Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 119



"Tuan Petra, maafkan aku karena tidak sempat menyelamatkan Tita." Mickey kini duduk tepat di hadapan sang tuan muda. Di sampingnya ada Loudy, mereka adalah saksi mata kecelakaan yang di alami istrinya.


"Kak, maafkan aku karena tidak menghentikan Tita." Loudy sudah hampir menangis, tapi sebuah tangan kokoh menggenggam jemarinya.


"Tuan, belakangan ini tingkah Tita memang agak aneh. Maafkan saya yang tidak pernah menyangka kalau Tita sedang hamil..."


"Sudahlah, aku yang suaminya juga tidak tau kalau dia sedang hamil." ada kegetiran dari ucapannya, ada rasa tidak rela jika orang lain yang lebih tau tentang istrinya dari pada dia. "Memang apa yang dilakukan istriku?"


"Sudah seminggu ini, Tita selalu meminta teman kami, Arga membawakannya sarapan."


"Arga?? Arga yang pernah menyatakan cinta pada istriku?!"


"Eh, i ... iya tuan," duh apa aku salah bicara ya?. "Tita tidak mau sarapan jika bukan Arga yang membawakannya ..." Nathan tampak sangat marah, tapi tawa sang mami menyadarkannya.


"Bawaan bayi, jangan kamu marah seperti itu. Itu hal biasa bagi orang yang sedang hamil, sayang." ha ha ha. Dan semua orang yang ada di sana tersenyum mendengar perkataan sang nyonya mami.


Di satu sisi Nathan cemburu tapi ... ah, mana ada yang seperti itu, bisa jadi itu hanya akal-akalan Arga saja kan?


"Um, tuan ... Tita juga, kemarin itu ... banyak sekali yang ingin dimakannya, walaupun kebanyakan dia hanya mencicipi makanan itu sedikit dan saya yang harus menghabiskannya karena ..."


"Apa?!!! jadi kamu juga berbagi makanan dengan Tita-ku??" wah ... emosi juga dia, ha ha.


Nathan yang mendapat respon seperti itu jadi serba salah. Aku harus bicara apa? Beruntung sang nyonya mami membelanya kemudian, "Nathan, kan mami sudah bilang kemauan ibu hamil itu harus dituruti karena itu mau bayinya."


"Tapi mi, memangnya dia tau kalau Tita hamil? Tidak kan?"


"Saya, tidak bisa menolak tuan, maafkan saya."


Loudy yang mendengar perkataan Mike jadi bersedih. Hm, jadi memang benar Mike masih menyukai Tita. Begitu pikirnya.


"Kenapa kamu tidak menolak? Tita kan bukan istri mu atau pacarmu?!" ketus sekali tuan muda.


Mike makin serba salah, apalagi di sebelahnya ada gadis yang dia suka dan yang bertanya adalah kakak dari gadis yang dia suka. "Um, karena sebelumnya, tuan Brian meminta saya untuk menjaga Tita dan mengawasi nya selama anda tidak ada disini, tuan."


"Apa benar, Brian?"


"Iya, tuan. Karena nona meminta Ana untuk tidak menunggunya."


"Kak ... kenapa harus cemburu di saat yang tidak tepat sih??" protes Loudy, walaupun kesal tapi dia juga tidak bisa diam laki-laki yang di sukanya tertekan karena ulah sang kakak. "Ketika kita berjalan untuk pulang, Tita tiba-tiba saja ingin ice cream ... Mike sudah berusaha menghentikannya, tapi Tita yang bersikeras mau beli sendiri dan kami tidak memprediksi bahwa akan ada mobil yang tiba-tiba melindungi dengan kencang seperti itu, karena jalanan itu memang lenggang."


Mickey merasakan hatinya menghangat, Loudy membelanya ... apakah gadis ini benar-benar membela aku di depan kakaknya sendiri? Apakah itu karena dia juga suka padaku?


"Iya, iya ... baiklah, maafkan saya ya." pada akhirnya Nathan meminta maaf juga kepada Mike.


"Ah, iya, iya tuan Petra. Tidak apa-apa." Brian menunduk, sesungguhnya pipinya bersemu.


