
"Lou," Mickey memulai pembicaraan.
"Eh, iya ... kenapa?" duh! bodoh ... pake tanya kenapa lagi. Loudy merutuki kebodohannya, padahal sudah jelas maksud dan tujuan mereka disini.
Mickey tersenyum, "Em, aku sudah mendengar permasalahan mereka versi Tita. Dan aku ingin mendengar versi tuan Petra."
"Tita, sudah bercerita padamu?"
"Iya, kemarin dia menghubungi aku ... dan semalam Tita menginap di kosan ku."
"Apa!!" duh, Loudy kelepasan. Tenang Loudy, tenang ... jangan emosi, singkirkan sebentar perasaanmu.
"Tita mungkin lebih percaya padaku saat itu, Lou. Bahkan dia menangis tiada henti." Mike menjelaskan.
"Kakakku juga sama, bahkan sampai harus disuntik obat penenang oleh dokter agar bisa beristirahat." Loudy sayang Tita, tidak perlu diragukan lagi ... tapi dia juga harus memberi tahu kondisi sang kakak juga tidak baik-baik saja.
"Kamu tahu apa yang Tita lihat,. sehingga dia kecewa dengan tuan Petra?"
"Aku tahu, kakakku menceritakan semuanya. Bahkan foto yang dilihat Tita, kak Nathan juga lihat karena Tita meninggalkan ponselnya. Tapi semua yang nampak itu tidak benar, kakakku tidak akan menduakan istrinya."
"Lalu ... kenapa bisa ada foto-foto itu? Foto-foto itu diambil ketika kita pergi perpisahan kemarin, kan?"
"iya, benar. Tapi aku punya bukti kalau semua itu tidak benar. Kak Thomas, kak Brian, kak Rega, bahkan mereka ada disana juga." Loudy berusaha menyakinkan Mickey.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk memperbaiki hubungan mereka?"
"Entahlah, aku juga bingung. Apa kita pertemukan saja mereka?"
"Aku takut Tita kabur lagi. Bagaimana kalau aku bicara duku dengannya?"
"Baiklah, datang saja ke kosanku sore nanti. Aku akan mengabari kamu."
Nelangsanya sang tuan muda hari ini, kegiatannya hanya di kamar saja. Dia benar-benar malas keluar kamar. Brian masuk membawakan beberapa makanan ringan dan susu, menghela nafas karena merasa prihatin.
"Tuan, saya bawakan makan ringan dan susu."
"Kamu disini? Tidak ke kantor?"
"Tidak, hari ini saya akan disini menemani anda."
"Hm ... sunyi sekali hidupku."
Melihat sang tuan muda yang mengeluh seperti itu membuat Brian merasa lucu. Anda baru di tinggal sehari sudah seperti ini, padahal kalau mau bisa saja datang ke kantor nona dan menjelaskan semuanya. Jadi tidak perlu mendramatisir seperti ini.
"Tuan, hari ini nona Tita masuk kerja. Apa anda mau kesana?"
"Kerja? bisa-bisanya dia punya semangat untuk bekerja ketika kita sedang ada masalah seperti ini?!" nah kan, kesal sendiri dia.
"Artinya Nona bertanggung jawab, tuan." padahal anda juga tidak masalah jika mau berangkat kerja, tuan. Kata Brian dalam hati.
"Brian, apa Tita tidak tahu keadaanku sekarang? Dia tidak mencari tahu?"
"Nona masih marah tuan,"
"Huh, aku tidak tahan menunggu begini."
"Makanya saya bilang, anda bisa saja mendatangi nona di tempat kerjanya."
"Aku takut, dia menolakku ..." Nathan mengucapkan dengan sedih.
"Anda menyerah?"
"Aku tidak menyerah ... aku hanya ingin memberikan dia waktu sejenak. Kamu tahu seperti apa aku mengejarnya untuk ku jadikan istri, kan?"
***
Tita berusaha fokus dengan pekerjaannya, tapi apa mau dikata ketika pikirannya bercabang seperti ini. Tidak bisa dipungkiri dia merindukan sang tuan suami, dia sudah terbiasa dengan pelukan sang tuan suami ketika tidur dia sudah terbiasa dengan kata-kata manis dan candaan sang suami sebelum mereka beranjak tidur. Tapi ego nya lebih menguasai, dia tidak mau seperti ini ... menjauh dan menghindari suaminya, tapi wanita mana yang senang di duakan?
"Zahra, kamu sakit?" Arga meletakkan minuman dingin di depan Tita.
"Tidak, eh, terima kasih ya ... tadi pagi kamu memberikan sarapan dan sekarang minuman dingin."
"Apa sih yang tidak aku berikan untuk kamu," merayu.
Bukan main malunya Arga, tapi dia juga beranggapan bahwa mereka mendukung usahanya mendekati Tita. "Tidak masalah, kan? Kita kan jomblo." Arga membela dirinya sendiri.
Tita termenung, eh, maksudnya apa? belum lagi dia protes, Arga sudah pergi berlalu meninggalkannya. Duh, jangan bilang Arga suka padaku? Tita melihat Arga yang berjalan menuju mejanya dengan tersenyum. Celaka! kalau Nathan tahu, bisa di paksa pindah kerja aku.
