sukses membuat tubuh Tita tegang kembali, "Tita, Nathan sudah ada di kamar. Dia sudah pulang sore tadi." dan rupanya bukan hanya Tita yang panik mendengar informasi dari nyonya mami, Loudy pun tak kalah panik. Gawat ... bagaimana jika ijin Tita dicabut???
Maka tanpa menunggu lagi, Tita langsung berlari menuju kamarnya. Berjumpa dengan Brian yang baru turun, "Kak Brian, Nathan??"
"Huh, nona ... kenapa anda bisa lupa waktu seperti ini?"
"Kenapa kamu tidak mengabari aku??" Tita kesal.
"Anda kan tidak meminta itu tadi." mengesalkan memang manusia satu ini, entah ada dendam apa dia padaku. Dan untuk melampiaskan kekesalannya di injak juga sepatu manusia itu dengan keras. Rasakan. Dan Tita setengah berlari menuju kamarnya.
Dengan nafas yang masih terengah-engah dia masuk, pasrah. Dilihatnya sang tuan suami yang sudah mandi dan terlihat segar. Sepertinya dia tidak marah? "Sayang, maaf ya ... aku pulang terlambat." iya benar, akui saja kesalahanmu dulu.
"Kemarilah." Tita menurut, dia berubah menjadi sangat penurut. "Sepertinya kamu lelah sekali?" di usapnya kepala sang istri, Tita memejamkan matanya, habislah aku. Pikirnya. "Kamu tidak mau mencium aku?" tanyanya.
Eh, cium? Tita berusaha untuk tersenyum. Cup. Diciumnya pipi sang tuan suami.
"Wah, kamu penurut sekali ya hari ini?" Ha ha ha.
Aduh, dia yang tertawa tapi aku yang merinding. Masalahnya, aku tidak tahu hukuman apa yang akan aku terima karena pulang terlambat tanpa pemberitahuan. Hiks hiks. "Mandilah, jangan lama-lama."
"Iya, tunggu sebentar, ya." Tita langsung menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Nathan mengeluarkan ponselnya ketika di dengarnya ada pesan masuk. Tertera nama Anya disana. "Nathan, bagaimana kalau besok kita makan malam?" ajaknya. Nathan men-screen shoot pesan itu dan dikirim ke Thomas. Dia meletakkan ponselnya di sofa, menghela nafas ... apakah aku harus memberitahu Tita atau tidak? Tidak lama kemudian satu pesan masuk dari Thomas. "Di club' ku saja, aku persiapkan semuanya."
"Nathan, kamu sudah makan?" pertanyaan Tita membuyarkan lamunannya.
"Sudah... Besok kamu berangkat jam berapa?"
"Jam sembilan."
"Sudah packing?"
"Sudah, tadi dibantu Loudy." Tita selesai bersiap untuk tidur, tapi mengurungkan niatnya karena melihat sang tuan suami yang sedang membongkar kopernya. Kopernya??
"Kamu hanya menginap semalam kenapa harus bawa koper?" tanyanya.
Tita menghampiri, "Biar pakaiannya tidak kusut, sayang." kenapa dibongkar?? Tita menyaksikan Nathan yang sedang mengeluarkan pakaiannya.
"Bukannya tempat perpisahan udaranya dingin? kenapa bawa pakaian seperti ini?" sang tuan suami memprotes dress selutut berwarna kuning cerah yang dibawa sang istri dan memisahkannya.
"Iya, aku ganti ..." Tita pasrah, daripada tidak jadi pergi. Pikirnya.
"Untuk apa kamu bawa make up? Mau berdandan untuk siapa disana?" protes lagi.
"Aku hanya memakainya tipis-tipis, kok?" belanya.
"Tidak, tidak. Tetap kamu akan jadi pusat perhatian nanti."
huh, apalagi sih? "Sayang, dandanan aku masih tergolong biasa dibandingkan teman-teman yang lain, lho?"
"Aku tidak suka, ada laki-laki lain yang memperhatikan kamu." Jleb! tandanya itu sudah tidak bisa di tawar.
"Makanya, aku ikut saja ya? akan aku pastikan bibirmu tidak kering?" Halah, alasan macam apa itu?? maka dilemparkan lipbalm itu kembali ke tas riasnya. Melihat sang istri merajuk, tidak tega juga dia, "Baiklah, bawa saja lipbalm mu tadi."
"Benar?" maka dengan sumringah diambilnya lipbalm dan dimasukkan ke dalam koper. Yah, harus cepat, sebelum dia berubah pikiran lagi.