Saat ini, hanya ada Nathan yang ada di kamar itu. Dia meminta sang mami dan ibu mertuanya untuk pulang dan beristirahat karena pasti mereka tidak pulang sejak kemarin. Saat Nathan sedang menghabiskan segelas susunya, terdengar lenguhan dari arah tempat tidur.


"Sayang, kamu sudah sadar?"


"Ah, anda sudah siuman nona?" sapaan Axel kepada Tita benar-benar membuat Nathan jengkel. Kenapa dia jadi sok manis sih?!


Suster-suster itu mengecek kondisi terkini pasien, tanda-tanda vitalnya dan luka-luka di tubuh Tita tidak luput dari pemeriksaan. Kenapa bukan dokter Axel yang melihatnya langsung?? Ha ha ha, tentu dia tidak berani ... bisa-bisa dia dipindah tugaskan ke pedalaman jika berani menyentuh kulit sang istri dari tuan muda Petra. Lihatlah, mata laki-laki itu begitu waspada.


"Tita, apa merasakan pusing?"


"Sedikit pusing, dokter."


Nathan langsung mendekat, memegang kepala Tita "Kamu merasa pusing di bagian mana?" tanyanya kepada sang istri. "Apakah harus di scan kepalanya?" kini dia bertanya kepada Axel.


"Tidak, sebelumnya sudah dilakukan pengecekan di kepalanya dan tidak ada apa-apa. Tita merasakan pusing karena dia baru bangun, nanti pusingnya akan hilang perlahan."


"Benarkah?" Nathan yang bertanya.


Axel melihat kelakuan temannya jadi merasa lucu sendiri, "Oh iya, luka-luka ini tidak terlalu parah ... dan bisa hilang bahkan yang ada di wajah juga akan hilang tanpa bekas." Axel menjelaskan nya kepada Nathan.


"Dengar, kamu tidak perlu khawatir." Nathan menjelaskan kepada Tita dan dia hanya tersenyum. "Istirahat lagi ya, atau mau ada yang kamu minum? atau kamu mau makan sesuatu?"


"Aku mau minum saja." Tita masih berbaring, tapi setelah dia sadar ... Tita merasa ada sesuatu yang hilang, tapi apa?


"Minum dulu sayang,"


"Kamu, sudah pulang? memangnya aku sudah berapa lama disini?"


."Aku menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan langsung pulang menemui istriku yang mungil dan cantik, sesuai janjiku sebelumnya." Nathan naik ke atas tempat tidur, menempatkan dirinya di sisi sang istri. Memandangi wajah yang sangat di rindukannya, dan bibir yang membuatnya candu.


"Kenapa aku bisa ada disini?"


"Kamu kecelakaan, tertabrak mobil ketika akan membeli ice cream."


Dan ingatan Tita sampai pada hari itu, ketika dia akan menyeberang membeli ice cream setelah makan-makan dengan Mickey dan Loudy. "Ah, iya ... aku tidak ingat kenapa aku bisa tertabrak, tapi aku ingat kalau aku ingin makan ice cream."


"Ya ampuuun, sayang ... sebegitu inginnya kamu makan ice cream sampai-sampai tidak memperhatikan jalan?"


"Aku yakin tidak ada kendaraan sebelumnya,"


Nathan mengernyitkan keningnya, "Kamu yakin?"


"Iya, aku yakin ... karena aku melihat ke kanan dan ke kiri dulu sebelumnya." Tita terdiam sebentar, agak ragu-ragu dia mengatakan ..."Nath,"


"Apa sayang ..." Nathan masih saja menciumi pelipis Tita dengan lembut, takut menyakiti Tita.


"Aku ... kenapa aku merasa ada yang hilang ya? tapi aku tidak tau apa."


"Ah sayang, sudahlah jangan di pikirkan ... kita tidur saja ya, ah, padahal aku ingin sekali bermain denganmu ketika aku pulang." wajah Tita merona, sejak kapan suaminya jadi se-vul**r ini. Dan akhirnya mereka berdua tertidur dengan Nathan yang memeluk perut sang istri, satu air mata lolos dari mata Nathan. Ya, Tita benar-benar tidak tau kalau dia sedang hamil. Bagaimana caranya aku memberitahukan tentang dia yang kehilangan bayinya.