Kalau dua orang sudah saling mencintai dan menyayangi, mereka akan selalu teringat dan merindukan pasangannya dalam kondisi apapun. Seperti yang sedang di alami Tita, rasa kesal, marah dan cemburu yang tengah menguasainya tidak menyurutkan ingatan tentang suaminya, bahkan hal-hal yang tidak disukai sang suami pun dia ingat.
"Ta, yuk pulang ... kamu sudah siap belum?" tanya Mickey.
"Sudah, yuk."
"Zahra, pulang bareng aku yuk?" Arga mendekatinya.
"Next time, ya, Ga. Aku pulang bareng Mickey hari ini." Tita menolaknya dengan halus.
Di dalam lift, Mickey yang kepo tidak dapat lagi menahan rasa penasarannya. "Ta, Arga suka sama kamu ya?"
"Gak tahu," malas ditanya soal itu.
"Gak nyangka, teman yang ku incar bertahun-tahun, di salip laki-laki lain dan jadi makin banyak penggemarnya." Mickey berseloroh.
Plak! "Sembarang kalau bicara, ya."
"Aduuuh ... sakit, Ta. Tapi memang benar kan, setelah menikah itu jadi makin banyak laki-laki yang naksir kamu."
"Maksudnya dulu aku tidak menarik?"
"Iyaaa, gak juga. Tapi dulu kan hanya aku yang mengincar kamu, ha ha ha."
Malas Tita mendengar temannya satu ini. Senang sekali menjahilinya. Tapi bisa menghibur dirinya secara tidak langsung. "Mickey, terima kasih ya."
"Untuk??" Mickey merasa heran dengan Tita yang tiba-tiba melow.
"Kalau tidak ada kamu aku tidak tahu apa yang kan ku lakukan kemarin."
Mickey merangkul Tita, menyalurkan kekuatan yang memang Tita butuhkan. "Kalau kamu masih menganggap aku kakakmu, dengarkan aku." Mickey menatap intens wajah Tita yang juga menatapnya, "Berikan kesempatan kepada suamimu untuk menjelaskan, dia juga berhak untuk meluruskan permasalahan kalian. Dia pasti punya alasannya sendiri, Ta. Suamimu, tuan Petra, adalah orang yang seharusnya paling dekat denganmu sekarang, orang yang seharusnya paling kamu percayai."
Tita meneteskan air matanya, sesak di dadanya timbul lagi. Mickey merasakan kesedihan itu, tapi dia harus berperan menguatkan sang sahabat. "Pernikahan kalian masih seumur jagung, tidak baik lama-lama marahan seperti ini, berikan suamimu kesempatan."
"Sok tahu,"
"Hei, hei ... menasehati itu memang lebih mudah, tauuu." Ha ha ha. "Jadi, mau aku antar menemui suamimu? Kabarnya dia mogok makan sejak kami pergi, sehingga tidak ada tenaga bahkan untuk bangun dari tempat tidurnya." yang ini Mickey hiperbola.
Tapi kebohongan itu tetap saja membuat Tita terperanjat, "Yang benar??" sekarang Tita meremas tangannya tanda khawatir.
"Informasi yang aku dapatkan seperti itu." untuk lebih meyakinkan, Mickey mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto ... "Tuan Petra terbaring seperti ini sejak kemarin malam."
Makin sesak dada Tita, dia tidak menyangka sang tuan suami akan terpuruk seperti itu. Tita gemetar, ya ampun ... apa yang sudah aku lakukan. "Mickey ..." katanya dengan pelupuk mata yang basah.
"Ayo, aku akan mengantarmu kesana."
Berangkat lah mereka menuju kediaman tuan Petra menggunakan motor milik Mickey. Tita sangat tidak tenang, dia lebih mengkhawatirkan sang tuan suami dibandingkan dengan kecemburuannya. Semetara, Mickey tersenyum senang ... dia berhasil membawa nyonya Nathan pulang kerumahnya.
"Tuan, apa yang anda inginkan untuk makan malam?" tanya pelayanan.
"Nathan sedang duduk menikmati alunan musik klasik favoritnya ditemani Brian.
"Buatkan mie saja ... aku ingin makanan yang hangat."
"Baik, tuan." sang pelayan mengundurkan diri.
"Anda sudah lebih baik tuan?" tanya Brian yang seharian ini sudah menemaninya.
"Aku baik-baik saja, memang aku sakit?"
"Iya, anda sakit rindu sudah seperti kehilangan separuh nyawa anda kemarin." ejek Brian dengan santai, tidak dipedulikan sang tuan muda yang sudah berubah wajahnya.
"Wajar saja, belahan jiwaku pergi ..." Nathan merasa tidak terima dengan ejekan sekretarisnya. "Nanti kalau kamu ditinggalkan kekasihmu, aku akan balas ejekanmu, ya?!"
"Ha ha ha ... tidak tuan, jika kekasihku pergi aku akan cari kekasih baru, ha ha ha ...." puas sekali Brian menggoda sang tuan.
Bukkk!! bantal sofa melayang tepat di wajahnya, tapi bukan kesakitan ... sang sekretaris justru malah makin tertawa, ha ha ha.