Akhirnya selesai juga urusan koper. Tita sedang merebahkan dirinya di kasur, di sebelah sang tuan suami yang masih sibuk dengan ponselnya. "Oke, kita makan malam di club'." begitulah pesan yang dikirimkan Nathan kepada Anya. Setelah pesan terkirim, dia menyimpan ponselnya di dalam laci. Memeluk sang istri dengan erat, seolah mengatakan maafkan aku.
"Kamu yakin tidak mau aku temani?"
"Tidak, aku akan baik-baik saja. Aku akan langsung pulang setelah selesai, aku akan selalu memberi kabar dan menjawab panggilanmu." Tita berusaha mengerti sang tuan suami, tapi ... "Kenapa kamu gelisah seperti ini?"
"Ah, kelihatan ya?"
"Sangat ... aku kan sudah bilang aku akan baik-baik saja." Tita berusaha menenangkan Nathan yang memang tidak bisa menyembunyikan rasa gelisah nya.
"Sayang,"
"Hm,"
"Aku tidak hanya mencintaimu, tapi aku juga sangat sayang padamu, kamu bisa merasakannya, kan?"
"Kamu kenapa sih ... aku kan hanya pergi sebentar. Menginap satu malam. Bukan mau meninggalkan kamu." Tita merasa lucu dengan tingkah sang tuan suami. Baru kali ini dia melihat ada laki-laki yang seperti ini.
Mereka tidur saling berhadapan, Nathan memandangi wajah Tita sepuas-puasnya ... seperti tidak akan ada hari esok, dan Tita hanya membalas pandangan sang tuan suami.
"Aku, jadi kepikiran ... Apakah bersama kekasihmu dulu kamu memperlakukannya seperti ini juga?" tanya Tita.
Nathan bangun dari tidurnya, "mengapa kamu harus membahasnya?" kesal dia.
"Lho aku kan hanya bertanya?"
Huh, gara-gara rencana Thomas aku jadi gelisah seperti ini. "Ah, sudahlah jangan di bahas lagi, aku malas. Sebaiknya kita mengurusi urusan kita saja." Nathan bahkan lupa perihal keuntungan yang dibicarakan Brian karena mood istrinya yang membaik sehabis belanja. "Bagaimana kamu tadi, apakah kamu bersenang-senang? pergi dengan adikku dan Mickey mouse itu?"
Ah, dia ingat ... aku pikir dia melupakannya. Pikir Tita, padahal dia sudah berusaha tidak mengungkitnya. Pasti dia akan marah karena aku pulang terlambat.
"Kamu bersenang-senang, tidak?" ulang Nathan.
"Iya, tentu saja. Sudah lama sekali aku tidak keluar bersama mereka." oke Tita ... ikuti saja alurnya dan jangan sampai terjebak.
"Belanja apa saja tadi, sepertinya kamu tidak terlihat lelah. Padahal sudah jalan seharian." Nathan melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
"Ha ha ha ... tidak sayang, wanita itu suka sekali belanja, jalan-jalan ... dan kalau aku sedang sedih, kesal atau kecewa, aku lebih memilih jalan ke pusat perbelanjaan, yaaa walaupun keseringan tidak belanja dan sekedar cuci mata, karena aku harus menghemat uangku." Ha ha ha ...
"Lho, kenapa begitu?"
"Kenapa begitu bagaimana?"
"Untuk apa kamu buang-buang energi pergi ke pusat perbelanjaan jika tidak ada yang kamu beli?"
Wah, sang tuan suami pasti tidak pernah merasakan keseruan windows shopping. "Penghematan, apa lagi??"
"Tapi sekarang aku suamimu, kamu tidak perlu berhemat. Kamu boleh beli apapun yang kamu mau." Nathan merasa sedih ketika mendengar penuturan Tita. Dan karena itu dia jadi teringat sesuatu. "Tunggu dulu." katanya. Nathan turun dari tempat tidurnya, berjalan ke lemari dan mengambil sesuatu. Kemudian dia kembali ketempat semula, dan menyerahkan benda itu kepada sang istri. "Ini untukmu, pakai saja sesukamu. Maaf sayang, seharusnya dari awal aku berikan padamu. Besok Brian akan mengurus milikmu."
Tita ternganga melihat benda tipis hitam itu. Bukannya dia tidak tahu apa kegunaan benda itu. Tapi ... rasa takut sewaktu-waktu dia khilaf membelanjakannya jauh lebih besar. Dan apa katanya tadi?? mau membuatkan satu untukku? Milikku? Waah ... mengapa aku suka lupa bahwa yang ku nikahi bukan laki-laki sekasta denganku.