
Wah ... seperti melihat pahatan maha karya yang paling sempurna. Alisnya tebal, bulu matanya lentik menyembunyikan matanya yang tegas, hidungnya mancung, kulitnya halus bahkan sepertinya lebih halus daripada aku, ah ... bibir itu yang dengan kurang ajarnya pernah mencuri ciuman pertamaku ... eh, pipinya memerah? oh paling karena habis terkena sinar matahari tadi. Rambutnya hitam dan lebat... dan sepertinya wangi ... Tanpa sadar Tita memegang rambutnya sendiri, ih ... bahkan rambutnya lebih sehat daripada rambutku.
Kenapa tuan muda tampan sukses seperti anda mau menikah dengan saya? bahkan ibu saya hanyalah seorang pembantu dirumah anda. Apakah anda ingin membalas dendam pada wanita yang sebenarnya anda cintai, tapi dia meninggalkan anda? Aku sampai saat ini pun tidak habis pikir dengan alasan anda mau menikahi ku? Walaupun aku tidak punya perasaan apa-apa, tapi aku juga gak mau kalau hanya dijadikan objek balas dendam. Tita masih tenggelam dengan pikirannya, tanpa melakukan apapun dia hanya duduk menunggu sang tuan muda yang tertidur di pangkuannya, hingga akhirnya diapun tertidur.
Sang tuan muda membuka matanya. Hah, pertama kalinya kita tidur bersama. Dia bangun dari tidurnya perlahan, tidak mau membangunkan sang gadis, memposisikan dirinya disebelah sang gadis. Ditatapnya sang gadis dari jarak dekat, bagaimana aku tidak jatuh cinta padamu kalau kamu seimut ini, he he. Dekat dengan mu seperti ini membuatku tidak dapat menahan hasrat itu. Cup. Satu kecupan singkat, tak apa kan ... toh dia tidak bangun, ah ... aku akan merindukan kamu. Melihat Tita tidak bereaksi karena ciuman itu membuat Nathan makin ingin melakukannya lagi. Kali ini tidak hanya kecupan, dia menyecap bibir sang gadis dengan hati-hati. Uh, dia tidak bangun juga? Wah ... pulas sekali dia tidurnya. Tapi sang tuan bersyukur, jadi dia bisa mencium sang gadis dengan lebih dalam tadi, he he. Apa aku lakukan lagi?
"Cukup, Tuan!"
Hah. Nathan menoleh kaget dengan suara yang tiba-tiba itu. Lho, kenapa bisa ada dia? Nathan bangun dari sofa hati-hati menghampiri sang sekretaris. "Sejak kapan kamu disini?"
"Sejak kalian berdua tertidur."
Ya ampun, malu rasanya, seperti ketahuan sedang enak-enak. Wajah Nathan memerah seketika, "Kenapa kamu tidak bilang dari tadi? kamu lihat aku ..."
"Maaf, tuan. Saya tidak memprediksi anda akan mencium nona dua kali." Wah... terkutuk lah Brian! Dia makin membuat sang tuan malu. "Saya bahkan mengabadikan momen tadi tuan." Ha ha ha ... benar-benar sekretaris yang bisa 'diandalkan'. Nathan melihat foto-foto yang diambil sang sekretaris, ada tiga foto dan ketiganya diambil dengan fokus kepada dua insan yang sedang berciuman. Nathan tersenyum, pipinya merona lagi. "Bisa tuan jadikan wallpaper sebagai pengobat rindu selama kalian berjauhan."
"Kirimkan ke ponselku."
"Baik, tuan." Tidak salah memang tindakan Ku tadi, he he.
Nathan kembali ke sofa, sang gadis masih asik dengan tidurnya. Kalau aku gendong ke mobil dia nanti marah, tapi tidak mungkin aku tinggal kan dia disini dalam keadaan tidur begini. Nathan menyentuh bahu Tita, mengguncangkan dengan lembut. Wah, dia benar-benar sulit dibangunkan ya. Muncul ide jahil sang tuan, dia menjepit hidung Tita dengan kedua jarinya selama beberapa detik. Dan tentu saja Tita seperti kehilangan oksigennya.
Hah, hah hah. Tita tersentak dan bangun, mengambil napas sebanyak-banyaknya. Ekstrim sekali ya, ck ck ck ... "Hah, aku tertidur, ya?" sambil mengatur napasnya.
"Iya, pulas sekali kamu tidur?"
"Ehm, maaf saya ketiduran, tuan."
"Tak apa, yuk kita pulang."
"Hah, jam kerjaku belum selesai. Anda bisa pulang duluan, tuan."
"Sudah jam 4, tidak masalah kan dan kamu tahu aku tidak suka di tolak ..."
Ponsel Tita berbunyi, terpampang Loudy di layar, "Halo ... aku masih di kantor, siapa aja? mau aaa..." Nathan merebut ponsel Tita.
"Halo!"
"Hei ... siapa nih?! Kak Nathan???"
"Kenapa kamu telpon Tita?"
"Ya ampun kak, gak sopan banget sih ... aku kan lagi ngomong sama Tita!"
"Ada perlu apa?"
"Ya udah, tunggu dibawah." Klik. "Ambil tasmu, Loudy menunggu di bawah."
"Ah. Iya ..." Yess! selamaaaat. Tita cepat-cepat ke mejanya, membereskan peralatannya. "Mikey aku duluan ya, di jemput Loudy."
"Kalian mau kemana? Kok gak ajak-ajak?"
"Ladys time. Bye, Arum." Lho kirain udah pulang dia. Sang tuan muda dengan setia menunggu sang gadis di depan lift. Mereka turun bersama. Sepertinya dia tidak ingin berjauhan dengan sang gadis.
"Ta," Loudy melambaikan tangannya. Memeluk erat sang sahabat. Dan mencium kedua pipi sang kakak. Kakaknya ini harus di baik-baikin biar mulus rencananya. "Kak, aku mau pergi sama Tita."
"Berdua? Kemana?"
"Belum tahu, biasanya kita kalo jalan ya jalan aja dulu, nanti baru nentuin mau kemana." Dari dua pertanyaan, sang adik hanya menjawab satu, karena mereka tidak hanya akan pergi berdua. Teman-teman kampus yang lain sudah menunggu di suatu tempat dan sang adik sangat pandai membaca situasi sehingga dia enggan memberi tahu sang kakak.
Nathan, melihat ke arah Tita, um... lebih tepatnya ke bibir Tita yang agak membengkak akibat ulahnya tadi. "Baiklah, jangan pulang malam-malam."
"Aku udah ijin mami, mau menginap di tempat Tita."
Nathan agak curiga sebenarnya dengan sang adik. Atau mungkin hanya karena dia tidak ingin berjauhan dengan sang gadis.
"Kita mau kemana sih?"
"Party," jawab Loudy sambil mengangkat kedua tangannya.
"Hah ... wah besok aku kerja."
"Kita gak pulang malam-malam, kok. Anak-anak udah otw ke club' 8."
Hah, Tita menghela nafas. Walaupun Tita mahasiswi yang berprestasi, belum pernah punya pacar, tapi dia tidak pernah menolak jika di ajak ke club' 8, sebuah tempat hiburan yang lebih mirip cafe sebenarnya.
"Brian, Aku ingin ke tempat Thomas."
"Baik, tuan."
"Sepertinya, Tita tidak sedih ya aku mau pergi?"
"Wajar, tuan. Karena nona belum jatuh cinta."
"Kenapa dia susah sekali dibuat jatuh cinta?"
"Tuan bisa konsultasi nanti ke Thomas, saya juga sudah mengabarkan yang lain agar berkumpul disana." Mobil melaju memecah sore yang makin menghilang. Nathan terpaku di kursinya memandangi sinar senja kemerahan diluar dan hiruk pikuk kendaraan yang berjalan. Masih setia dengan pikirannya, dia khawatir jika dia pergi lama, dan gadis itu merubah keputusannya untuk membatalkan pernikahan mereka, bagaimana? Jika ketika dia pergi ada lelaki lain yang membuat gadisnya jatuh cinta, bagaimana? Apakah aku akan lebih terpuruk dibandingkan dengan pengkhianatan yang dulu pernah aku alami? Atau mungkin malah aku tidak akan merasakan apa-apa karena hatiku sudah mati?
"Tuan, kita sudah sampai." Nathan turun setelah Brian membukakan pintu untuknya. Ya, aku akan konsultasi dengan Thomas, dia pasti tahu apa yang harus ku lakukan. Menarik ujung jas yang dikenakannya agar rapi sambil memandang club' 8, yang memang menjadi basecamp nya dengan teman-temannya.